Kuningan – Selasa (11/25), dalam rangka memperingati Hari Guru Nasional 2025, Madrasah Diniyah Lailiyah (MDL) Al-Fattah Kuningan menggelar pengajian kitab “Ta’lîm Al-Muta’allim, Tharîq Al-Ta’allum”, yang langsung diampu oleh Mudir MDL Al-Fattah Kuningan, Ust. H. Roland Gunawan, Lc.. Pengajian ini digelar untuk mengetahui sekilas tentang apa yang sesungguhnya telah dilakukan oleh seorang guru sehingga ia layak mendapat penghormatan dan penghargaan.
Kitab “Ta’lîm Al-Muta’allim, Tharîq Al-Ta’allum” sendiri merupakan sebuah kitab tentang adab dan etika menuntut ilmu yang disusun oleh Imam Al-Zarnuji. Kitab ini menjadi panduan bagi para santri dan para penuntut ilmu agar mendapatkan ilmu yang bermanfaat, dengan fokus pada cara-cara yang benar dan sikap yang baik saat belajar.
Dijelaskan di dalam kitab ini, bahwa di antara cara meraih ilmu yang bermanfaat adalah dengan menghormati dan menghargai guru. Kitab ini menempatkan guru pada kedudukan yang sangat mulia. Tugasnya adalah menjadi orangtua spiritual yang punya kewajiban mendidik, membimbing, dan memberi teladan dengan penuh kasih sayang. Guru memiliki tanggungjawab besar dalam mengarahkan muridnya tidak hanya secara intelektual, tetapi juga dalam pembentukan akhlak dan karakter yang luhur, menjadi contoh nyata, dan membimbing menuju keridaan Allah.
“Kitab ini sangat penting untuk dibaca, terutama oleh mereka yang mendambakan ilmu yang barokah dan bermanfaat. Peringatan Hari Guru Nasional menjadi momentum untuk kembali menelaah kitab ini dan melihat apakah kita sudah memberikan penghormatan dan penghargaan yang selayaknya kepada para guru,” tutur Ust. Roland saat menjelaskan isi kitab “Ta’lîm Al-Muta’allim, Tharîq Al-Ta’allum”.

Ust. Roland menjelaskan, Hari Guru Nasional adalah perayaan tahunan atas status dan peran guru dalam membangun generasi dan membentuk masa depan. Guru mengemban tanggungjawab untuk membentuk pola pikir dan membangkitkan semangat belajar siswa. Berinvestasi dalam pendidikan tidak diragukan lagi merupakan investasi untuk masa depan bangsa, dan menghormati guru adalah sebuah kehormatan untuk masa depan yang sejahtera, yang mencerminkan budaya masyarakat yang menghormatinya.
“Hari Guru bukan sekadar momen yang berlalu begitu saja, melainkan sebuah pengingat akan keagungan risalah yang memuliakan umat manusia sejak cahayanya bersinar di tangan guru pertama umat Muslim, Nabi Muhammad Saw., yang bersabda, ‘Sesungguhnya aku diutus sebagai guru.’ Beliau adalah teladan, guru, dan cahaya penuntun bagi semua yang mengikuti jejak beliau. Setelah beliau, para guru mewarisi kehormatan risalah tersebut, menjadi duta cahaya, suara kebenaran, dan penabur harapan di sepanjang jalan umat ini, menanam ilmu pengetahuan untuk menuai kesadaran dan membentuk pikiran untuk membangun tanah air,” jelas Ust. Roland.
Guru, menurut Ust. Roland, adalah sosok yang mengajarkan umat manusia huruf-huruf pertama, membuka pintu-pintu pemikiran bagi mereka. Guru adalah sosok yang dengan setia mengemban tanggungjawab pendidikan dan menanamkan nilai-nilai cinta dan rasa memiliki kepada generasi demi generasi, meninggalkan jejak abadi di lembaran kehidupan. Dengan tangannya yang mulia, ciri-ciri masa kini dibentuk, dan pencapaian masa depan dibayangkan.
“Kepada setiap guru yang berdedikasi, yang meyakini misi mereka sebagai amanah kemanusiaan, mendedikasikan ilmunya tanpa lelah dan tanpa pamrih, serta menjadikan pena sebagai jalan dan kesabaran sebagai metode mereka, pada hari ini, kami mengucapkan kepada mereka: Terima kasih,” pungkasnya.[IAF]

Tinggalkan Komentar