Assalamu’alaikum…
Semoga Allah senantiasa memberi kita kesehatan dan perlindungan. Âmîn yâ Rabbal ‘Âlamîn…
Perkenankan saya untuk bertanya, Kiai.
Hari Santri adalah momen sangat penting bagi kami para santri untuk mengenang jasa-jasa para santri di masa lalu yang berjuang membela negeri ini dari penjajahan. Apalagi sejak kasus tayangan program Expose Uncensored Trans7, di mana para santri ramai-ramai membela pesantren dan kiai dengan menunjukkan jasa-jasa besar kiai dan pesantren sepanjang sejarah terhadap negeri ini.
Di momen Hari Santri, para santri di seluruh Nusantara melakukan banyak kegiatan untuk menyambutnya. Sejak awal Oktober, para penceramah mulai menghiasi ceramah-ceramah mereka dengan membahas keharusan kita membela Tanah Air seperti yang dilakukan oleh para pahlawan di masa lalu.
Pertanyaan saya, bagaimana hukum membela tanah air? Tindakan seperti apa yang dapat dikategorikan sebagai membela tanah air menurut Islam? Apakah Islam mengajarkan untuk membela tanah air? Apakah wafat dalam membela tanah air masuk kategori syahid?
Demikian pertanyaan dari saya
Wassalamu’alaikum…
Roni Alfiansyah, Bekasi
Terima kasih pertanyaannya, Mas Roni.
Salah satu nikmat terbesar Allah atas hamba-Nya adalah seseorang memiliki tanah air, ia hidup di bawah naungannya, menghirup udaranya, menemukan arti ketenangan dan hakikat ketenteraman di dalamnya. Di dalamnya kemuliaan kakek-nenek moyang terhubung ke cucu, hati keluarga dan orang-orang yang dicintai bersatu. Tanah air adalah berkah agung dan nikmat terbesar. Orang yang ingin mengetahui ketinggian nilai dan keagungannya, hendaknya melihat kitab Allah Swt. yang menyamakan keluarnya jasad dari tanah air dengan keluarnya ruh dari jasad. Allah Swt. berfirman,
وَلَوْ أَنَّا كَتَبْنَا عَلَيْهِمْ أَنِ اقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ أَوِ اخْرُجُوا مِنْ دِيَارِكُمْ مَا فَعَلُوهُ إِلَّا قَلِيلٌ مِنْهُمْ ۖ وَلَوْ أَنَّهُمْ فَعَلُوا مَا يُوعَظُونَ بِهِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ وَأَشَدَّ تَثْبِيتًا
“Dan sesungguhnya kalau Kami perintahkan kepada mereka, ‘Bunuhlah dirimu atau keluarlah kamu dari kampungmu,’ niscaya mereka tidak akan melakukannya kecuali sebagian kecil dari mereka. Dan sesungguhnya kalau mereka melaksanakan pelajaran yang diberikan kepada mereka, tentulah hal yang demikian itu lebih baik bagi mereka dan lebih menguatkan (iman mereka),” [Q.S. al-Nisa`: 66].
Orang yang ingin mengetahui ketinggian nikmat ini dan keagungan kedudukannya, hendaknya ia melihat keadaan orang yang kehilangannya, serta merenungkan nilainya bila suatu saat ada orang luar yang datang merampasnya. Di dalam kitab “al-Tahliyah wa al-Targhîb fî al-Tarbiyah wa al-Tahdzîb”, Sayyid Muhammad mendefinisikan tanah air,
الوطن هو عبارَة عن بلادك الّتى ولدت بها ونشات فيها وانتفعت نباتها وحيواناتـها وهوائها ومائها وعشت فوْق ارضها وتـحت سـمائها وغيْر ذلك من الـمزايا الْجليلة الّتى تلزم الإنسان بذل روْحه وماله فى خدمة الوطن بـما يؤدى إلَ زيادة تجارته ونموه خيرَاته وبركاتهِ
“Tanah air adalah negara tempat engkau dilahirkan dibesarkan dan mengambil manfaat tumbuh-tumbuhannya, binatang ternaknya, udara serta airnya. Juga tempat tinggalmu yang berada di atas tanah dan di bawah langitnya, dan hal-hal istimewa lainnya yang sangat potensial, yang mengharuskan setiap orang mengorbankan jiwa dan hartanya dalam mengabdi pada tanah air dengan melakukan berbagai upaya, yang dapat meningkatkan perdagangan dan kesejahteraannya.”
