Info Sekolah
Kamis, 16 Apr 2026
  • Pesantren Terpadu Al-Fattah Kuningan
  • Pesantren Terpadu Al-Fattah Kuningan
16 November 2025

Al-Qur’an Kitab Kemanusiaan

Ming, 16 November 2025 Dibaca 125x Kajian

Oleh: K.H. Aik Iksan Anshori, Lc., M.A.Hum., Dewan Pengasuh dan Direktur Al-Fattah Institute



Al-Qur’an merupakan kitab suci yang menjunjung tinggi manusia sebagai makhluk Allah yang mulia. Allah Swt. menciptakan Adam dengan tangan-Nya sendiri, meniupkan ruh-Nya ke dalamnya, dan menjadikannya khalifah di muka bumi, sebagai suatu kemuliaan bagi manusia. Hal ini terungkap dalam dialog yang indah, di mana Allah Swt. berfirman,


وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلاَئِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الأَرْضِ خَلِيفَةً قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لاَ تَعْلَمُونَ

Dan [ingatlah] ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat, ‘Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.’ Mereka berkata, ‘Mengapa Engkau hendak menjadikan [khalifah] di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?’ Dia berfirman, ‘Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui,” [Q.S. Al-Baqarah: 30].


Kemanusiaan adalah tujuan utama di balik pengutusan para rasul, pemilihan para nabi, dan pewahyuan kitab suci serta suhuf (lembaran-lembaran suci). Allah Swt., yang menjadikan Adam sebagai khalifah-Nya di bumi, dengan kebijaksanaan, kehendak, dan kasih sayang-Nya kepada umat manusia, tidak menciptakannya dengan sia-sia, juga tidak meninggalkannya tanpa tujuan. Sebaliknya, Dia berjanji untuk membimbing dan mengarahkannya, menunjukkannya ke jalan yang paling lurus dan terbaik.

Allah Swt. meyakinkan Adam sejak ia menetap di bumi bahwa Dia tidak akan membiarkannya menjadi mangsa empuk bagi bisikan-bisikan setan, juga tidak akan membiarkannya menjadi korban kesesatan dan hawa nafsu. Dia tidak akan membiarkannya dalam ketidaktahuan, kebingungan, dan kerugian, melainkan memuliakannya dengan bimbingan dan kebenaran dengan cara yang paling lurus. Allah Swt. berfirman,


قُلْنَا اهْبِطُوا مِنْهَا جَمِيعًا فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ مِنِّي هُدَىً فَمَنْ تَبِعَ هُدَايَ فَلاَ خَوْفٌ عَلَيهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُونَ

Kami berfirman: ‘Turunlah kamu semuanya dari surga itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak [pula] mereka bersedih hati,” [Q.S. Al-Baqarah: 38].


قَالَ اهْبِطَا مِنْهَا جَمِيعًا بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ مِنِّي هُدىً فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلاَ يَضِلُّ وَلاَ يَشْقَى. وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى

Dia (Allah) berfirman, ‘Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama. Sebagian kamu (Adam dan keturunannya) menjadi musuh bagi yang lain. Jika datang kepadamu petunjuk dari-Ku, [ketahuilah bahwa] siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Siapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya kehidupan yang sempit. Kami akan mengumpulkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta,” [Q.S. Thaha: 123 – 124].


Para nabi dan rasul diutus silih berganti, kitab-kitab diturunkan, yang seluruhnya berkisar pada satu titik: manusia, dengan tujuan mencapai kebahagiaan bagi mereka di dunia dan akhirat. Hukum-hukum ilahi datang untuk menjamin kemaslahatan manusia, membimbing mereka kepada kebaikan, menuntun mereka ke jalan yang lurus, menunjukkan kepada mereka kebenaran, mengarahkan mereka kepada petunjuk yang benar, menyingkapkan kepada mereka jalan kebaikan, dan memperingatkan mereka terhadap godaan dan kejahatan.
Penghormatan Tuhan kepada umat manusia diwujudkan dalam beberapa cara, di antaranya:


