Info Sekolah
Selasa, 27 Okt 2026
  • Pesantren Terpadu Al-Fattah Kuningan
  • Pesantren Terpadu Al-Fattah Kuningan
27 Oktober 2026

Nihilisme yang Sunyi: Mengapa Kaum Muda Berpaling dari Janji-Janji Besar

Sel, 27 Oktober 2026 Dibaca 3x Kajian

Oleh: H. Roland Gunawan, Lc., Direktur Rumah Tafaqquh Al-Fattah Syi’arul Islam (RTF-SI)



Ketika kita duduk di kafe yang ramai dan mengamati wajah-wajah kaum muda di sekitar, kita tak lagi menemukan amarah yang dulu membakar dada generasi sebelumnya, atau semangat membara yang pernah mendorong orang turun ke jalan demi membela gagasan dan mengubah dunia. Apa yang tersisa hari ini jauh lebih dalam dan mengiris: sebuah apati yang membeku, keheningan yang menyelimuti jiwa mereka yang tiba-tiba memutuskan—tanpa manifesto revolusioner apa pun—untuk berpaling dari segalanya.

Kaum muda ini tidak berteriak, tidak berdebat, dan tidak lagi mengibarkan spanduk. Mereka hanya mengangkat bahu menanggapi berita, menyesap kopi sambil menyaksikan dunia runtuh, seolah-olah itu hanyalah adegan film buruk yang sama sekali tak ada hubungannya dengan mereka.

Generasi yang lebih tua dan politisi lama terbiasa menuduh anak muda masa kini dangkal, hampa, dan terlalu terpenjara oleh hal-hal sepele di balik layar ponsel. Namun, tak satu pun dari para “politisi” ini yang pernah repot-repot bertanya: “Siapa yang sebenarnya telah mengosongkan jiwa-jiwa ini dari daya percaya mereka?”

Kebenaran yang pahit adalah, kaum muda ini adalah produk logis dari puluhan tahun penipuan. Mereka membuka mata dan melihat para ayah mereka gugur dalam peperangan yang tak pernah mereka pilih, hidup mereka terbuang sia-sia demi slogan-slogan suci yang justru mengantarkan mereka pada kemiskinan, keputusasaan, dan antrean panjang untuk sekadar meraih kehidupan yang layak.

Mereka menyaksikan sendiri bagaimana para elit menjual prinsip di pasar kepentingan pribadi yang murahan, dan bagaimana harapan luhur akan keadilan serta kebebasan direduksi menjadi sekadar alat di tangan politisi dan pedagang yang berebut membagi rampasan. Sejak dini, mereka menyadari bahwa menaruh kepercayaan pada tujuan-tujuan agung negeri ini tak lebih dari tiket gratis menuju rumah jagal kekecewaan.

Ini bukanlah nihilisme yang berisik, berbaju hitam, dan haus kekacauan. Melainkan, ini adalah nihilisme yang sunyi dan halus, merayap pelan di bawah kulit kesadaran mereka. Ambisi terbesar kaum muda saat ini hanyalah menghindari penipuan berulang, sekadar bertahan hidup, dan melindungi ruang kecil mereka yang sempit dari serbuan slogan-slogan yang berkilau namun hampa.

Mereka tak lagi mempercayai negara, oposisi, masa depan, apalagi janji-janji manis yang dibisikkan di telinga mereka pada momen-momen istimewa. Mereka merasa kelelahan bahkan sebelum mulai berlari, sadar sepenuhnya bahwa setiap gelora politik atau sosial sejatinya adalah jebakan yang dirancang untuk mencuri sedikit sisa kehidupan yang mereka miliki.

Bencana sesungguhnya bukanlah terletak pada generasi yang memberontak atau berdemonstrasi; sebab generasi seperti itu masih menyimpan bara harapan akan perubahan, betapapun destruktif caranya. Tragedi yang sebenarnya justru menimpa generasi yang telah berhenti berduka dan berhenti kagum. Bagi mereka, kematian kini terasa identik dengan kehidupan, dan sekadar bertahan hidup sama artinya dengan perlahan pergi. Kita meninggalkan mereka di lorong-lorong kelabu tanpa langit, lalu dengan mudahnya kita mencela kegelapan yang menyelimuti jiwa mereka. Bagaimana mungkin kita meminta seseorang untuk percaya pada hari esok, ketika yang kita wariskan di masa kini hanyalah sisa-sisa kebohongan lama, titipan dari orang-orang yang sama-sama kecewa?[]

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Tinggalkan Komentar