Tanah air adalah tempat lahir, titik awal memulai langkah, surga masa kanak-kanak, tempat perlindungan hari-hari tua, sumber kenangan, rumah ayah dan kakek, dan tempat perlindungan anak dan cucu. Betapa cinta tanah air mengguncang hati nurani, menjadi inspirasi bagi para pujangga dalam menuangkan tinta sastranya, dan membuat orang mengorbankan hal-hal yang paling berharga. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Nabi Saw. berdoa saat meruqyah orang sedang sakit,
بِسْمِ اللهِ تربَةُ أَرْضِنَا، بِرِيقةِ بَعْضِنَا، يُشْفَى سَقِيمُنَا، بإِذْنِ رَبِّنَا
“Dengan menyebut nama Allah, inilah debu tanah kami, dengan ludah sebagian kami, bisa menjadi sebab sembuhnya sakit kami, dengan izin Tuhan kami.”
Sejarah menceritakan bahwa ketika orang-orang Arab berperang dan bepergian, mereka membawa bersama mereka pasir dari tanah negeri mereka untuk mereka hirup saat mereka masuk angin, pilek, atau sakit kepala. Betapa dalam cinta, kesetiaan, keterikatan mereka kepada tanah airnya! Maka bagi Allah Swt. segala pujian atas nikmat tanah air, nikmat yang tidak dapat dinilai dengan uang dan tidak dapat ditawar dengan jiwa, melainkan uang dihabiskan untuk kepentingannya dan jiwa dikorbankan untuk membelanya.
Mencintai tanah air dan menjaga amanah untuk selalu membela dan mempertahankannya bukanlah slogan-slogan semu, dan bukan pula ungkapan-ungkapan kosong, melainkan harus menembus ke dalam hati dengan penuh kepercayaan, bersemayam di dalam jiwa dengan penuh keyakinan, dan menerjemahkannya ke dalam sikap, perilaku, dan tindakan.
Orang-orang yang tulus mencintai tanah airnya percaya mengenai perlunya memberikan semua yang mereka miliki, dengan segenap upaya terbaik dan energi terbesar mereka, untuk melayani dan membangun tanah air, melindunginya, mempertahankannya, serta mengorbankan harta dan jiwa demi keamanan dan stabilitasnya. Mereka mendapatkan kabar baik dari Allah Swt. di dalam firman-Nya,
إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَىٰ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ ۚ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ ۖ وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ وَالْقُرْآنِ ۚ وَمَنْ أَوْفَىٰ بِعَهْدِهِ مِنَ اللَّهِ ۚ فَاسْتَبْشِرُوا بِبَيْعِكُمُ الَّذِي بَايَعْتُمْ بِهِ ۚ وَذَٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. [Itu telah menjadi] janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan al-Qur`an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya [selain] Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar,” [Q.S. al-Taubah: 111].
Di dalam sîrah Nabi Saw. kita menemukan teladan paling agung tentang cinta tanah air yang tertanam di lubuk hati serta pengejawantahannya di dalam realitas menjadi kerja-kerja pembangunan, perlindungan, pertahanan, dan pengorbanan. Nabi Saw. mendorong umat manusia pada umumnya, dan umat Muslim pada khususnya, untuk loyal kepada tanah airnya, setia kepadanya, dan tulus mencintainya.
Beliau menyeru umat manusia untuk menerjemahkan kecintaan kepada tanah air yang telah menaungi dan memeluk mereka ke dalam kerja yang sungguh-sungguh untuk menjaga dan membelanya dari kekuatan-kekuatan jahat. Hal ini terlihat dalam tindakan beliau saat memberikan pelajaran sangat baik yang mengetuk semua pintu telinga dan bergema di setiap waktu dan tempat, yaitu ketika beliau berangkat sebagai seorang muhajirin ke Madinah. Sesampainya di pinggiran kota Makkah beliau berhenti sejenak sembari menghadap bumi Makkah seraya berkata,
وَاللهِ إِنَّي أَعْلَمُ أَنَّكِ خَيْرُ أَرْضِ اللهِ وَأَحَبَّهَا إِلَى اللهِ، وَلَوْلاَ أَنَّ أَهْلَكِ أَخْرَجُوُنِي مِنْكِ مَا خَرَجْتُ
“Demi Allah, aku tahu benar bahwa kau (Makkah) adalah tanah Allah yang terbaik dan yang paling dicintai oleh Allah. Kalau bukan karena pendudukmu mengusirku darimu, aku tidak akan keluar [darimu].”