Para Malaikat Diperintah untuk Bersujud Kepada Adam

Penghormatan Allah Swt. kapada manusia tidak sebatas memilihnya menjadi khalifah di bumi; Dia menegaskan hal tersebut di langit dan surga-surga tertinggi, yang disertai tindakan dan implementasi. Dia mengumumkan di dalam Majelis Tertinggi melalui kehendak-Nya mengenai penciptaan Adam dan pengangkatannya sebagai khalifah. Dia mencatatnya di Lauhul Mahfuzh dan diturunkan sebagai wahyu untuk dibacakan kepada umat manusia. Kemudian Dia memerintahkan para malaikat untuk bersujud kepada Adam dengan penuh hormat; karena kehendak Ilahi terkait erat dengan pemilihannya sebagai khalifah. Allah Swt. berfirman,


إِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلاَئِكَةِ إِنِّي خَالِقٌ بَشَرًا مِنْ طِينٍ. فَإِذَا سَوَّيْتُهُ وَنَفَخْتُ فِيهِ مِنْ رُوحِي فَقَعُوا لَهُ سَاجِدِينَفَسَجَدَ الْمَلاَئِكَةُ كُلُّهُمْ أَجْمَعُونَ

[Ingatlah] ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat, ‘Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah. Kemudian apabila telah Aku sempurnakan kejadiannya dan Aku tiupkan roh (ciptaan)-Ku kepadanya; maka tunduklah kamu dengan bersujud kepadanya.’ Lalu para malaikat itu bersujud semuanya,” [Q.S. Shad: 71 – 74].


وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلاَئِكَةِ إِنِّي خَالِقٌ بَشَرًا مِنْ صَلْصَالٍ مِنْ حَمَإٍ مَسْنُونٍ. فَإِذَا سَوَّيْتُهُ وَنَفَخْتُ فِيهِ مِنْ رُوحِي فَقَعُوا لَهُ سَاجِدِينَ. وَنَفَخْتُ فِيهِ مِنْ رُوحِي فَقَعُوا لَهُ سَاجِدِينَ. فَسَجَدَ الْمَلاَئِكَةُ كُلُّهُمْ أَجْمَعُونَ

Dan [ingatlah], ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, ‘Sungguh, Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Maka apabila Aku telah menyempurnakan [kejadian]nya, dan Aku telah meniupkan roh [ciptaan]-Ku ke dalamnya, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud. Maka bersujudlah para malaikat itu semuanya bersama-sama,” [Q.S. Al-Hijr: 28 – 30].


Al-Qur’an berulang kali menegaskan hal ini yang menunjukkan bahwa Al-Qur’an merupakan kitab kemanusiaan yang diturunkan untuk memastikan terpenuhinya semua hajat dan hak manusia dalam posisinya sebagai khalifah di muka bumi.


Memuliakan Manusia Daripada Makhluk-makhluk yang Lain

Al-Qur’an secara tegas menyatakan keutamaan dan kemuliaan manusia, sebagaimana firman Allah Swt.,


وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَى كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلاً

Sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam dan Kami angkut mereka di darat dan di laut. Kami anugerahkan pula kepada mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka di atas banyak makhluk yang Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna,” [Q.S. Al-Isra’: 70].


Untuk menghormati kemuliaan manusia, Allah menundukkan alam semesta untuk dimanfaatkan oleh umat manusia. Dia berfirman,


أَلَمْ تَرَوْا أَنَّ اللَّهَ سَخَّرَ لَكُمْ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأَرْضِ وَأَسْبَغَ عَلَيْكُمْ نِعَمَهُ ظَاهِرَةً وَبَاطِنَةً

Tidakkah kamu memperhatikan bahwa sesungguhnya Allah telah menundukkan apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi untukmu. Dia [juga] menyempurnakan nikmat-nikmat-Nya yang lahir dan batin untukmu,” [Q.S. Luqman: 20].


