Oleh: H. Roland Gunawan, Lc., Mudir Madrasah Diniyah Lailiyah (MDL) Al-Fattah Kuningan
Pada kesempatan Hari Keluarga Internasional, yang dirayakan setiap tahun pada tanggal 15 Mei, diskusi seputar keluarga bukan lagi sekadar acara sosial yang singkat atau perayaan simbolis tradisional. Ini telah menjadi refleksi nyata tentang transformasi mendalam dan serius yang dialami keluarga di era yang berubah dengan cepat ini, yang didorong oleh teknologi dan dunia digital.
Keluarga saat ini tidak lagi hanya menghadapi krisis ekonomi, sosial, atau pendidikan, seperti yang terjadi di masa lalu. Mereka sekarang menghadapi transformasi yang belum pernah terjadi sebelumnya yang dipaksakan oleh era digital, dengan semua aplikasinya, ponsel pintar, platform komunikasi, dan dunia virtual yang telah menyerbu rumah tanpa diundang dan mengubah sifat hubungan manusia dalam unit keluarga.
Keluarga yang Dulunya Penuh Kasih Sayang, Kini Bernegosiasi dengan Layar
Dalam waktu singkat, rumah telah berubah dari ruang dialog, pendidikan, dan kehangatan manusia menjadi pulau-pulau elektronik yang terisolasi. Ayah, ibu, dan anak-anak tinggal di bawah satu atap, tetapi dengan pikiran, minat, dan hubungan virtual yang berbeda dan terpisah.
Sang ayah sibuk dengan ponselnya, sang ibu asyik dengan grup media sosial, sang anak terperangkap dalam permainan video, dan remaja hidup di dunia TikTok, Instagram, dan YouTube, hingga keheningan digital menjadi kekuatan dominan dalam pertemuan keluarga.
Sepanjang sejarah, keluarga telah menjadi sekolah pertama untuk pendidikan, nilai-nilai, rasa memiliki, dan identitas. Dari sana, individu belajar berbicara, menghormati, bekerja sama, disiplin, mencintai, dan bertanggung jawab.
Namun hari ini, keluarga menghadapi pesaing berbahaya yang tidak pernah tidur, tidak pernah lelah, tidak pernah menghormati privasi, dan tidak mengenal batasan pendidikan atau moral. Pesaing ini disebut “dunia digital”, yang telah memasuki kamar tidur, pikiran, serta emosi, dan sekarang mengendalikan perilaku, pikiran, bahasa, dan bahkan mimpi.
Masalah sebenarnya bukan hanya terletak pada keberadaan teknologi itu sendiri, karena perkembangan digital merupakan berkah besar yang telah memberikan layanan luar biasa bagi umat manusia dalam bidang pendidikan, komunikasi, pengetahuan, penelitian ilmiah, dan ekonomi.
Sebaliknya, bahayanya terletak pada bagaimana teknologi itu digunakan dan pada ketiadaan kerangka kerja keluarga, pendidikan, dan budaya yang mampu melindungi keluarga dari transformasi bertahapnya menjadi sekadar perkumpulan manusia yang lebih terhubung dengan internet daripada dengan perasaan dan nilai-nilai kemanusiaan.
Keluarga: Dulu dan Sekarang
Di tanah air, keluarga pada umumnya didasarkan pada hubungan langsung, pertemuan harian, kunjungan keluarga, dan interaksi manusia yang tulus.
Pertemuan keluarga di sekitar meja makan, di malam hari, atau di acara keluarga merupakan ruang untuk pendidikan, bimbingan, dan pertukaran pengalaman, cerita, dan nilai-nilai. Anak-anak belajar dari orang dewasa tentang arti rasa hormat, kesabaran, solidaritas, dan kerja sama.
Namun, saat ini, lanskapnya telah berubah secara radikal. Keluarga sekarang hidup dalam keadaan “kedekatan digital” alih-alih interaksi manusia. Semua orang duduk di tempat yang sama, tetapi setiap individu hidup di dalam layar yang berbeda. Beberapa keluarga bahkan lebih banyak berkomunikasi melalui email daripada percakapan tatap muka, meskipun rumah mereka berdekatan secara fisik.
