Info Sekolah
Kamis, 16 Apr 2026
  • Pesantren Terpadu Al-Fattah Kuningan
  • Pesantren Terpadu Al-Fattah Kuningan
7 November 2025

Tiga Golongan yang Mendapatkan Naungan Allah di Hari Kiamat

Jum, 7 November 2025 Dibaca 63x Hikmah

Oleh: Ust. Moh. Hidayat, Lc., S.Th.I., Pimpinan Majelis Dzikir Al-Fattah


Sebagai Muslim, kita semua meyakini bahwa hari Kiamat pasti datang. Di hari itu, seluruh umat manusia, laki-laki dan perempuan, akan dibangkitkan dari liang lahat untuk kemudian dikumpulkan di padang Mahsyar dalam keadaan telanjang tanpa sehelai benang pun menempel di tubuh.

Mungkin ada yang bertanya, apakah di padang Mahsyar nanti manusia masih memiliki syahwat alias bernafsu melihat lawan jenisnya?

Sayyidah Aisyah ra. pernah menanyakan hal ini kepada Rasulullah Saw., sebagaimana disebutkan dalam sebuah riwayat,


قالت: سمعت رسول الله -صلى الله عليه وسلم- يقول: (يحشر الناس يوم القيامة حفاة عراة غُرْلاً) قلت: يا رسول الله، الرجال والنساء جميعاً ينظر بعضهم إلى بعض؟، قال: (يا عائشة الأمر أشد من أن يُهمهم ذلك)، وفي رواية: (الأمر أهم من أن ينظر بعضهم إلى بعض)، متفق عليه





“Aisyah berkata, ‘Aku mendengar Rasulullah Saw. bersabda, ‘Manusia akan dikumpulkan pada hari Kiamat dalam keadaan tanpa sandal, telanjang tanpa pakaian dan tanpa dikhitan.’ Kemudian aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, apakah para laki-laki dan perempuan saling memandang satu sama lain?’ Rasulullah pun menjawab, ‘Wahai Aisyah masalah yang akan dihadapi lebih penting dari pada hal itu.’ Dalam riwayat lain, ‘Masalah yang akan dihadapi lebih penting daripada sekedar saling melihat satu dengan yang lain,’” [H.R. Muttafaq Alayh].


Manusia bukan tidak punya nafsu. Tetapi masalahnya, di hari itu manusia menghadapi perkara yang lebih berat daripada sekadar melihat lawan jenis, yang membuatnya lebih fokus terhadap perkara besar tersebut sehingga sama sekali tidak sempat berpikir untuk melihat lawan jenis.

Pada hari itu, seluruh manusia didera ketakutan amat dahsyat atas apa yang kemungkinan besar akan terjadi pada dirinya. Apakah Allah mengampuninya dengan ganjaran surga atau mengazabnya dengan hukuman neraka?

Terlebih lagi, di hari itu, jarak matahari dari kepala manusia hanya sejengkal. Tidak bisa dibayangkan bagaimana panasnya! Takut, panik, gelisah, kalut, cemas, semuanya muncul di dalam diri setiap manusia. Hanya orang-orang yang mendapatkan naungan dari Allah yang merasakan kedamaian dan kenyamanan saat itu. Siapa mereka?


Pertama, Pemimpin yang Adil

Kenapa pemimpin yang adil mendapatkan naungan Allah? Karena keadilan merupakan salah satu nilai paling luhur yang diperintahkan Allah Swt. di dalam Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah Saw..

Para pemimpin yang adil berhadapan dengan keinginan pribadi mereka sendiri, menolaknya, dan mengutamakan kepentingan publik, terlepas dari tekanan yang mereka hadapi, baik dari diri mereka sendiri maupun orang lain. Hal ini berakar dari rasa takut mereka kepada Allah Swt..

Oleh karena itu, mereka pantas menjadi golongan pertama yang akan dinaungi Allah dengan naungan-Nya pada hari kiamat. Dan ini merupakan karunia Allah yang besar.


Kedua, Orang yang Mengikuti Sunnah Nabi Saw.. 

Mengikuti Sunnah Nabi Saw. bisa dilakukan melalui beberapa hal, yaitu sebagai berikut: 


Mempelajari sunnah

Kebutuhan kita terhadap sunnah lebih besar daripada kebutuhan mereka terhadap makanan dan minuman, seperti yang dikatakan Imam Ahmad bin Hanbal, “Manusia membutuhkan makanan dan minuman beberapa kali dalam sehari, tetapi kebutuhannya terhadap ilmu dan sunnah sebanyak nafasnya. Para ulama dan ahli hadits adalah mereka yang menegakkan perintah Allah Swt. hingga Hari Kiamat tiba. Kepala semua ilmu adalah mempelajari Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Saw. serta memahami keduanya, dan mengambil ilmu dari para ulama ulama dan para sahabat Nabi; supaya seseorang tidak jatuh ke dalam kesalahan dan hawa nafsu.”


Mencintai Rasulullah Saw. dan meneladaninya

Ini dilakukan dengan mengikuti ucapan dan perbuatan Nabi Saw., meninggalkan apa yang beliau larang, dan mematuhi adab yang beliau bawanya setiap saat dan dalam semua keadaan. 


Menerapkan sunnah dalam realitas praktis

Yaitu dengan menerapkan tuntunan Nabi Saw. dalam semua aspek kehidupan; dalam muamalah, etika, politik, dan lainnya, karena beragamnya metode Nabi Saw. dalam menyerukan Islam, termasuk hikmah dan nasihat yang baik. 


Mengikuti sunnah para sahabat

Bagian dari mengikuti sunnah Nabi Saw. adalah mengikuti tingkah laku para sahabat Nabi. Allah sangat senang kepada para sahabat Nabi, karena mereka mengikuti sunnah itu sendiri atau apa yang mereka pahami darinya secara keseluruhan dan rinci.


Tekun dalam menyerukan sunnah 

Bahwa seorang Muslim harus selalu menyeru semua orang untuk menjalankan sunnah Nabi tanpa henti sampai mati.

Mengikuti sunnah Nabi Saw. berarti akan mendapatkan syafaat beliau. Dan siapapun yang mendapatkan syafaat beliau pasti mendapatkan naungan Allah kelak di padang Mahsyar pada hari Kiamat.

Di antara sunnah Nabi yang bisa kita terapkan sehari-hari adalah mengucapkan salam, tersenyum, dan berjabat tangan ketika bertemu saudara dan sesama. Sederhana, tetapi manfaatnya luar biasa, baik untuk kesehatan jiwa dan juga raga kita.


Ketiga, Orang yang Senang Bershalawat kepada Nabi Saw.. 

Kita hendaknya senantiasa bershalawat kepada Nabi Saw. karena hal itu bisa mendatangkan ridha Allah dan mendulang banyak manfaat, baik secara agama maupun duniawi. Di antara manfaat shalawat adalah: terkabulnya doa, terbebas dari kekhawatiran, peningkatan derajat, penghapusan dosa, dan mendapatkan syafaat Nabi di hari Kiamat. 

Bershalawat kepada Nabi Saw. merupakan ungkapan rasa syukur atas jasa beliau dalam membimbing kita, pernyataan cinta dan kesetiaan kepada beliau, serta tindakan ketaatan kepada Allah dan para malaikat-Nya yang memerintahkan kita untuk selalu bershalawat kepada beliau.

Wallahu a’lam



*) Disampaikan dalam pengajian Jum’at pagi, di Kantor SDIT Al-Fattah, 31 Oktober 2025

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Tinggalkan Komentar