Info Sekolah
Selasa, 25 Agu 2026
  • Pesantren Terpadu Al-Fattah Kuningan
  • Pesantren Terpadu Al-Fattah Kuningan
29 Maret 2026

Suka Duka Menulis

Ming, 29 Maret 2026 Dibaca 60x Kajian

Oleh: H. Roland Gunawan, Lc., Mudir Madrasah Diniyah Lailiyah (MDL) Al-Fattah Kuningan



Penulis yang jujur adalah mereka yang menulis dengan jiwa bangsanya sendiri. Ketika menuangkan gagasan, ia tak pernah tahu: apakah hanya ujung penanya yang berdarah saat menggores kertas? Atau adakah sesuatu yang jauh lebih berharga—suara hati nurani yang menjadi sumber hidupnya—yang turut berdarah setiap kali ia menuliskan kebenaran yang sulit diterima banyak orang?

Bukankah inilah gambaran hidup Munir Muhammad Thayyib? Sosok yang terus berkobar semangatnya, berani menyingkap kejahatan yang berkedok nama negara, demi siapa saja yang masih memiliki mata untuk melihat dan hati untuk merasakan. Bukankah ini pula jejak Usman Hamid, yang dengan lantang menyatakan: “Sekalipun aku harus mati seperti Munir, aku telah siap.”? Begitu juga jalan yang dipilih A.E. Priyono, yang hingga napas terakhir tak pernah mengumpulkan harta duniawi sedikit pun; baginya, warisan gagasan jauh lebih berharga daripada segala kekayaan. Dan bukankah ini nasib tragis Wiji Thukul, penyair rakyat yang hingga kini jasadnya tak pernah ditemukan, seolah ditelan bumi bersama segala kebenaran yang ia genggam erat?

Setiap penulis memiliki tujuan, dan tujuan itulah yang menjadi beban berat yang perlahan meresap ke dalam jiwa. Beban itu bagaikan penyakit kronis yang perlahan merenggut harapan, namun tak pernah sanggup menghentikan langkahnya untuk terus berjuang.

Banyak pemikir besar bangsa telah tiada, pergi membawa ribuan gagasan dan pemikiran yang belum sempat disampaikan sepenuhnya kepada rakyat yang mereka bela. Banyak tokoh, kritikus, dan ulama meninggal dunia, meninggalkan beragam persoalan masyarakat yang belum tuntas mereka kaji. Banyak penyair berpulang, membawa dalam imajinasi mereka ribuan bait puisi yang tak sempat menggema ke telinga orang banyak. Banyak seniman dan pelukis juga pergi, hati mereka penuh dengan gambaran indah yang tak pernah sempat dilihat dunia, karena tangan kekuasaan membungkamnya sebelum sempat terbit.

Ratusan nama telah bersemayam di peristirahatan terakhir, meninggalkan karya agung yang lahir dari jari-jari kreatif mereka. Bagi kita yang membaca atau melihatnya hari ini, karya itu tampak indah dan mengagumkan. Namun bagi para penciptanya sendiri, setiap kata dan setiap goresan itu bagaikan bara api yang menyala-nyala; berpindah dari jari ke jari, dari hati ke hati, membakar diri sendiri demi menyulut kesadaran orang lain. Memiliki bakat saja sudah sulit, namun jauh lebih berat adalah memiliki bakat yang dibebani pesan kebenaran dan kemanusiaan—terutama di zaman ini, ketika nilai-nilai luhur itu seolah mulai pudar dan terabaikan.

Menjadi seniman yang pandai berkarya dan mampu bersaing dengan ribuan nama besar di negeri ini memang merupakan tantangan yang berat. Namun ada tantangan yang jauh lebih dahsyat dan tak terukur nilainya: menjadi seniman yang memiliki pendirian teguh. Seniman yang memikul beban lebih berat daripada langit dan bumi di balik setiap goresan kuasnya. Ia melukis gambar, merangkai tulisan, dengan kesadaran penuh bahwa karyanya bisa saja dipuji di pagi hari, namun di malam hari ia harus menghadapi ancaman—bahwa karyanya itu bisa menjadi alasan peluru melesat menembus tubuhnya, atau penjara menjadi tempat peristirahatan terakhirnya.

Dan hal yang paling menyakitkan adalah bisikan yang terus bergema dari dalam lubuk hati: “Jika pena dan karyamu tidak ditujukan untuk mengagungkan kekuasaan atau memenuhi keinginan segelintir orang, maka ketahuilah: penamu lebih tajam dari peluru, lebih menyakitkan dari tusukan pedang, dan lebih berbahaya dari ledakan bom. Kau bangun pagi dan pulang sore, duduk di ruang sempitmu, namun memikul amanat yang tak sanggup diemban oleh sepasukan tentara lapis baja sekalipun.”

Cobaan sesungguhnya dalam menulis muncul ketika jiwa didorong untuk menyampaikan pesan yang tak ingin didengar siapa pun. Itu adalah keberanian mengungkap persoalan yang selama ini sengaja dibungkam semua pihak; keberanian menyuarakan kebenaran, meski kita tahu konsekuensinya: akan ditolak, dijauhi, dicemooh, bahkan dicabut haknya, dihalangi mata pencahariannya, hingga nyawanya terancam.

