Info Sekolah
Rabu, 13 Mei 2026
  • Pesantren Terpadu Al-Fattah Kuningan
  • Pesantren Terpadu Al-Fattah Kuningan
4 Mei 2026

Asupan Akal dan Ruh

Sen, 4 Mei 2026 Dibaca 13x Kajian

Oleh: H. Roland Gunawan, Lc., Mudir Madrasah Diniyah Lailiyah (MDL) Al-Fattah Kuningan



Kita semua tumbuh dan berkembang secara fisik, tetapi bagaimana dengan pemeliharaan akal dan ruh? Kita semua menua, tetapi pertumbuhan ini tidak selalu berarti peningkatan kedewasaan atau peningkatan spiritual; pemeliharaan akal dan ruh sama sekali berbeda dari pemeliharaan tubuh. Apa gunanya tubuh yang kenyang jika menderita kekurangan gizi spiritual?

Pertumbuhan biologis adalah proses yang tak terhindarkan dan tak terelakkan, sedangkan pertumbuhan intelektual dan spiritual adalah pilihan sadar yang kita buat sendiri. Jadi, kapan kita akan memberi makan “manusia” yang hidup di dalam diri kita?


Pertumbuhan dan Penurunan

Beberapa orang berbicara tentang penuaan fisik, mengabaikan penurunan ruh dan akal! Mengapa kita tidak membahas penuaan akal dan ruh pada tubuh-tubuh muda? Mengapa kita fokus pada tinggi badan dan lingkar pinggang, mengabaikan kecemerlangan kesadaran dan peningkatan ruh?

Penuaan intelektual tidak ada hubungannya dengan akta kelahiran; kita mungkin menemukan seseorang berusia dua puluh tahun hidup dengan jiwa yang layu, sementara orang lanjut usia dipenuhi dengan kesegaran kebijaksanaan dan kekuatan vitalitas mental! Kita tidak menua dalam hitungan hari, tetapi dalam cahaya yang kita kembangkan di dalam pikiran kita. 

Dikisahkan bahwa seorang bijak bestari sedang berjalan di antara murid-muridnya ketika ia melihat seorang laki-laki tua yang berpikiran sempit, mudah marah, dan tidak cakap dalam mengurusi urusan. Di sampingnya duduk seorang pemuda yang penuh wawasan dan ketenangan. Orang bijak itu berkata, “Jangan tertipu oleh rambut putih, karena sebagian orang tidak mencapai apa pun dalam delapan puluh tahun. Meskipun tubuh mereka telah tua, pikiran mereka tetap seperti anak kecil, menunggu untuk diasuh!”


Ilusi Perpanjangan Umur

Tidak semua usia tua meningkatkan nilai seseorang; beberapa justru menurun seiring bertambahnya usia! Oleh karena itu, kita harus menyadari kelaparan intelektual dan sifat waktu yang cepat berlalu. Waktu berlalu untuk semua orang, tetapi kebijaksanaan tidak bersemayam di setiap hati. Akal yang tidak digunakan akan menjadi beku, dan kehidupan yang tanpa wacana intelektual menjadi membosankan.

Ilmuwan Donald Hebb menegaskan bahwa akal tumbuh dengan penggunaan dan layu dengan pengabaian. Setiap pemikiran mendalam yang kita lakukan membangun jalur baru di dalam diri kita, memperluas kesadaran kita. Inilah kisahnya.

Konon, seorang pedagang menghabiskan hidupnya mengumpulkan kekayaan dan membangun istana. Ketika mencapai usia enam puluh tahun, ia pensiun dari bisnis dan duduk di kursi dewan penasihat, menunggu pengakuan atas kebijaksanaannya. Ketika ia mulai berbicara, ia mendapati orang-orang berpaling darinya; karena ia tidak memiliki apa pun selain angka-angka penjualan dan tidak pernah memelihara akalnya dengan pemikiran atau kebijaksanaan. Ia terlambat menyadari bahwa ia telah mengumpulkan kekayaan tetapi kehilangan pertumbuhan kesadaran, membuat hidupnya tidak bermakna.


Meja Hidangan Akal yang Lapar

Akal tidak akan kenyang dengan pesta tubuh. Nutrisi intelektual diperoleh dari pembacaan yang sadar dan penyelidikan yang bijaksana. Lebih jauh lagi, ada perbedaan antara pengetahuan, yang hanyalah akumulasi informasi, dan kebijaksanaan, yang merupakan kedalaman dan esensi pemahaman.

Oleh karena itu, kita katakan: kita harus waspada terhadap asupan cepat saji yang memenuhi akal dengan hal-hal sepele dari tren dan dangkalnya konsumsi. Racun-racun ini memuaskan rasa ingin tahu tetapi membunuh kedalaman.

Konon, seorang laki-laki mengeluh tentang hati yang berat dan pikiran yang kacau. Seorang cendekiawan menasihatinya untuk meninggalkan rasa ingin tahu tentang berita dan gosip yang tidak penting, dan sebaliknya mendedikasikan dirinya untuk membaca karya-karya klasik dan terlibat dalam perenungan yang mendalam.