Atau dalam riwayat lain,
مَا أَطْيَبَكِ مِنْ بَلَدٍ وَأَحَبَّكِ إِليَّ، وَلَوْلاَ أَنَّ قَوْمِي أَخْرَجُوُنِي مِنْكِ مَا سَكَنْتُ غَيْرَكِ
“Kau adalah negeri terbaik yang sangat aku cintai! Kalau tidak karena kaumku mengusirku darimu, aku tidak akan tinggal di tempat lain selainmu,” [HR. al-Tirmidzi].
Atau lihatlah keadaan beliau ketika mulai menginjakkan kakinya di bumi tanah air keduanya, Madinah. Beliau berdoa kepada Allah agar beliau dan para sahabat yang mendampinginya dijadikan mencintai Madinah sebagaimana mencintai Makkah,
اللَّهُمَّ حَبِّبْ إِلَيْنَا الْمَدِينَةَ، كَمَا حَبَّبْتَ إِلَيْنَا مَكَّةَ، أَوْ أَشَدَّ
“Ya Allah, jadikanlah kami mencintai Madinah seperti cinta kami kepada Makkah, atau lebihkan cinta kami kepada Madinah,” [HR. al-Bukhari].
Inilah Nabi Saw. yang menjalani cinta dan keterikatannya pada tanah airnya dengan sepenuh hati, jiwa, dan raganya. Beliau merindukannya saat jauh darinya.
فعن أَنَس بْن مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ انه قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم إِذَا قَدِمَ مِنْ سَفَرٍ فَنَظَرَ إِلَى جُدُرَاتِ الْمَدِينَةِ أَوْضَعَ نَاقَتَهُ وَإِنْ كَانَ عَلَى دَابَّةٍ حَرَّكَهَا مِنْ حُبِّهَا
“Diriwayatkan dari Anas ibn Malik ra., ia berkata, ‘Rasulullah Saw. ketika kembali dari bepergian, dan melihat dinding-dinding Madinah beliau mempercepat laju untanya. Apabila beliau menunggangi unta maka beliau menggerakkanya (untuk mempercepat) karena kecintaan beliau pada Madinah,’” [H.R. al-Bukhari, Ibn Hibban, dan al-Tirmidzi].
Nabi Saw. membuat Piagam Madinah (Perjanjian Pertahanan Bersama) antara beliau dan non-Muslim yang terdiri dari berbagai kelompok yang tinggal di Madinah dengan tujuan mempertahankan tanah air dan melindunginya dari musuh yang menyerangnya atau bahaya yang mengancamnya, mengorbankan yang hal-hal yang berharga demi keamanan dan stabilitasnya.
حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ عَوْنٍ، حَدَّثَنَا حَـمَّادٌ هُوَ ابْنُ زَيْدٍ عَنْ ثَابِتٍ عَنْ أَنَسٍ قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحْسَنَ النَّاسِ، وَأَجْوَدَ النَّاسِ، وَأَشْجَعَ النَّاسِ. وَلَقَدْ فَزِعَ أَهْلُ الْمَدِينَةِ ذَاتَ لَيْلَةٍ، فَانْطَلَقَ النَّاسُ قِبَلَ الصَّوْتِ، فَاسْتَقْبَلَهُمْ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ سَبَقَ النَّاسَ إِلَى الصَّوْتِ وَهُوَ يَقُولُ: لَنْ تُرَاعُوا، لَنْ تُرَاعُوا، وَهُوَ عَلَى فَرَسٍ لِأَبِي طَلْحَةَ عُرْيٍ مَا عَلَيْهِ سَرْجٌ فِي عُنُقِهِ سَيْفٌ فَقَالَ لَقَدْ وَجَدْتُهُ بَحْرًا أَوْ إِنَّهُ لَبَحْرٌ
“Telah menceritakan kepada kami Amru ibn Aun, telah menceritakan kepada kami Hammad yaitu Ibn Zaid dari Tsabit dari Anas yang berkata, ‘Nabi Saw. adalah sosok yang paling baik [perawakannya], orang yang paling dermawan dan pemberani. Pada suatu malam penduduk Madinah dikejutkan oleh suatu suara, lalu orang-orang keluar ke arah datangnya suara itu. Di tengah jalan mereka bertemu dengan Rasulullah Saw. yang hendak pulang. Rupanya beliau telah mendahului mereka ke tempat datangnya suara itu. Beliau mengendarai kuda yang dipinjamnya dari Abu Thalhah, beliau tidak membawa lampu, menyandang pedang di lehernya, dan berkata, ‘Jangan takut! Jangan takut!’ Anas berkata, ‘Kami dapati beliau tengah menunggang kuda yang berjalan cepat atau sesungguhnya kudanya berlari kencang,” [H.R. al-Bukhari].
