Info Sekolah
Senin, 24 Agu 2026
  • Pesantren Terpadu Al-Fattah Kuningan
  • Pesantren Terpadu Al-Fattah Kuningan
30 Juli 2026

Filsafat dan Anak: Mengapa dan Bagaimana Kita Bisa Mengajarkannya?

Kam, 30 Juli 2026 Dibaca 20x Edukasi / Kajian

Oleh: H. Roland Gunawan, Lc., Mudir Madrasah Diniyah Lailiyah (MDL) Al-Fattah Kuningan



Dalam bukunya The Philosophy of Childhood, Gareth Matthews menuliskan pertanyaan seorang anak: “Ayah, bagaimana kita bisa yakin bahwa segala sesuatu bukan sekadar mimpi?”

Sebelum tumbuh menjadi dewasa, setiap orang pernah menjadi anak yang penuh daya cipta dan imajinasi—anak yang pertanyaannya sering kali dibungkam oleh lingkungan. Hal ini perlahan meredupkan rasa ingin tahu mereka, membatasi cara pandang mereka, dan menjadikan mereka pribadi yang terbebani rutinitas, berpikir dangkal, serta kehilangan kreativitas.

Anak-anak sejatinya memiliki semacam kejeniusan yang sering kali memudar begitu mereka menginjak kedewasaan, saat kehidupan menyeret mereka ke dalam pola yang berulang dan membosankan. Namun, nasib ini tidak harus terjadi jika potensi tersebut dipelihara dan dikembangkan. Dan tidak ada bidang yang lebih tepat untuk tujuan ini selain filsafat—sumber kreativitas dan sarana melatih cara berpikir yang berbeda. Oleh sebab itu, mengenalkan filsafat adalah hak yang sah, yang menjamin perkembangan kita yang sehat sebagai makhluk yang berakal budi.

Meskipun gagasan ini tampak sederhana pada pandangan pertama, kenyataan sering kali berbicara lain. Di satu sisi, filsafat identik dengan kreativitas dan keberagaman pandangan; di sisi lain, ia juga dipandang sebagai ilmu yang luhur, mendalam, dan terasa jauh dari jangkauan kebanyakan orang—sesuatu yang memancarkan wibawa dan keagungan tersendiri. Upaya mendekatkan kecintaan pada kebijaksanaan kepada masa kanak-kanak pun sering dianggap seolah-olah meruntuhkan keagungan yang melekat pada filsafat tersebut.

Mempertemukan dunia anak yang penuh tanya dan kekaguman dengan filsafat memang menghadirkan sebuah paradoks. Perbedaan antara kesederhanaan pikiran anak dengan pemikiran kritis yang mendalam tampak seluas langit dan bumi. Namun sebagaimana keduanya tetap bersatu dalam ciptaan Tuhan, anak dan filsuf pun tetap bersatu karena keduanya adalah manusia. Maka pertanyaannya pun tetap relevan: mungkinkah kita melahirkan jiwa filsuf dalam diri seorang anak?


Hakikat Filsafat dan Masa Kanak-kanak

Seorang anak, pada hakikatnya, adalah pribadi yang terbuka, bebas, dan terus berkembang menuju dunia serta orang-orang di sekitarnya. Langkah pertama keterbukaan ini terwujud dalam lingkungan keluarga, yang menjadi pihak pertama yang membentuk dan merawat potensi tersebut. Tugas ini kemudian menjadi tanggung jawab bersama antara keluarga dan sekolah. Pepatah bahwa “sekolah adalah rumah kedua” bukan sekadar rangkaian kata yang indah, melainkan sebuah kebenaran—gambaran tentang bagaimana sekolah seharusnya berperan.

Namun kenyataannya, sering kali justru keluarga dan sekolah yang tanpa sadar menghambat potensi ini. Di balik semangat dan kehidupannya yang dinamis, seorang anak adalah gudang rasa ingin tahu yang meledak-ledak, yang melontarkan pertanyaan yang tiba-tiba dan kadang membuat kita terdiam: Dari mana saya berasal? Bagaimana dunia ini diciptakan? Siapakah Tuhan? Pertanyaan-pertanyaan ini—meskipun terdengar sederhana bagi yang mengajukannya—sesungguhnya mengandung makna filosofis dan pertanyaan mendasar tentang keberadaan yang sayangnya sering kali dipatahkan atau diabaikan oleh orang dewasa di sekitarnya. Akibatnya, tugas yang seharusnya mengembangkan potensi kemanusiaan justru berubah menjadi mematikan benih pemikiran filosofis yang alami, yang hidup dalam rasa ingin tahu dan pertanyaan-pertanyaan itu sendiri. Padahal rasa ingin tahu dan bertanya bukanlah hal yang asing bagi filsafat—keduanya justru merupakan langkah dan prinsip utama dalam mempelajarinya.


