Info Sekolah
Kamis, 28 Mei 2026
  • Pesantren Terpadu Al-Fattah Kuningan
  • Pesantren Terpadu Al-Fattah Kuningan
24 Mei 2026

Pendidikan di Era Digital: Generasi Seperti Apa yang Kita Inginkan?

Ming, 24 Mei 2026 Dibaca 8x Edukasi

Oleh: H. Roland Gunawan, Lc., Mudir Madrasah Diniyah Lailiyah (MDL) Al-Fattah Kuningan



Pendidikan memainkan peran vital dan penting dalam kehidupan bangsa dan negara. Pendidikan adalah alat masyarakat untuk melestarikan nilai-nilai fundamental, gaya hidup, dan cara berpikirnya. Pendidikan juga membentuk kesadaran warga negara, membuka potensi dan sumber daya mereka, serta membantu mereka memanfaatkannya secara efektif.

Kita sering mendengar tentang berbagai topik yang banyak dibahas mengenai pendidikan dan tantangannya, hingga topik-topik ini diperdebatkan di semua tingkatan. Beberapa topik tersebut meliputi:

  • Teknologi dan kesenjangan generasi.
  • Tantangan masa remaja dan kebutuhan pendidikan spesifiknya.
  • Dampak lingkungan sosial terhadap budaya dan perilaku anak.
  • Internet dan runtuhnya struktur keluarga.
  • Penyalahgunaan teknologi dan dampak globalisasi terhadap anak.
  • Pengasuhan keluarga dan kesejahteraan psikologis anak.
  • Kekerasan dan pengabaian dalam keluarga dan dampaknya terhadap prestasi akademik.

Selain topik-topik penting lainnya yang berkaitan dengan isu membesarkan dan mendidik generasi, yang mengharuskan kita untuk mengambil sikap yang tulus dan serius, di mana kita mencari jawaban dan solusi yang berasal dari nilai-nilai kita dan rasa memiliki nasional dan moral kita, untuk kemudian mengembangkan rencana praktis yang komprehensif bagi tantangan pendidikan terpenting dalam lingkungan sosial tempat kita berada, dan cara-cara untuk menghadapinya dengan cara yang mencapai tujuan pendidikan yang baik dan seimbang.

Oleh karena itu, penting untuk menyoroti pentingnya pelatihan konseling keluarga dan keterampilan hidup dalam membangun unit dasar masyarakat (keluarga), berdasarkan prinsip-prinsip metodologis yang tepat yang menekankan solidaritas keluarga dan kesadaran orang tua akan pentingnya pengasuhan dalam mencapai keseimbangan psikologis dan memerangi masalah sosial serta kesulitan akademis.

Dalam konteks ini, kita mendapatkan petunjuk mulia dari Nabi Muhammad Saw., di mana beliau menyampaikan nasihat sangat berharga kepada seorang sahabat yang memberikan hadiah kepada salah satu anaknya tetapi tidak kepada yang lain. Istrinya keberatan dan memintanya untuk berkonsultasi dengan Nabi Saw.. 

Nabi Saw. bertanya kepadanya, “Apakah kau memberikan hal yang sama kepada anak-anakmu yang lain?” Sang ayah menjawab, “Tidak.” Nabi Saw. kemudian berkata, “Takutlah kepada Allah dan bersikap adillah kepada anak-anakmu,” [H.R. al-Bukhari dan Muslim].

Pengamatan ini mungkin tampak sederhana dan tidak penting bagi banyak orangtua, tetapi sangat penting untuk mencapai keseimbangan perilaku dan psikologis pada anak-anak, membesarkan mereka dengan nilai-nilai keadilan, kasih sayang, dan kerja sama, mempersiapkan mereka untuk memikul tanggungjawab profesional dan sosial di masa depan, dan menjadikan mereka kontributor yang berharga bagi masyarakat yang sehat dan produktif. Karena apa yang ditabur kemarin akan dituai hari esok.

Di antara prinsip-prinsip pendidikan yang harus dipertimbangkan orangtua, terutama di era teknologi dan komunikasi global ini, adalah pentingnya memperhatikan kekhasan budaya generasi saat ini. Tidak bijaksana untuk menanganinya dengan menggunakan metode pendidikan yang efektif di era sebelumnya. 

Kesadaran akan tantangan masa kini dan penguasaan keterampilan pengasuhan modern akan mencegah kita jatuh ke dalam masalah “konflik antar generasi”, dengan bahaya nyata yang mengancam keamanan masyarakat, merusak identitasnya, dan secara emosional dan eksistensial memisahkan generasi muda dari leluhur mereka.