Transformasi ini tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan sebagai hasil akumulasi yang terkait dengan pesatnya perkembangan teknologi, struktur keluarga yang lemah, kurangnya pelatihan digital bagi ayah dan ibu, di samping keluarga yang sibuk dengan masalah kehidupan sehari-hari dan tekanan ekonomi serta sosial yang terkadang membuat ponsel pintar menjadi “orang tua alternatif” bagi anak-anak.
Anak Digital: Generasi yang Lahir di Dalam Layar
Tantangan paling serius yang dihadapi keluarga saat ini adalah munculnya apa yang dapat disebut sebagai “anak digital”—anak yang berinteraksi dengan telepon dan tablet bahkan sebelum mereka belajar menulis atau berkomunikasi secara alami dengan orang lain. Generasi ini tumbuh dengan kecepatan, gambar, dan efek visual, dan sekarang merasa sulit untuk berkonsentrasi dalam waktu lama, membaca buku, terlibat dalam percakapan yang tenang, atau mentolerir menunggu.
Banyak anak sekarang menghabiskan waktu berjam-jam bermain video game dan menonton video pendek, yang berdampak negatif pada perkembangan psikologis, mental, dan sosial mereka.
Masalah serius terkait kecanduan digital juga mulai muncul, termasuk konsentrasi yang buruk, kekerasan, penarikan diri dari pergaulan, gangguan tidur, penurunan prestasi akademik, dan bahkan dampak pada bahasa, identitas, dan budaya lokal.
Yang lebih mengkhawatirkan adalah bahwa sejumlah besar anak dan remaja sekarang menerima lebih banyak pendidikan dan bimbingan dari “influencer” dan pembuat konten daripada dari keluarga atau sekolah mereka. Dengan demikian, platform digital berubah menjadi lembaga paralel yang membentuk nilai-nilai, perilaku, bahasa, mimpi, dan panutan.
Remaja di Antara Kebebasan Digital dan Target Berbahaya
Remaja di era digital mengalami tekanan psikologis dan sosial yang tidak seintens generasi sebelumnya. Mereka dikepung oleh budaya perbandingan, pengejaran ketenaran, jumlah “like” dan follower, serta penciptaan citra kehidupan yang palsu dan utopis.
Mereka juga menjadi rentan terhadap polarisasi intelektual, perilaku, dan kriminal melalui platform terbuka. Dunia digital bukan hanya sumber pengetahuan dan hiburan, tetapi juga ujaran kebencian, kekerasan, pelecehan, eksploitasi seksual, pemerasan siber, narkoba digital, ekstremisme, rumor, dan manipulasi psikologis dan emosional.
Karena keluarga seringkali gagal mengikuti perubahan yang begitu cepat ini, banyak orangtua tidak menyadari apa yang ditonton anak-anak mereka, dengan siapa mereka berkomunikasi, atau dunia tempat mereka berada. Di sinilah ponsel pintar menjadi pintu terbuka menuju bahaya yang tak terbatas.
Orangtua Juga Menjadi Korban Dunia Digital
Diskusi tentang dampak dunia digital terhadap keluarga tidak boleh terbatas pada anak-anak dan kaum muda, karena orang dewasa juga telah menjadi korban transformasi ini.
Berapa banyak ayah yang absen dari keluarga mereka karena kecanduan berita dan platform media sosial? Berapa banyak ibu yang sekarang hidup di bawah tekanan perbandingan sosial dan kehidupan yang penuh pamer digital? Berapa banyak pernikahan yang hancur karena dunia maya, perselingkuhan online, dan penyalahgunaan media sosial?
Teknologi terkadang membantu menjembatani jarak, tetapi sebaliknya, teknologi telah memperdalam jarak di dalam rumah. Kehadiran fisik tidak selalu sama dengan hubungan manusia dan emosional yang tulus.
Sekolah dan Keluarga: Perjuangan Bersama
Keluarga saja tidak dapat menghadapi banjir digital ini tanpa dukungan dari sekolah, media, masyarakat sipil, dan lembaga budaya dan agama.
