Oleh: H. Roland Gunawan, Lc., Mudir Madrasah Diniyah Lailiyah (MDL) Al-Fattah Kuningan
Pendidikan adalah salah satu faktor terpenting—atau mungkin yang terpenting—yang mengangkat martabat manusia, membangun peradaban, dan memastikan kelangsungan hidupnya, sekaligus melindunginya dari mereka yang berusaha merusaknya, baik secara internal maupun eksternal.
Dalam sejarah Islam, selama era Dinasti Seljuk, terjadi lompatan kualitatif dalam pendidikan, yang secara signifikan memengaruhi kemajuan dan perkembangan proses pendidikan di seluruh dunia Islam. Selama berabad-abad, dunia Islam mendapat manfaat dari model sekolah Nizhamiyah (al-Madrasah Nizhamiyyah), yang memperkenalkan pendekatan pendidikan terstruktur berdasarkan pengetahuan khusus dan kehadiran siswa secara teratur. Hal ini sangat berbeda dengan era sebelumnya, di mana pendidikan bergantung hanya pada kehadiran sukarela siswa.
Penghargaan atas pendirian sekolah ini layak diberikan kepada menteri Negara Seljuk yang terkenal, Nizham al-Mulk al-Thusi, di era Sultan Malik Shah. Ia mendirikan sekolah Nizhamiyah pertama di Baghdad, yang kemudian dinamai menurut namanya. Model sekolah Nizhamiyah ini, baik secara arsitektur maupun administrasi, dengan cepat menyebar ke seluruh dunia Islam.
Asal Usul Madrasah Nizhamiyyah
Para cendekiawan, sejarawan, dan ahli berbeda pendapat tentang asal usul sistem sekolah Islam; sebagian mengatakan bahwa sistem ini muncul pada masa pemerintahan Nizham al-Mulk, yang mendirikan Sekolah Nizamiyah pada tahun 459 H (1067 M). Sebagian lainnya mengatakan bahwa sistem ini muncul jauh lebih awal.
Namun, dengan meneliti sumber-sumber khusus, terungkap bahwa kemunculan pertama sekolah adalah pada akhir abad kedua dan awal abad ketiga H (abad ke-10 dan ke-11 M), yang didirikan oleh Imam Abu Hafsh al-Faqih al-Bukhari (150-217 H). Atribusinya kepada pendirinya menunjukkan bahwa sekolah ini didirikan selama masa hidupnya. Abu Hafsh al-Bukhari adalah salah satu ahli fikih terkemuka dalam gerakan intelektual di Bukhara. Setelah periode ini, pendirian sekolah berkembang pesat di wilayah timur.
Sekolah Naisabur (Madrasah Naysabur) didirikan pada awal abad keempat H (abad ke-10 M). Didirikan oleh Imam Abu Hatim Muhammad ibn Hibban al-Tamimi al-Syafi’i (270-354 H). (al-Idarah al-Tarbawiyah fi al-Madaris fi al-‘Ashr al-‘Abbasi, hal. 94).
Sekolah-sekolah yang didirikan pada waktu itu bersifat mono-sektarian, hanya mengajarkan satu aliran pemikiran tertentu. Hal ini karena persaingan sektarian yang lazim di Baghdad, ibu kota Kekhalifahan, meluas hingga ke Transoxiana. (Al-Samira’i, al-Madrasah ma’a al-Tarkiz ‘ala al-Nizhamiyyah, hal. 237).
Perlu dicatat bahwa sejumlah sekolah telah muncul di Damaskus sebelum Baghdad. Sekolah pertama adalah Madrasah Shadiriyah (al-Madrasah al-Shadiriyyah) yang didirikan oleh Shadir ibn Abdillah pada tahun 391 H (902 M). Kemudian muncul Sekolah Rasya’iyyah (al-Madrasah al-Rasya’iyyah) di Damaskus, yang didirikan oleh Rasya’ ibn Nadhif sekitar tahun 400 H (1010 M).
Para pelajar pindah dari lingkaran belajar yang diadakan di masjid-masjid ke sekolah-sekolah ini, yang merupakan tempat-tempat yang didedikasikan untuk memperoleh pengetahuan khusus. Wakaf disediakan untuk mereka dan guru mereka, demikian juga sumber-sumber daya lain yang diperlukan untuk pendidikan mereka. (al-Idarah al-Tarbawiyyah fi al-Madaris fi al-‘Ashr al-‘Abbasi, hal. 95).