Risiko-risiko ini meliputi: kejahatan siber seperti peretasan, pemerasan siber, perekrutan anak di bawah umur (yaitu, anak-anak di bawah usia dewasa) untuk tujuan kriminal, mengakses situs web yang mencurigakan, kecanduan permainan elektronik berbahaya yang telah merenggut nyawa banyak anak, terpengaruh oleh situs web yang mempromosikan kemerosotan moral, atau menghabiskan banyak waktu di situs media sosial, menghabiskan sebagian besar waktu untuk menjelajahi topik-topik yang tidak serius dan mengonsumsi materi-materi yang sepele.

Hal ini menyoroti pentingnya prinsip pendidikan yang dinisbahkan kepada Khalifah Ali bin Abi Thalib ra., yang menyatakan: “Janganlah kalian mendidik anak-anak kalian seperti kalian dididik oleh orangtua kalian, karena mereka diciptakan untuk zaman yang berbeda dari zaman kalian.” Ini bukan berarti meninggalkan nilai-nilai moral yang baik warisan para pendahulu, tetapi lebih kepada mempertimbangkan tuntutan dan perkembangan kehidupan modern dengan cara yang tidak bertentangan dengan tujuan syariat Islam dan fitrah manusia.

Dalam hal ini, pendekatan pendampingan orangtua dianggap sebagai salah satu metode pendidikan modern paling penting untuk memahami anak, mengidentifikasi kebutuhan mereka, dan membimbing mereka secara cerdas dan bijaksana. Hal ini dapat dicapai melalui keterampilan mendengarkan, berinteraksi, dan berdialog, membahas berbagai fenomena sosial dengan aspek positif dan negatifnya, dengan tujuan membina anak secara sukarela, menghindari paksaan, teguran, dan larangan sewenang-wenang. 

Di era keterbukaan global, tidak mungkin untuk mengontrol dan terus-menerus memantau perilaku anak di jalan, di sekolah, dengan teman sebaya, di internet, dan di ponsel pintar. Sebaliknya, pendidik harus menggunakan metode pendidikan cerdas yang didasarkan pada cinta, kasih sayang, persahabatan yang tulus, dan teladan yang baik. Para orangtua harus mengadopsi metode cerita-cerita edukatif, dan minat mereka tidak boleh terbatas pada aspek materi saja, tetapi harus meluas ke aspek moral, kognitif, dan intelektual.

Tantangan terbesar yang dihadapi orangtua di era sekarang adalah menciptakan generasi saleh yang bermanfaat bagi bangsanya, setia kepada tanah airnya, taat kepada nilai-nilai luhur agamanya, dan berbakti kepada orangtua di dunia dan akhirat, sesuai dengan sabda Nabi Saw.: “Ketika seseorang meninggal dunia, amal perbuatannya akan berhenti/terputus kecuali tiga hal: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya,” [H.R. Muslim].

Inilah cara kita membangun generasi pemimpin mendatang, yang akan berkontribusi pada pembangunan negara dan masyarakat mereka serta pembangunan peradaban mereka—generasi yang dapat dipercaya, berwawasan luas, dan bijaksana, yang mengenali kebaikan dan merangkulnya, serta mengenali kejahatan dan menghindarinya.

Ini adalah generasi yang dipercayakan dengan warisan leluhur mereka, yang melestarikan pesan para martir, dan melanjutkan perjalanan pembangunan dan pengembangan. Ini adalah generasi terdidik yang bersaing di bidang pengetahuan, dan mengangkat ide dan moralnya untuk menciptakan contoh-contoh kreativitas dan keunggulan yang paling luar biasa.

Generasi yang hidup untuk kepentingan bangsanya, menyadari tantangan yang dihadapinya dan rencana jahat yang disusun untuk melawannya; generasi yang cerdas dan bijaksana, tidak tertipu oleh konspirasi, tidak terpengaruh oleh desas-desus, dan pikirannya tidak dirusak oleh gangguan; generasi yang berduka atas penderitaan bangsa, dan yang pikirannya terfokus pada ketidakadilan, kesedihan, dan kekurangan yang dialami oleh saudara-saudara sebangsa dan sesama manusia; generasi yang bersemangat untuk memberikan kontribusi berkualitas, meninggalkan warisan positif dan kebajikan mulia yang akan dikenang oleh seluruh umat manusia di bumi, dan yang dengannya ia akan naik ke tingkatan tertinggi di surga.

Ahmad Syauqi, penyair Mesir, berkata: “Ajarkanlah sebanyak yang kalian mampu, karena mungkin akan lahir sebuah generasi yang dapat membawa keajaiban.”

Semoga Allah Swt. membimbing kita kepada apa yang terbaik bagi bangsa, negara dan kesejahteraan rakyat, dan semoga Allah melindungi anak-anak dan generasi muda dari segala kejahatan dan kerusakan.[]

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Tinggalkan Komentar