Info Sekolah
Selasa, 25 Agu 2026
  • Pesantren Terpadu Al-Fattah Kuningan
  • Pesantren Terpadu Al-Fattah Kuningan
25 Agustus 2026

Meneladani Sang Nabi Saw.: Hakikat Memperingati Kelahiran dan Wujud Cinta Kepada Beliau

Sel, 25 Agustus 2026 Dibaca 4x Hikmah / Kajian

Tulisan ini menguraikan pentingnya memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad Saw. sebagai salah satu peristiwa paling agung dalam sejarah perjalanan umat Muslim. Di dalamnya dikupas kedudukan luhur Baginda Nabi di sisi Allah Swt., keabsahan perayaan kelahirannya, serta betapa pentingnya meneladani kehidupan dan Sunnah beliau yang murni—yang telah menuntun umat manusia dari kegelapan menuju cahaya petunjuk yang terang benderang. Tulisan ini pun mengajak segenap umat Muslim untuk menjadikan beliau teladan luhur dan senantiasa bersatu di atas jalan kebenaran yang beliau sampaikan.


Keabsahan Merayakan Kelahiran Nabi Saw.

Sejarah peradaban manusia terhimpun dari peristiwa-peristiwa abadi yang terus diwarisi dan dihargai dari generasi ke generasi. Di antara peristiwa terbesar yang tercatat dalam sejarah Islam adalah kelahiran Nabi Muhammad Saw.. Kelahiran itu bukan sekadar lahirnya seorang pribadi yang agung, melainkan lahirnya sebuah peradaban, awal dari datangnya era baru bagi seluruh manusia—ketika bumi mulai diterangi cahaya petunjuk, dan kehidupan manusia berubah dari kebodohan serta kegelapan menuju terang benderangnya iman dan kebenaran.

Sebelum diutusnya Nabi Muhammad Saw., umat manusia berada dalam kegelapan kebodohan dan kesesatan. Ketika risalah yang mulia ini hadir, Allah Swt. menerangi jalan petunjuk melalui beliau; nilai-nilai keamanan, kesusilaan, dan akhlak yang luhur pun tersebar luas di tengah kehidupan manusia, serta tegaklah prinsip-prinsip keadilan, kasih sayang, dan kebajikan.

Diriwayatkan secara shahîh, bahwa Rasulullah Saw. pernah ditanya mengenai puasa pada hari Senin. Beliau menjawab: “Itulah hari kelahiranku.” Beliau berpuasa pada hari tersebut sebagai wujud rasa syukur kepada Allah Swt. atas nikmat kelahiran beliau dan permulaan risalah yang dibawanya. Hal ini menunjukkan kebolehan untuk mengenang nikmat yang agung ini serta melimpahkan rasa syukur kepada Allah atasnya.

Kebolehan untuk bersukacita atas nikmat Allah semakin dipertegas melalui firman-Nya: “Katakanlah: ‘Dengan nikmat Allah dan rahmat-Nya, hendaklah mereka bersukacita,’” [Q.S. Yunus: 58].

Tiada nikmat yang lebih agung daripada kelahiran Rasulullah Saw., dan tiada rahmat yang lebih luas daripada kehadiran beliau ke tengah-tengah kita. Sebagaimana pula difirmankan oleh Allah Swt.: “Dan Kami tidak mengutus engkau, wahai Muhammad, melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam,” [Q.S. Al-Anbiya: 107].

Atas dasar itu, dianjurkan untuk memperingati dan merayakan hari kelahiran beliau, sebagai ungkapan rasa gembira dan bahagia atas limpahan karunia serta rahmat yang Allah Swt. anugerahkan kepada seluruh alam melalui kehadiran beliau.


Hukuman Abu Lahab Diringankan karena Kegembiraannya atas Kelahiran Nabi Muhammad Saw.

Disebutkan dalam sejumlah kitab sîrah dan biografi, bahwa Abu Lahab—paman Nabi Muhammad Saw., yang tentangnya Allah Swt. berfirman: “Celakalah tangan Abu Lahab, dan celakalah ia!” [Q.S. al-Masad: 1]—merasakan sukacita yang luar biasa saat menyambut kelahiran keponakannya yang mulia. Ketika Tsuwaibah, hamba sahaya perempuannya, datang menyampaikan kabar gembira tersebut, ia begitu berbahagia hingga memerdekakan Tsuwaibah sebagai ungkapan rasa syukur dan kegembiraannya di hadapan banyak orang, sebagai tanda kasih sayangnya dan rasa senang atas lahirnya Nabi Muhammad Saw..

