KUNINGAN – Santri Madrasah Diniyah Lailiyah (MDL) Al-Fattah Kuningan mulai hari ini mengikuti pelaksanaan Ujian Tengah Semester Genap, Tahun Ajaran 2025/2026 M. Dimulai dari Ikhtibar Tahriri (Ujian Tulis) yang dibuka hari ini di Pondok Pesantren Terpadu Al-Fattah Kuningan, Senin (02/03/26).
Dalam pembukaan ujian ini, Mudir MDL Al-Fattah, Ust. H. Roland Gunawan, Lc., menyampaikan nasihatnya di depan para santri. Ia menegaskan tentang hakikat dari sebuah ujian. Menurutnya, semua manusia akan diuji dalam setiap bagian dari hidupnya.
“Orang berilmu diuji dengan ilmunya. Orang bodoh diuji dengan kebodohannya. Orang kuat diuji dengan kekuatannya. Orang lemah diuji dengan kelemahannya. Seluruh manusia, tanpa terkecuali, pasti menghadapi ujian dalam setiap bagian hidupnya. Ini adalah fakta. Jadi, di mana pun kita dan dalam keadaan apapun kita, tidak akan bisa menghindar dari ujian,” tegasnya.
Ia melanjutkan, bahwa ujian bisa meninggikan atau merendahkan derajat manusia. “Ujian bisa meninggikan atau merendahkan derajat manusia, tergantung bagaimana manusia menyikapi ujian tersebut. Kalau kita lulus, kita mulia. Kalau tidak lulus, kita menjadi gagal. Sebab dalam setiap ujian itu pasti ada yang lulus dan tidak lulus. Nah, yang tidak lulus itu bukan hanya orang bodoh saja, bahkan orang berilmu pun bisa tidak lulus. Yang tidak lulus itu bukan hanya orang yang diuji dengan kemiskinan. Orang yang diuji dengan kekayaan pun banyak yang tidak lulus,” tuturnya.
Menurutnya, di dalam al-Qur’an ada kisah tentang Fir’aun, raja yang sangat berkuasa pada zamannya. Tetapi justru kekuasaan itulah yang menyebabkannya jatuh serendah-rendahnya, dan ia tenggelam bersama pasukannya di lautan, menjadi ibrah dan pelajaran bagi orang-orang beriman agar menyikapi setiap ujian dengan sikap yang benar.
Di akhir nasihatnya, Ust. Roland berharap para santri bisa bersungguh-sungguh dalam menghadapi ujian. “Apa sikap yang benar dalam menghadapi ujian? Tidak lain adalah syukur dan sabar. Kalian harus bersyukur karena masih diberi kesempatan untuk menjalani ujian guna menempa dan melatih diri untuk meningkatkan kualitas dan kemampuan kalian. Kalian juga harus bersabar menjalaninya dengan belajar sungguh-sungguh. Kalau ujian memerlukan syukur, maka syukur yang kalian berikan adalah syukur yang paling hebat. Kalau ujian memerlukan sabar, maka sabar yang kalian berikan adalah sabar yang paling sempurna. Kalau ujian membutuhkan belajar, maka belajar yang kalian curahkan adalah belajar yang paling sungguh-sungguh,” pungkasnya.
Ikhtibar Tahriri akan berlangsung hingga 6 Maret 2026, disusul setelahnya pelaksanaan Ikhtibar Syafahi (Lisan) selama lima hari, 9 – 13 Februari 2026.[IAF]
Tinggalkan Komentar