Info Sekolah
Kamis, 16 Apr 2026
  • Pesantren Terpadu Al-Fattah Kuningan
  • Pesantren Terpadu Al-Fattah Kuningan
4 Januari 2026

Victor Hugo dan Al-Qur’an: Pertemuan yang Mengubah Pandangan Penulis Terbesar Prancis tentang Islam

Ming, 4 Januari 2026 Dibaca 37x Kajian

Oleh: H. Roland Gunawan, Lc., Mudir Madrasah Diniyah Lailiyah (MDL) Al-Fattah Kuningan



Dalam sejarah sastra Barat, Islam jarang ditulis di luar dikotomi ketakutan, distorsi, atau rasa ingin tahu yang dangkal. Selama berabad-abad, prasangka dan stereotip tentang Islam telah mengakar dalam imajinasi Eropa, mulai dari “orang asing” yang mengundang ejekan dan satire hingga “musuh budaya” yang dipandang dengan kecurigaan dan kewaspadaan.

Namun di tengah hiruk-pikuk intelektual ini, beberapa suara telah muncul, memilih untuk mendengarkan daripada menghakimi, untuk mendekati dan merefleksikan daripada menjauhkan diri dan berasumsi.

Di antara suara-suara ini, nama Victor Hugo, penyair dan novelis besar Prancis, bersinar terang. Ia melihat Islam sebagai pengalaman manusiawi dan spiritual yang mendalam, yang layak dibaca sebagai bagian dari perjalanan puitis dan intelektualnya dalam mencari makna universal kehidupan, kematian, jiwa, dan kebebasan.

Penulis “Les Misérables” dan “The Hunchback of Notre Dame” ini tidak menulis buku langsung tentang Islam, juga tidak menyajikan risalah keagamaan atau pembelaan doktrinal. Sebaliknya, ia melakukan sesuatu yang lebih dalam: ia memasukkan agama ini ke dalam puisinya sebagai kekuatan moral utama dan peradaban yang berkontribusi dalam membentuk kesadaran manusia dan memiliki dampak mendalam terhadap sejarah.

Dalam teks-teksnya, Islam tidak muncul sebagai “yang lain” yang asing, tetapi sebagai mata air yang darinya mengalir jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang menyibukkan penyair sepanjang hidupnya: makna eksistensi, keadilan, cahaya, dan tanggungjawab manusia.

Meskipun sastra Barat dipenuhi dengan nama-nama penulis yang memilih untuk menentang Islam dan secara jelas mengungkapkan ketakutan mereka terhadap ide-ide “gelap” Islam, seperti Jean Chardin, penjelajah Prancis yang mengaitkan Islam dengan keanehan dan ancaman, Edward Gibbon, sejarawan Inggris yang menggambarkan agama Islam dalam kerangka konflik politik dan militer, dan Alexander Pope, penyair Inggris yang mengungkapkan kecurigaan terhadap Timur dalam puisi-puisinya, hanya sedikit yang mencoba mendekatinya sebagai pengalaman spiritual yang utuh, dan Hugo adalah salah satu dari sedikit orang tersebut.

Pada saat Eropa memandang Timur dengan curiga atau rasa superioritas, Hugo melihat Islam sebagai agama monoteisme dan kehormatan, dan Nabi Muhammad Saw. sebagai sosok manusia pembawa risalah, bukan mitos yang terdistorsi atau simbol permusuhan. Hal ini, dengan sendirinya, merupakan terobosan awal dari tembok keheningan dan kesalahpahaman yang telah menjadi ciri hubungan antara Barat dan Islam pada abad ke-18 dan ke-19.

Dari perspektif ini, mempelajari Islam dalam karya-karya Hugo menjadi lebih dari sekadar keingintahuan historis; ini adalah upaya untuk memahami bagaimana sastra dapat membuka jendela menuju semangat peradaban lain, menawarkan visi bersama di antara umat manusia lintas ruang dan waktu.