Ada saatnya pena bergerak demi tujuan yang disadari sepenuhnya takkan mendatangkan keuntungan materi sedikit pun. Takkan bisa mengenyangkan perut yang lapar, takkan sanggup menghangatkan tubuh yang kedinginan. Justru sebaliknya: jalan itu sering kali membuat kita kehilangan harta benda, terputus dari banyak harapan, dan terasing dari lingkungan. Namun kita tetap bertahan, tetap memilih jalan itu, melepaskan segala kenyamanan, dan terus menggoreskan pena—hanya untuk mengikuti arah hati nurani.

Di sisi lain, ada pula yang memilih menapaki jalan materialisme. Mereka mengejar jabatan bergengsi, rumah mewah, dan kendaraan mahal. Mereka menulis hanya untuk memuji siapa yang berkuasa, mengagungkan satu paham dan merendahkan yang lain, mudah terombang-ambing, serta mengubah prinsip kapan saja demi keuntungan sesaat.

Ada juga yang begitu ragu, hingga satu kalimat pun tak ditulis sebelum dipikirkan berkali-kali. Sering kali kata-kata itu akhirnya dihapus kembali karena tak memenuhi selera mereka yang menganggap kebenaran bukanlah urusan mereka. Bagi kelompok ini, pena hanya bergerak untuk hal-hal yang aman, diterima semua orang, dan tak mengganggu kenyamanan hidupnya.

Jarak antara kelompok ini dengan tujuan suci kemanusiaan itu bagaikan jarak antara bumi dan langit. Memang, mereka bisa duduk di meja yang sama, di kedai kopi yang sama, memegang pena dan menulis di atas kertas yang sama. Namun, perbedaan hati dan tujuan mereka sejauh timur dan barat—dua dunia yang berbeda ukuran, berbeda nilai, dan berbeda standar. Di sini, tak ada yang mengatur selain prinsip hidup, dan tak ada yang menjadi patokan selain pesan yang dibawa.

Maka janganlah heran jika perbedaan itu nyata adanya. Apa bedanya seniman yang melukis satu karya dalam seminggu hanya dengan tiga kuas, tujuh jenis cat, dan dua lembar kanvas—dengan seniman lain yang dikelilingi peralatan lengkap, duduk di ruangan ber-AC, dibayar mahal untuk satu karya, dan mampu menerbitkan puluhan hasil karya setiap harinya?

Seniman yang kedua ini hidup dari memuaskan selera orang berkuasa. Ia menggambar karikatur untuk mengejek siapa saja yang menjadi saingan majikannya, memuji hal yang tak berharga hanya demi merendahkan lawan politiknya, sibuk membongkar kekurangan orang lain seolah itu barang dagangan. Ia berkerumun seperti lalat di tempat kotor, mengais keburukan sesama dan menghisapnya hingga kering, semata-mata demi uang, ketenaran, dan kesenangan sesaat.

Sangat berbeda dengan seniman pertama. Ia rela mengorbankan kebutuhan hariannya hanya agar bisa membeli selembar kertas gambar setiap minggu. Ia tak segan menjual barang-barang pribadi yang tersisa: mantel usang, topi peninggalan leluhur, lukisan pemberian sahabat, atau pena indah dari kawan—semua dilepas hanya demi membeli sebotol cat dengan harga yang ia banggakan, atau seikat kuas yang didapat setelah tawar-menawar panjang agar terjangkau.

Segala yang dimilikinya ia korbankan, lalu hasilnya digunakan untuk melukis wajah perjuangan kemanusiaan yang mulai terlupakan. Jika tak mampu membeli bahan lagi, ia melukis di dinding jalanan, tembok sekolah, atau tempat apa pun yang terbuka. Setiap goresan adalah karya berharga yang lahir dari keringat dan penderitaan panjang, membawa pesan yang telah dilupakan banyak orang—pesan yang takkan pernah ia biarkan hilang sebelum nyawanya sendiri melayang.

Pernah terlihat ia membeli sebotol cat dengan sisa uang terakhir di sakunya, serta sebuah kuas tua yang bulunya sudah rontok karena sering dipakai. Dengan alat sederhana itu, ia melukis kenyataan pahit peperangan yang tak adil, menceritakan perjuangan kaum tertindas, menggambar wajah ibu yang berduka, dan seolah berusaha menghapus air mata anak-anak yatim.

Namun sering kali, lukisan itulah yang menjadi alasan peluru menembus dadanya, atau sebab dijatuhkannya vonis hukuman berat dan penjara seumur hidup.

Tidakkah seniman yang berdedikasi ini tahu bahwa nasib yang menantinya hanyalah penjara atau kematian? Tentu ia tahu! Bahkan, di setiap kata yang ditulis dan setiap goresan yang dibuatnya, ia telah merasakan bayang-bayang penderitaan itu. Mungkin, dalam setiap tarikan napas saat berkarya, ia hanya berharap: semoga akhir hidupnya tak lebih buruk dari satu tembakan peluru yang cepat, atau masa tahanan yang panjang—karena di balik jeruji pun, ia masih punya kesempatan untuk melukis lebih banyak kebenaran dan merangkai lebih banyak puisi. Ia tahu segalanya, namun tetap memilih jalan itu. Sebab begitulah beratnya ujian menjadi penulis dan seniman sejati: ketika pena dan karya kita bukan sekadar hobi, melainkan darah yang mengalirkan pesan kemanusiaan di dalam nadi kehidupan kita.[]

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Tinggalkan Komentar