Assalamu’laikum, Wr. Wb.
Mohon maaf menyita waktunya, Kiai. Saya hanya ingin bertanya mengenai hari Tarwiyah yang oleh umat Muslim diisi dengan puasa sebelum puasa Arafah besok harinya.
Apa sebetulnya asal-asul Hari Tarwiyah dalam Islam? Kenapa dinamakan Tarwiyah? Apa keutamaannya?
Itu saja pertanyaan saya. Semoga Kiai berkenan.
Wassalamu’alaikum, Wr. Wb.
Bakrinissiddiq, Brebes
Terima kasih, Mas Siddiq. Semoga kita mendapatkan rahmat dan berkah dari Allah Swt. di hari Tarwiyah ini. Amin…
Hari ini para jamaah haji menyaksikan hari Tarwiyah, yang dianggap sebagai jalan pembuka bagi rukun terbesar haji dan menandai dimulainya ritual besar haji, yaitu wukuf di Arafah pada Hari Arafah. Tarwiyah adalah hari kedelapan bulan Dzulhijjah, salah satu dari Asyhurul Hurum (bulan-bulan suci) yang Allah muliakan.
Dalam agama Islam, pada bulan ini terdapat dua peristiwa besar, yaitu Hari Raya Idul Adha atau Hari Raya Qurban, dan pelaksanaan ibadah haji. Puncak ibadah haji berlangsung pada tanggal 8-9 Dzulhijjah, yang dikenal dengan Hari Tarwiyah dan Hari Arafah. Pada puncak ibadah haji tersebut, umat Muslim yang tidak melaksanakan ibadah haji disunnahkan untuk berpuasa.
Nabi Muhammad Saw. mengawali Hujjatul Wada’ (haji perpisahan) dengan hari Tarwiyah, yaitu hari pembagian dan pemberian air minum kepada para jamaah haji di hari kedelapan Dzulhijjah di Mina. Beliau berkeliling ke tenda-tenda para jamaah haji untuk mengingatkan tentang kesucian darah, pengampunan, toleransi, prinsip supremasi hukum, dan kesucian kehormatan manusia. Beliau berkata kepada mereka,
أيها الناس، إن الشيطان قد يئس أن يعبد في أرضكم هذه، ولكنه قد رضي أن يطاع فيما سوى ذلك مـما تـحتقرون من أعمالكم، فاحذروه على دينكم
“Wahai manusia, sesungguhnya setan telah berputus asa untuk disembah di negeri kalian ini. Tetapi ia rela untuk dipatuhi dalam hal lain selain itu dari perakara-perkara yang kalian anggap kecil, maka waspadalah terhadapnya atas agama kalian.”
Nabi Saw. menyampaikan kabar gembira kepada umat Muslim bahwa generasi-generasi mendatang tidak akan kembali menyembah selain Allah atau tidak akan lagi menyembah setan, seolah-olah beliau sedang meyakinkan umat Muslim tentang anak-anak dan cucu-cucu merekadengan menanamkan harapan di dalam jiwa mereka seraya memperingatkan mereka untuk tidak mengabaikan perkara ini dan selalu waspada agar tidak jatuh ke dalam perangkap setan.
Nabi Saw. menghabiskan hari kedelapan bulan Dzulhijjah di Mina (Hari Tarwiyah) untuk bertemu dengan umat Muslim yang belum pernah beliau temui sebelumnya. Beliau ada di tengah-tengah mereka sehingga mereka dapat melihat beliau secara langsung, berbicara dengan beliau, dan bertanya tentang manasik haji kepada beliau.
Pada saat Hujjatul Wada’ Nabi Saw. juga memberikan kabar baik kepada umat Muslim dengan bersabda,
الْحُجَّاجُ وَالْعُمَّارُ وَفْدُ اللهِ، دَعَاهُمْ فَأَجَابُوهُ، وَسَأَلُوهُ فَأَعْطَاهُمْ
“Para jamaah haji dan umrah adalah tamu-tamu kehormatan Allah; Allah memanggil mereka, maka mereka memenuhi [panggilan]-Nya. Mareka memohon kepada-Nya, maka Dia pun memberikan kepada mereka,” [H.R. al-Bazzar].
Beliau juga bersabda
إن أفْضل الـحج العج والثج
“Sebaik-baiknya melaksanakan haji adalah yang paling banyak mengucapkan talbiyah dan paling banyak menyembelih hewan sebagai hadiah untuk orang-orang fakir di Makkah,” [H.R. Abu Ya’la, al-Nasa`i, al-Hakim, dan al-Baihaqi].