Dan inilah tepatnya yang dilakukan oleh cendekiawan Prancis Louis Blanc dalam bukunya, Victor Hugo and Islam, yang diterbitkan oleh penerbit Paris, Éric Bonnier.

Dalam buku ini, yang diterjemahkan ke dalam bahasa Arab oleh Dr. Zahida Darwish Jabbour, Blanc berpendapat bahwa ketertarikan Hugo pada Islam bukanlah konversi agama. Ia tidak menulis teks untuk mendukung agama tersebut. Sebaliknya, pengaruh Islam pada puisi dan pemikirannya sangat bersifat budaya dan spiritual, memberinya sumber daya intelektual dan sastra yang kaya untuk mengeksplorasi pertanyaan-pertanyaan utama yang menyibukkannya sepanjang hidupnya.


Kejutan, Keajaiban, dan Refleksi

Victor Marie Hugo (1802-1885) lahir di Paris dari keluarga kelas menengah yang tidak terlalu mementingkan praktik keagamaan, pada saat masyarakat Prancis mengalami transformasi mendalam setelah Revolusi Prancis (1789).

Ia dibesarkan dalam lingkungan Katolik, tetapi pandangan keagamaannya dengan cepat berkembang menjadi spiritualitas yang terbuka terhadap pertanyaan-pertanyaan mendalam tentang makna dan eksistensi. Sepanjang hidupnya, ia secara bertahap menjauhkan diri dari doktrin tradisional dan mulai mencari konsep etika dan spiritual yang melampaui interpretasi sempit, menempatkannya pada posisi unik di antara para penulis di zamannya.

Dalam pengantar edisi bahasa Arab, yang diterbitkan oleh al-Munazhzhamah al-Arabiyah li al-Tarjamah bekerja sama dengan Mu’assasah Sya’ir al-Faiha’ Saba Zreik al-Tsaqafiyah, penerjemah (Dr. Zahida Darwish Jabbour) mencatat bahwa “karya Hugo, terutama di masa mudanya, tidak lepas dari banyak indikasi ketakutan terhadap Islam dan pandangan merendahkan yang dipengaruhi oleh logika kolonial dan Eurosentrisme, yang menyamakan Islam dengan fanatisme dan menggambarkan Muslim sebagai kelompok yang tunduk yang dikuasai oleh ketidaktahuan dan dipenjara oleh stagnasi”.


Kejutan bagi Hugo

Namun, titik balik mendasar dalam perjalanan keagamaan Hugo terjadi pada usia 44 tahun ketika ia membaca terjemahan al-Qur’an. Ini merupakan kejutan intelektual dan sastra baginya, momen penting yang berkontribusi pada pendalaman kemanusiaannya dan perluasan cakrawala sastranya.

Ia memandang al-Qur’an bukan hanya sebagai teks keagamaan, tetapi sebagai karya linguistik dan spiritual yang unik, memukau dalam citranya, makna yang mendalam, dan wacana moral yang kuat.

Ia terkesan oleh bahasa al-Qur’an yang ringkas, yang menggabungkan keagungan spiritual dengan kefasihan puitis, dan menemukan di dalamnya model baru untuk memahami hubungan antara umat manusia dan alam semesta—isu-isu yang telah menjadi perhatian pemikiran humanistiknya.

Pertemuan awal dengan al-Qur’an ini meninggalkan jejak yang jelas pada tulisan-tulisan Hugo selanjutnya, khususnya dalam pandangan empatinya terhadap kaum tertindas dan yang rentan, serta dalam ketertarikannya pada konsep rahmat dan keadilan ilahi.


Islam dalam Puisi Hugo

Tidak mudah membaca nama Victor Hugo bersamaan dengan Islam tanpa membangkitkan rasa ingin tahu pembaca dan memunculkan pertanyaan: Bagaimana mungkin seorang penulis Prancis, salah satu pilar sastra Barat abad ke-19, mendekati agama “yang lain” di era fanatisme agama dan etnis yang merajalela di Eropa saat itu? Apakah pendekatan ini hanya sesaat, atau merupakan pengalaman intelektual dan spiritual mendalam yang meninggalkan jejak pada tulisannya dan pandangan dunianya?