Setelah Abu Lahab wafat, diriwayatkan bahwa al-Abbas bin Abdil Muththalib melihatnya dalam sebuah mimpi, lalu menanyakan keadaannya setelah kematian. Abu Lahab menceritakan bahwa ia berada dalam siksa Neraka, karena ia meninggal dalam keadaan tetap menyekutukan Allah. Padahal, firman Allah Swt. telah diturunkan mengenainya: “Semoga tangan Abu Lahab binasa, dan semoga ia binasa.” Meski demikian, ia menyampaikan sesuatu yang sungguh menggetarkan hati: “Siksaku diringankan setiap hari Senin, semata-mata karena rasa gembiraku menyambut kelahiran Muhammad putra Abdullah, semoga Allah melimpahkan keberkahan dan keselamatan kepadanya.” (Ibnu Katsir, al-Bidâyah wa al-Nihâyah, 3/407)

Dari kisah yang penuh pelajaran ini, terlihat betapa berharganya rasa bahagia dan sukacita yang tulus menyambut dan memperingati hari kelahiran Nabi tercinta. Hal ini sungguh layak dihayati dan diamalkan oleh setiap orang beriman. Sebab, kelahiran beliau adalah kelahiran manusia yang paling mulia yang pernah menginjakkan kaki di muka bumi, ciptaan Allah yang paling utama, rahmat semesta alam, serta penutup para Nabi dan Rasul yang paling sempurna akhlaknya.


Kedudukan Agung Nabi Muhammad Saw. di Alam Ilahi dan Pemilihan Beliau Sebagai Nabi

Kedudukan luhur Nabi Muhammad Saw. tercermin dari kemuliaan yang Allah anugerahkan kepadanya: kedudukannya yang tinggi di sisi-Nya, keistimewaan yang tiada duanya, serta posisi terhormat yang telah ditetapkan di Alam Ilahi. Oleh sebab itu, umat Muslim hendaknya memperingati peristiwa kelahiran dan diutusnya beliau dengan senantiasa meneladani petunjuk-petunjuknya, mengambil pelajaran serta hikmah yang mendalam, dan mewujudkan makna kecintaan kepada beliau melalui iman yang teguh dan ketaatan yang tulus.

Umat pun dianjurkan untuk mendalami sîrah dan biografi manusia paling mulia sepanjang sejarah—Nabi Muhammad Saw.—sambil menjadikannya momen istimewa untuk memperbarui rasa cinta kepada beliau, meneladani seluruh sikap dan perbuatannya, berpegang teguh pada sunnahnya, berkumpul bersama untuk berdzikir dan berdoa, mempererat tali persaudaraan, memperkokoh persatuan, serta membela agama dan keutuhan umat.

Lebih dari itu, peringatan ini seyogyanya menjadi sarana untuk menyebarluaskan pengetahuan tentang kedudukan dan derajat Nabi Muhammad Saw. yang sangat mulia di sisi Allah Swt.. Allah telah mengambil janji setia dari seluruh nabi: apabila Nabi Muhammad Saw. diutus pada masa hidup mereka, mereka wajib beriman kepadanya dan menolongnya. Sebagaimana firman-Nya: “[Ingatlah] ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi, ‘Manakala Aku memberikan kitab dan hikmah kepadamu, lalu datang kepada kamu seorang rasul yang membenarkan apa yang ada pada kamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya.’ Allah berfirman, ‘Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian dengan-Ku atas yang demikian itu?’ Mereka menjawab, ‘Kami mengakui.’ Allah berfirman, ‘Kalau begitu, bersaksilah kamu (para nabi) dan Aku menjadi saksi [pula] bersama kamu,’” [Q.S. Ali Imran: 81].

Ayat ini menjadi bukti nyata betapa mulianya kedudukan Nabi Muhammad Saw. di sisi Allah, hingga para nabi pun diwajibkan berjanji untuk beriman dan mendukung seandainya mereka hidup di masa kenabiannya.

Hal senada juga ditegaskan dalam hadits-hadits shahîh yang menceritakan keutamaan beliau. Dari Maisarah al-Fajr, ia bertanya: “Wahai Rasulullah, kapan Engkau diangkat menjadi Nabi?” Beliau menjawab: “Ketika Adam masih berada di antara ruh dan jasadnya,” [H.R. Ahmad, No. 20596, sanadnya dinilai shahîh].

Demikian pula dalam sabda beliau yang diriwayatkan dari al-Irbadz ibn Sariyah: “Sungguh, aku di sisi Allah telah tercatat sebagai penutup para nabi (Khatamul Anbiya), sedangkan Adam masih terbaring dalam tanah liatnya,” [H.R. Ahmad, No. 17163; Ibnu Hibban, No. 6404; dan Al-Hakim, No. 3566, yang menyatakan sanadnya shahîh meskipun tidak dimuat dalam kedua kitab Shahîh utama).