Al-Qur’an menyatakan bahwa Allah Swt. menciptakan hewan ternak dan kemudian diberikan kepada manusia untuk ditunggangi, dikonsumsi, dan dimanfaatkan untuk keperluan-keperluan lain. Allah Swt. berfirman,


أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّا خَلَقْنَا لَهُمْ مِمَّا عَمِلَتْ أَيْدِينَا أَنْعَامًا فَهُمْ لَهَا مَالِكُونَ. وَذَلَّلْنَاهَا لَهُمْ فَمِنْهَا رَكُوبُهُمْ وَمِنْهَا يَأْكُلُونَ. وَلَهُمْ فِيهَا مَنَافِعُ وَمَشَارِبُ أَفَلاَ يَشْكُرُونَ

Dan tidakkah mereka melihat bahwa Kami telah meciptakan hewan ternak untuk mereka, yaitu sebagian dari apa yang telah Kami ciptakan dengan kekuasaan Kami, lalu mereka menguasainya? Dan Kami menundukkannya (hewan-hewan itu) untuk mereka; lalu sebagiannya untuk menjadi tunggangan mereka dan sebagian untuk mereka makan. Dan mereka memperoleh berbagai manfaat dan minuman darinya. Maka mengapa mereka tidak bersyukur?” [Q.S. Yasin: 71 – 73].


Al-Qur’an mengarahkan umat manusia untuk menjelajahi alam semesta, mempelajari sifat-sifat dan rahasianya, serta mengambil manfaat darinya dalam kehidupan.

Allah Swt. berfirman tentang sumber daya air,


وَهُوَ الَّذِي سَخَّرَ الْبَحْرَ لِتَأْكُلُوا مِنْهُ لَحْمًا طَرِيًّا وَتَسْتَخْرِجُوا مِنْهُ حِلْيَةً تَلْبَسُونَهَا

Dialah yang menundukkan lautan [untukmu] agar kamu dapat memakan daging yang segar (ikan) darinya dan [dari lautan itu] kamu mengeluarkan perhiasan yang kamu pakai,” [Q.S. Al-Nahl: 14].


وَهُوَ الَّذِي أَنْشَأَ جَنَّاتٍ مَعْرُوشَاتٍ وَغَيْرَ مَعْرُوشَاتٍ وَالنَّخْلَ وَالزَّرْعَ مُخْتَلِفًا أُكُلُهُ وَالزَّيْتُونَ وَالرُّمَّانَ مُتَشَابِهًا وَغَيْرَ مُتَشَابِهٍ كُلُوا مِنْ ثَمَرِهِ إِذَا أَثْمَرَ وَآتُوا حَقَّهُ يَوْمَ حَصَادِهِ وَلاَ تُسْرِفُوا إِنَّهُ لاَ يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

Dialah yang menumbuhkan tanaman-tanaman yang merambat dan yang tidak merambat, pohon kurma, tanaman yang beraneka ragam rasanya, serta zaitun dan delima yang serupa [bentuk dan warnanya] dan tidak serupa [rasanya]. Makanlah buahnya apabila ia berbuah dan berikanlah haknya (zakatnya) pada waktu memetik hasilnya. Tetapi, janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan,” [Q.S. Al-An’am: 141].


Dan Allah Swt. berfirman tentang sumber daya hewan ternak,


وَالأَنْعَامَ خَلَقَهَا لَكُمْ فِيهَا دِفْءٌ وَمَنَافِعُ وَمِنْهَا تَأْكُلُونَ. وَلَكُمْ فِيهَا جَمَالٌ حِينَ تُرِيحُونَ وَحِينَ تَسْرَحُونَ. وَتَحْمِلُ أَثْقَالَكُمْ إِلَى بَلَدٍ لَمْ تَكُونُوا بَالِغِيهِ إِلاَّ بِشِقِّ الأَنْفُسِ إِنَّ رَبَّكُمْ لَرَؤُوفٌ رَحِيمٌ. وَالْخَيْلَ وَالْبِغَالَ وَالْحَمِيرَ لِتَرْكَبُوهَا وَزِينَةً وَيَخْلُقُ مَا لاَ تَعْلَمُونَ

Dan hewan ternak telah diciptakan-Nya untuk kamu, padanya ada [bulu] yang menghangatkan dan berbagai manfaat, dan sebagiannya kamu makan. Dan kamu memperoleh keindahan padanya, ketika kamu membawanya kembali ke kandang dan ketika kamu melepaskannya [ke tempat penggembalaan]. Dan ia mengangkut beban-bebanmu ke suatu negeri yang kamu tidak sanggup mencapainya, kecuali dengan susah payah. Sungguh, Tuhanmu Maha Pengasih, Maha Penyayang, Dan [Dia telah menciptakan] kuda, bagal, dan keledai, untuk kamu tunggangi dan (menjadi) perhiasan. Allah menciptakan apa yang tidak kamu ketahui,” [Q.S. Al-Nahl: 5 – 8].