Ketertarikan Hugo pada Islam bukanlah sekadar pengaruh dangkal, melainkan hasil dari pengalaman emosional dan intelektual mendalam yang membentuk pemahamannya tentang kemanusiaan, keadilan, dan spiritualitas.

Tujuan Hugo bukanlah untuk mendakwahkan agama atau membela keyakinan tertentu, melainkan untuk melihat Islam sebagai sumber kontemplasi yang kaya dan cermin yang memantulkan rahmat dan tanggungjawab manusia yang terkandung dalam ajaran agama yang benar.

Puisi-puisi Hugo paling terkenal yang membahas Islam berasal dari kumpulan puisinya “La Légende des Siècles” (Legenda Abad-abad), terutama puisinya “L’An neuf de l’Hégire” (Tahun Kesembilan Hijriyah), yang menggambarkan Nabi Muhammad Saw. di hari-hari terakhirnya, bukan sebagai pahlawan super atau legenda yang jauh, tetapi sebagai manusia yang memiliki dua karakteristik utama: keimanan yang teguh dan kemanusiaan yang mendalam dalam risalahnya.

Kumpulan ini juga mencakup puisi-puisi seperti “Mahomet” (Muhammad) dan “Le Cèdre” (Pohon Ara), yang menunjukkan ketertarikan Hugo pada dimensi spiritual al-Qur’an dan estetika bahasa Arab serta musikalitas teksnya.

Dalam teks-teks ini, kita tidak menemukan bahasa kesombongan, sarkasme, atau “eksotisme oriental” yang menjadi ciri khas tulisan banyak penulis sezaman Hugo. Sebaliknya, kita menemukan teks-teks yang sarat dengan citra kosmik: gurun, langit, cahaya, keheningan, wahyu, seolah-olah Islam dalam imajinasi penulis Prancis terkenal itu bukan sekadar geografi atau sejarah, tetapi kondisi eksistensial yang beririsan dengan pertanyaan-pertanyaan utamanya tentang kemanusiaan dan takdir.


Islam sebagai Jembatan Budaya

Salah satu kekuatan terbesar tulisan Hugo adalah ketulusan dan kejelasan kekagumannya: ia tidak menyatakan bahwa ia telah memeluk Islam, juga tidak berusaha mengubah kekagumannya menjadi deklarasi keagamaan. Kekagumannya bersifat budaya dan spiritual, berasal dari membaca dan refleksi, bukan dari konversi doktrinal.

Inilah yang memberikan keaslian pada teks tersebut: Hugo tidak berbicara sebagai seseorang yang “berada di dalam” Islam, melainkan sebagai seorang intelektual bebas yang melihat dalam agama ini nilai kemanusiaan agung yang layak dihormati dan dipertimbangkan.

Dapat dikatakan bahwa Islam yang disajikan Hugo adalah Islam yang dibentuk ulang secara puitis, “disaring” melalui visi filosofisnya; itu adalah “Islam ide dan simbol”, bukan Islam historis dengan semua detail hukum dan budayanya.

Namun, ini bukanlah kelemahan, melainkan sifat dari setiap karya sastra yang melampaui budaya, berdasarkan pengalaman pribadi dan analisis sadar terhadap yang lain.

Untuk memahami hubungan Hugo dengan Islam, hal itu harus ditempatkan dalam konteks orientalisme Eropa abad ke-19. Terdapat kecenderungan ganda: di satu sisi, kritik dan prasangka terhadap Islam, dan di sisi lain, rasa ingin tahu budaya terhadap warisan Timur.

Hugo memiliki kesadaran kritis yang memungkinkannya melampaui pandangan dangkal tentang budaya lain, menempatkannya pada posisi unik: ia menulis tentang Islam dengan hormat dan mendalam, dari perspektif humanistik dan spiritual yang melampaui batasan doktrinal yang kaku.