Kata “al-‘ajj” berarti meninggikan suara saat mengucapkan talbiyah, dan “al-tsajj” berrmakna menyembelih dan berkurban. Selama pelaksanaan ibadah haji Nabi Saw. memperbanyak membaca talbiyah (labbaykallâhumma labbayk), tahmid (al-hamdulillah), dan mensyukuri nikmat Allah Swt..
Penamaan Hari Tarwiyah
Hari Tarwiyah adalah mabit (menginap atau bermalam) di Mina pada tanggal 8 Dzulhijjah sebelum wukuf di padang Arafah. Pada hari ini, para jamaah haji melaksanakan shalat Zhuhur, Ashar, Maghrib, Isya`, dan Shubuh di Mina. Mereka tidak meninggalkan Mina sebelum terbit matahari di hari Arafah.
Terkait penamaan Hari Tarwiyah, di dalam kitab al-Tafsîr al-Kabîr (Mafâtîh al-Ghayb) Imam Fakhruddin al-Razi (544-606 H) mengutip beberapa pendapat ulama perihal alasan di balik penamaan hari tersebut,
فَفِيهِ ثَلَاثَةُ أَقْوَالٍ، أَحَدُهَا: أَنَّ آدَمَ عَلَيْهِ السَّلَامُ أَمَرَ بِبِنَاءِ الْبَيْتِ، فَلَمَّا بَنَاهُ تَفَكَّرَ، فَقَالَ: رَبِّ، إِنَّ لِكُلِّ عَامِلٍ أَجْرًا، فَمَا أَجْرِي عَلَى هَذَا الْعَمَلِ؟ قَالَ: إِذَا طُفْتَ بِهِ غَفَرْتُ لَكَ ذُنُوبَكَ بِأَوَّلِ شَوْطٍ مِنْ طَوَافِكَ، قَالَ: يَا رَبِّ، زِدْنِي.قَالَ: أَغْفِرُ لِأَوْلَادِكَ إِذَا طَافُوا بِهِ، قَالَ: زِدْنِي. قَالَ: أَغْفِرُ لِكُلِّ مَنِ اسْتَغْفَرَ لَهُ الطَّائِفُونَ مِنْ مُوَحِّدِي أَوْلَادِكَ، قَالَ: حَسْبِي، يَا رَبِّ، حَسْبِيي. وَثَانِيهَا: أَنَّ إِبْرَاهِيمَ عَلَيْهِ السَّلَامُ رَأَى فِي مَنَامِهِ لَيْلَةَ التَّرْوِيَةِ كَأَنَّهُ يَذْبَحُ ابْنَهُ،فَأَصْبَحَ مُفَكِّرًا هَلْ هَذَا مِنَ اللَّهِ تَعَالَى أَوْ مِنَ الشَّيْطَانِ؟ فَلَمَّا رَآهُ لَيْلَةَ عَرَفَةَ يُؤْمَرُ بِهِ أَصْبَحَ فَقَالَ: عَرَفْتُ، يَا رَبِّ، أَنَّهُ مِنْ عِنْدِكَ. وَثَالِثُهَا: أَنَّ أَهْلَ مَكَّةَ يَخْرُجُونَ يَوْمَ التَّرْوِيَةِ إِلَى مِنًى، فَيَرْوُونَ فِي الْأَدْعِيَةِ الَّتِي يُرِيدُونَ أَنْ يَذْكُرُوهَا فِي غَدِهِمْ بِعَرَفَاتٍ
“Ada tiga pendapat di balik penamaan hari Tarwiyah; (1). Karena Nabi Adam as. diperintah untuk membangun sebuah rumah, maka ketika ia membangun, ia berpikir dan berkata, ‘Tuhanku, sesungguhnya setiap orang yang bekerja akan mendapatkan upah, maka apa upah yang akan saya dapatkan dari pekerjaan ini?’ Allah Swt. menjawab: ‘Ketika engkau melakukan thawaf di tempat ini, maka aku akan mengampuni dosa-dosamu pada putaran pertama thawafmu.’ Nabi Adam as. memohon, ‘Tambahlah [upah]ku.’ Allah menjawab: ‘Aku akan memberikan ampunan untuk keturunanmu apabila melakukan tawaf di sini.’ Nabi Adam as. memohon, ‘Tambahlah [upah]ku.’ Allah menjawab: ‘Aku akan mengampuni [dosa] setiap orang yang memohon ampunan saat melaksanakan tawaf dari keturunanmu yang mengesakan [Allah].’