Keajaiban dan Penyelidikan: Antara Kekaguman Anak dan Pemikiran Filsuf

Rasa kagum adalah perasaan yang dimiliki semua manusia, namun biasanya kita merasakannya terhadap hal-hal yang luar biasa, yang jarang kita temui. Kita mungkin tidak lagi heran melihat burung terbang, namun kita akan terpana melihat keajaiban alam atau bahkan bencana besar. Padahal, rasa kagum yang sesungguhnya dalam filsafat sering kali justru berupa hal yang dianggap sepele hingga ditertawakan—seperti kisah gadis dari daerah Thrakia yang menertawakan Thales, yang jatuh ke dalam mata air karena terlalu asyik menatap langit. Bagi Plato, tawa ini mencerminkan sikap orang-orang yang menganggap diri mereka “berakal sehat” dan “praktis”, yang sering kali merespons pertanyaan-pertanyaan mendalam dengan cara yang demikian.

Namun, apa yang dilihat Thales di langit lahir dari rasa heran dan keingintahuan yang mendalam—keinginan untuk memahami bagaimana dunia bekerja, mengapa segala sesuatu ada, dan untuk tujuan apa ia diciptakan. Di sinilah letak persamaan antara anak dan filsuf: keduanya memandang dunia seolah-olah melihatnya untuk pertama kali. Dari sudut pandang ini—yang mampu menemukan keajaiban dalam hal yang biasa, keanehan dalam hal yang akrab, dan keunikan dalam keseharian—kekaguman seorang filsuf sangat mirip dengan kekaguman seorang anak. Keduanya melihat kenyataan dan keberadaan secara lebih luas, melampaui cara pandang dangkal yang dianut orang kebanyakan.

Jika benar seperti yang dikatakan Karl Jaspers bahwa “dalam filsafat, pertanyaan lebih penting daripada jawaban”, maka bertanyalah yang menjadi ciri utama diri seorang anak. Pertanyaan mereka lugu, kadang menantang, tiba-tiba, dan sering kali membuat kita bingung—persis seperti persoalan-persoalan filosofis—yang berputar di sekitar keberadaan Tuhan, kemanusiaan, dan dunia. Anak memiliki semangat penjelajahan yang mendorongnya untuk mempertanyakan segala sesuatu yang dilihatnya, bahkan keberadaan dirinya sendiri.

Dari uraian ini dapat disimpulkan bahwa kemampuan alami anak untuk bertanya dan merasa heran mengandung kecenderungan mendasar untuk memahami dan mendalami filsafat. Hal ini menjadikan mereka lahan yang sangat subur untuk menumbuhkan pemikiran filsafat, yang pada gilirannya akan mempertajam kemampuan tersebut agar menjadi lebih teratur, masuk akal, terarah, dan penuh kesadaran.


Mungkinkah Mengajarkan Filsafat Kepada Anak?

Jean Piaget, pakar psikologi perkembangan yang sangat berpengaruh, berpendapat bahwa pemikiran filsafat yang kritis baru mungkin dimiliki anak setelah berusia sekitar dua belas tahun. Alasannya, anak-anak belum mampu “berpikir tentang pemikiran itu sendiri”, yang berarti mereka belum memiliki kemampuan berpikir abstrak sebagaimana orang dewasa. Oleh karena itu, upaya mengenalkan filsafat kepada mereka dianggap belum waktunya, karena kita tidak boleh memaksakan atau mempercepat tahapan perkembangan anak. Namun, benarkah pendapat Piaget ini? Ataukah pandangannya yang justru belum melihat kemungkinan yang lebih luas?


Gareth Matthews dan Michel Tozzi: Pendukung Pengajaran Filsafat untuk Anak

Gareth Matthews sendiri menolak pandangan yang dikemukakan Piaget. Menurutnya, teori tersebut justru memperkuat anggapan bahwa anak-anak belum mampu berpikir, sekaligus membuktikan bahwa Piaget kurang memahami sifat alami dan potensi berpikir yang ada pada diri mereka. Melalui percakapan yang ia lakukan dengan sekelompok anak laki-laki tentang alam semesta, Matthews membuktikan betapa siap dan antusiasnya anak-anak memikirkan hal-hal yang bersifat filosofis.

Sebagai contoh, pada salah satu diskusi tersebut, Sam berkata: “Alam semesta mencakup segala sesuatu dan ada di mana-mana, tetapi jika terjadi Ledakan Besar atau semacamnya, apa penyebabnya? Sesuatu tidak mungkin meledak begitu saja dari ketiadaan.” Kemudian, setelah berdiskusi lebih lanjut, Nick menyimpulkan: “Pasti ada permulaan bagi alam semesta; jika tidak, tidak akan ada yang namanya ‘di sini’.”