Lebih lanjut, pengaruh Islam pada Hugo tidak hanya berasal dari teks-teks Islam tetapi juga dari sastra Prancis kontemporer, yang terkadang membahas Islam dari perspektif spiritual atau etis.

Para penulis sezamannya, seperti Alphonse de Lamartine dan Alexandre Dumas, menulis tentang Nabi Muhammad Saw. dan sejarah Islam, berkontribusi pada latar belakang budaya dan sastra yang memungkinkan Hugo untuk mendekati Islam dengan pertimbangan yang cermat dan wawasan yang luas.


Hugo Menyaksikan Dialog Peradaban

Dapat dikatakan bahwa membaca Islam dalam sastra Barat bukanlah latihan perbandingan budaya, melainkan undangan untuk mempertimbangkan kembali kapasitas sastra untuk membangun jembatan penghubung.

Dalam konteks ini, puisi Hugo mewakili jendela menuju budaya lain, jendela yang dapat membuka jalan menuju dialog, jauh dari politik, ketakutan, stereotip, dan konflik peradaban.

Dalam kerangka ini, Hugo menggunakan puisi dan pemikiran untuk mendekatkan budaya Islam kepada pembaca Barat, menyoroti nilai-nilai bersama daripada perbedaan, serta isu-isu kemanusiaan, etika, dan keadilan daripada perselisihan doktrinal.

Islam, dalam teks-teksnya, adalah pengalaman eksistensial, sumber inspirasi untuk merenungkan makna dan tujuan hidup, dan sarana untuk memahami hubungan manusia dengan alam semesta, Zat Yang Mutlak, dan alasan keberadaannya.

Pengaruh Islam pada Hugo bersifat budaya, spiritual, dan intelektual, bukan doktrinal. Penulis Prancis ternama itu menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan eksistensial dalam teks-teks Islam yang tidak ia temukan dalam Kekristenan tradisional, dan visi ini memiliki dampak mendalam pada puisi dan karya sastranya.

Lebih jauh lagi, rasa hormatnya kepada Nabi Muhammad Saw. dan penggambaran kemanusiaan serta moralitasnya dalam puisi, merupakan model langka dalam sastra Barat, karena hanya sedikit penyair non-Muslim yang menulis tentang Nabi Saw. dengan kelembutan dan kedalaman seperti itu.

Oleh karena itu, buku Louis Blanc tentang “Victor Hugo and Islam” menjadi lebih dari sekadar studi kritis; ini adalah ajakan membaca sastra sebagai jalan untuk memahami yang lain, dan untuk memikirkan kembali sejarah hubungan antara Barat dan Islam, melampaui stereotip dan prasangka, dan melampaui benturan peradaban yang telah memengaruhi pemahaman manusia tentang budaya yang berbeda.

Kesimpulannya, buku Victor Hugo and Islam bukan sekadar buku tentang seorang penyair Prancis atau agama Islam; ini adalah bukti kemampuan sastra untuk melampaui batasan budaya dan agama, dan fakta bahwa puisi dan pemikiran dapat berfungsi sebagai jembatan di mana politik gagal.

Dari Paris ke Makkah, dari cahaya Eropa ke spiritualitas Timur, Victor Hugo tetap menjadi saksi kemungkinan dialog, bukan konflik, antar peradaban. Islam, seperti yang disajikan dalam teks-teksnya, adalah pengalaman manusiawi dan spiritual, sumber inspirasi dan refleksi, dan bukti bahwa rasa hormat dan pengertian antar budaya dimungkinkan, bahkan dalam ekspresi kreativitas sastra yang paling mendalam.

Pembaca Muslim dan Eropa akan menemukan dalam warisan sastra ini kesempatan untuk mempertimbangkan kembali tidak hanya Hugo, tetapi juga cara kita membaca orang lain—dan bagaimana kita membaca diri kita sendiri.[]

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Tinggalkan Komentar