Dan mereka yang merenungkan sîrah Nabi Saw. akan menemukan bahwa semua perang yang di dalamnya beliau terlibat itu untuk melindungi tanah air, mempertahankannya, serta menjaga stabilitas, keamanan, dan keselamatannya, juga untuk melawan agresi musuh-musuhnya, menggagalkan tipu daya dan kelicikan mereka. Allah Swt. berfirman,
وَقَاتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَكُمْ وَلَا تَعْتَدُوا إِنَّ اللَّهَ لَا يُـحِبُّ الْمُعْتَدِينَ
“Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas,” [Q.S. al-Baqarah: 190].
Dalam perang Khandaq, berbagai kelompok berkumpul dari semua sisi untuk mengepung Madinah dan menyerangnya. Perang tak bisa dielakkan lagi. Nabi Saw. bersama para penduduk Madinah melakukan perlawanan untuk membela diri, tanah air, dan kehormatan mereka.
Dalam perang Uhud, kaum musyrik ingin menodai kesucian Madinah dan menyerang umat Muslim di tanah air mereka. Nabi Saw. bersama penduduk Madinah tidak tinggal diam. Mereka bangkit melakukan perlawanan untuk mempertahankan tanah dan kehormatan, menghadapi serangan musuh untuk melindungi tanah air.
Muslim sejati adalah orang yang setia pada tanah airnya, selalu siap untuk membela dengan mengorbankan harta dan jiwanya, sangat mencintainya, cinta yang sangat agung dan luhur, tidak pernah ragu akan cintanya. Dikatakan kepada seorang Badui, “Apa yang kau lakukan di padang pasir ketika cuaca sangat panas, ketika segala sesuatu memakai naungannya?” Ia berkata, “Seorang dari kami berjalan satu mil, menyeka keringatnya, kemudian menancapkan tongkatnya di tanah, melemparkan jubahnya pada tongkat itu, lalu duduk sembari menghimpun angin, seolah-olah ia berada di istana Kaisar.” Ia juga berkata, “Aku berada di tanah airku, dan aku adalah raja di dalamya, keadaanku sama seperti Kaisar yang tinggal di istananya.” Allahu Akbar! Cinta apa ini?
Hak tanah air untuk dijaga, dilindungi, dan dibela, bukan sekedar kata-kata yang diucapkan lisan, atau slogan-slogan yang kita teriakkan, atau panji-panji yang kita kibarkan, melainkan pekerjaan dan kewajiban yang harus kita lakukan dan harus kita wujudkan: melayani tanah air terkait erat dengan kerja dan perilaku individu dengan keterkaitan yang tidak dapat dipisahkan, selalu menyertainya di manapun; dalam diam dan geraknya, di rumah, jalan, dan tempat kerja.