Kedua hadits ini mempertegas bahwa pemilihan dan pengangkatan beliau sebagai Nabi telah ditetapkan dan ditakdirkan jauh sebelum penciptaan makhluk, bahkan sejak dalam alam ketidakberadaan, di dalam ilmu Allah Yang Maha Mengetahui.

Salah satu tanda lain kemuliaan kedudukan beliau adalah bahwa Allah Swt. bersumpah demi jiwa beliau di dalam al-Qur’an: “Demi umurmu (Nabi Muhammad), sungguh, mereka terombang-ambing dalam kemabukan [demi melampiaskan hawa nafsu],” [Q.S. al-Hijr: 72].

Kesaksian dan sumpah semacam ini adalah bentuk penghormatan yang luar biasa, yang menunjukkan betapa tingginya derajat dan kedudukan Nabi Muhammad Saw. di hadapan Allah, Penguasa seluruh alam semesta.


Hubungan Tak Terpisahkan: Ketaatan kepada Allah dan Ketaatan kepada Rasul-Nya

Allah Swt. telah mengaitkan ketaatan kepada Rasul-Nya dengan ketaatan kepada-Nya sendiri. Bahkan, ketaatan kepada Rasul dijadikan sama persis dengan ketaatan kepada Allah Swt., sebagaimana firman-Nya: “Siapa yang menaati Rasul (Muhammad), maka sungguh telah menaati Allah,” [Q.S. al-Nisa’: 80].

Allah tidak berfirman “seolah-olah ia telah menaati Allah,” melainkan menetapkan secara langsung: “maka sungguh telah menaati Allah”. Hal ini menegaskan kedudukan Nabi Muhammad Saw. yang amat mulia, sekaligus menunjukkan kewajiban mutlak bagi setiap hamba untuk menaati segala perintahnya dan menjauhi segala hal yang dilarangnya.

Oleh karena itu, menjadi kewajiban seluruh umat Muslim untuk memperkenalkan kepada sesama manusia kedudukan Nabi Muhammad Saw., menjelaskan kemurnian Sunnah serta kemuliaan kehidupan beliau, dan membela ajaran beliau dari segala keraguan serta pemalsuan yang ditimbulkan oleh pihak-pihak yang berniat buruk atau kurang memahami.

Kehidupan beliau adalah kehidupan yang paling sempurna dan paling mulia sepanjang masa. Sunnah beliau adalah perwujudan nyata dari kandungan al-Qur’an—yang menjelaskan hukum-hukumnya dan merinci prinsip-prinsip umumnya. Tanpa Sunnah, banyak makna dan tujuan syariat Islam tidak akan dapat dipahami sepenuhnya. Itulah sebabnya Allah Swt. memerintahkan kita untuk menaati segala yang dibawa oleh Rasulullah Saw., sebagaimana firman-Nya: “Apa yang diberikan Rasul kepadamu terimalah. Apa yang dilarangnya bagimu tinggalkanlah,” [Q.S. Al-Hashr: 7].

Dengan demikian, ketaatan kepada Rasulullah Saw. dan mengikuti petunjuknya adalah fondasi utama agama ini, sekaligus tanda keimanan yang tulus dan ketaatan yang sejati.


Kewajiban Umat Muslim dalam Memperingati Kelahiran Nabi Muhammad Saw.

Di momen peringatan kelahiran Rasulullah Saw., hal yang paling mendasar untuk kita renungkan adalah seruan yang beliau sampaikan: agar kita senantiasa mewujudkan iman, kasih sayang, kedamaian, serta keadilan di tengah kehidupan bersama sesama manusia. Umat Muslim hendaknya berupaya membangun ikatan persaudaraan yang erat, saling mendukung, dan bekerja sama dalam kebaikan—sesuai dengan teladan yang beliau gambarkan bagi kita semua.

Dari al-Nu’man bin Basyir, Rasulullah Saw. bersabda: “Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal kasih sayang, kelembutan, dan kepedulian satu sama lain adalah bagaikan satu tubuh. Jika salah satu anggotanya merasa sakit, maka seluruh tubuh akan ikut merasakannya dengan tidak dapat tidur dan merasa demam,” [H.R. Muslim, No. 2586].

Inilah teladan yang sesungguhnya patuh kita jadikan pedoman. Sejalan dengan firman Allah Swt.: “Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah teladan yang baik bagi orang-orang yang mengharapkan keridhaan Allah dan hari akhir, serta yang banyak mengingat Allah,” [Q.S. al-Ahzab: 21].

