Oleh: Ustadzah Yulianawati, M.Pd., Humas Pesantren Terpadu Al-Fattah
Di suatu sore, senja di pinggiran Kabupaten Kuningan dihiasi tawa riang para santri SDIT (Sekolah Dasar Islam Terpadu) berbasis pesantren dan asrama penuh pengawasan. Mereka bermain bola di lapangan, bercanda di ruang asrama, atau sekadar bersantai di beranda. Namun, selain kegiatan belajar di kelas pada pagi hari, nyaris belum ada kegiatan khusus yang mendorong kemampuan membaca. Hampir tidak ada santri yang menyempatkan diri membaca buku di waktu luang mereka.
Kondisi ini menyisakan kegelisahan mendalam di hati Ustadzah Ana, seorang guru Bahasa Inggris sekaligus pembimbing asrama yang senantiasa mendampingi dan membimbing para santri dalam setiap aktivitas sekolah maupun pesantren.
Menurut pandangan Ustadzah Ana, para santri sebagai tunas bangsa tidak hanya perlu unggul dalam ilmu pengetahuan, tetapi juga harus berilmu dan berakhlak secara lahir batin. Sayangnya, belum tersedia jalur yang sungguh-sungguh dapat menunjang peningkatan kemampuan akademik mereka, terutama kemampuan literasi.
Suatu ketika, Ustadzah Ana memperhatikan rak buku di ruang kantor. Selain beberapa buku pelajaran, nyaris tak ditemukan bacaan lain. Dalam hatinya, ia bergumam: “Bagaimana kiranya para santri dapat mencintai ilmu pengetahuan, jika mereka nyaris tak pernah bersentuhan dengan dunia bacaan?”
Maka, ia pun memberanikan diri menghadap Kepala Sekolah untuk menyampaikan kegelisahan sekaligus harapannya.
“Ustadz,” ucapnya dengan tutur yang penuh kehati-hatian, “saya melihat minat baca santri kian menurun. Mereka belum memiliki ruang maupun sarana yang memadai untuk membaca. Jika dibiarkan berlanjut, saya khawatir hal ini berdampak pada masa depan mereka. Keinginan saya, kiranya dapat disediakan sebuah perpustakaan di sini.”
Kepala Sekolah menyimak dengan penuh perhatian. “Saya memahami maksudmu, Ustadzah Ana. Namun kita pun perlu bersikap realistis. Anggaran sekolah terbatas, sedangkan membangun sebuah perpustakaan memerlukan biaya yang tidak sedikit.”
“Baik, Ustadz,” jawabnya singkat, menyimpan kecewa namun tak serta merta berputus asa.
Beberapa bulan berlalu, namun tekad Ustadzah Ana untuk mewujudkan harapan itu tak pernah surut. Pada pertemuan rutin para guru, ia kembali menyampaikan gagasannya kepada Kepala Sekolah.
“Ustadz, bagaimana jika kita memulainya dari langkah yang sederhana saja? Misalnya menyediakan pojok baca di setiap kelas maupun di asrama. Tak perlu koleksi yang banyak, yang terpenting adalah keberlangsungannya,” paparnya dengan penuh semangat dan harapan.
Kepala Sekolah menatapnya, tampak tersentuh oleh kesungguhan hati. “Baiklah, cobalah mulai jalankan. Saya yakin, jika diniatkan dengan sungguh-sungguh, niscaya jalan akan terbuka.”
Beberapa minggu pun berlalu. Dengan restu dan dukungan Kepala Sekolah, Ustadzah Ana pun mengajak para wali kelas untuk bekerja sama. Ia mengumpulkan mereka, menyampaikan kegelisahan, harapan, serta rencana yang tersusun: mengumpulkan kardus bekas, lalu menyusunnya menjadi rak sederhana sebagai sarana Pojok Baca di setiap kelas.
Alangkah gembiranya, seluruh guru menyambut gagasan tersebut dengan baik—memandangnya sebagai langkah kecil yang penuh makna, sekaligus wujud kepedulian bersama terhadap masa depan para santri.
Setiap pekan, para guru berkumpul untuk menyusun cara agar Pojok Baca dapat berjalan dan dikenal oleh seluruh santri. Sebagian besar buku yang tersusun di sana adalah sumbangan sukarela dari para santri sendiri. Kini, Pojok Baca telah menjadi daya tarik baru. Di sela-sela waktu istirahat, tampak santri duduk tenang, asyik membalik halaman-halaman buku yang tersedia.

