Oleh: H. Roland Gunawan, Lc., Mudir Madrasah Diniyah Lailiyah (MDL) Al-Fattah Kuningan
Tidak semua yang kita baca itu sama; beberapa maknanya hilang begitu saja seperti bayangan yang cepat berlalu, sementara yang lain bertahan sejenak sebelum memudar. Dan di luar semua itu, kita pasti akan menemukan dalam bacaan kita beberapa hal yang melampaui hal biasa dari sisi dampaknya, baik kedalaman maupun durasinya.
“Alwan min al-Sa’adah” (Warna-Warni Kebahagiaan)—judul cerita pertama dalam kumpulan cerpen karya novelis Mesir, Muhammad Abdul Halim Abdullah—terbit dengan judul yang sama pada tahun 1977. Buku lama, namun inspirasinya sangat relate dengan kehidupan kita dari waktu ke waktu.
Ini adalah kisah tentang sebuah pemikiran sederhana yang memunculkan pertanyaan dalam jiwa, dan dengan mengikuti pemikiran dan pertanyaan tersebut, kita menyadari bahwa apa yang kita lihat sekilas dalam kehidupan seseorang mungkin menyembunyikan banyak hal yang bertentangan dengan penampilan luar, dan bahwa dalam pencarian kita akan kebahagiaan, kita sering tertipu oleh penampilan luar, dan pada saat yang sama kita mengabaikan hal-hal berharga di tangan kita hanya karena kita merasa bahwa keberadaannya adalah hal yang biasa dan wajar, tetapi kita melupakan orang lain yang tidak memilikinya, dan jika mereka mampu berkorban untuk mendapatkannya, hal itu akan lebih diutamakan daripada kekayaan, kedudukan, dan prestise.
Memang benar bahwa buruh tani, sosok yang sangat sederhana, tidak setara dengan tuan tanah yang kaya raya dalam hal uang. Tetapi bagaimana jika tuan tanah itu jatuh sakit hanya karena selimut terlepas darinya di malam hari, sementara si buruh, pada usia enam puluh tahun, mendapati dirinya sebagai laki-laki tua yang sehat dan kuat, “makan dengan lahap, memutar-mutar kumisnya dengan kuat dan memelintirnya, dan menghentakkan tanah dengan sepatunya yang tebal”?.
Bayangkan, fakta ini saja sudah cukup untuk membuat buruh tani itu mengesampingkan keinginan untuk berada di posisi tuan tanah.
Namun, ada sebuah pikiran melintas di benaknya dan itu tak mudah hilang, yang mengingatkannya pada seorang laki-laki lain yang dikenalnya, yang tak lain adalah temannya—seorang laki-laki yang memiliki tanah, uang, kedudukan, kekuasaan, kesehatan, prestise, dan pengaruh di pusat kota.
Di sini, serangkaian pikiran muncul, dan kita menyadari bahwa tuan tanah, terlepas dari semua itu, tidak lebih baik daripada teman si buruh. Bahkan, ia mungkin iri pada pelayan yang memegang kendali kudanya agar ia bisa menungganginya, karena pelayan itu memiliki seorang istri yang menunggunya di malam hari untuk meredakan rasa letihnya, sementara istri si tuan tanah telah melarikan diri dengan salah satu kerabatnya, meninggalkannya dengan seorang anak, kerinduan, dan kesedihan.
Perenungan buruh tersebut tidak berhenti pada dua kasus ini, tetapi meluas ke kasus-kasus lain. Kemudian ia kembali dengan kesimpulan yang sama seperti pada dua kasus pertama. Dalam suatu momen perenungan, ia teringat hari ketika ia mendengar kata “Papa” dari mulut putranya untuk pertama kalinya dalam hidupnya, dan kelembutan yang ia temukan di dalamnya, dan “si buruh mencoba menetapkan harga untuk kata ini ketika ia mendengarnya untuk pertama kalinya; jadi ia melihat tanah yang dijaganya dan apa yang ada di atasnya berupa bangunan, sapi, dan pohon, dan ia mendapati bahwa semua itu tidak pantas dijadikan harga untuk kata ini”.
