Info Sekolah
Selasa, 25 Agu 2026
  • Pesantren Terpadu Al-Fattah Kuningan
  • Pesantren Terpadu Al-Fattah Kuningan
6 Februari 2026

Warna-warni Kebahagiaan

Jum, 6 Februari 2026 Dibaca 81x Resensi

Oleh: H. Roland Gunawan, Lc., Mudir Madrasah Diniyah Lailiyah (MDL) Al-Fattah Kuningan



Tidak semua bacaan memiliki bobot yang sama. Sebagian maknanya lenyap begitu saja, bagaikan bayangan yang melintas dan hilang tanpa jejak; sebagian lagi sempat bertahan sesaat sebelum perlahan memudar dari ingatan. Namun, di antara semuanya, akan selalu ada tulisan yang melampaui batas biasa—yang membekas dalam hati, menyentuh akal, dan memberi dampak yang terasa lama, baik dari segi kedalaman makna maupun kekuatan pengaruhnya.

Alwan min al-Sa’adah” (Warna-Warni Kebahagiaan) adalah judul cerita pembuka dalam kumpulan karya penulis Mesir, Muhammad Abdul Halim Abdullah, yang diterbitkan dengan judul yang sama pada tahun 1977. Meskipun sudah terbit puluhan tahun silam, pesan yang dikandungnya tetap relevan dan terus berbicara kepada kehidupan kita sepanjang masa.

Ini adalah kisah yang bermula dari sebuah pemikiran sederhana, yang perlahan memunculkan pertanyaan mendalam di dalam jiwa. Saat kita mengikuti alur pemikiran dan pertanyaan itu, kita mulai menyadari satu kenyataan penting: apa yang terlihat sekilas dari luar kehidupan seseorang sering kali menyembunyikan realita yang jauh berbeda. Dalam pencarian kita akan kebahagiaan, kita kerap tertipu oleh kemewahan dan penampilan luar, sekaligus lupa menghargai apa yang sebenarnya ada di tangan kita. Kita menganggap hal-hal baik yang kita miliki sebagai hal yang wajar dan semestinya, padahal bagi orang lain yang tidak memilikinya, hal itu bisa menjadi sesuatu yang sangat berharga—bahkan nilainya bisa melampaui kekayaan, kedudukan, dan nama besar.

Ambil contoh dua sosok yang sangat kontras: seorang buruh tani yang hidup sederhana, dan seorang tuan tanah yang memiliki harta berlimpah. Dari segi materi, keduanya jelas tidak setara. Namun, bagaimana jika kita melihat sisi lain? Ternyata sang tuan tanah bisa jatuh sakit hanya karena selimutnya terlepas di tengah malam yang dingin. Sebaliknya, di usia yang sudah menginjak enam puluh tahun, sang buruh justru masih memiliki tubuh yang kuat dan sehat—ia makan dengan lahap, memutar kumisnya dengan percaya diri, dan melangkah tegas menghentakkan tanah dengan alas kakinya yang kokoh.

Hanya dengan melihat fakta ini saja, sang buruh pun merasa tak perlu lagi berangan-angan untuk bertukar posisi dengan tuannya.

Namun, benaknya tak berhenti di situ. Sebuah pikiran lain melintas dan tak mudah hilang: ia teringat pada seorang kenalannya—seorang yang memiliki segalanya: tanah luas, harta melimpah, kedudukan tinggi, kekuasaan, kesehatan yang terjaga, nama harum, serta pengaruh yang luas di kota.

Dari sanalah muncul rangkaian renungan yang membuka pandangan. Ia mulai menyadari bahwa meski memiliki segala hal itu, sang tuan tanah belum tentu lebih beruntung dibandingkan temannya sendiri. Bahkan, bisa jadi ia justru merasa iri pada pelayan yang memegang kendali kudanya. Mengapa? Karena pelayan itu masih memiliki istri yang menunggunya di rumah setiap malam, untuk menyambut dan menghilangkan rasa lelahnya. Sedangkan sang tuan tanah, ditinggalkan oleh istrinya yang kabur bersama kerabatnya sendiri, meninggalkannya sendirian hanya ditemani seorang anak, rasa rindu yang mendalam, dan kesedihan yang tak terucap.

Renungan sang buruh tak berhenti pada dua kisah ini saja. Ia meluaskan pandangannya pada banyak kondisi lain, dan selalu kembali pada kesimpulan yang sama. Hingga pada satu titik, terlintas dalam ingatannya momen paling berharga: hari ketika ia mendengar kata “Papa” terucap pertama kali dari mulut anaknya. Ia merasakan kelembutan yang tak terlukiskan mendengarnya. Dalam hatinya, ia sempat mencoba menakar nilai dari satu kata itu. Ia memandang seluruh tanah yang ia jaga, bangunan yang berdiri di atasnya, ternak yang dimiliki, serta pepohonan yang tumbuh subur—lalu ia sadari: semua kekayaan itu, jika disatukan, tetap tak akan cukup untuk menandingi makna dan kebahagiaan yang terkandung dalam satu panggilan itu.