Sekolah sekarang lebih dari sebelumnya dituntut untuk mengajarkan anak-anak “literasi digital”, bukan hanya cara menggunakan teknologi. Ini berarti mengajarkan mereka cara membedakan antara fakta dan rumor, antara kebebasan dan kekacauan, dan antara penggunaan internet yang positif dan berbahaya.
Media, di sisi lain, juga dituntut untuk berhenti mempromosikan hal-hal sepele, kekerasan, dan sensasionalisme, dan sebaliknya berupaya menghasilkan konten pendidikan, budaya, dan kemanusiaan yang menghormati kecerdasan keluarga dan melindungi anak-anak dan kaum muda.
Adapun masyarakat sipil, mereka harus terlibat dalam kampanye kesadaran digital, karena pertempuran bukan lagi hanya melawan buta huruf tradisional, tetapi juga melawan “buta huruf digital”, yang menyebabkan orang menggunakan teknologi tanpa menyadari bahayanya.
Keluarga Tidak Menentang Teknologi, Tetapi Menentang Hilangnya Kemanusiaan
Yang dibutuhkan saat ini bukanlah menyatakan perang terhadap teknologi atau kembali ke era pra-internet, karena itu tidak mungkin dan tidak logis. Yang dibutuhkan adalah memulihkan keseimbangan dalam keluarga, sehingga teknologi tetap menjadi alat untuk melayani kemanusiaan, bukan alat untuk mengendalikannya.
Keluarga yang membaca bersama anak-anaknya, terlibat dalam dialog dengan mereka, mengawasi mereka dengan penuh kasih dan kesadaran, dan mendorong mereka untuk berpartisipasi dalam olahraga, budaya, seni, dan kegiatan kemanusiaan dapat melindungi anak-anaknya dari banyak bahaya digital.
Lebih lanjut, menyisihkan waktu tanpa telepon di rumah, menghidupkan kembali pertemuan keluarga, menghargai waktu percakapan, dan memperhatikan kesehatan mental anak-anak adalah langkah-langkah sederhana namun penting untuk menyelamatkan hubungan keluarga dari dinginnya digital.
Apakah Keluarga Masih Mampu Menyelamatkan Kemanusiaan?
Sekarang ini, pertanyaannya bukan lagi hanya: Bagaimana kita melindungi keluarga? Pertanyaan yang lebih dalam telah menjadi: Bagaimana kita melindungi kemanusiaan di dalam keluarga?
Dunia digital berkembang dengan kecepatan yang menakjubkan, sementara masyarakat terkadang kesulitan untuk mengimbangi dampak psikologis, pendidikan, dan budayanya. Meskipun teknologi telah berhasil menghubungkan dunia melalui jaringan, tantangan sebenarnya saat ini adalah bagaimana melestarikan hubungan antarmanusia di dalam rumah.
Keluarga bukan sekadar lembaga sosial biasa; ia adalah benteng terakhir yang melindungi nilai-nilai, identitas, dan kesejahteraan psikologis serta kemanusiaan. Jika keluarga runtuh di bawah tekanan isolasi digital dan erosi nilai-nilai, seluruh masyarakat akan menanggung akibatnya.
Oleh karena itu, membela keluarga di era digital bukan lagi kemewahan intelektual atau latihan retorika, melainkan pertempuran peradaban, etika, dan pendidikan untuk melindungi umat manusia agar tidak menjadi makhluk yang terikat pada layar, tanpa kehidupan yang sesungguhnya.
Hari Keluarga Internasional: Dari Gagasan PBB Menjadi Lonceng Peringatan Global
Hari Keluarga Internasional bukanlah sesuatu yang muncul begitu saja, melainkan sebagai hasil dari meningkatnya keprihatinan internasional sejak tahun 1980-an tentang transformasi sosial, ekonomi, dan demografis yang mulai mengancam stabilitas keluarga serta fungsi pendidikan dan sosialnya.
