Pada masa-masa awal Jahiliyah, ketika kekuasaan iblis tampak begitu menguasai hati manusia, martabat mereka dirampas, dan mereka dipaksa bersujud kepada selain Sang Pencipta. Saat itu, pola hidup yang mengutamakan kepentingan duniawi semata tanpa kesucian fitrah seakan menjadi jalan yang lazim dijalani. Segala perbuatan buruk dan kejahatan pun dihias agar tampak indah di mata manusia, sehingga kehidupan berubah bagaikan neraka yang tandus, jauh dari sifat kasih sayang dan toleransi.
Ketika penyembahan berhala merajalela di Semenanjung Arab, sementara kemerosotan moral melanda kekaisaran Romawi maupun Persia, kelahiran Nabi Muhammad Saw. hadir sebagai rahmat dari Allah Swt. untuk menyelamatkan manusia dari jurang kemerosotan tersebut, serta menuntun mereka keluar dari gelap gulita menuju cahaya yang terang benderang. Setiap kali peringatan kelahiran beliau tiba, kembali terasa betapa dunia sangat membutuhkan petunjuk-petunjuk luhur yang beliau bawa.
Kondisi Dunia Sebelum Kelahiran Rasulullah Saw.
Sebelum kelahiran Nabi Muhammad Saw., kerusakan dan kehancuran melanda penjuru bumi, hingga kebencian Allah Swt. terhadap kelakuan penduduknya pun mencapai puncaknya. Kebaikan nyaris lenyap dari permukaan bumi; yang tersisa hanyalah sedikit jejak kebaikan yang dipertahankan oleh segelintir jiwa yang masih terjaga.
Maka dari itu, marilah kita sejenak menengok masa lampau sebelum kelahiran beliau, melangkah melampaui batas wilayah untuk memandang seluruh penjuru bumi, dari timur hingga barat. Marilah kita pelajari keadaan masyarakat saat itu, perhatikan bagaimana tirani para penguasa menindas, amati betapa luhurnya budi pekerti telah runtuh, serta saksikan apa yang disebut “peradaban” saat itu justru terperosok jauh ke dalam kegelapan kemaksiatan dan kemerosotan.
Dunia saat itu telah berada di ambang kehancuran yang nyata. Manusia seakan tak memiliki harapan lagi untuk selamat, seandainya hari akhir pun segera tiba. Namun, rahmat Allah Swt. senantiasa mendahului kemurkaan-Nya. Maka ditetapkanlah kelahiran Nabi Muhammad Saw. mendahului datangnya Hari Kiamat: sebagai rahmat bagi orang-orang yang beriman, dan sebagai bukti kebenaran bagi siapa saja yang masih meragukan.
Sungguh dekat kedudukan kelahiran Nabi Muhammad Saw. dengan kedatangan Hari Kiamat, seakan-akan beliau dan hari akhir itu diutus beriringan. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh sahabat Buraidah ra. yang berkata: “Aku mendengar Nabi Muhammad Saw. bersabda: “Aku diutus ketika Hari Kiamat sudah sangat dekat; ia seakan-akan segera menyusulku,” [H.R. Ahmad].
Alasan utama kedekatan tersebut adalah kemerosotan yang melanda masa pra-Islam, masa di mana kebodohan dan kesesatan merajalela sebelum diutusnya beliau. Iblis berkuasa menyesatkan manusia, merampas kemuliaan dan harkat mereka, memaksa mereka menyembah selain Allah Swt., serta menghiasi segala perbuatan keji dan dosa agar terlihat menarik. Hidup mereka pun tersusun atas dasar kepentingan pribadi yang sempit, bagaikan neraka yang tak mengenal belas kasihan maupun sikap toleransi. Hal ini tercermin nyata dari kemunduran besar yang dialami bangsa-bangsa sebelum datangnya sinar Islam.
Kekaisaran Romawi
Kekaisaran Romawi merupakan kekuasaan yang wilayahnya sangat luas dan berkuasa penuh, mencakup sebagian besar wilayah Eropa. Di tengah kebesarannya, perbedaan pandangan ajar pun tak terelakkan: terjadilah perpecahan mendalam antara Gereja Ortodoks Timur dan Gereja Katolik Barat. Perbedaan itu berlangsung berabad-abad lamanya, dan jejak perbedaannya masih terasa hingga masa kini.