Menjaga dan membela tanah air bisa dilakukan dengan merawat seluruh fasilitas dan membuat banyak prestasi untuknya, menjalankan tugas dan tanggungjawab darinya, menghormati agama, budaya, adat istiadat, dan tradisinya, menjaga sarana-sarana dan sumber-sumber ekonomi di dalamnya, peduli terhadap kepentingan; bisa diwjudkan dengan kesungguhan setiap pekerja yang bekerja membangun fasilitas-fasilitas umum, menebarkan nilai-nilai luhur dan moral, serta menebarkan semangat toleransi dan cinta kasih; dapat dilakukan dengan kerja, penghasilan dan produksi untuk kepentingannya, melalui partisipasi positif dalam pembangunannya; bisa diwujudkan dengan melakukan upaya bersama untuk kemajuannya, dalam persaingan untuk pelayanan terhadapnya sesuai dengan kemampuan masing-masing; tampak dalam perhormatan terhadap hukum, peraturan, dan undang-undang yang berlaku, serta dalam kepatuhan kepada pemerintah. Rasulullah Swt. bersabda,
من أطاعني فقد أطاع الله، ومن عصاني فقد عصى الله، ومن يطع الأمير فقد أطاعني، ومن يعص الأمير فقد عصاني
“Barangsiapa yang menaatiku, maka sungguh ia telah menaati Allah. Dan barangsiapa yang mendurhakaiku, maka sungguh ia telah mendurhakai Allah. Dan barangsiapa yang menaati pemimpinnya, maka ia telah menaatiku. Dan barangsiapa yang mendurhakai pemimpinnya, maka ia telah mendurhakaiku,” [H.R. al-Bukhari dan Muslim].
Menjaga dan membela tanah air juga bisa dilakukan dengan perlawanan terhadap desas-desus, fitnah-fitnah, dan berita-berita bohong (hoax) yang dimaksudkan untuk mengisi hati masyarakat dengan keirian, kedengkian, dendam, dan kebencian untuk memecah belah, serta keraguan tentang capaian prestasi dan pembangunan yang dilakukan pemerintah, yang pada akhirnya dapat memprovokasi masyarakat untuk membenci tanah air sehingga mengganggu keamanannya dan membenci pemerintah sehingga merusak tatanannya. Maka, untuk para penyebar fitnah dan berita bohong ini, kita katakan: “Mereka kejam, sakit jiwa, sesat pikir, tidak memiliki sikap ksatria, pengacau, dan penyebab terjadinya kerusakan di bumi pertiwi.”
Dan Allah Swt. berfirman,
وَلَا تُطِيعُوا أَمْرَ الْمُسْرِفِينَ، الَّذِينَ يُفْسِدُونَ فِي الْأَرْضِ وَلَا يُصْلِحُونَ
“Dan janganlah kamu mentaati perintah orang-orang yang melewati batas, yang membuat kerusakan di muka bumi dan tidak mengadakan perbaikan,” [Q.S. al-Syu’ara`: 151 – 152].
Oleh karena itu, kita harus selalu waspada supaya kita tidak termasuk orang-orang yang membantu mereka (para pengacau itu) tanpa kita dasari. Rasulullah Saw. bersabda,
كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِباً أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ
“Cukuplah seseorang dikatakan sebagai pendusta apabila ia mengatakan semua yang didengar,” [H.R. Muslim].
Dalam menghadapi orang-orang seperti mereka, hendaknya kita selalu memegang teguh manhaj Allah Swt. sebagaimana tertuang di dalam firman-Nya,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ
“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu,” [Q.S. al-Hujurat: 6].
Menjaga dan membela tanah air bisa juga dilakukan dengan menjaga persatuan antar warga negara dan menolak sektarianisme, karena setiap orang memiliki hak dan kewajiban yang sama tanpa membedakan warna kulit atau bahkan keyakinan. Tidak ada keraguan bahwa agama-agama, berdasarkan klaim masing-masing atas surga, tidak mengajarkan apapun kecuali kebaikan dan perdamaian, dan hanya menyerukan kepada kebenaran, cinta, dan kebajikan, tidak menganjurkan apapun selain keamanan, ketenteraman, dan ketenangan.
Agama tidak pernah menjadi hambatan untuk koeksistensi, kohesi, dan saling ketergantungan di antara masyarakat, hambatannya justru adalah ilusi yang terletak dalam mimpi orang-orang bodoh yang selalu mengklaim bahwa mereka memiliki pemahaman mutlak dan pengetahuan yang tidak dimiliki oleh orang-orang selain mereka. Mereka telah tersesat dan disesatkan oleh pikiran mereka yang salah dan pemahaman mereka yang menyimpang. Allah Swt. berfirman,
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal,” [Q.S. al-Hujurat: 13].