Tujuan Pendidikan Madrasah Nizhamiyah
Di antara tujuan paling menonjol yang ingin dicapai Sekolah Nizhamiyah sejak awal berdirinya adalah:
1 – Mewujudkan pengabdian tulus (‘ubudiyyah khalishah) kepada Allah Swt.: Ini berarti bahwa individu hanya menyembah satu Tuhan, dan bahwa kehidupan manusia diatur dan dituntun sesuai dengan tujuan ini. Pengetahuan sejati dan pengabdian tulus kepada Tuhan tidak dapat dicapai kecuali melalui lembaga-lembaga yang bekerja untuk mewujudkan tujuan tersebut.
Oleh karena itu, sekolah didirikan dan berupaya untuk mencapai dan memperjelas tujuan ini di dalam hati para siswa dan pelajar. Allah Swt. berfirman: “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali untuk menyembah-Ku,” [Q.S. al-Dzariyat: 56].
2 – Melaksanakan berbagai kewajiban agama: Ini karena prinsip-prinsip hukum Islam tidak dapat dipahami dan hukum-hukum agama tidak dapat dipelajari kecuali melalui pendidikan Islam yang baik dan benar. Pendidikan yang benar adalah cara terbaik untuk mencapai maksud yang dikehendaki Tuhan. Allah berfirman dalam Kitab Suci-Nya: “Dan Kami turunkan Kitab (al-Qur’an) kepadamu untuk menjelaskan segala sesuatu sebagai petunjuk, rahmat, dan kabar gembira bagi orang-orang muslim,” [Q.S. al-Nahl: 89].
Ibadah yang telah disyariatkan hanyalah untuk menyembah secara tulus kepada Allah Swt. yang menghasilkan petunjuk dan rahmat.
3 – Mempersiapkan individu untuk menjadi orang yang saleh bagi diri sendiri dan saleh bagi orang lain. Oleh karena itu, tujuan ini dianggap penting dari perspektif pendidikan Islam.
Pendidikan Islam mempersiapkan individu untuk menjadi manusia yang menyeru kepada kebaikan dan membantu orang lain untuk melakukannya, serta melarang kejahatan dan menyerukan untuk meninggalkannya, setelah ia sendiri telah mematuhi perintah atau larangan tersebut. (al-Idarah al-Tarbawiyah fi al-Madaris fi al-‘Ashr al-‘Abbasiy, hal. 109).
4 – Menyediakan lingkungan ilmiah: Sekolah Islam bertujuan untuk menyediakan lingkungan ilmiah yang membantu para ulama dan guru untuk berpikir, menulis, dan berinovasi, serta terus-menerus mengembangkan pengetahuan baru di berbagai bidang.
5 – Memperluas cakrawala intelektual siswa: Sekolah tidak hanya mengembangkan keterampilan yang sudah ada, tetapi juga berupaya membekali siswa dengan pengalaman baru yang berasal dari pengalaman bangsa-bangsa di masa lalu dan masa kini. Inilah yang disebut oleh para ahli pendidikan Islam sebagai “mewariskan tradisi” (naql al-turats). (Al-Nahlawi, Ushul al-Tarbiyah wa Asalibiha, hal. 135). Hal ini dicapai dengan memperkenalkan siswa pada warisan budaya dan intelektual bangsa, sehingga memperluas cakrawala mereka melalui paparan pengalaman-pengalaman tersebut.
6 – Mempersiapkan kader-kader terampil: Sekolah bertujuan untuk mempersiapkan tenaga kerja terampil yang berkualitas untuk melakukan berbagai pekerjaan, baik di sektor pemerintahan maupun di tempat lain, terutama mengingat diversifikasi, proliferasi, dan perluasan peluang kerja. Oleh karena itu, sekolah telah menghasilkan individu-individu yang mengemban tanggungjawab dalam peran-peran tersebut. Tujuan-tujuan sekolah Islam ini juga dimiliki oleh sekolah-sekolah Nizhamiyah, di samping:
a. Menyebarkan pemikiran Sunni untuk melawan tantangan yang ditimbulkan oleh pemikiran Syiah dan mengurangi pengaruhnya.
b. Membangun kader guru Sunni yang berkualitas untuk mengajar dan menyebarkan mazhab Sunni di berbagai wilayah.
c. Menciptakan kelompok pejabat Sunni untuk berpartisipasi dalam menjalankan lembaga-lembaga negara dan mengelola departemen-departemennya, khususnya di bidang peradilan dan administrasi. (al-Tarikh al-Siyasiy wa al-Fikriy, hal. 179).