(2). Sesungguhnya Nabi Ibrahim as. bermimpi ketika sedang tidur pada malam Tarwiyah, seakan hendak menyembelih anaknya, maka ketika waktu pagi datang, ia berpikir apakah mimpi itu dari Allah Swt. atau dari setan? Ketika malam Arafah mimpi itu datang kembali dan diperintah untuk menyembelih, kemudian Nabi Ibrahim as. berkata, ‘Aku tahu wahai Tuhanku, bahwa mimpi itu dari-Mu.’
(3). Sesungguhnya penduduk Makkah keluar pada hari Tarwiyah menuju Mina, kemudian mereka berpikir tentang doa-doa yang akan mereka panjatkan pada keesokan harinya di hari Arafah.”
Tiga pendapat tersebut didasarkan pada makna Tarwiyah itu sendiri. Menurut Imam al-Razi, tarwiyah bermakna berpikir atau merenung. Dalam hal ini, hari Tarwiyah identik dengan keadaan berpikir dan merenung mengenai peristiwa yang masih dipenuhi keragu-raguan, seperti yang dialami oleh Nabi Adam as. dan Nabi Ibrahim as..
Syaikh Nizhamuddin al-Hasan bin Muhammad bin Husain al-Naisaburi di dalam kitab Tafsîr al-Naysabûrîy menyatakan bahwa hari Tarwiyah mempunyai sejarah yang sangat luar biasa, yaitu menjadi hari persiapan untuk bekal menuju ibadah haji. Orang-orang di Makkah mengumpulkan air yang sangat banyak untuk dibagikan kepada para jamaah haji. Mereka akan membagikannya kepada para jamaah yang merasakan lelah dan dahaga akibat menempuh perjalanan, atau mereka akan membagikan air yang telah mereka kumpulkan kepada para jamaah saat melaksanakan ibadah haji. Ibaratnya, umat Muslim yang sedang melaksanakan ibadah haji adalah orang-orang yang sangat haus akan rahmat Allah Swt.. Karenanya, Allah Swt. telah mempersiapkan rahmat-Nya kepada mereka semua setelah melakukan ibadah haji dengan diampuninya dosa-dosa mereka.
Keutamaan Hari Tarwiyah
Hari Tarwiyah mempunyai banyak keutamaan, baik bagi jamaah haji maupun bagi non jamaah haji. Sesuai dengan namanya, para jamaah haji pada masa Nabi Saw. menghilangkan dahaga mereka di Hari Tarwiyah sebelum wukuf di Arafah, sebab di zaman beliau tersebut tidak tersedia air di tempat-tempat yang ditinggali oleh para jamaah haji.
Orang yang mendapati Hari Tarwiyah dan ia bukan jamaah haji, hendaknya ia memperbanyak doa kepada Allah Swt. supaya menganugerahinya keutamaan mengunjungi Rumah Suci-Nya, karena doa-doa pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah yang diberkahi ini dikabulkan, sebagaimana disampaikan oleh Rasulullah Saw. kepada kita, bahwa selama hari-hari itu Allah akan turun ke langit dunia di sepertiga malam terakhir.
Diriwayatkan bahwa Nabi Muhammad Saw. bersabda,
مَا مِنْ أيَّامٍ أعظَمُ عِندَ اللهِ وَلَا أَحَبُّ إِلَيْهِ مِنَ العَمَلِ فِيْهِنَّ مِنْ هذِهِ الأَيَّامِالعَشرِ، فَأَكْثِرُوا فِيْهِنَّ مِن التَّهْلِيْلِ وَالتَّكْبِيْرِ وَالتَّحْمِيْدِ
“Sepuluh hari pertama dalam Dzulhijjah merupakan hari yang sangat dimuliakan dan disukai oleh Allah, karenanya perbanyak ucapan tahlil, takbir, tahmid,” [H.R. Imam Ahmad].
Nabi Muhammad Saw. juga bersabda tentang keutamaan amal pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah,
ما العَمَلُ في أيَّامٍ أفْضَلَ منها في هذِه؟ قالوا: ولَا الجِهَادُ؟ قَالَ: ولَا الجِهَادُ، إلَّا رَجُلٌ خَرَجَ يُخَاطِرُ بنَفْسِهِ ومَالِهِ، فَلَمْ يَرْجِعْ بشيءٍ
“Tiada amal ibadah yang lebih utama daripada yang dilakukan pada sepuluh hari ini (maksudnya sepuluh hari pertama dari bulan Dzulhijjah).’ Para sahabat bertanya, ‘Apakah termasuk jihad di jalan Allah?’ Rasulullah Saw. menjawab, ‘Termasuk jihad, kecuali seseorang yang pergi berjihad dengan diri dan harta, namun tidak ada yang kembali darinya sedikit pun,” [H.R. al-Bukhari].
