Info Sekolah
Senin, 26 Okt 2026
  • Pesantren Terpadu Al-Fattah Kuningan
  • Pesantren Terpadu Al-Fattah Kuningan
26 Oktober 2026

Legenda Burung Hudhud Nabi Sulaiman (2/4)

Sen, 26 Oktober 2026 Dibaca 2x Kajian

Oleh: H. Roland Gunawan, Lc., Direktur Rumah Tafaqquh Al-Fattah Syi’arul Islam (RTF-SI)



Kisah burung Hudhud milik Nabi Sulaiman memang abadi dalam lembaran al-Qur’an. Pada bagian kedua ini, kita akan menyelami lebih dalam berbagai kisah, legenda, dan penafsiran menarik seputar sang burung yang menjadi rekan setia sang nabi.

Merujuk pada Surah al-Naml, terdapat sebuah fakta menarik: Nabi Sulaiman as. salam sebelumnya tidak mengetahui secara rinci keadaan Kerajaan Saba, termasuk praktik keagamaan penduduk negeri Ratu Bilqis. Hal ini terungkap dari pengakuan sang Hudhud: “Tidak lama kemudian, ia datang seraya berkata, ‘Aku telah mengetahui sesuatu yang belum engkau ketahui; aku membawa kepadamu kabar penting dari negeri Saba,’” [Q.S. al-Naml: 22].

Al-Qur’an merekam bahwa Nabi Sulaiman memang belum mengetahui bahwa penduduk Yaman tersebut menyembah matahari, sebagaimana dilaporkan oleh Hudhud: “Aku mendapati dia dan kaumnya bersujud kepada matahari, bukan kepada Allah,” [Q.S. al-Naml: 24]. Respons Nabi Sulaiman—“Akan kami lihat, apakah engkau berkata benar ataukah engkau termasuk orang-orang yang berdusta,” [Q.S. al-Naml: 27]—menegaskan bahwa ia tidak memiliki pengetahuan sebelumnya atas laporan tersebut. Ia pun mengutus sang burung untuk membawa surat guna menguji validitas informasinya, dan terbukti, Hudhud adalah utusan yang jujur dan dapat dipercaya.

Lantas, apakah Hudhud sekadar burung biasa, ataukah ia memiliki kedudukan istimewa? Ia tidak hanya luput dari murka Nabi Sulaiman, tetapi juga memiliki pengetahuan yang bahkan belum diketahui oleh sang nabi—padahal Nabi Sulaiman dianugerahi kekuasaan dan ilmu yang amat luas. Muncul pula pertanyaan rasional mengenai kemampuan fisik seekor burung yang sanggup menempuh jarak jauh dari Yerusalem hingga ke Kerajaan Saba di Yaman. Di sinilah letak keistimewaannya. Banyak yang meyakini bahwa Hudhud memiliki kemampuan luar biasa, salah satunya adalah kepiawaian mendeteksi sumber air tanah dan mengetahui apakah air tersebut tawar atau bukan.

Sebagian pendapat menyatakan bahwa ini bukanlah sifat biologis semua burung Hudhud, melainkan anugerah khusus (karâmah) yang dikaruniakan Allah kepadanya karena pengabdiannya kepada Nabi Sulaiman. Legenda bahkan menyebutkan adanya permata ajaib di kepala sang Hudhud yang menjadi rahasia kemampuannya menemukan air. Versi lain menyebut, permata itu sejatinya milik Nabi Sulaiman, yang dipinjamkan kepada sang burung setiap kali dibutuhkan.

Dalam literatur Isrâ`ilîyyât (riwayat yang bersumber dari tradisi Yahudi-Kristen), Hudhud digambarkan sebagai “mata” Nabi Sulaiman as. untuk memantau kaum jin; ia bertugas mengawasi dan memberikan informasi jika ada jin yang berniat memberontak. Sementara itu, sejumlah legenda Persia menempatkan Hudhud pada posisi yang jauh lebih agung, menggambarkannya sebagai burung ajaib pelindung kerajaan Nabi Sulaiman. Kisah-kisah ini juga menyebutkan bahwa Hudhud memiliki indra keenam untuk mendeteksi kehadiran makhluk halus jahat atau penipu yang tak kasatmata, lalu mengeluarkan suara peringatan sebagai tanda bahaya yang mendekat.