Sarana Mencapai Tujuan dan Memecahkan Masalah
Nizham al-Mulk menunjukkan minat yang besar pada cara mencapai tujuan sekolah-sekolah Nizhamiyah. Ia memilih lokasi geografis yang kondusif untuk meraih keberhasilan, memilih guru-guru yang unggul, dan menunjukkan kecerdasan yang luar biasa dalam menentukan kurikulum akademik yang akan diterapkan. Kemudian ia mengerahkan upaya maksimal untuk menyediakan sumber daya material yang diperlukan agar sekolah-sekolah ini dapat memberikan kontribusi besar bagi perkembangan intelektual.
Lokasi:
Mengenai lokasi pendirian sekolah-sekolah Nizhamiyah, menurut al-Subki, Nizham al-Mulk membangun sekolah di Baghdad, Balkh, Naisabur, Herat, Isfahan, Basra, Merv, Tabaristan, dan Mosul. Ini adalah sekolah-sekolah Nizhamiyah utama yang didirikan di dunia Islam bagian timur.
Distribusi geografisnya menunjukkan bahwa sebagian besar sekolah-sekolah Nizhamiyah didirikan di kota-kota yang merupakan pusat gerakan dan aktivitas intelektual, seperti Baghdad dan Isfahan. Baghdad adalah ibu kota Kekhalifahan Abbasiyah Sunni dan juga merupakan tempat tinggal sejumlah besar pemikir Sunni. Sekolah-sekolah tersebut juga didirikan di wilayah-wilayah yang merupakan pusat konsentrasi Syiah pada waktu itu, seperti Basra, Naisabur, Tabaristan, Khuzestan, dan wilayah Jazirah.
Distribusi geografis ini jelas menunjukkan bahwa penempatan sekolah-sekolah Nizhamiyah di lokasi-lokasi tersebut bukanlah sembarangan, melainkan langkah yang disengaja dan terencana untuk berperan dalam melawan pemikiran Syiah di wilayah-wilayah ini dan membuka jalan bagi dominasi Islam Sunni.
Pemilihan guru dan ulama:
Selain lokasi sekolah-sekolah Nizhamiyah yang dipilih dengan cermat, guru-gurunya juga dipilih dengan teliti. Mereka adalah tokoh-tokoh terkemuka pada masanya dalam bidang hukum Islam. Imad al-Ashfihani menggambarkan ketelitian Nizham al-Mulk dalam hal ini, dengan mengatakan:
“Pintunya adalah tempat berkumpulnya orang-orang berbudi luhur dan tempat berlindungnya para ulama. Ia berwawasan luas dan bijaksana, menyelidiki keadaan masing-masing dari mereka. Siapa pun yang dianggapnya cocok untuk memimpin, ia tunjuk … dan siapa pun yang dianggapnya bermanfaat bagi ilmu, ia memperkayanya dan memberinya cukup bekal untuk mengabdikan diri dalam menyampaikan, menyebarluaskan, dan mengajarkan ilmu. Ia bahkan mungkin mengirimnya ke daerah yang kekurangan ilmu untuk memperkaya daerah-daerah yang stagnan, menghidupkan kembali kebenarannya, dan memberantas kepalsuannya.” (Tarikh Ali Saljuk, hal. 57).
Menentukan kurikulum:
Sebagaimana Nizham al-Mulk teliti dalam memilih guru yang berkualitas untuk sekolah-sekolahnya, ia juga menentukan kurikulum yang akan dijalankan di sekolah-sekolah Nizhamiyah. Hal ini ini terbukti dari sebuah dokumen di Sekolah Nizhamiyah di Baghdad, yang menyatakan bahwa kurikulum tersebut diwakafkan kepada para pengikut mazhab Syafi’i.
Profesor Sa’id Nafisi mengutip al-Mafrukhi, penulis kitab Mahasin Ishfahan, yang mengatakan: “Nizham al-Mulk memerintahkan pembangunan sebuah sekolah di dekat Masjid Isfahan untuk para ahli fikih Syafi’i. Sekolah itu dibangun dengan cara terbaik, baik dalam bentuk, struktur, pengerjaan, fasilitas, dan tempatnya.” (al-Tarikh al-Siyasiy wa al-Fikriy, hal. 183).