Pada tahun 1983, Dewan Ekonomi dan Sosial PBB meminta Sekretaris Jenderal untuk meningkatkan kesadaran global tentang isu dan kebutuhan keluarga, dan untuk mendorong pengembangan solusi dan kebijakan pendukung.
Kemudian, pada tahun 1994, Majelis Umum PBB mendeklarasikan “Tahun Internasional Keluarga”, sebelum secara resmi menetapkan tanggal 15 Mei setiap tahun sebagai Hari Keluarga Internasional melalui resolusi PBB pada tahun 1993.
Hari internasional ini bertujuan untuk menarik perhatian pemerintah dan masyarakat terhadap pentingnya keluarga sebagai unit dasar masyarakat, dan untuk meningkatkan kesadaran akan isu-isu yang dihadapinya, baik yang berkaitan dengan kemiskinan, perpecahan keluarga, migrasi, pendidikan, transformasi ekonomi, atau pengaruh digital dan budaya modern.
Hari ini juga berfungsi sebagai kesempatan tahunan untuk menilai situasi keluarga di seluruh dunia dan untuk meluncurkan laporan, studi, dan rekomendasi yang menyerukan pengembangan kebijakan sosial, pendidikan, dan ekonomi yang melindungi keluarga dan mendukung anak-anak, perempuan, lansia, dan kaum muda di dalamnya.
Keluarga di Tengah Ketidaksetaraan Sosial dan Dunia Digital
PBB memilih tema untuk Hari Keluarga Internasional 2026: “Keluarga, Ketidaksetaraan Sosial, dan Kesejahteraan Anak.” Slogan ini mencerminkan luasnya keprihatinan internasional tentang semakin lebarnya kesenjangan sosial, ekonomi, dan digital yang secara langsung berdampak pada stabilitas keluarga dan masa depan anak-anak di seluruh dunia.
Dalam pernyataan dan laporan pendahuluan untuk kesempatan ini, PBB menekankan bahwa keluarga menghadapi tantangan kompleks, tidak lagi hanya terkait dengan kemiskinan, pengangguran, atau layanan sosial yang tidak memadai, tetapi juga dengan dampak teknologi modern dan dunia digital, yang telah mengubah kehidupan keluarga dan hubungan manusia di dalam rumah.
PBB juga memperingatkan bahwa kurangnya keadilan sosial dan akses yang tidak setara terhadap pendidikan, kesehatan, layanan, internet, dan teknologi memperburuk kerentanan keluarga dan berdampak negatif pada perkembangan psikologis dan pendidikan anak-anak.
Di antara pesan-pesan paling menonjol yang disampaikan dalam dokumen PBB untuk tahun 2026 adalah seruan untuk mengembangkan kebijakan keluarga baru yang mampu mengikuti perkembangan zaman digital. Ini termasuk memberikan perlindungan sosial, mendukung pendidikan keluarga, memastikan penggunaan teknologi yang aman dan bertanggung jawab, dan memperkuat peran keluarga dalam memerangi isolasi digital dan erosi nilai-nilai serta kesejahteraan psikologis.
PBB juga menekankan perlunya investasi pada pendidikan anak usia dini, mendukung orangtua, dan menyediakan pendidikan berkualitas, layanan kesehatan, dan akses digital yang adil bagi semua keluarga, karena masa depan masyarakat dimulai dari dalam keluarga itu sendiri.
Di balik pesan-pesan ini terdapat kesadaran yang semakin meningkat bahwa dunia mulai menyadari bahwa krisis paling serius yang akan datang bukan hanya krisis ekonomi atau militer, tetapi juga krisis yang berkaitan dengan rusaknya ikatan keluarga, kecanduan digital, isolasi psikologis, dan hilangnya dialog di dalam rumah.
Oleh karena itu, membahas keluarga bukan lagi sekadar wacana sosial tradisional, tetapi telah menjadi isu strategis yang terkait dengan keamanan sosial, budaya, dan manusia serta masyarakat di era di mana layar, algoritma, dan dunia virtual mengendalikan detail-detail kehidupan sehari-hari.[]
Tinggalkan Komentar