Sejalan dengan hal itu, Michel Tozzi juga mengemukakan pandangan bahwa filsafat sebenarnya bisa dipelajari jauh sebelum masa sekolah menengah atas. Ia menekankan bahwa membatasi siapa yang boleh mempelajari filsafat dan kapan hal itu boleh dilakukan justru merusak hakikat filsafat sebagai hak asasi manusia yang mendasar. Kenyataannya, sistem pendidikan yang terbiasa hanya mendengarkan, bercerita, dan menghafal memang menyulitkan penanaman nilai-nilai filsafat yang tepat bagi anak-anak. Oleh karena itu, pendekatannya sebaiknya diubah: anak-anak sebaiknya diajak mengenal filsafat melalui kegiatan lisan dan diskusi, serta menggunakan berbagai bahan dari warisan pemikiran—seperti cerita dan mitos yang disesuaikan—bukan hanya sekadar membaca dan menulis, atau menganggap bahwa filsafat baru bisa dipelajari jika guru tidak hadir. Jika para filsuf zaman dahulu bisa mendapatkan kebijaksanaan melalui percakapan dan dialog, mengapa kita tidak bisa melakukan hal yang sama saat ini?


Pandangan Plato: Belajar Filsafat Mulai Usia Tiga Puluh?

Berbeda dengan pandangan di atas, Plato dalam bukunya Negara menyatakan bahwa studi tentang dialektika dan filsafat sebaiknya baru dimulai pada usia tiga puluh tahun, setelah seseorang terlebih dahulu mendalami matematika dan ilmu pengetahuan alam. Menurutnya, untuk layak mempelajari filsafat, seseorang harus menguasai ilmu-ilmu dasar terlebih dahulu, serta harus memiliki kedewasaan jiwa, karena kegiatan ini membutuhkan penggunaan akal budi secara penuh dan konsentrasi yang maksimal.

Pandangan ini diperkuat oleh peringatannya: “Salah satu hal yang paling penting adalah menjaga agar mereka tidak mempelajari dialektika selagi masih muda. Kamu pasti tahu bahwa jika remaja berkenalan dengan hal ini terlalu dini, mereka cenderung menyalahgunakannya; mereka memperlakukannya sekadar sebagai hiburan dan kesenangan untuk berdebat, saling membantah, dan bermain-main dengan logika, persis seperti anak anjing yang suka menggigit dan menarik-narik siapa saja yang mendekatinya.” Ia bahkan menyarankan agar negara mengatur pengajaran filsafat, supaya tidak diajarkan kepada mereka yang belum cukup umur, melainkan dijadikan tujuan utama bagi mereka yang sudah matang dalam mencari ilmu.

Dengan pandangan ini, Plato memberikan kesan bahwa filsafat adalah ilmu yang tinggi dan luhur, yang tidak sembarangan orang bisa atau boleh mempelajarinya kapan saja. Sebaliknya, seseorang harus terlebih dahulu pantas dan siap untuk “dihormati” dengan pengetahuan ini. Oleh karena itu, ia menolak mengajarkan filsafat kepada anak-anak yang masih muda, yang menurutnya, dalam usahanya memahami hal ini, berperilaku serupa dengan anak anjing yang ia gambarkan tadi.


Penutup

Siapakah manusia? Ia adalah makhluk yang berada di antara ketiadaan dan keberadaan, antara hidup dan mati—yang sadar akan keberadaannya sekaligus sadar bahwa ia akan mati. Ia bisa saja mengabaikan kesadaran ini dan tetap hidup dalam kebodohan, atau menggali lebih dalam dan menjadi bijaksana, atau memilih untuk terus menjadi seorang filsuf.

Lalu, siapakah para filsuf itu? Mereka adalah orang-orang yang berdiri di tengah-tengah antara orang yang masih bodoh dan orang yang telah sempurna kebijaksanaannya. Mereka disebut bijak karena apinya semangat mencari kebenaran terus menyala; namun mereka juga belum sempurna karena belum ditemukannya jawaban mutlak yang dapat memadamkan pencarian yang tak berujung itu.

Dan menjadi seorang filsuf itu sendiri berarti: terus bertanya, merasa heran, meragukan apa yang ada, dan merenungkan maknanya—tidak hanya pada diri sendiri, tetapi juga pada orang lain dan dunia di sekitar kita. Itu berarti menolak terbawa arus kebiasaan dan rutinitas yang membosankan, agar kita tidak mati sebelum waktu kita tiba. Dan yang terpenting, itu berarti membiarkan jiwa anak yang ada di dalam diri kita tetap hidup—yang mampu melihat segala sesuatu seolah-olah untuk pertama kalinya, “melihat keberadaan sebagaimana yang dilihat mata Adam pada awal penciptaan.”[]

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Tinggalkan Komentar