Apabila menilik tata kehidupan dan kemuliaan budi di dalamnya, keadaan itu sungguh memprihatinkan. Ikatan pernikahan mulai ditinggalkan karena biaya penyelenggaraannya yang semakin memberatkan; perbuatan perselingkuhan merajalela; dan garis keturunan pun menjadi tidak jelas akibat meluasnya kemiskinan. Pemberian suap menjadi kebiasaan yang lumrah dalam berurusan dengan pejabat pemerintahan, sementara sistem perpajakan justru lebih membebani kaum lemah dibandingkan kaum kaya raya. (Edward Gibbon, Suqûth Dawlah Rûmâ wa Inhithâthuhâ, hal. 3–5).
Di medan perang pun tindakan yang dilakukan sangat kejam. Salah satu peristiwa yang paling tercatat dalam sejarah adalah pengepungan kota Yerusalem oleh pasukan Romawi pada tahun 70 M. Dalam peristiwa itu, penduduk Yerusalem terpaksa membunuh anggota keluarganya sendiri demi terhindar dari pembantaian pasukan Romawi. Kemudian, pasukan Romawi mengundi untuk menentukan siapa yang akan dibunuh, sehingga hanya sedikit yang selamat dari peristiwa itu.
Jumlah penduduk yang diperbudak bahkan mencapai tiga kali lipat jumlah penduduk yang merdeka, dan mereka diperlakukan dengan amat kejam. Bahkan Plato, dalam gagasan tentang negara idealnya, sekalipun mengakui mereka sebagai penduduk asli, tetap tidak mengakui hak kewarganegaraan mereka. Demikianlah gambaran keadaan Kekaisaran Romawi menjelang kelahiran Nabi Muhammad Saw.: sebuah masyarakat yang sarat dengan kemerosotan, perpecahan, dan ketidakharmonisan.
Kekaisaran Persia
Menjelang kelahiran Nabi Muhammad Saw., kekaisaran Persia merupakan kekuasaan yang wilayahnya membentang luas hingga mencakup sebagian besar dunia yang dikenal saat itu. Namun di balik kemegahannya, tersembunyi kemunduran peradaban dan kemerosotan moral yang sangat dalam. Penyimpangan perilaku telah merambah hingga ke tingkatan yang mengkhawatirkan. Salah satu penyimpangan yang lazim terjadi adalah perkawinan antar-kerabat dekat—laki-laki menikahi anak perempuannya, saudara kandung, maupun ibunya—yang berlaku di segala lapisan masyarakat tanpa memandang kedudukan. Padahal kebiasaan demikian sungguh bertentangan dengan naluri kemanusiaan yang lurus, namun hal itu justru dianggap lumrah di Persia saat itu.
Penyimpangan tersebut semakin meluas akibat pengaruh ajaran seorang tokoh bernama Mazdak pada masa pemerintahan Khosrow II. Ia mengajarkan kesamaan mutlak dalam segala hal, termasuk harta benda dan perempuan. Ajaran itu justru memicu kekacauan serta merajalelanya perampasan hak dan pengambilan milik orang lain. Para penguasa pun leluasa menindas kaum lemah secara sewenang-wenang, dan Khosrow II turut membenarkan ketidakadilan tersebut—bahkan menjadikannya acuan untuk melunasi sebagian utang negaranya—sehingga menjerumuskan Kekaisaran Persia ke dalam jurang korupsi yang semakin dalam.
Penghormatan yang berlebihan kepada raja-raja Dinasti Sasaniyah juga menjadi kebiasaan yang umum. Khosrow II diyakini memiliki darah keturunan para dewa, bahkan dianggap setara dengan makhluk ilahi. Rakyat bersujud di hadapannya, namun tidak diperkenankan mendekat tanpa izin dan tata cara yang sangat ketat. (Îrân fî ‘Ahd al-Sâsânîyyîn, hal. 339).
