Info Sekolah
Kamis, 26 Feb 2026
  • Pesantren Terpadu Al-Fattah Kuningan
  • Pesantren Terpadu Al-Fattah Kuningan
1 Januari 2026

Tahun Baru dan Nikmatnya Penundaan

Kam, 1 Januari 2026 Dibaca 34x Kajian

Oleh: H. Roland Gunawan, Lc., Mudir Madrasah Diniyah Lailiyah (MDL) Al-Fattah Kuningan



2026, Tahun yang Baru Lahir: Ketika Kegembiraan Permulaan Ditunda, Tujuan Pun Lahir

Awal adalah salah satu hal yang paling dikenal manusia; awal memiliki kenikmatan unik yang tidak seperti yang lain, rasa yang mirip dengan kemenangan sebelum pertempuran, dan antisipasi pencapaian bahkan sebelum itu terjadi. Inilah mengapa banyak orang dengan penuh semangat menantikan tahun baru, bukan karena tahun baru membawa perubahan nyata, tetapi karena memberi mereka perasaan bahwa mimpi mereka masih mungkin terwujud, dan ambisi mereka belum padam.

Awal, pada dasarnya, cenderung menyuntikkan “hormon tersembunyi” itu ke dalam diri kita; gelombang semangat dan kebahagiaan muncul, dan kita memasuki—selama beberapa menit, jam, atau bahkan hari—keadaan optimisme sementara, terutama bagi mereka yang mendekati tahun sebagai tantangan pribadi.

Misalnya, ada seorang teman yang tidak membiarkan satu tahun pun berlalu tanpa melahap salah satu buku lama yang berjajar di dinding perpustakaannya, dengan judul yang panjang dan kedalaman yang luar biasa. Ia melihat setiap tahun sebagai peluang baru, bahkan mungkin alasan baru, untuk menggali harta karun tersembunyi itu. Demikian pula, ada perempuan muda yang melihat tahun baru sebagai jendela harapan untuk melepaskan beban yang telah menumpuk selama bertahun-tahun.

Tahun baru memberi setiap orang perasaan yang sama: perasaan akan peluang baru. Perasaan itu tidak jauh berbeda dengan kegembiraan seseorang yang, beberapa detik sebelumnya, hampir terlindas roda kereta api yang melaju kencang, dan kemudian secara ajaib selamat. Itu adalah kegembiraan akan kehidupan yang terlahir kembali, atau kelahiran kembali yang kita nantikan dengan hari pertama tahun ini.

Namun, berpegang teguh pada tanggal tertentu—tanggal satu tahun, tanggal satu bulan, tanggal satu minggu, atau jam—dapat menjadi pintu gerbang tersembunyi menuju penundaan jika tidak dikelola dengan hati-hati. Jadi bagaimana kita mencegah diri kita jatuh ke dalam perangkap penundaan? Dan bagaimana kita mencapai aspirasi kita tanpa menipu diri sendiri dengan kesenangan sesaat dari permulaan saja?


Momen Sempurna: Alasan Elegan untuk Penundaan

Hidup tidak menunggu momen sempurna. Laju percepatannya bergerak dalam sekejap mata, dan manusia modern hidup dalam perang terbuka dengan musuh yang telah memenangkan pertempuran bahkan sebelum dimulai. Maksudnya adalah hantu yang, saat kita bangun pukul lima, kita sadari telah menjadi pukul sembilan.

Waktu adalah musuh yang tak terkalahkan, tak pernah menyarungkan pedangnya, baik kita melawannya atau mengabaikannya. Kita semua pernah mencoba memanfaatkan seluruh hari, hanya untuk akhirnya mendapatkan, paling banter, setengahnya. Musuh ini menjadi semakin ganas dengan kemajuan teknologi yang telah Tuhan anugerahkan kepada kita. Obsesi digital—obsesi dengan media sosial—dirancang dengan cermat untuk membuat kita tetap bertahan selama mungkin. Kita tenggelam dalam sepuluh menit, hanya untuk terbangun dan menemukan bahwa satu jam penuh telah berlalu.

Di ruang digital ini, waktu benar-benar berubah; waktu meluas tanpa kita sadari, dan kita menjadi astronot penundaan kecuali disiplin diri menemukan tempat dalam hidup kita dan kemampuan untuk mengendalikan keinginan kita berakar.

Oleh karena itu, momen ideal yang kita tunggu bukanlah tahun baru, atau saat angka nol bertemu, melainkan keinginan tulus untuk memulai sekarang: untuk melarutkan endapan tersembunyi dalam pikiran kita, dan untuk berhenti mengubah alasan kita menjadi imbalan palsu yang membuat kita merasa “berubah,” padahal tidak ada yang berubah dalam 365 hari terakhir.