Sunnah-sunnah di Hari Tarwiyah
Sejarah menggambarkan para jamaah haji singgah di Mina dan memuaskan dahaga mereka setelah menempuh perjalanan dari Makkah. Mereka mengumpulkan perbekalan air karena di Arafah pada masa itu tidak terdapat air. Imam al-Nawawi di dalam kitab al-Îdhâh fî Manâsik al-Hajj menyebutkan kesunnahan atau anjuran bagi para jamaah haji untuk singgah di Mina pada 8 Dzulhijjah atau hari Tarwiyah dan melaksanakan shalat Zhuhur, Ashar, Maghrib, dan Isya, serta bermalam dan melaksanakan shalat Shubuh di Mina.
Syaikh Ibnu Hajar al-Haitami di dalam kitab Hâsyiyah Ibni Hajar ‘alâ al-Îdhâh mengutip pendapat al-Za’farani yang menganjurkan para jamaah haji menuju Masjid Khif untuk melaksanakan shalat sunnah dua rakaat dan shalat wajib lima waktu yang dianjurkan sebagaimana disebutkan oleh Imam al-Nawawi. Jamaah haji, menurut al-Haitami, juga dianjurkan untuk melaksanakan shalat subuh esok harinya pada batu-batu di hadapan menara karena di situ tempat shalat Rasulullah Saw..
Di dalam kitab Adzâkhirah li al-Qarâfîy, Imam al-Qarafi mengatakan bahwa dianjurkan untuk menjalankan puasa di Hari Tarwiyah.
يستحب صوم تاسوعاء ويوم التروية، وقد ورد صوم يوم التروية كصيام سنة وصوم الأشهر الحرم وشعبان وعشر ذي الحجة، وقد روي أن صيام كل يوم منها يعدل سنة
“Disunnahkan untuk berpuasa pada hari Tasu’a dan Tarwiyah. Telah dijelaskan bahwa berpuasa pada hari Tarwiyah setara dengan berpuasa selama satu tahun, sebagaimana berpuasa pada bulan-bulan Haram dan Sya’ban, Dzulhijah. Diriwayatkan bahwa berpuasa pada setiap hari dari bulan-bulan tersebut memiliki nilai setaradengan berpuasa selama setahun.”
Namun demikian, perlu diperhatikan bahwa semua hal yang disebutkan itu adalah sunnah yang bersifat anjuran, bukan wajib apalagi rukun haji. Artinya, jamaah haji yang tidak mengamalkan sunnah-sunnah pada Hari Tarwiyah karena suatu alasan/sebab atau satu dan lain hal tidak terkena sanksi atau dam haji.
وكل ذلك مسنون ليس بنسك واجب فلو لم يبيتوا بها أصلا ولم يدخلوها فلا شيء عليهم لكن فاتتهم السنة
“Semua ini bersifat sunnah, bukan bagian dari manasik wajib haji. Jika mereka tidak mabit di Mina sama sekali, dan tidak singgah, maka tidak ada dam pada mereka. Mereka hanya keluputan sunnah saja.”
Al-Haitami menambahkan, kalau mereka hanya shalat tanpa mabit atau mabit tanpa shalat, mereka tetap mendapat keutamaan sunnah yang mereka lakukan.
الظاهر أنهم إذا صلوا بها ما ذكر ولم يبيتوا أو باتوا بها ولم يصلوا ذلك بها حصلت لهم سنة الصلاة أو المبيت وإن فاتتهم السنة الأخرى
“Secara zhahir, kalau mereka melaksanakan shalat yang dianjurkan tersebut dan tidak melakukan mabit, atau sebaliknya yaitu mabit tetapi tidak melaksanakan shalat yang dianjurkan, maka mereka mendapatkan keutamaan sunnah shalat atau mabit sekalipun mereka melewatkan sunnah yang lainnya.”
Dari keterangan ini dapat disimpulkan bahwa kesunnahan pada hari Tarwiyah (8 Dzulhijjah) tidak termasuk bagian dari wajib dan rukun haji yang memiliki konsekuensi ketika ditinggalkan. Sejauh dapat diamalkan keseluruhan atau sebagiannya, maka dipersilahkan untuk diamalkan. Tetapi jika fasilitas dan kondisi tidak memungkinkan untuk mengamalkan perkara-perkara sunnah di hari Tarwiyah, jamaah haji tidak perlu merisaukannya.
Hukum Mabit di Mina
Syaikh Syauqi Allam, Mufti Republik Mesir, berpendapat bahwa menurut hukum Islam para jamaah haji diperbolehkan langsung ke Arafah pada hari kedelapan Dzulhijjah (Hari Tarwiyah) tanpa mabit (bermalam) di Mina, sebab mabit di Mina merupakan sunnah dan bukan salah satu rukun atau kewajiban haji.