Sekolah-sekolah Nizhamiyah berfokus pada dua mata pelajaran utama: fikih menurut mazhab Syafi’i dan dasar-dasar akidah menurut mazhab Asy’ari. Selain itu, juga mengajarkan mata pelajaran lain seperti hadits, tata bahasa, linguistik, dan sastra.
Penyediaan sumber daya material:
Nizam al-Mulk tidak pelit dalam menyediakan sumber daya material yang memungkinkan sekolah-sekolah Nizhamiyah untuk menjalankan misinya. Oleh karena itu, ia sangat murah hati dalam pengeluaran dana dan mengalokasikan wakaf yang besar untuk sekolah-sekolah tersebut. Ibnu al-Jauzi mengatakan:
“Nizham al-Mulk mewakafkan tanah dan properti untuk sekolahnya di Baghdad, dan sebuah pasar dibangun di pintu masuknya. Ia juga mengalokasikan sebagian wakaf kepada setiap guru dan pekerja di sana, dan empat pon roti diberikan setiap hari kepada setiap siswa. Adapun sekolah di Isfahan, pengeluaran dan nilai wakafnya diperkirakan mencapai sepuluh ribu dinar, dan sekolah Nizhamiyah di Naisabur memiliki wakaf yang besar.” (al-Tarikh al-Siyasiy wa al-Fikriy, hal. 185).
Nizham al-Mulk memastikan bahwa para siswa diberi akomodasi di dalam sekolah-sekolah ini. Catatan sejarah menunjukkan bahwa setiap siswa memiliki kamarnya sendiri; misalnya, dilaporkan bahwa salah satu siswa, Yaqub al-Khaththath, meninggal pada tahun 547 H (1159 M). Ia memiliki kamar di Sekolah Nizhamiyah, dan administrator sekolah datang dan menyegel kamarnya di sekolah tersebut setelah ia meninggal.
Keinginan para guru untuk mengajar di sekolah Nizhamiyah:
Ketertarikan pada sekolah-sekolah Nizhamiyah tidak hanya terbatas pada siswa, tetapi juga para guru yang bercita-cita untuk mengajar di sana, sampai-sampai beberapa dari mereka berkorban untuk tujuan ini dengan meninggalkan aliran pemikiran mereka di era di mana fanatisme sektarian merupakan salah satu ciri utamanya.
Di antara mereka adalah Abu al-Fath Ahmad ibn Ali ibn Turkan, yang dikenal sebagai Ibnu al-Hamami (w. 518 H). Ia awalnya adalah seorang pengikut mazhab Hanbali, kemudian pindah ke mazhab Syafi’i, dan belajar fikih di bawah bimbingan Abu Bakr al-Syasyi dan al-Ghazali. Para pengikut Syafi’i menjadikannya guru di Nizhamiyah.
Tampaknya perpindahan pengikut mazhab Hanbali ke mazhab Syafi’i pada periode ini merupakan hal yang sangat umum, sampai-sampai salah seorang imam mereka, yaitu Abu al-Wafa ibn Aqil (w. 513 H), merasa terganggu, sebagaimana dikutip oleh Abu al-Faraj ibn al-Jauzi yang mengatakan:
“Sebagian besar perbuatan manusia hanya terjadi pada manusia lainnya, kecuali bagi mereka yang dilindungi Allah. Artinya, sebagian besar manusia tidak mencari ridha Allah melalui perbuatan mereka, melainkan berusaha untuk mengambil hati orang-orang yang berpengaruh dan berkuasa, didorong oleh keserakahan akan keuntungan duniawi. Abu al-Wafa’ mengilustrasikan hal ini dengan apa yang terjadi ketika negara Nizham al-Mulk berkuasa, mazhab Asy’ari dan Syafi’i berpengaruh. Banyak pengikut mazhab lain meninggalkan mazhab mereka sendiri dan memeluk mazhab Asy’ari dan Syafi’i, demi mendapatkan kemuliaan dan tunjangan.” (Al-Muntazham, 9/251)
Pengaruh Sekolah Nizhamiyah di Dunia Islam
Nizham al-Mulk meraih kesuksesan tak tertandingi dalam sejarah politik, keilmuan, dan agama. Sekolah-sekolah yang didirikannya bertahan lama, terutama sekolah Nizhamiyah di Baghdad, yang berlangsung selama hampir empat abad. Guru terakhir yang diketahui mengajar di sana adalah al-Fairuzabadi, yang meninggal pada tahun 817 H.