Beberapa bulan kemudian, laki-laki ini kembali dengan wajah yang tercerahkan dan berkata: “Dulu saya menganggap diri saya berbudaya karena banyaknya yang saya dengarkan, tetapi akal saya ternyata seperti tempat sampah; dan hari ini saya tahu bahwa akal tidak berkembang karena seberapa banyak yang diterimanya, tetapi karena kualitas apa yang diterimanya.”


Kemiskinan Ruh yang Tersembunyi

Mengapa ruh merasa terkekang dalam tubuh yang diberkati dengan segala hal? Pernahkah kita mendengar istilah “anemia spiritual”? Itu adalah keadaan yang membuat seseorang merasa hampa di tengah kemewahan istana; tidak semua ketenangan adalah kedamaian, dan tidak semua kekosongan adalah kenyamanan.

Kekosongan inilah yang digambarkan oleh ilmuwan Viktor Frankl sebagai “kekosongan eksistensial”. Ia percaya bahwa ruh tidak menderita karena kekurangan materi, tetapi lebih karena ketiadaan makna dan tujuan. Ruh membutuhkan jenis nutrisi yang berbeda; ia membutuhkan hubungan dengan ilahi dan perenungan mendalam terhadap ayat-ayat dan dzikir. Inilah nutrisi yang tidak dapat dibeli atau dijual.

Saya pernah membaca bahwa beberapa cendekiawan, karena kemurnian ruh mereka dan hubungan mereka dengan Tuhan, mampu meramalkan hal yang tak terlihat dan ramalan mereka benar. Ketika orang-orang berkata kepada mereka, “Katakan ‘Insya Allah‘,” mereka akan menjawab, “Insya Allah” dengan kepastian dan keyakinan, bukan hanya kemungkinan atau spekulasi.

Inilah nutrisi ruh yang mengangkat seseorang dari tanah liat materialisme ke cakrawala keyakinan, di mana kehendak ilahi bukan hanya kata-kata yang diucapkan, tetapi visi langsung dari rencana Sang Pencipta.


Ilusi Pertumbuhan Otomatis

Tubuh tumbuh secara alami, tetapi akal dan ruh membutuhkan perjuangan dan pendekatan yang seimbang berdasarkan nutrisi yang berkelanjutan, bukan musiman. Mengapa sebagian orang mengira bahwa “uban” saja sudah cukup untuk menciptakan kebijaksanaan? Pengalaman hanya menjadi pelajaran ketika dicerna dengan akal terbuka; jika tidak, pengalaman itu berubah menjadi kepahitan di hati dan degradasi ruh.

Salah satu kerabat saya berbagi pengalamannya dengan saya, mengatakan: “Dulu saya berpikir bahwa kebijaksanaan akan datang secara otomatis dengan uban, seperti halnya gigi yang tumbuh. Karena itu, saya mengabaikan membaca dan refleksi dan mengandalkan berlalunya waktu. Hari ini, setelah mencapai usia lima puluh tahun, saya menyadari bahwa saya mengulangi kesalahan masa muda saya dengan kepahitan yang lebih besar. Saya telah belajar bahwa pengalaman yang tidak dicerna dengan akal hanyalah luka lama yang tidak memberikan manfaat apa pun bagi saya, dan bahwa berlalunya waktu saja tidak menjadikan seseorang bijak, melainkan hanya menjadikan seseorang tua.”


Kebangkitan Sebelum Layu

Kapan kita akan memelihara akal dan ruh kita? Kita berbicara tentang momen pengambilan keputusan yang mengubah seseorang dari sekadar tubuh yang menjalani hari-hari menjadi makhluk yang hidup dengan akal dan ruhnya sebelum terkubur di dalam tanah. Buahnya adalah individu yang damai, memiliki pikiran yang tercerahkan dan jiwa yang tenang, yang baginya usia bukanlah ukuran, melainkan vitalitas serta kecemerlangan spiritual dan intelektual.

Belajar dari pengalaman, berfokus pada aspek spiritual telah membawa banyak orang kepada kesuksesan dan berkat! Ketika ruh kita terangkat, hati kita menjadi murni, dan bahkan mimpi kita dipenuhi dengan berkat. Kita mungkin melihat sesuatu dalam mimpi yang membuat kita kagum dan membawa kedamaian ke hati kita. Kapan terakhir kali kita memberi nutrisi pada akal kita dengan pemikiran yang berharga, dan kapan terakhir kali kita memberi makna yang mendalam pada ruh kita?

Ketika kita membaca firman Allah Swt.: “Maka hendaklah manusia memperhatikan makanannya,” [Q.S. ‘Abasa: 24], jangan batasi nutrisi hanya pada tubuh saja. Di bumi, ada makanan untuk tubuh, dan di langit, ada nutrisi untuk ruh.

Jangan meninggalkan dunia ini dengan tubuh yang besar, perut buncit, pikiran yang tumpul, dan ruh yang kosong. Tubuh kita mungkin penuh dengan makanan, tetapi tidak lengkap tanpa nutrisi untuk ruh dan akal. Memperhatikan nutrisi ini bukanlah kemewahan; itu adalah prasyarat untuk kelangsungan hidup kita sebagai manusia.[]

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Tinggalkan Komentar