Perbedaan kedudukan sosial pun sangat mencolok dan kaku: dari raja hingga rakyat jelata yang nyaris tak memiliki hak apa pun. Di medan perang, prajurit bahkan dirantai agar tidak melarikan diri, sebagaimana tercatat dalam Perang Rantai yang dipimpin oleh Khalid bin al-Walid ra.. Selain itu, pemujaan terhadap api juga menjadi kepercayaan yang dianut secara luas, yang dikembangkan oleh Zoroaster. Ajaran itu tidak hanya mewajibkan pemujaan kepada api, tetapi juga memberlakukan beragam larangan dalam kegiatan sehari-hari, sehingga kehidupan rakyat menjadi penuh kekangan, jauh dari kedamaian dan ketenteraman. (Îrân fî ‘Ahd al-Sâsânîyyîn, hal. 269–333).
Demikianlah gambaran sebenarnya dari Kekaisaran Persia menjelang masa kedatangan Islam: sebuah kekuasaan yang wilayahnya tampak megah dan luas, namun sesungguhnya telah miskin secara rohani dan runtuh dari sisi moral.
Semenanjung Arab
Menjelang kelahiran Nabi Muhammad Saw., Semenanjung Arab diliputi oleh kegelapan penyembahan berhala yang telah mencapai tingkat yang luar biasa. Meskipun sebagian besar masyarakat masih meyakini adanya Tuhan, mereka menjadikan berhala sebagai sarana pendekatan kepada-Nya. Setiap kabilah, bahkan setiap rumah tangga, memiliki berhala sembahan masing-masing—seperti berhala Hubal yang disembah di Makkah dan berhala Lata di Thaif. Bahkan di dalam Ka’bah sendiri terdapat tiga ratus enam puluh buah berhala yang diletakkan di sekelilingnya; tak jarang pula seseorang membuat berhala dari apa saja yang ia kehendaki lalu menyembahnya.
Kehidupan bermasyarakat pun semakin merosot. Minuman keras dan perjudian merajalela, yang kemudian melahirkan permusuhan dan perpecahan di tengah masyarakat. Praktik riba telah menjadi kebiasaan dalam setiap urusan jual-beli, perbuatan perselingkuhan dianggap lumrah bahkan diakui secara terang-terangan, dan kebiasaan mengubur anak perempuan hidup-hidup kerap dilakukan karena ketakutan akan kemiskinan, rasa malu, atau anggapan yang keliru. Allah pun menegur perbuatan keji itu dalam firman-Nya: “Dan apabila anak perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya, karena dosa apakah ia dibunuh?” [Q.S. al-Takwir: 8–9]. Kehidupan antarkabilah pun senantiasa diliputi perselisihan dan peperangan; kesukuan yang sempit dan persengketaan terus-menerus dianggap hal yang lumrah, sehingga suasana senantiasa penuh kekacauan dan ketidakpastian.
Cahaya Kenabian yang Bersinar: Perdamaian dan Keselamatan bagi Seluruh Umat Manusia
Sebelum kelahiran Nabi Muhammad Saw., gambaran keadaan dunia tampak begitu gelap dan memprihatinkan. Allah Swt. memandang dengan ketidaksukaan kepada bangsa Arab maupun bangsa-bangsa lainnya, yang telah jauh dari jalan kebenaran. Hanya segelintir jiwa yang tetap teguh memegang ajaran tauhid yang murni. Hampir seluruh dunia seakan terbenam dalam samudera kegelapan, dikarenakan merosotnya moral, hilangnya nilai-nilai luhur, serta rusaknya tatanan kehidupan, hubungan antarmanusia, hingga kebersihan ajaran agama. Terkait hal ini, Nabi Muhammad Saw. bersabda: “Aku diutus ketika Hari Kiamat sudah sangat dekat; ia seakan-akan akan segera menyusulku,” [H.R. Ahmad].
Di tengah gelapnya suasana tersebut, cahaya kenabian pun bersinar terang benderang, membawa perdamaian dan keselamatan bagi seluruh umat manusia. Sungguh nyata bahwa pada saat itulah dunia sangat membutuhkan kehadiran ajaran Islam, berupa wahyu Ilahi yang menuntun kepada jalan yang lurus—di masa ketika jalan kesesatan telah bercabang-cabang dan menjauhkan manusia dari kebenaran. Dari sinilah kita dapat sungguh-sungguh memahami betapa berharganya cahaya petunjuk yang diturunkan Allah Swt. ke bumi melalui misi utusan-Nya yang tercinta, junjungan kita Nabi Muhammad Saw., sebagaimana tercantum dalam firman-Nya: “Sungguh, telah datang kepadamu cahaya dari Allah dan kitab suci yang jelas. Dengannya [kitab suci] Allah menunjukkan kepada orang yang mengikuti rida-Nya jalan-jalan keselamatan, mengeluarkannya dari berbagai kegelapan menuju cahaya dengan izin-Nya, dan menunjukkan kepadanya [satu] jalan yang lurus,” [Q.S. al-Maidah: 15–16].
