Oleh: Prof. K.H. Nadirsyah Hosen, Ph.D., Profesor Hukum Tetap di Fakultas Hukum Universitas Melbourne, Australia
Nurcholish Madjid (Cak Nur) pernah memprediksi bahwa sekitar 2010 akan muncul gelombang profesor dari kalangan santri NU. Ia membaca tren bahwa santri tradisional muncul sejak 1990-an dalam menempuh pendidikan tinggi. Tapi jeda itu kini berubah menjadi lompatan sejarah.
Fenomena yang dulu dibayangkan Cak Nur kini nyata. Santri-santri mulai menembus ruang akademik modern. Mereka tak lagi hanya belajar fiqh, tapi juga sains, ekonomi, teknik, dan kebudayaan.
Kini wajah-wajah santri hadir di kampus umum dan dunia internasional. Salahudin Kafrawi mengajar filsafat di Amerika; Etin Anwar menulis tentang feminisme; Ismail Fajri Alatas mengajar di New York; Eva Nisa mengajar antropologi di Australia. Di bidang sains dan teknologi, Muhammad Azis menjadi profesor Energy and Process Integration Engineering di Jepang; Hendro Wicaksono seorang Prof bidang Data-Driven Industrial Systems di Jerman; Bakhtiar Hasan menekuni Biostatistika di Belgia.
Di dalam negeri, ada Burhan Muhtadi (alumni Australia), pakar survei dan guru besar FISIP UIN, Agus Zainal Arifin (alumni Jepang) ahli informatika di ITS, hingga TB Ace Hasan Syadzily, santri-akademisi-politisi yang menjadi Gubernur Lemhannas.
Ramalan Cak Nur bukan sekadar soal gelar, tapi lahirnya generasi baru Islam Indonesia—yang berpikir universal tanpa kehilangan akar spiritual. Para santri ini menulis jurnal ilmiah sambil tetap membaca Ihya’ Ulumuddin, berbicara tentang epistemologi tapi masih bershalawat sebelum mengajar.
Bahkan santri yang novelis dan sutradara film, atau yang bikin konser jazz di Prambanan juga ada. Melampaui apa yang dibayangkan Cak Nur.
Gerbong santri ini, penerus Cak Nur dan Gus Dur, akan terus bergerak—menggabungkan olah pikir dan zikir hati, menembus laboratorium dan masjid, menulis dengan akal tapi juga dengan hati.
Indah dan penuh pesona, bukan?
Tinggalkan Komentar