يجوز شرعًا للحاج التوجه إلى عرفات يوم الثامن من ذي الحجة وترك المبيت بمنى، وغايته أنه ترك مستحبًّا وهو المبيت بمنى. كما يجوز ترك المبيت بمنى خلال أيام التشريق لمن كان له عذر: إن المحافظة على النفس من المقاصد المهمة للشريعة كما هو معلوم، وإذا تعارضت المصالح والمفاسد فإن من المقرر في قواعد الفقه أن درء المفاسد مقدَّم على جلب المصالح، وإذا كان هناك تعارض بين المصالح وُفِّق بينها، وإلا قُدِّمَ أعلاها على حساب أدناها
ونفس المؤمن تتوق دائمًا إلى أداء فريضة الحج، إلا أن الله قد جعل ذلك لمن استطاع إليه سبيلًا، كما جعل الإحصار عُذْرًا في ترك تكملة أداء المناسك، والمحافظة على أرواح الحجيج واجب شرعي، فعلى الجميع أن يعملوا على المحافظة عليها؛ لعظم حرمتها، فعن ابن عباس قال: لَمَّا نَظَرَ رسولُ الله صلى الله عليه وآله وسلم إلى الكعبة قال: مَرحَبًا بكَ مِن بَيتٍ، ما أَعظَمَكَ وأَعظَمَ حُرمَتَكَ، وَلَلْمُؤْمِنُ أَعظَمُ عندَ اللهِ حُرمةً منكَ، إنَّ الله حرَّم منكِ واحدة، وحرَّم من المؤمن ثلاثًا: دمه، وماله، وأن يُظنَّ به ظنَّ السَّوء
“Menurut syariat boleh bagi jamaah haji berangkat ke Arafah pada hari kedelapan Dzulhijjah dan tidak mabit (bermalam) di Mina. Tujuannya adalah meninggalkan sesuatu yang mustahabb yaitu mabit di Mina. Sebagaimana boleh juga untuk tidak mabit di Mina pada hari-hari Tasyriq bagi mereka yang mempunyai alasan/sebab: Menjaga diri, seperti diketahui, adalah salah satu tujuan penting syariat. Jika maslahat dan mafsadat bertentangan, maka ditetapkan dalam kaidah fikih bahwa menangkal mafsadat lebih diutamakan daripada mendatangkan maslahat. Dan jika terjadi pertentangan antara beberapa maslahat, maka harus didamaikan(dipadukan), jika tidak, maslahat-maslahat yang lebih tinggi lebih diutamakan di atas maslahat-maslahat yang lebih rendah.
Jiwa orang beriman selalu rindu untuk menunaikan kewajiban haji, hanya saja Allah telah menetapkan hal itu bagi mereka yang mampu melaksanakannya. Dia pun menjadikan pembatasan tersebut sebagai alasan untuk tidak menyelesaikan manasik (ritual-ritual haji), [karena] menjaga jiwa (nyawa) jamaah haji adalah kewajiban syariat, sehingga semua orang harus berupaya menjaganya, karena kehormatannya yang besar. Dari Ibnu Abbas, ia berkata: ‘Ketika Rasulullah Saw. memandang Ka’bah, beliau bersabda: ‘Selamat datang wahai Ka’bah, betapa mulianya kamu, dan betapa agungnya kehormatanmu, dan orang beriman sungguh lebih besar kehormatannya di sisi Allah daripada kamu. [Karena] sesungguhnya Allah hanya mengharamkan satu hal darimu, sementara dari seorang mukmin Allah mengharamkan tiga hal, darahnya, hartanya dan berprasangka tidak baik kepadanya.”