Bagaimana Kita Berdamai dengan Waktu Alih-alih Mencoba Mengalahkannya?

Hal pertama yang harus kita lakukan adalah melarutkan kebiasaan-kebiasaan yang telah terakumulasi dengan secara sadar memantau semua sumber penundaan: internal dan eksternal, dan apa yang muncul dari gangguan atau berlebihan. Sebagian dari kita memperlakukan diri kita seolah-olah kita adalah mesin yang tak kenal lelah, berpikir kita akan bekerja sepanjang hari tanpa henti. Siapa pun yang berpikir dapat mengalahkan waktu dengan cara ini harus bersiap untuk kekalahan telak, karena waktu—menurut hukum universal Tuhan—tidak dapat dikalahkan. Kemenangan atasnya seperti menenggak air dengan kedua tangan; minum sebanyak yang bisa diminum, bukan sebanyak yang diinginkan.

Dan ada juga yang membenamkan diri dalam segala hal, tenggelam dalam gangguan, sementara jalan yang benar adalah bagi seseorang untuk membagi harinya sesuai dengan prioritas yang jelas, yang terpenting di antaranya adalah ibadah, memberikan tempat dan tanggungjawab yang semestinya. Merupakan berkah untuk membangun hari di sekitar ibadah, karena itu adalah pilar tempat segala sesuatu bertumpu: pekerjaan, hobi, dan olahraga. Aspek religius pada hari yang kita lalui adalah seperti anak yang patuh; jika kita memperlakukannya dengan baik di masa kecilnya, ia akan memperlakukan kita dengan baik dan bersikap baik kepada kita di masa tua kita.

Sedangkan untuk penundaan eksternal, seperti gangguan dalam berbagai bentuknya, mengendalikan dan mengalokasikan waktu untuk hal-hal tersebut dapat mengembalikan banyak menit dalam sehari yang tersebar di berbagai keadaan. Namun, jenis yang paling berbahaya tetaplah penundaan internal; musuh tersembunyi yang, begitu menguasai dirinya, akan menjerumuskan pemiliknya ke dalam pusaran yang merusak seluruh harinya.

Merefleksikan hal ini mengungkapkan bahwa penundaan internal sering kali lahir dari kesalahan yang kita buat sendiri: berlebihan, salah menilai, atau idealisme yang berlebihan. Oleh karena itu, menghindari idealisme dalam perencanaan adalah suatu keharusan, bukan kemewahan. Kita harus mempertimbangkan variabel di luar kendali kita dan mendedikasikan hari kita untuk hal-hal yang benar-benar penting, bukan hanya beberapa prioritas yang terserak.

Bijaksana untuk memberi penghargaan kepada diri sendiri dengan istirahat setelah bekerja. Jika kita mendedikasikan lima puluh menit untuk upaya yang terfokus, berikan tubuh kita sepuluh menit untuk pulih. Jangan anggap istirahat ini sebagai penundaan, melainkan sebagai “pajak” yang perlu dibayar agar roda keberlanjutan tetap berputar. Komitmen yang berlebihan akan menghambat keberlanjutan. Karena jiwa pada dasarnya tidak menyukai paksaan, lalu bagaimana mungkin ia dipaksa untuk melakukan satu tugas selama tiga atau empat jam terus-menerus? Bahkan jika berhasil sekali, ia akan runtuh dengan rintangan pertama yang menghadangnya.


Awal yang Sejati

Kesimpulannya, kita tidak membutuhkan tahun baru untuk memulai, atau jam yang menunjukkan angka nol. Awal yang sejati tidak tertulis di kalender, melainkan tercipta dari keputusan. Waktu tidak akan menunggu, momen sempurna tidak akan datang, dan yang benar-benar kita miliki adalah menit ini yang kita miliki saat ini. Jika kita menggunakannya dengan baik, itu akan memberkati kita dalam sedikit yang kita miliki; jika kita menyalahgunakannya, itu tidak akan berguna bagi kita.

Awal memang indah, tetapi itu saja tidak cukup. Yang benar-benar menyelamatkan adalah ketekunan yang disadari, menerima waktu apa adanya daripada mencoba menaklukkannya, dan maju dengan langkah-langkah kecil namun tulus. Hanya dengan demikian kegembiraan dari awal yang baru berubah dari ilusi yang cepat berlalu menjadi kehidupan yang seimbang dan berkelanjutan.[]

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Tinggalkan Komentar