Rasulullah Saw. di dalam khutbah terakhirnya menegaskan,
أيـُّهَا النَّاس! إِنَّ رَبَّكُمْ وَاحِدٌ، وَإِنَّ أَبَاكُمْ وَاحِدٌ، كُلُّكُمْ مِنْ آدَم، وَ آدَم مِنْ تُرَابٍ، إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللهِ أَتْقَاكُمْ. لَيْسَ لِعَرَبِيٍّ فَضْلٌ عَلَى عَجَمِيٍّ إِلَّا بِالتَّقْوَى. أَلَا هَلْ بَلَغْتُ؟ اللّهُمَّ فَاشْهَدْ! فليبلغ الشَّاهِدُ مِنْكُمُ الغَائِبَ
“Hai manusia! Tuhan kalian satu dan bapak kalian satu, kalian semua dari Adam, sedangkan Adam itu dari tanah. Orang yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa di antara kalian. Orang Arab tidak lebih mulia dari orang non-Arab kecuali karena takwanya.”
Menjaga dan membela tanah air tidak terbatas hanya pada upaya menghadapi agresi dan serangan musuh di medan perang, tetapi meluas hingga mencakup setiap memerangi ideologi-ideologi ekstremis dan teroris. Dalam hal ini, pikiran dan hati setiap orang harus mengarah kepada moderasi, keadilan, kedamaian, cinta dan kasih sayang. Bukan hanya bagi para pemuda, tetapi bahkan anak-anak usia dini. Sebuah bangsa tidak akan binasa kecuali ketika ekstremisme menyebar di antara generasinya. Karena itu, orangtua-orangtua yang baik pasti akan merawat dan mendidik anak-anak mereka sejak usia dini. Mereka mengajari dan mendidik putra-putri mereka dalam kebaikan, menjauhkan mereka dari kejahatan, memilih untuk mereka guru yang saleh, pendidik yang bijaksana dan baik. Sebab keyakinan yang menyimpang, ucapan yang menyimpang, dan ide-ide ekstremis tidak muncul kecuali dengan meninggalkan para ulama yang saleh, toleran, dan moderat, mengambil ilmu dan fatwa dari kelompok-kelompok ekstrimis yang bodoh. Imam al-Ghazali berkata,
الصبي أمانة عند والديه وقلبه الطاهر جوهرة نفيسة ساذجة خالية عن كل نقش وصورة، وهو قابل لكل ما نقش، ومائل إلى كل ما يمال به إليه؛ فإن عُوِّد الخير وعُلِّمه نشأ عليه وسعد في الدنيا والآخرة أبواه وكل معلم له ومؤدب، وإن عود الشر وأُهمل إهمال البهائم، شقي وهلك وكان الوزر في رقبة القيم عليه والوالي له. يقول تعالى: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَاراً وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ
“Ketahuilah! Mendidik anak merupakan hal yang sangat penting dan utama. Anak-anak yang terlahir adalah amanah yang harus dijaga oleh orang tuanya, hatinya suci, permata yang indah, polos dan bersih dari segala lukisan dan gambar. Hatinya senantiasa menerima suatu yang dilukiskan dan cendrung ikut pada sesuatu yang condong padanya. Bila ia dibiasakan pada perbuatan baik dan ilmu pengetahuan, maka ia akan tubuh menjadi orang yang baik dan berilmu. Ia akan beruntung di dunia dan akhirat. Kedua orang tuanya juga akan memperoleh pahala dari kebajikan yang kerjakan dan dari setiap pengetahuan serta etika yang ajarkan kepadanya. Sebaliknya bila seorang anak dibiasakan melakukan kejelekan dan dibiarkan berperilaku sebagaimana binatang, maka ia akan celaka dan rusak moralnya. Dosa-dosanya menjadi tanggungan orang yang mengasuhnya. Allah berfirman, ‘Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan,’ [Q.S. al-Tahrim: 6].”
Menjaga dan membela tanah air bisa juga dalam bentuk menentang setiap seruan atau ajakan untuk merusak, atau menentang setiap usaha untuk merekrut sekelompok orang untuk kepentingan orang-orang jahat yang berencana untuk menghancurkan persatuan. Selain itu, juga dengan menjaga rahasia internal negara, dan tidak berurusan dengan pengkhianat, musuh tanah air, dan orang-orang yang ingin merusak negara atau orang-orang yang menghembuskan racun ke dalam atmosfer masyarakat dengan kata-kata kotor penuh kebencian dan hasutan melalui kanal-kanal atau media-media mereka yang jahat.