Meresap lebih dalam ke dalam tradisi Sufi, terdapat riwayat yang menyebutkan bahwa Hudhud biasa terbang menjelajahi langit malam untuk memperingatkan Nabi Sulaiman akan ancaman yang mungkin mengintai. Legenda lain merekam sebuah dialog intim antara Nabi Sulaiman dan sang Hudhud, yang mengisyaratkan kedudukan burung tersebut sebagai “raja dari segala burung”. Dalam percakapan itu, Hudhud menyatakan kesetiaan mutlaknya; ia berjanji tidak akan pernah berkhianat, hanya mengonsumsi makanan yang halal, serta tidak akan pernah bertindak curang terhadap sesama burung.

Sebuah legenda yang tak kalah memikat menceritakan bahwa setelah wafatnya Nabi Sulaiman, burung Hudhud berkelana mencari penguasa lain yang memiliki kebijaksanaan setara dengan gurunya. Karena tak kunjung menemukan sosok yang sepadan, ia akhirnya bersembunyi di sebuah gua terpencil. Konon, sang Hudhud masih hidup hingga saat ini—mirip dengan kisah Nabi Khidhir as.—dan hanya akan menampakkan diri kepada orang-orang yang saleh.

Sementara itu, menurut cerita rakyat dari budaya tertentu, burung Hudhud milik Nabi Sulaiman diklaim tidak pernah minum air secara langsung. Sebuah kepercayaan yang unik meski secara logika biologis sulit diterima, di mana sebagian pihak beranggapan bahwa burung ini mampu menyerap kelembapan langsung dari udara untuk bertahan hidup.

Para mufassir juga menceritakan berbagai detail luar biasa mengenai kemampuan linguistik sang burung. Ada yang mengklaim bahwa Hudhud dapat berbicara dalam bahasa manusia kapan pun ia ingin berkomunikasi dengan Nabi Sulaiman. Penafsiran lain yang lebih langka bahkan menyebutkan bahwa burung tersebut menguasai bahasa semua jenis burung maupun bangsa jin.

Dalam penelusuran ini, kami menemukan beberapa teori menarik mengenai alasan ketidakhadiran burung Hudhud dalam majelis Nabi Sulaiman pada saat itu. Sebagian berpendapat bahwa ia sempat ditawan di dalam sangkar oleh seorang raja asing; yang lain menyatakan bahwa ia sedang sibuk mencari makan; sementara ada pula yang meyakini bahwa ia sedang berkelana untuk menyampaikan pesan tauhid kepada kawanan burung lainnya.

Kembali pada tradisi Yahudi dan Isrâ`ilîyyât, Hudhud digambarkan sebagai penyimpan berbagai rahasia alam. Konon, ia mampu memahami gejolak jiwa dan kedalaman hati manusia yang tersembunyi. Karena keistimewaan inilah ia menjadi kesayangan Nabi Sulaiman, yang kerap mengandalkannya untuk menyingkap niat tersembunyi dari para penguasa negeri lain.

Catatan-catatan kuno bahkan menyebutkan bahwa Hudhud memiliki “Kitab Hikmah” dan memegang “kunci pengetahuan”—sebuah sarana mistis yang memungkinkannya mengungkap rahasia-rahasia bumi. Kemampuannya menemukan sumber air di bawah tanah hanyalah salah satu wujud dari kekuatan tersebut. Lebih jauh lagi, beberapa legenda menyatakan bahwa ia mengetahui lokasi harta karun yang tersembunyi, sehingga menjadi instrumen utama bagi Nabi Sulaiman untuk mengakses kekayaan bumi.

Tak heran jika Nabi Sulaiman lalu menunjuknya sebagai utusan istimewa ke negeri-negeri jauh. Beberapa legenda mengisyaratkan kemampuannya untuk terbang cepat tanpa henti, memungkinkannya menempuh jarak antara Palestina dan Yaman hanya dalam hitungan jam. Namun, pencapaian fisik ini tentu tidak sebanding dengan mukjizat sosok yang mendatangkan singgasana Ratu Bilqis kepada Nabi Sulaiman dalam sekejap mata. Sebagaimana termaktub dalam Surah al-Naml:

“Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari al-Kitab: ‘Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip’. Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, diapun berkata: ‘Ini termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari [nikmat-Nya]. Barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk [kebaikan] dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia,’” [Q.S. al-Naml: 40].[]

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Tinggalkan Komentar