Kondisi saat ini membuat kebutuhan untuk memberikan kemudahan dan pelayanan terbaik bagi masyarakat Muslim dalam fatwa-fatwa dan hukum-hukum haji semakin meningkat. Alangkah baiknya jika kondisi para jamaah yang menunaikan ibadah haji benar-benar diperhatikan, supaya mereka terhindar dari mafsadat atau bahaya yang mungkin menimpa mereka, sehingga mereka dapat kembali kepadakeluarga mereka dengan selamat, khususnya di tempat-tempat berkumpulnya banyak manusia yang sesak sehingga berdesak-desakan. Syaikh Yusuf al-Qaradhawi berkata,
أما بالنسبة للذهاب إلى منى يوم التروية وأداء الصلوات الخمس فهي سنة، والمبيت بها سُنة، وأداء صلوات الطهر والعصر والمغرب والعشاء والفجر فيها من المستحبات، وليست من أركان الحج ولا واجباته، وترك المستحبات لا أثم فيه، ولا لوم عليه، وخصوصا مع مثل هذه الأعداد المذكورة ولو أن المسلم ذهب يوم التاسع إلى عرفه مباشرة لأجزأه ذلك وتقبل الله منه
“Adapun mengenai pergi ke Mina pada hari Tarwiyah dan menunaikan shalat lima waktu di dalamnya adalah sunnah, serta bermalam di dalamnya juga sunnah. Menunaikan shalat Zhuhur, Ashar, Maghrib, Isya` dan Shubuh di dalamnya adalah mustahabbah (dianjurkan), namun tidak termasuk rukun haji atau kewajiban-kewajibannya, dan meninggalkan hal-hal yang mustahabbah tidak ada dosanya dan tidak ada salahnya, khususnya yang terkait dengan bilangan-bilangan seperti yang disebutkan ini, bahkan jika seorang muslim langsung berangkat ke Arafah pada hari kesembilan, maka itu sudah cukup baginya dan semoga Allah menerimanya.”
Syaikh Ali Jum’ah, mantan mufti Mesir, dalam menjawab pernyataan “Apakah boleh jamaah haji berangkat ke Arafah pada tanggal delapan Dzulhijjah atau hari Tarwiyah, bukannya berangkat ke Mina, mengingat banyaknya dan kepadatan jamaah yang terjadi saat hendak menuju Arafah di hari Arafah?” menegaskan,
إنّه يُسَنُّ فقط-ولا يجب-للحاج أن يذهب فيه إلى مِنًى في الضحى، ويصلي فيها الظهر والعصر والمغرب والعشاء مع قصر الصلاة الرباعية فقط ودون جمع، ويبيت فيها ليلة عرفة، ثم يصلي فيها الفجر وينطلق إلى عرفة في الضحى أيضًا
فإن فعل خلاف هذا وذهب إلى عرفة من يوم الثامن خوفًا من الزحام فلا شيء عليه وحجه صحيح، غاية الأمر أنّه قد ترك مستحبًّا، بل وتركه لعذر، فعسى أن يأخذ ثواب الشيء الذي لولا العذر لفعله، وإنّما الجبران يكون بترك الواجب لا السنة، والله سبحانه وتعالى أعلم.
“Bahwa itu (mabit di Mina) disunnahkan saja—dan tidak diwajibkan—bagi jamaah haji untuk berangkat ke Mina di pagi hari, lalu shalat Zhuhur, Ashar, Maghrib, dan Isya` di sana, dengan meng-qashar shalat empat rakaat saja dan tidak menjamaknya, serta bermalam di sana pada malamArafah, kemudian melaksanakan shalat Shubuh dan berangkat ke Arafah di pagi harinya juga.
Jika ia melakukan selain itu dan berangkat ke Arafah pada hari kedelapan karena takut berdesak-desakan [dengan para jamaah lainnya], maka tidak mengapa baginya dan hajinya sah, karena ia hanya meninggalkan sesuatu yang mustahabb, bahkan ia meninggalkannya karena suatu alasan. Maka boleh jadi ia akan mendapatkan pahala atas apa yang dilakukannya tanpa alasan tersebut. Sesungguhnya pemaksaan itu [boleh dilakukan] hanya karena meninggalkan sesuatu yang wajib, bukan yang sunnah. Allah Swt. lebih mengetahui.”
Mabit atau bermalam di Mina pada malam-malam Tasyriq (layâlî al-tasyrîq) masih menjadi perdebatan di kalangan ulama: mayoritas ulama mazhab Syafi’i, Hanbali, dan Maliki berpendapat wajib, sedangkan mazhab Hanafi berpendapat sunnah, yang disepakati oleh sebagian pendapat lain dari empat mazhab meskipun tidak mu’tamad. Al-Faqih Damad al-Hanafi berkata,
يكره أن لا يبيت بِمِنى ليالي مِنى، ولو بات في غيره من غير عذر لا شيء عليه عندنا
“Makruh [hukumnya] tidak bermalam di Mina, dan jika bermalam di tempat lain tanpa alasan/sebab, maka tidak ada apa-apa baginya menurut kami.”
Di dalam kitab al-Hidâyah, al-Allamah Syaikh al-Mirgnani al-Hanafi berkata,
ويُكرَه أن لا يَبِيتَ بِمِنى لياليَ الرمي؛ لأن النبي عليه الصلاة والسلام بات بِمِنى، وعمر رضي الله عنه كان يُؤَدِّبُ على ترك الـمُقام بها، ولو بات في غيرها متعمدًا لا يلزمه شيء عندنا خلافًا للشافعي رحمه الله، لأنه وجب ليسهل عليه الرمي في أيامه فلم يكن مِن أفعال الحج، فتركه لا يوجب الجابر.