Maka, sudah menjadi kewajiban anak bangsa untuk selalu waspada dalam menjaga keamanan bangsanya, bersatu padu menangkal setiap bahaya yang mengancam mereka, dan mendukung setiap kebijakan pemerintah yang diambil untuk kepentingan dan kebaikan bersama, serta bergandengan tangan dengan para petugas keamanan dan putra-putra bangsa yang setia, untuk menghalangi siapa pun yang mungkin tergoda untuk mengancam negara, dan menjadi satu tangan melawan setiap hambatan yang menghalangi jalan kemajuan bangsa.
Islam menyerukan perdamaian, kebaikan, dan harmoni, serta mengutuk para perusuh yang merusak kehidupan dan mengganggu keamanan orang-orang yang hidup tenteram di tanah air dan negerinya. Islam secara jelas menyuruh kita untuk memerangi para pengganggu dan pembuat onar di negeri ini.
فَمَنِ ٱعْتَدَىٰ عَلَيْكُمْ فَٱعْتَدُوا۟ عَلَيْهِ بِمِثْلِ مَا ٱعْتَدَىٰ عَلَيْكُمْ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلْمُتَّقِينَ
“Maka barangsiapa menyerang kamu, maka seranglah ia setimpal dengan serangannya terhadap kamu. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah beserta orang-orang yang bertakwa,” [Q.S. al-Baqarah: 194].
Rasulullah Saw. memerintahkan untuk menangkap para perusuh dan perusak guna mencegah bahayanya yang meresahkan masyarakat.
عن أنس رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: انصر أخاك ظالماً أو مظلوماً، فقال رجل: يا رسول الله أنصره إذا كان مظلوماً، أفرأيت إذا كان ظالماً كيف أنصره؟ قال: تمنعه من الظلم، فإن ذلك نصره
“Dari Anas ra., ia berkata, ‘Rasulullah Saw. bersabda, ‘Tolonglah saudaramu yang berbuat zhalim dan yang dizhalimi.’ Mereka bertanya, ‘Wahai Rasulullah Saw., jelas kami paham menolong orang yang dizhalimi, tetapi bagaimana kami harus menolong orang yang berbuat zhalim?’ Beliau bersabda, ‘Cegah (hentikan) ia agar tidak berbuat zalim, maka sesungguhnya engkau telah menolongnya,” [H.R. al-Bukhari dan Muslim].
Dan itu hanya bisa dilakukan atas izin atau restu pemerintah yang telah diatur di dalam peraturan dan kebijakannya, karena kepatuhan kepadanya adalah kewajiban yang tak terelakkan untuk menekan kerusakan dan menghalangi para perusuh melakukan kesuruhan, demi mewujudkan kebaikan dan mencegah kejahatan berdasarkan nilai-nilai kebenaran dan keadilan. Rasulullah Saw. bersabda,
إِنَّمَا الْإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ، فَإِنْ أَمَرَ بِتَقْوَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَعَدَلَ كَانَ لَهُ بِذَلِكَ أَجْرٌ وَإِنْ يَأْمُرْ بِغَيْرِهِ كَانَ عَلَيْهِ مِنْهُ
“Sesungguhnya pemimpin itu [laksana] perisai, di mana [orang-orang] akan berperang di belakangnya (mendukung) dan berlindung [dari musuh] dengan [kekuasaan]nya. Jika ia memerintahkan supaya bertakwa kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan berlaku adil, maka ia mendapatkan pahala karenanya, dan jika ia memerintahkan selain itu, maka ia akan mendapatkan siksa,” [H.R. al-Bukhari, Muslim, Ahmad, Abu Dawud, dll.].
Artinya, pemerintah diikuti dengan peraturan dan kebijakannya mengenai masalah-masalah besar dan kasus-kasus serius. Sehingga, ketika pemerintah telah membuat suatu keputusan dan kemudian dituangkan di dalam undang-undang yang disepakati bersama, maka keputusan itu mengikat semua warga negara dan anak bangsa, dan seluruh perselisihan harus ditinggalkan karenanya, sebagaimana ditegaskan di dalam kaidah fikih,
حكم الحاكم الزام ويرفع الخلاف
“Keputusan pemerintah adalah mengikat dan menghilangkan silang pendapat.”