Nilai Spiritual Kelahiran Nabi dan Perannya Sebagai Petunjuk Universal
Peringatan kelahiran Nabi Muhammad Saw. menjadi momen yang mengingatkan kita pada kondisi umat manusia sebelum kelahiran beliau: saat dunia masih terbenam dalam kebodohan dan kegelapan, hingga beliau hadir membawa petunjuk ilahi serta syariat Islam, guna mengangkat manusia keluar dari keterbatasan menuju cahaya kebenaran dan keadilan. Sejalan dengan apa yang disampaikan oleh Sahabat Rabi’ ibn Amir ra.: “Allah mengutus kami untuk mengangkat manusia dari penyembahan kepada sesama makhluk menuju penyembahan kepada Allah semata, dari kesempitan dunia menuju keluasannya, dan dari ketidakadilan ajaran-ajaran yang ada menuju keadilan Islam.” (Târîkh al-Thabarîy).
Sejak kelahiran beliau, berkah dan kelembutan yang dibawanya mulai menyebar luas, membawa kedamaian dan kasih sayang ke seluruh penjuru kehidupan. Beliau meletakkan dasar berdirinya masyarakat yang sejahtera, aman, dan penuh ketenteraman, yang dibangun di atas landasan kasih sayang dan kemurnian akhlak. Hal ini selaras dengan sabda beliau: “Kalian tidak akan masuk surga hingga kalian beriman, dan kalian belum beriman hingga kalian saling mengasihi. Maukah kalian aku tunjukkan sesuatu yang jika kalian amalkan, akan menumbuhkan rasa kasih sayang di antara kalian? Sebarkanlah salam (kedamaian) di tengah-tengah kalian,” [H.R. Muslim].
Kehadiran beliau juga menjadi awal tersampaikannya seruan Islam yang melindungi manusia dari tipu daya setan yang senantiasa menabur perselisihan dan kebencian. Allah Swt. sendiri telah berfirman bahwa sifat setan adalah menanamkan permusuhan di antara manusia, sebagaimana tercantum dalam al-Qur’an: “Setan hanya bermaksud menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kalian,” [Q.S. al-Ma`idah: 91]. Ajaran beliau dengan tegas menyingkap bahaya penyakit sosial seperti fitnah, kabar bohong, dan kebohongan, serta memperingatkan dampak buruknya bagi keutuhan dan keselamatan bersama. Islam pun menyusun kerangka kesepakatan, persaudaraan, dan kerja sama yang kokoh, guna menjaga tali persaudaraan antarmanusia sekaligus meletakkan fondasi dunia yang damai dan sejahtera.
Oleh karena itu, peringatan kelahiran Nabi Muhammad Saw. bukan sekadar mengenang masa lalu, melainkan juga berharap terlahir kembali semangat dan nilai-nilai yang beliau bawa di tengah kehidupan umat masa kini.
Sebagai gambaran menyeluruh: sebelum kelahiran beliau, dunia memang berada dalam kemerosotan moral dan kehancuran tata kehidupan. Nilai-nilai luhur telah runtuh bahkan di kerajaan-kerajaan besar seperti Romawi dan Persia, sementara di Semenanjung Arab, penyembahan berhala dan kebodohan merajalela tanpa batas. Maka, kelahiran beliau yang penuh berkah hadir sebagai rahmat dari Allah bagi seluruh alam—untuk mengangkat manusia dari jurang kemerosotan menuju cahaya petunjuk, serta membangun tatanan kehidupan yang berlandaskan kebenaran, keadilan, dan perdamaian. Di masa kini, ketika kemerosotan moral kembali terasa mengemuka, semakin terasa betapa dunia sangat membutuhkan dihidupkannya kembali ajaran-ajaran Nabi Muhammad Saw. serta nilai-nilai luhur yang beliau bawa, sebagai penuntun menuju kehidupan yang lebih baik dan penuh berkah.[]
Tinggalkan Komentar