“Makruh [hukumnya] tidak bermalam di Mina pada malam-malam pelemparan jumrah (layâlî al-ramy); karena Nabi Muhammad Saw. bermalam di Mina, dan Umar ra. mengatur disiplin bagi kelalaian bermalam di sana. Kalau [seseorang] bermalam di tempat selain itu dengan sengaja maka tidak apa-apa baginya menurut kami, berbeda dengan al-Syafi’i—semoga Allah merahmatinya—yang mewajibkan bermalam di sana untuk kemudahan dalam pelemparan jumrah pada hari-harinya, dan itu (bermalam di Mina) bukan salah satu amalan haji, sehingga seseorang tidak boleh dipaksa ketika meninggalkannya.”
Pandangan bahwa bermalam di Mina pada hari Tarwiyah adalah sunnah berasal dari pernyataan Imam al-Syafi’i. Syaikh Abu Ishaq al-Syirazi mengatakan di dalam kitab al-Muhadzdzab, “Karena itu adalah mabit (bermalam), maka tidak wajib, seperti bermalam di malam Arafah.” Al-Allamah Syaikh al-Mardawi al-Hanbali di dalam kitab al-Inshâf juga mengutip pendapat Imam Ahmad ibn Hanbal yang menyatakan bahwa bermalam di Mina adalah sunnah.
Diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Imam Muslim dari Ibnu Umar ra., bahwa al-Abbas ra. meminta izin kepada Nabi Muhammad Saw. untuk bermalam di Makkah pada malam-malam mabit di Mina untuk siqâyah (menyediakan kebutuhan air segar/air minum untuk para jamaah haji), dan beliau mengizinkannya. Kalau bermalam di Mina itu wajib, Nabi Saw. tentu tidak akan memberikan keringanan untuk meninggalkannya demi siqâyah. Sehingga diketahui bahwa mabit atau bermalam di Mina adalah sunnah.
أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ عَنْ نَافِعٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ الْعَّبَاسَ بْنَ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ اسْتَأْذَنَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِيَبِيتَ بِمَكَّةَ لَيَالِيَ مِنًى مِنْ أَجْلِ سِقَايَتِهِ فَأَذِنَ لَهُ حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ الْمُغِيرَةِ عَنْ عِيسَى بْنِ يُونُسَ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ نَحْوَهُ
“Abdullah bin Sa’id telah mengabarkan kepada kami, Abu Usamah telah menceritakan kepada kami dari Ubaidullah dari Nafi’ dari Ibnu Umar bahwa al-Abbas bin Abdil Muththalib meminta izin kepada Rasulullah Saw. untuk bermalam di Makkah pada malam (mabit) di Mina, dalam rangka untuk memberi minum orang-orang yang berhaji (siqayah). Kemudian beliau memberinya izin. Sa’id bin al-Mughirah telah menceritakan kepada kami dari Isa bin Yunus dari Ubaidullah bin Umar seperti hadits di atas.”
Syaikh Syauqi Allam berkata,
مما يقوي القول بالسنية أيضًا أن يقال: إن المبيت ليس مقصودًا في نفسه، بل قد شُرِعَ لمعنى معقول، وهو الرفق بالحاج؛ بجعله أقرب لمكان الرمي في غده، فهو مشروع لغيره، لا لذاته، وما كان كذلك فالشأن فيه ألا يكون واجبًا. وإذا أضفنا إلى ما سبق اعتبار ما يَعتَرِي الحجيجَ مِن تعب شديد وضيق مكان وخَوف مرض: كان القول بسنية المبيت بِمِنى وعدم وجوبه هو المختار للفتوى
“Hal yang menguatkan pandangan [bahwa mabit di Mina itu] sunnah adalah dikatakan: bermalam itu tidak dimaksudkan untuk dirinya sendiri, melainkan disyariatkan dengan maksud yang masuk akal, yakni bersikap ramah kepada jamaah haji; menjadikannya dekat dengan tempat pelemparan jumrah esok hari. Jadi, mabit itu disyariatkan untuk sesuatu yang lain, tidak untuk dirinya sendiri. Jika demikian, maka kedudukannya menjadi tidak wajib. Jika kita menambahkan pertimbangan di atas mengenai apa-apa mungkin akan yang menimpa para jamaah haji berupa kelelahan yang luar biasa, sempitnya ruang, dan ketakutan akan penyakit, maka pendapat bahwa mabit di Mina disunnahkan dan tidak wajib adalah pendapat yang tepat untuk fatwa.”
