Namanya Roana Wajdie Jouda, berada di tahun ketiga kuliah di universitas Islam di Gaza. Ia telah menyelesaikan separuh perjalanan dan sedang mempersiapkan diri untuk separuh yang lebih menantang, di mana spesialisasi akan semakin intensif dan impiannya tumbuh.
Roana menghadiri upacara wisuda tahunan universitasnya dan membayangkan dirinya di atas panggung dua tahun kemudian, melambaikan ijazah yang telah diperjuangkannya dengan susah payah, matanya mencari keluarganya di antara kerumunan. Namun kemudian, semua itu runtuh.
Pada tanggal 7 Oktober 2023, kehidupan di Gaza berubah drastis. Universitas-universitas ditutup, pintu-pintu pendidikan ditutup, dan masa depan berada di ambang perang.
Pada tanggal 9 Oktober, sebuah laporan berita terbaru menunjukkan gambar-gambar gedung universitas Islam yang dibom. Itulah awal dari keruntuhan yang sesungguhnya. Roana menyaksikan tahun-tahun kuliahnya runtuh di depannya. Ia tak kuasa menahan air mata.
“Nyawa anak-anak telah terbuang sia-sia dalam antrean penerimaan bantuan, alih-alih mengikuti apel pagi di sekolah. Prioritas utama mereka adalah mendapatkan makanan hangat dari dapur umum. Seluruh masa depan mereka terbuang sia-sia dalam antrean makanan dan air, bukan didedikasikan untuk belajar dan berkembang.”
Pengungsian Tak Berujung Merampas Kedamaian
Malam itu, Roana dan keluarganya melarikan diri dari lingkungan mereka yang berbahaya, dan babak baru penderitaan dimulai: pengungsian, kedinginan, ketakutan, dan kerinduan akan tempat tidur yang tak lagi ada.
Keesokan harinya, Gaza, tempat mereka lahir, tempat mereka berlindung, dibom. Sebagian orang, secara ajaib, selamat dan pindah ke daerah-daerah lain.
Pada 19 Oktober, banyak rumah runtuh dan hancur lebur akibat dibom. Orang-orang muncul di tengah darah dan puing-puing, berlarian seolah terjebak dalam mimpi buruk yang tak berujung.
Di salah satu sekolah, Roana dan keluarganya tidur untuk pertama kalinya di lab komputer. Layar-layar monitor yang gelap menatap mereka dalam diam, seolah bertanya, “Bagaimana mereka bisa sampai di sini?”
Pengungsian itu bukan hanya fisik. Keluarga terpisah; mereka tak berkabar selama berbulan-bulan. Keheningan itu lebih mematikan daripada pengeboman, dan keterasingan di negara kami sendiri lebih keras daripada keterasingan di pengasingan.
Setelah jeda singkat, Roana dan keluarganya kembali ke rumah dan mendapati rumah mereka seolah-olah telah menyaksikan kejahatan: jendela-jendela pecah, debu menutupi ingatan kami, dan dinding-dinding yang seolah membisikkan apa yang telah mereka lihat.
Namun tak ada waktu untuk menangis, karena perang kembali terjadi pada bulan Desember, lebih brutal dari sebelumnya. Kami terpaksa mengungsi lagi, untuk keempat kalinya, dan setiap kali terasa lebih menyakitkan daripada sebelumnya.
Dari Ruang Kelas Hingga Kamp Pengungsian
Universitas dan sekolah bukan lagi ruang belajar, melainkan telah disulap menjadi tempat penampungan darurat. Sekolah yang dulunya memupuk mimpi tiba-tiba menjadi surga bagi para pengungsi yang tak punya tujuan lain.
Sedangkan bagi anak-anak, hidup mereka telah tersita oleh antrean bantuan, alih-alih kumpul-kumpul pagi. Prioritas utama mereka kini adalah mendapatkan makanan hangat dari dapur umum. Seluruh masa depan mereka tersita oleh antrean makanan dan air, alih-alih waktu yang didedikasikan untuk belajar dan berkembang.
“Apa yang terjadi hari ini di Gaza bukan sekadar perang atas tanah atau infrastruktur, melainkan sebuah rencana sistematis yang menyasar masa depan itu sendiri. Ribuan mahasiswa telah terbunuh, ratusan profesor telah gugur, dan universitas-universitas telah hancur.”