Tak hanya itu, kini tersedia pula Taman Literasi—ruang terbuka yang dirancang agar santri dapat bermain bersama teman-temannya sekaligus belajar dengan suasana yang menyenangkan.

Melihat perubahan yang begitu indah ini, hati Ustadzah Ana pun dipenuhi sukacita. Terlebih melihat anak-anak mulai menikmati kebiasaan membaca. Di benaknya pun muncul gagasan lain. Ia pun menghubungi Dinas Perpustakaan Daerah, berharap Perpustakaan Keliling dapat berkunjung ke pesantren. Dan tak lama berselang, kabar gembira pun datang. Kendaraan Perpustakaan Keliling yang penuh dengan koleksi buku akhirnya tiba di halaman pesantren. Para santri pun bersorak riang, segera mendekat dan memilih bacaan sesuai minatnya. Ada yang tertarik pada ensiklopedia, ada yang menyukai cerita bergambar, dan tak sedikit pula yang penasaran membaca kisah-kisah masa lalu.

“Asyiik, ternyata membaca itu menyenangkan!” seru seorang santri dengan wajah berseri-seri.
Pada kesempatan itu, hadir pula Duta Baca Kabupaten Kuningan yang turut mendampingi, membagikan semangat dan dorongan agar para santri semakin mencintai dunia bacaan. Ustadzah Ana beserta para guru lainnya pun ikut mendampingi, memberi kesempatan kepada para santri untuk berkenalan dan bercengkrama bersama Duta Baca. Sejak saat itu, kedatangan Perpustakaan Keliling menjadi momen yang paling dinanti setiap pergantian semester. Dengan adanya Pojok Baca, Taman Literasi, serta kunjungan rutin Perpustakaan Keliling, keberanian untuk melangkah lebih jauh pun tumbuh. Ustadzah Ana pun menyusun rencana selanjutnya: membudayakan kegiatan membaca secara rutin setiap pekan. Setelah melihat kebiasaan yang mulai terbentuk, Kepala Sekolah pun menetapkan: setiap Jumat pagi, seluruh santri wajib membaca satu buku. Lebih dari sekadar membaca, mereka pun dilatih untuk menceritakan kembali isi bacaan di hadapan teman-temannya.

Pada awalnya, sebagian santri tampak malu-malu. Namun seiring berjalannya waktu, mereka pun mulai menikmati kegiatan tersebut. Bahkan tak sedikit yang dengan sukarela menuliskan kembali intisari bacaan yang mereka baca.
“Manfaat yang dirasakan dari kegiatan rutin ini sungguh terasa besar,” ujar Ustadzah Ana seraya terus memotivasi para santri.
Melalui kegiatan ini, para santri tak sekadar membaca—mereka pun dilatih menyampaikan gagasan di hadapan orang lain. Perlahan, keberanian dan kepercayaan diri pun tumbuh di hati mereka.
Melihat kemajuan yang begitu nyata, Kepala Sekolah pun menyampaikan dalam rapat guru: “Jika semangat terus seperti ini, kiranya sudah saatnya kita memiliki perpustakaan sendiri yang layak.”
Dengan tekad yang bulat, serta didampingi tenaga pendamping dari Taman Baca Masyarakat (TBM) Kuningan, sekolah pun menyusun dan mengajukan permohonan bantuan seribu judul buku kepada Perpustakaan Nasional.
Dan tak lama berselang, harapan itu pun terkabul. Sekolah tidak hanya menerima seribu buku yang meliputi karya fiksi, nonfiksi, ilmu agama, pengetahuan alam, hingga majalah, melainkan juga bantuan rak buku yang layak guna. Seluruh buku kini tersusun rapi di atas rak kayu yang dirakit bersama oleh para guru dan santri. Kini, ruang perpustakaan telah menjadi tempat yang paling nyaman dan disukai untuk menumbuhkan budaya literasi.[]

Tinggalkan Komentar