Syaikh Syauqi Allam menambahkan,
وإذا قلنا بالسنية لا الوجوب فيمَن ترك مبيت الأيام الثلاثة جميعًا، فمِن العلماء مَن قال إنه يسن له أن يجبره بدم ولا يجب، ومن ترك مبيت ليلة واحدة جبرها بالتصدق بمُدٍّ من طعام
“Jika kami mengatakan sunnah, bukan wajib, mengenai orang yang tidak mabit di Mina selama tiga hari, maka di antara para ulama ada yang mengatakan sunnah untuk memaksanya membayar dam, namun tidak wajib, dan orang yang tidak mabit selama satu malam, maka ia harus menggantinya dengan bersedekah dengan satu mudd makanan.”
Pandangan ini senada dengan pendapat lain dari Imam al-Syafi’i tentang kesunnahan mabit di Mina pada hari Tarwiyah, sebagaimana juga dikatakan oleh Imam al-Nawawi dalam kitab al-Majmû’,
فإن قلنا: المبيت واجب كان الدم واجبًا، وإن قلنا: سنة فسنة. وقال الحنفية والإمام أحمد في رواية: إنه لا يلزم من ترك المبيت بِمِنى شيء. وقال الإمام أحمد: لا شيء عليه، وقد أساء
“Jika kami mengatakan: ‘Mabit di Mina itu wajib,’ maka dam juga wajib. Dan jika kami mengatakan: ‘Sunnah,’ maka dam juga sunnah. Di dalam suatu riwayat [disebutkan] bahwa mazhab Hanafi dan Imam Ahmad ibn Hanbal berpandangan: ‘Tidak ada kewajiban apapun bagi seseorang yang tidak mabit di Mina.’ Imam Ahmad berkata: ‘Tidak apa-apa baginya, tetapi ia telah melakukan kekeliruan.”
Meskipun menurut pendapat mayoritas ulama bahwa mabit di Mina itu wajib, tetapi mereka masih membolehkan siapa pun yang mempunyai alasan yang sah (‘udzr syar’îy)untuk tidak mabit, dan tidak ada dosa baginya dalam hal itu, dan ia juga tidak perlu melakukan apa pun. Dalam hal ini, tidak ada keraguan bahwa rasa takut akan bahaya akibat sesaknya manusia termasuk alasan yang sah menurut syariat, sebagaimana apa yang dikatakan oleh Imam al-Nawawi di dalam kitab al-Mansak,
أما مَن ترك مبيت مزدلفة أو مِنى لعذر فلا شيء عليه، والعذر أقسام … الثالث: مَن له عذر بسبب آخر، كمن يخاف على نفسه أو مال معه … فالصحيح أنه يجوز لهم ترك المبيت، ولهم أن ينفروا بعد الغروب ولا شيء عليهم
“Adapun orang yang tidak mabit di Muzdalifah atau Mina karena suatu alasan/sebab, maka tidak ada apa-apa padanya. Dan alasan itu terbagi dalam beberapa kategori… ketiga, orang yang mempunyai alasan karena sebab lain, misalnya orang yang khawatir terhadap dirinya sendiri atau harta yang ada bersamanya … pendapat yang benar adalah bahwa mereka boleh tidak mabit, dan mereka boleh berangkat setelah matahari terbenam, dan mereka tidak dikenakan denda apa pun.”
Syaikh al-Khatib al-Syarbini al-Syafi’i berkata di dalam kitab Mughnîy al-Muhtâj,
ويُعذَر في ترك المبيت وعدم لزوم الدم خائفٌ على نفس أو مال أو فوت أمر يطلبه كآبق أو ضياع مريض بترك تعهده؛ لأنه ذو عذر فأشبه الرعاء وأهل السقاية، وله أن ينفر بعد الغروب كما يؤخذ من التشبيه بأهل السقاية
“Dimaafkan untuk tidak mabit dan tidak diharuskan membayar dam bagi orang yang khawatir atas dirinya sendiri, atau hartanya, atau melawatkan (kehilangan jejak) sesuatu yang dicarinya, misalnya buronan, atau tersesatnya orang yang sakit karena ia mengingkari janjikepadanya; karena ia mempunyai alasan, maka ia sama seperti para penggembala dan ahl al-siqâyah (orang-orang yang menyediakan minuman bagi para jamaah haji), dan dia boleh pergi setelah matahari terbenam, sebagaimana layaknya ahl al-siqâyah.”[]
Tinggalkan Komentar