Secercah Harapan di Tengah Reruntuhan: Pembelajaran Daring
Pada 28 Juli, setelah berbulan-bulan mengalami kehancuran dan pengungsian, Universitas Islam mengumumkan dimulainya kembali pembelajaran daring. Pengumuman itu bagaikan seberkas cahaya yang menembus celah di dinding gelap. Namun kenyataannya, tidak ada listrik, internet, bahkan peralatan dasar untuk menjelajahi platform atau mengunduh berkas pun tidak ada. Meskipun demikian, Roana tetap berusaha. Ia bertahan dengan apa yang dimilikinya.
Roana duduk di lantai dekat baterai yang hampir habis, menunggu koneksi internet. Belajar menjadi tempat berlindung dari gempuran.
Roana mencapai semester kelulusan—ya, terlepas dari segalanya. Dua tahun belajar di bawah tekanan perang, dipenuhi dengan pertanyaan-pertanyaan kecil yang menyakitkan: Mengapa internet mati? Bagaimana cara mengisi daya laptopnya? Yang paling menyakitkan baginya adalah tidak bisa belajar dari layar monitor; ia membutuhkan materi cetak di tangannya.
Namun, kertas langka, dan jika bisa menemukannya, dua lembar kertas harganya setara dengan satu dolar—sebuah kemewahan sejati di masa roti dan air.
Banyak mahasiswa bahkan tidak memiliki kemewahan akses internet. Mereka pergi ke kafe setiap hari, hanya menghabiskan tiga dolar dari penghasilan mereka yang sedikit untuk tetap terhubung dengan pendidikan mereka.
Inisiatif yang Mendukung dari Jauh
Terlepas dari keadaan ini, Roana tidak sendirian. Orang-orang di luar negeri mendukung rakyat tanpa mengenal mereka. Inisiatif individu dan platform digital memberi kami dukungan nyata. Platform Connecting Humanity mengirimkan kartu SIM kepada penduduk Gaza untuk membantu mereka terhubung ke internet, dan tim Gaza Online tidak pernah ragu untuk mengirimkan kartu SIM dengan cepat.
Roana tidak akan berada di tempatnya sekarang tanpa dukungan dari orang-orang dan platform yang percaya kepadanya sebagai mahasiswa.
“Ketika Roana mengunjungi Universitas Islam selama gencatan senjata singkat, setelah universitas itu diserbu oleh Angkatan Darat dan gedung-gedungnya dibakar, melihat aula-aula yang ia impikan menjadi puing-puing justru memperkuat tekadnya melanjutkan pendidikan.”
Upaya yang Disengaja Menyasar Masa Depan
Apa yang terjadi hari ini di Gaza bukan sekadar perang atas tanah atau infrastruktur, melainkan sebuah rencana sistematis yang menyasar masa depan itu sendiri. Ribuan mahasiswa telah tewas, ratusan profesor gugur, dan universitas-universitas hancur. Perang itu tidak menyisakan siapa pun; pendudukan sengaja menyasar elit ilmiah dan akademis.
Militer Israel berusaha menciptakan generasi yang kehilangan pendidikan, terputus dari dunia selama dua tahun berturut-turut. Namun inilah Palestina, tanah yang telah melahirkan para ulama, insinyur, penyair, dan penulis.
Tanah ini tidak akan kehilangan kehidupan intelektualnya, betapa pun intensnya pemboman. Untuk setiap tokoh ilmiah yang menjadi sasaran pemboman, puluhan lainnya akan bangkit menggantikan mereka.
Roana percaya bahwa sains adalah perlawanan, pengetahuan adalah senjata, dan kesadaranlah yang menjadikan mereka duri dalam dagingnya; ia lebih takut pada kata daripada peluru.
Tiada hari berlalu tanpa mengenang Dr. Rifat Al-Arair, suara puisi Inggris di universitas Islam Gaza, yang gugur syahid sambil menyimpan cinta sejati bagi para mahasiswanya.
Dan juga Dr. Sufian Abdulrahman Tayeh, seorang sarjana fisika teoretis dan matematika terapan, dan mantan rektor Universitas Islam, yang termasuk dalam 2% peneliti terbaik dunia.
Mereka bukan sekadar akademisi, melainkan simbol ilmu pengetahuan, budaya, dan ketahanan di Gaza. Kepergian mereka sekadar luka bagi Roana pribadi sebagai mahasiswa, tetapi juga merupakan upaya yang disengaja untuk membungkam suara-suara yang membawa kisah Gaza ke dunia.
Roana mengirimkan pesan ini, mengikuti jejak mereka yang telah tiada.[RG]
Tinggalkan Komentar