Oleh: H. Roland Gunawan, Lc., Direktur Rumah Tafaqquh Al-Fattah Syi’arul Islam (RTF-SI)
Mencapai puncak kepuasan intelektual—atau terpenuhinya suatu gagasan yang diyakini—ibarat membuka ruang di mana ketaatan beragama dan kesadaran sosial bertemu tanpa dibatasi sekat. Di sinilah seseorang berdiri di batas penentu: antara keberanian dan kelancangan, antara kehati-hatian dan kebesaran jiwa. Ini sejenis keberanian yang memisahkan diri dari arus mayoritas, sekaligus menjauhkan diri dari kepentingan semata demi diri sendiri.
Di sisi lain, terdapat kesadaran bahwa hidup ini penuh pertaruhan nilai: antara baik dan buruk, yang terang dan yang tersembunyi, arah yang mendatar dan yang menanjak ke atas. Namun tak selalu ada garis tegas yang memisahkan apa yang benar sepenuhnya dan apa yang keliru.
Ketika seseorang merasa telah memegang kebenaran mutlak—yakin sepenuhnya mampu membedakan yang benar dari yang salah—ia rentan tergelincir ke dalam fanatisme. Ia cenderung menganggap dirinya memegang kebenaran sejati, menganggap pandangannya sebagai hal yang mutlak, dan memandang segala gagasan lain sebagai keliru. Padahal, seperti dikatakan filsuf Baruch Spinoza, “hasratlah yang menjadi inti hakikat manusia”, bukanlah kepemilikan tunggal atas kebenaran.
Setiap keyakinan yang mengaku mutlak harus mampu diuji dan selaras dengan kenyataan. Kebenaran yang sah bukan sekadar pendapat pribadi yang dipaksakan sebagai kenyataan. Sebagai manusia, kemampuan kita memahami segala sesuatu terbatas; kita terus berupaya, namun tak mudah mencapai kepastian yang sempurna.
Aristoteles pun tak pernah mengklaim bahwa kepastian bisa diraih hanya dengan meragukan segala sesuatu. Friedrich Nietzsche juga mengingatkan bahwa nilai-nilai kemanusiaan dan prinsip hidup tak dapat didasarkan semata-mata pada keyakinan yang tak tergoyahkan. Dalam kehidupan yang terus berubah, mustahil memperlakukan segala sesuatu seolah tak akan berubah, apalagi bersandar pada satu kebenaran yang dianggap tak tersentuh.
Masyarakat manusia senantiasa berada dalam tarik-menarik: antara mempertahankan tradisi dan menyambut pembaharuan, antara tunduk dan menyuarakan perbedaan. Keseimbangan pun tak selalu tercapai. Ada masyarakat yang teguh memegang prinsip damai, ada pula yang cenderung keras dan tajam. Kepercayaan yang dianggap kokoh pun bisa goyah, berubah, dan beragam.
Yang tetap hanyalah perubahan itu sendiri—dan keraguan yang menyertai perjalanan hidup manusia. Yang menjaga manusia tetap hidup adalah pergerakan dan pembaharuan; tanpa itu, kehidupan akan membeku, terhenti, dan perlahan terlupakan. Di sinilah cakrawala pemikiran seseorang dapat melebar, atau justru menyempit.
Ingatan dan kesadaran manusia pun terbatas. Waktu dan tempat mengikis apa yang kita ketahui; ingatan melemah, catatan menjadi kurang tepat, dan kepentingan sesaat sering kali mengungguli kebenaran. Masyarakat pun bisa mengalami kebutaan eksistensial—sulit membedakan apa yang hak dan apa yang palsu.
Syaikh al-Akbar Muhyiddin Ibnu Arabi membedakan antara Kebenaran itu sendiri dan tingkatan kemampuan manusia memahaminya. Yang Absolut ada dengan sendirinya, tak bergantung pada apa pun; Ia kekal dan abadi. Pertanyaan mendasar pun tetap ada: Dari mana segala sesuatu bermula? Adakah sesuatu yang berdiri sendiri dan menjadi sandaran segala sesuatu yang lain?
Manusia, di hadapan Sang Pencipta, sering kali masih bingung—atau justru takjub—ketika ia berputar di sekeliling dirinya sendiri, belum menyadari jawaban yang sejati dan mutlak itu sendiri.[]
Tinggalkan Komentar