Allah Swt. berfirman tentang sumber daya industri,


وَأَنْزَلْنَا الْحَدِيدَ فِيهِ بَأْسٌ شَدِيدٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَلِيَعْلَمَ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ وَرُسُلَهُ بِالْغَيْبِ إِنَّ اللَّهَ قَوِيٌّ عَزِيزٌ

Sungguh, Kami benar-benar telah mengutus rasul-rasul Kami dengan bukti-bukti yang nyata dan Kami menurunkan bersama mereka kitab dan neraca [keadilan] agar manusia dapat berlaku adil. Kami menurunkan besi yang mempunyai kekuatan hebat dan berbagai manfaat bagi manusia agar Allah mengetahui siapa yang menolong [agama]-Nya dan rasul-rasul-Nya walaupun [Allah] tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Mahakuat lagi Mahaperkasa,” [Q.S. Al-Hadid: 25].


وَأَلَنَّا لَهُ الْحَدِيدَ. أَنِ اعْمَلْ سَابِغَاتٍ وَقَدِّرْ فِي السَّرْدِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

Dan Kami telah melunakkan besi untuknya, [yaitu] buatlah baju besi yang besar-besar dan ukurlah anyamannya; dan kerjakanlah kebajikan. Sungguh, Aku Maha Melihat apa yang kamu kerjakan,” [Q.S. Saba’: 10 – 11].


Memuliakan Manusia dengan Akal

Akal merupakan instrumen pengetahuan yang paling besar, dan dari sanalah tumbuh pemikiran, kemauan, pilihan, dan perolehan ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, manusia bertanggungjawab atas apapun yang dilakukannya, sebagaimana firman Allah Swt.,


وَلاَ تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْؤُولاً

Janganlah engkau mengikuti sesuatu yang tidak kauketahui. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya,” [Q.S. Al-Isra’: 36].


Al-Qur’an menganggap orang yang mengabaikan akal dan pikirannya lebih sesat daripada ternak dan hewan, karena mereka memiliki sarana pengetahuan, tetapi mereka tidak menggunakannya untuk tujuan yang semestinya. Allah Swt. berfirman,


إِنَّ شَرَّ الدَّوَآبِّ عِنْدَ اللَّهِ الصُّمُّ الْبُكْمُ الَّذِينَ لاَ يَعْقِلُونَ

Sesungguhnya seburuk-buruk makhluk yang bergerak di atas bumi dalam pandangan Allah ialah mereka yang tuli dan bisu (tidak mau mendengar dan tidak mau mengatakan kebenaran), yaitu orang-orang yang tidak mengerti,” [Q.S. Al-Anfal: 22].


Banyak ayat Al-Qur’an yang secara eksplisit maupun implisit membahas tentang akal dan mendorongnya untuk berpikir, mengamati, menjelajahi alam semesta, serta menjadikan berpikir sebagai kewajiban Islam.

Jika akal gagal menjalankan fungsi ini, berarti ia mati, dan hakikat kemanusiaan seseorang pun akan terlucuti. Inilah yang ditegaskan Al-Qur’an mengenai orang-orang yang mengabaikan akalnya, bahwa mereka tersesat karena gagal memanfaatkan pendengaran dan penglihatan untuk mengambil faedah dari tanda-tanda kebesaran Allah di alam semesta sebagai bukti Eksistensi-Nya. Mereka setara dengan binatang, bahkan lebih buruk.


أَرَأَيْتَ مَنْ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ أَفَأَنْتَ تَكُونُ عَلَيْهِ وَكِيلاً. أَمْ تَحْسَبُ أَنَّ أَكْثَرَهُمْ يَسْمَعُونَ أَوْ يَعْقِلُونَ إِنْ هُمْ إِلاَّ كَالأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ سَبِيلاً

Sudahkah engkau [Muhammad] melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Apakah engkau akan menjadi pelindungnya? Atau apakah engkau mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami? Mereka itu hanyalah seperti binatang ternak, bahkan lebih sesat jalannya,” [Q.S. Al-Furqan: 43 – 44].