Di sinilah pencarian dan penyelidikan berhenti, tetapi si buruh tidak dapat menemukan penjelasan yang dapat diterima pikirannya mengenai keyakinan yang telah ia bentuk. Kemudian, setelah bertanya kepada seseorang tentang rahasia kebahagiaannya pada kata “Papa”, ia menyadari bahwa Tuhan memberikan berbagai bentuk kebahagiaan kepada orang miskin, yang terbesar adalah bahwa orang kaya tidak dapat membelinya dengan uang; seolah-olah Tuhan menciptakannya khusus untuk orang miskin.
Makna yang disampaikan oleh “Alwan min al-Sa’adah“, tampaknya, tidak didasarkan pada ilusi, karena kenyataan mengkonfirmasinya, dan ada contoh dalam kehidupan orang-orang yang mendukung dan memperkuatnya. Berapa banyak orang kaya yang belum mencapai kebahagiaan melalui kekayaan mereka, dan berapa banyak tokoh terkemuka yang belum menemukan kepuasan dalam kedudukan mereka? Sebaliknya, berapa banyak yang puas dengan sedikit hal yang memberi mereka penghidupan, dan merasa cukup dengannya, hidup bahagia dan damai?
Tetapi di sini kita harus berhenti sejenak untuk bertanya: Apakah ini berarti bahwa uang, kedudukan, dan prestise adalah hal-hal tercela yang harus kita hindari? Sebenarnya, tidak sesederhana itu.
Itu adalah keinginan alami yang sebagian besar dari kita berusaha untuk mencapainya. Jika terpenuhi, keinginan ini dapat membawa kebahagiaan bagi sebagian orang, tetapi bagi yang lain, mungkin membawa sebaliknya.
Jika kita benar-benar memahami hal ini, kita akan menemukan bahwa seseorang benar-benar bahagia ketika ia menyadari bahwa kebaikan dan kepuasan tidak terletak pada hal-hal itu sendiri, melainkan pada bagaimana ia berinteraksi dengan hal-hal tersebut.
Ia mengelolanya dengan baik ketika hal-hal itu tersedia, dan menerima hidup damai tanpa hal-hal itu ketika hal-hal itu hilang. Ia tidak sombong ketika kaya, atau menyimpan dendam ketika miskin. Ia tidak angkuh ketika menjadi seorang tuan tanah, atau mengeluh ketika menjadi seorang buruh. Dan dalam kedua kasus ini, ia yakin bahwa kebaikan terletak pada apa yang telah dipilih oleh Tuhan untuknya.
Seseorang mungkin berusaha untuk memperoleh uang yang akan memberinya kehidupan yang nyaman dan memungkinkannya untuk membelanjakannya bagi orang-orang di sekitarnya, atau untuk mencapai posisi bergengsi jika ia layak dan pantas mendapatkannya. Namun, ia tidak boleh meratapi nasibnya jika uang atau posisi tersebut tidak kunjung datang, dan ia juga tidak boleh menjadikan kebahagiaannya bergantung pada kedatangan hal-hal tersebut. Sebaliknya, ia harus merenungkan apa yang ada di tangannya, sehingga ia dapat menemukan dalam hidupnya unsur-unsur yang akan membuatnya bahagia jika ia menghargai dan menyadari nilainya.
Tidaklah mengherankan jika sebagian orang menemukan kebahagiaan dalam kehidupan yang sederhana. Kesederhanaan, dalam pemahaman yang lebih dalam, adalah sesuatu yang mengangkat martabat seseorang, bertentangan dengan apa yang diyakini banyak orang. Persepsi kita tentang pentingnya sesuatu dan diri sendiri tunduk pada standar relatif; apa yang menurut kita berarti, belum tentu orang lain memandangnya demikian.
Namun, kebahagiaan terbesar tetap bagi orang yang fokusnya adalah akhirat. Orang seperti itu hidup dengan kepuasan di dunia ini dan kegembiraan menantikan kebahagiaan akhirat. Ia menerima kehidupan dengan suka dan dukanya, dan bahkan dukanya pun menjadi manis baginya.[]
Tinggalkan Komentar