Sekolah tersebut berhenti eksis pada akhir abad kesembilan H. Misi sekolah ini adalah melahirkan ulama-ulama Sunni mazhab Syafi’i, dan menyediakan calon-calon pejabat pemerintahan selama periode yang cukup lama, khususnya di bidang peradilan, inspektorat pasar (muhtasib), dan kantor penerbitan fatwa—jabatan-jabatan terpenting negara pada waktu itu. Ulama-ulama ini menyebar ke seluruh dunia Islam, bahkan menembus perbatasan sekte Bathiniyah di Mesir dan mencapai Afrika Utara, di mana mereka memperkuat kehadiran mazhab Sunni.
Sekolah-sekolah Nizhamiyah melahirkan banyak generasi, dan melalui mereka, sebagian besar tujuan yang ditetapkan oleh Nizham al-Mulk terwujud. Banyak lulusannya pergi ke wilayah lain untuk mengajar fikih dan hadits mazhab Syafi’i, menyebarkan akidah Sunni di wilayah tempat mereka menetap, atau untuk menduduki jabatan di peradilan dan penerbitan fatwa, atau untuk mengambil peran administratif penting di lembaga-lembaga negara.
Al-Subki mengutip Abu Ishaq al-Syirazi—guru sekolah Nizhamiyah pertama di Baghdad—yang mengatakan: “Saya melakukan perjalanan ke Khurasan, dan saya tidak sampai ke kota atau desa yang hakim, mufti, atau pendakwahnya bukan salah satu murid atau sahabat saya.” (al-Tarikh al-Siyasiy wa al-Fikriy, hal. 190)
Kehadiran sekolah-sekolah Nizhamiyah memberikan kontribusi signifikan terhadap kebangkitan kembali Islam Sunni dalam kehidupan masyarakat Muslim. Salah satu dampak paling menonjolnya adalah penurunan pengaruh Syiah, terutama setelah karya-karya anti-Syiah muncul dari sekolah-sekolah ini.
Imam al-Ghazali berada di garis depan para pemikir yang memerangi Bathiniyah Ismailiyah. Ia menulis menyusun beberapa buku, yang paling terkenal adalah Fadha’ih Bathiniyyah, yang penulisannya diperintahkan oleh Khalifah al-Mustazhzhir pada tahun 487 H.
Sekolah-sekolah Nizhamiyah berhasil menyebarkan mazhab Syafi’i, memperkuat fondasinya dan memperluasnya ke wilayah-wilayah baru. Mazhab ini mulai mendapatkan daya tarik di Irak dan dunia Islam bagian timur, setelah para pengikutnya sebelumnya berkuasa di wilayah-wilayah tersebut—kecuali Baghdad.
Sekolah-sekolah Nizhamiyah menjadi katalisator bagi pembangunan sekolah-sekolah baru dan sumber persaingan, berfungsi sebagai model bagi para pendiri lembaga-lembaga pendidikan sejak awal berdirinya selama berabad-abad.
Melalui tradisinya yang kaya, para pemimpinnya, dan para ulamanya, sekolah-sekolah Nizhamiyah membuka jalan bagi Nuruddin Zanki dan orang-orang Ayyubiyah untuk melanjutkan misi pendirian sekolah-sekolah baru yang sama dengan sekolah-sekolah Nizhamiyan: untuk mempromosikan dominasi Islam Sunni, khususnya di wilayah-wilayah yang merupakan pusat penyebaran Syiah pada waktu itu, seperti Suriah, Mesir, dan lainnya. (Nizham al-Mulk, hal. 401)
Sekolah Nizhamiyah adalah di antara hal terbaik yang diciptakan oleh akal manusia untuk mendedikasikan diri kepada ilmu pengetahuan pada masa itu, dan merupakan sarana terbaik untuk menyebarluaskan ilmu pengetahuan, serta untuk mencapai tujuan yang ditetapkan oleh Nizham al-Mulk tentang supremasi Kitab Suci, Sunnah, dan akidah Ahlus Sunnah atas negara dan umat Muslim.[]
Tinggalkan Komentar