Maka, cara yang paling utama untuk menghormati dan memperingati kelahiran beliau adalah dengan meneladani kehidupan dan sifat-sifatnya, berpegang teguh pada Sunnahnya yang harum dan diberkahi, serta menjadikan petunjuk beliau sebagai acuan dalam perkataan, perbuatan, dan pembentukan akhlak yang luhur.

Selaku umat Muslim di masa kini, salah satu kewajiban terbesar yang harus kita junjung tinggi adalah senantiasa berpegang teguh pada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah ﷺ, serta menjadikan kehidupan beliau yang penuh kemuliaan sebagai pedoman nyata dalam setiap langkah hidup. Kita hendaknya meneladani akhlak beliau yang mulia, menelusuri jejak petunjuk yang dibawanya, dan berupaya menyebarkan nilai-nilai agung yang beliau wariskan: kasih sayang seluas alam, keadilan yang teguh, toleransi yang luhur, serta semangat saling menolong dan bekerja sama dalam kebaikan dan ketakwaan.

Selain itu, kita wajib menjaga kemaslahatan persatuan, menjauhi segala hal yang berpotensi memecah belah ikatan persaudaraan, dan bersatu dalam segala hal yang memperkokoh barisan serta kekuatan kita bersama. Marilah kita kerahkan segenap kemampuan untuk memperkenalkan sosok Rasulullah Saw. dan kehidupan beliau yang penuh cahaya kepada seluruh masyarakat, membela Sunnah beliau yang murni dan terjaga, serta menampakkan keagungan petunjuk, rahmat, dan kebaikan yang beliau bawakan bagi seluruh umat manusia.

Pada momen yang penuh berkah ini, kita memanjatkan doa kepada Allah Swt.: semoga Allah menyatukan hati bangsa kita, menuntun kita melanggar di atas jalan kebenaran, merukunkan hati segenap umat Muslim, memberikan kemenangan bagi agama-Nya dan umat Muslim, meninggikan panji keagamaan, serta melindungi tanah air kita dari segala ujian dan kesulitan. Semoga pula Allah menjadikan negeri kita, serta seluruh negeri umat Muslim, senantiasa aman, tenteram, dan sejahtera lahir batin.

Semoga limpahan shalawat, salam, serta rahmat Allah senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad Saw., keluarga beliau, serta para sahabatnya seluruhnya.

Sebagai penutup, peringatan kelahiran Nabi ini adalah momen yang sangat berharga untuk memperbarui ikatan cinta kita kepada Rasulullah Saw.. Mari kita ambil pelajaran dan inspirasi dari kehidupan beliau yang penuh kemuliaan, serta perkuat tekad untuk senantiasa mengikuti petunjuk dan berpegang teguh pada Sunnah beliau. Peringatan ini bukan sekadar rangkaian kegiatan yang berlalu begitu saja, melainkan sebuah kesempatan baru untuk merenungkan kehidupan beliau secara mendalam, serta memahami makna spiritual, pendidikan, dan nilai-nilai peradaban yang terkandung di dalamnya. Semoga dengan demikian, semakin membara kecintaan kita kepada beliau di dalam sanubari, dan semakin teguh pula ketaatan kita dalam meneladani petunjuk serta Sunnah beliau dalam setiap tutur kata, perbuatan, dan pembentukan akhlak kita sehari-hari.

Sunnah Rasulullah Saw. yang telah terjaga kemurniannya merupakan perwujudan nyata dari kandungan al-Qur’an, sekaligus menjadi sumber rujukan utama dalam menegakkan hukum Islam. Menjaga kelestarian Sunnah beliau dan mempertahankan kemuliaan nama beliau adalah kewajiban yang bersifat agama dan keilmuan—yang kita wujudkan melalui penjelasan yang jernih dan dalil yang menguatkan, guna menampakkan keagungan Islam serta kemuliaan kehidupan Rasulullah Saw.. Tanggapan yang paling indah dan tepat bagi keraguan maupun penentangan pihak lain adalah dengan senantiasa berpegang teguh pada akhlak dan karakter Rasulullah Saw., mengamalkan ajaran beliau dengan sepenuh hati, serta menghidupkan kembali nilai-nilai cinta, kasih sayang, dan semangat kebersamaan yang beliau serukan. Hal ini hendaknya disertai dengan komitmen yang kokoh untuk menjaga persatuan sesama umat Islam, memupuk rasa persaudaraan, dan bekerja sama dalam segala hal yang membawa kemajuan dan kekuatan bersama. Semoga dengan demikian, kita senantiasa teguh berdiri di atas landasan iman, bangga akan identitas keislaman kita, dan senantiasa berpedoman pada teladan luhur sosok Rasulullah Saw.[]

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Tinggalkan Komentar