Betapa mulia, luhur, dan agungnya cinta kepada tanah air. Balasan, pahala, dan ganjaran yang baik menanti mereka yang selalu setiap menjaga dan membela tanah air, bangsa, dan negaranya. Para pejuang dan para pahlawan yang telah menjadi “martir” karena berjuang mempertankan dan meraih kemerdekaan bangsa dan negaranya masuk dalam golongan sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah Saw.,
منْ قُتِل دُونَ مالِهِ فهُو شَهيدٌ، ومنْ قُتلَ دُونَ دمِهِ فهُو شهيدٌ، وَمَنْ قُتِل دُونَ دِينِهِ فَهو شهيدٌ، ومنْ قُتِل دُونَ أهْلِهِ فهُو شهيدٌ
“Barangsiapa yang terbunuh karena melindungi hartanya maka ia syahid, barangsiapa yang terbunuh karena melindungi agamanya maka ia syahid, barangsiapa yang terbunuh karena melindungi darahnya maka ia syahid, dan rarangsiapa yang terbunuh karena melindungi keluarganya maka ia syahid,” [H.R. al-Tirmidzi].
Mendapat syahid di jalan Allah dalam membela tanah air adalah suatu kehormatan dan karunia besar yang Allah berikan kepada siapa pun yang Dia kehendaki. Allah Swt. berfirman,
وَلِيَعْلَمَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَيَتَّخِذَ مِنْكُمْ شُهَدَاءَ
“Dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman supaya sebagian kamu dijadikan-Nya [gugur sebagai] syuhada`,” [Q.S. Ali Imran: 140].
Ayat dengan jelas menyebutkan bahwa derajat orang-orang yang mati syahid sangat tinggi dan kedudukan mereka sangat mulia, jiwa mereka bahagia di alam baka, dan mendapatkan banyak karunia di sisi Allah.
وَلَا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتًا ۚ بَلْ أَحْيَاءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ، فَرِحِينَ بِمَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ وَيَسْتَبْشِرُونَ بِالَّذِينَ لَمْ يَلْحَقُوا بِهِمْ مِنْ خَلْفِهِمْ أَلَّا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ
“Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat karunia. Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak [pula] mereka bersedih hati,” [Q.S. Ali Imran: 169 – 170].
Berbahagialah putra-putri terbaik bangsa ini yang telah bergabung dengan para syahid yang suci, yang dijanjikan pahala terbesar dari Allah. Nabi Saw. bersabda,
كل ميت يختم على عمله إلا الذي مات مرابطاً في سبيل الله فإنه ينمى له عمله إلى يوم القيامة، ويأمن من فتنة القبر
“Setiap orang yang mati itu ditutup [pahala] amalannya, kecuali orang yang mati saat berjuang di jalan Allah. Karena, pahala amalannya akan terus ditumbuhkembangkan sampai hari kiamat dan ia diberi jaminan keamanan dari siksa kubur.”
Berkah orang yang mati syahid tidak terbatas pada dirinya sendiri, tetapi meluas ke keluarga, kerabat, dan orang-orang terdekat. Rasulullah Saw. bersabda,
للشهيد عند الله ست خصال: يغفر له في أول دفعة، ويرى مقعده من الجنة، ويجار من عذاب القبر، ويأمن من الفزع الأكبر، ويوضع على رأسه تاج الوقار، الياقوتة منها خير من الدنيا وما فيها، ويزوج اثنتين وسبعين زوجة من الحور العين، ويشفع في سبعين من أقاربه
“Bagi orang mati syahid di sisi Allah terdapat enam balasan; (1) diampuni [dosanya] seketika; (2) ia melihat tempat tinggalnya di surga; (3) ia diselamatkan dari azab kubur; (4) ia aman di hari kiamat; (5) diletakkan di atas kepalanya mahkota keagungan yang batu yaqut darinya lebih baik dari dunia seisinya, dan; (6) ia dikawinkan dengan tujuhpuluh dua bidadari dan diberikan izin memberi syafaat kepada tujuh puluh kerabatnya,” [H.R. al-Tirmidzi].[]
Demikian jawaban dari kami. Semoga bermanfaat. Dan terima kasih…
Tinggalkan Komentar