Di sanalah rangkaian pencariannya sampai pada satu titik terang. Meski tak menemukan penjelasan yang mudah dijabarkan dengan akal semata, keyakinan baru mulai tumbuh dalam hatinya. Saat ia kemudian bertanya kepada seseorang tentang rahasia kebahagiaan yang terasa begitu nyata namun tak terukur itu, ia akhirnya mengerti: Tuhan menciptakan kebahagiaan dalam berbagai bentuk. Ada jenis kebahagiaan yang secara khusus tercurah bagi hati yang sederhana, yang nilainya sedemikian tinggi sehingga takkan pernah bisa dibeli oleh harta kekayaan sekalipun. Seolah-olah anugerah itu disediakan khusus bagi mereka yang tidak memegang harta dunia.

Pesan yang disampaikan dalam “Alwan min al-Sa’adah” bukanlah sekadar khayalan atau pemikiran kosong. Ia bersandar pada kenyataan hidup yang sering kita saksikan. Betapa banyak orang kaya yang tidak menemukan ketenangan di tengah tumpukan hartanya, dan betapa banyak orang yang memiliki kedudukan tinggi namun tetap merasa hampa di dalam hatinya. Sebaliknya, tak sedikit pula mereka yang hidup dengan apa adanya, menerima penghidupan yang sederhana, namun merasa cukup, tenang, dan hidup dalam kebahagiaan yang tulus.

Namun, di sini kita perlu meluruskan satu hal penting: apakah ini berarti uang, kedudukan, dan nama baik adalah hal yang buruk dan harus dijauhi? Tentu tidak sesederhana itu.

Menginginkan hal-hal tersebut adalah dorongan alami yang dimiliki hampir setiap orang. Jika diperoleh dengan cara yang benar, kekayaan dan kedudukan bisa menjadi sarana untuk meraih kebahagiaan dan kebaikan. Namun, bagi sebagian orang, hal yang sama justru bisa menjadi sumber beban, keserakahan, dan ketidakpuasan yang tiada akhir.

Jika kita benar-benar memahami makna yang sesungguhnya, kita akan mengerti bahwa kebahagiaan sejati tidak terletak pada benda atau kedudukan itu sendiri, melainkan pada cara kita menyikapinya. Ia ada pada kemampuan mengelola apa yang dimiliki dengan bijak saat segala sesuatu tersedia, dan tetap menerima hidup dengan lapang dada ketika hal itu tidak ada. Ia tidak menjadikan diri sombong saat kaya, tidak menyimpan dendam saat miskin; tidak merasa lebih tinggi saat berkuasa, dan tidak mengeluh saat hidup dalam keterbatasan. Dalam setiap keadaan, ia tetap meyakini bahwa apa yang dipilih dan ditetapkan Tuhan untuknya adalah yang terbaik.

Seseorang boleh saja berusaha mencari nafkah yang layak untuk hidup nyaman dan berbagi kebaikan kepada orang di sekitarnya. Ia juga boleh berjuang meraih kedudukan yang terhormat jika ia memang layak dan pantas menjalaninya. Namun, ia tidak boleh meratapi nasib jika apa yang dicita-citakan itu belum juga datang. Yang terpenting, kebahagiaannya tidak boleh digantungkan hanya pada tercapainya hal-hal itu. Sebaliknya, ia harus berhenti sejenak untuk merenungkan apa yang sudah ada di tangannya—karena di situlah tersimpan unsur-unsur kebahagiaan yang akan terasa nyata, jika saja ia mau menghargai dan menyadari nilainya.

Maka, tidak mengherankan jika banyak orang menemukan kedamaian sejati dalam kesederhanaan hidup. Kesederhanaan yang dipahami dengan benar justru mengangkat martabat seseorang, berbanding terbalik dengan anggapan keliru yang banyak beredar. Pada akhirnya, pandangan kita tentang apa yang berharga bersifat relatif; apa yang dianggap paling berarti bagi satu orang, belum tentu sama nilainya bagi orang lain.

Namun, kebahagiaan yang paling abadi tetaplah milik mereka yang matanya selalu tertuju pada kehidupan akhirat. Orang seperti itu akan menjalani dunia dengan hati yang tenang dan penuh rasa syukur. Ia menerima segala kejadian—baik suka maupun duka—dengan kepasrahan, hingga penderitaan sekalipun terasa manis karena ia melihatnya sebagai bagian dari jalan menuju kebahagiaan yang kekal.[]

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Tinggalkan Komentar