Memuliakan Manusia dengan Etika dan Kebajikan

Martabat manusia dan seruan untuk menghormatinya tampak jelas dalam dakwah Islam untuk berakhlak mulia, dorongannya terhadap individu dan masyarakat untuk mengejar tujuan mulia, transendensinya dari materialisme, dan ajakannya untuk melakukan kebaikan dan kebajikan di antara manusia. Oleh karena itu, Al-Qur’an menggambarkan Nabi Muhammad Saw. dengan pujian dan sanjungan tertinggi, sebagaimana Allah Swt. berfirman,


وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ

Sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung,” [Q.S. Al-Qalam: 4].


Islam mengajak seluruh manusia untuk selalu berbuat baik, penuh belas kasih, bersaudara, penuh kasih sayang, kooperatif, rukun, jujur, baik hati, setia pada janji, dapat dipercaya, serta menyucikan hati dan membersihkannya dari kotoran. Islam juga menyerukan keadilan, toleransi, pengampunan, kesabaran, dan keteguhan. Islam menyerukan amar ma’ruf nahi munkar, dan mendorong sikap saling memberikan nasihat serta akhlak mulia lainnya.

Akhlak yang baik dapat mengangkat derajat umat manusia, menyatukan antar anggotanya, melindungi hubungan kolektif, dan membimbing mereka menuju kebaikan dan kesempurnaan, sehingga kehidupan mereka dapat digambarkan dalam bentuk dan kondisi terbaiknya, serta terhindar dari keburukan, kerusakan moral dan sosial.


Memuliakan Manusia dengan Hukum Syariat

Ini adalah topik luas yang mencakup semua keputusan hukum syariat, yang mendorong kita untuk memahami alasan dan hikmah di balik setiap keputusan hukum. Oleh karena itu, di sini hanya akan disajikan beberapa contoh sebagai model, sebagaimana firman Allah Swt.,


وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لآَيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

Di antara tanda-tanda [kebesaran]-Nya ialah bahwa Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari [jenis] dirimu sendiri agar kamu merasa tenteram kepadanya. Dia menjadikan di antaramu rasa cinta dan kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda [kebesaran Allah] bagi kaum yang berpikir,” [Q.S. Al-Rum: 21].


Ayat ini mendorong kita untuk bersikap baik kepada sesama manusia. Bersikap baik kepada sesama merupakan salah satu sebab terjalinnya rasa solidaritas dan kerjasama, di mana kita bisa saling menyayangi dan membangun simpati serta empati satu sama lain.

Allah Swt. berfirman,


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ

Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu,” [Q.S. Al-Tahrim: 6].


Di dalam ayat ini, Allah Swt. memerintahkan orang-orang beriman untuk melindungi diri mereka dari api neraka melalui perbuatan mereka, dan keluarga mereka melalui nasihat, peringatan, dan bimbingan yang tulus. Hal ini menuntut komitmen penuh terhadap hukum Islam, baik dalam hal perintah (al-amr) maupun larangan (al-nahy), menjauhi maksiat, melakukan ketaatan, senantiasa beramal saleh, mendorong pasangan dan anak-anak untuk memenuhi kewajiban agama mereka dan menghindari larangan.

Di antara hukum-hukum syariat terdapat larangan penipuan, perampasan harta orang lain, dan pelanggaran hak-hak mereka, karena hal ini merendahkan martabat kedua belah pihak. Allah Swt. berfirman,


وَلاَ تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ وَتُدْلُوا بِهَا إِلَى الْحُكَّامِ لِتَأْكُلُوا فَرِيقًا مِنْ أَمْوَالِ النَّاسِ بِالإِثْمِ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

Janganlah kamu makan harta di antara kamu dengan jalan yang batil dan [janganlah] kamu membawa [urusan] harta itu kepada para hakim dengan maksud agar kamu dapat memakan sebagian harta orang lain itu dengan jalan dosa, padahal kamu mengetahui,” [Q.S. Al-Baqarah: 188].


Sejumlah ayat di dalam Al-Qur’an memberikan penghormatan kepada manusia dan menjadikan kehendaknya (al-iradah) sebagai dasar dalam menjalin hubungan dan bertransaksi, bahkan mendahului legislasi dunia dalam otoritas kehendak transaksi.

Al-Qur’an memperhitungkan kehendak manusia (al-iradah al-insaniyyah) dalam semua tindakan dan membatalkan tindakan yang terjadi di bawah paksaan. Rasulullah Saw. bersabda: “Umatku dimaafkan atas kesalahan, kelupaan, dan apa yang terpaksa mereka lakukan.” Hadits ini menggabungkan kesalahan, kelupaan, dan paksaan karena kehendak (al-iradah) benar-benar tidak ada dalam kasus-kasus ini. Al-Qur’an juga melarang memakan harta seseorang kecuali dengan persetujuannya.

Dalam menjelaskan hikmah di balik penetapan hukuman, Allah Swt. berfirman,


وَلَكُمْ فِي الْقِصَاصِ حَيَاةٌ يَا أُولِي الأَلْبَابِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Dan di dalam qishash itu ada [jaminan] kehidupan bagimu, wahai orang-orang yang berakal agar kamu bertakwa,” [Q.S. Al-Baqarah: 179].


Di dalam Al-Qur’an Allah Swt. menjunjung tinggi martabat manusia bahkan dalam bab tentang hukuman, karena itu dimaksudkan untuk menjaga darah, jiwa, dan kehidupan secara umum. Dia menetapkan hal-hal yang dilarang (al-mamnu’ah) dan diharamkan (al-muharramah), memperingatkan terhadapnya, dan membuat orang takut melakukannya. Jika terjadi kesalahan, maksiat atau dosa, Dia menetapkan hukuman yang tepat untuknya dengan cara yang tidak mempengaruhi martabat manusia.

Allah melarang permusuhan di antara sesama menusia, dan menganggap hukuman sebagai disiplin, reformasi, dan pencegahan. Ada banyak bukti dalam teks-teks syariat mengenai perlindungan terhadap manusia sebagai terdakwa, penjahat dan pelaku, baik dalam perlakuan terhadapnya, penyelidikannya, atau dalam persidangannya, dan mengamankan hak asasi manusianya, serta memberinya hak untuk membela diri, atau dalam hukumannya, dan pelaksanaan hukuman terhadapnya baik penjara dan cara-cara lainnya.

Lebih lanjut, ayat-ayat Al-Qur’an sarat dengan perhormatan terhadap martabat manusia dan nilai sejatinya, menegaskan dan mendefinisikannya dengan cara yang tepat yang menghubungkannya dengan Sang Pencipta dan alam semesta di sekitarnya, dengan cara yang bermanfaat bagi kehidupan dunia dan akhirat.

Seluruh hukum syariat yang digariskan di dalam Al-Qur’an mempertimbangkan aspek kemanusiaan, karena hukum-hukum tersebut ditetapkan semata-mata untuk kemaslahatan manusia. Syariat mempertimbangkan kemanusiaan manusia dengan hukum-hukum yang bijaksana dan adil sebelum dan sesudah dilahirkan, serta meninggikan kepedulian terhadap anak yatim dan anak-anak pada khususnya, dan kemudian manusia pada umumnya, sepanjang hidup.

Kemudian, syariat juga mengatur pengurusan jenazah saat kematian, termasuk persiapan, memandikan, mengkafani, shalat jenazah, penguburan, dan larangan berbuat jahat terhadap jenazah atau menyakitinya dengan kata-kata buruk, bergunjing, atau duduk di atas kuburan.

Itu hukum-hukum yang manusiawi dalam makna yang sesungguhnya, sebagaimana dipahami oleh peneliti ilmu-ilmu Islam dan ulama fikih serta hukum-hukum Islam. Penghormatan Ilahi terhadap umat manusia nyata bagi kita dalam setiap perkara kecil maupun besar, dan dalam semua aspek kehidupan dan fase eksistensi manusia, sehingga umat manusia dihormati, diunggulkan, dan didahulukan di sisi Allah Swt., serta diangkat sebagai khalifah-Nya di muka bumi.[]


*) Disampaikan dalam Kultum Pagi, yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa PAI (Pendidikan Agama Islam) Universitas Islam Al-Ihya Kuningan, Jum’at, 14 November 2025

Artikel Lainnya

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Tinggalkan Komentar