Gerakan “Childhood without Commercial Exploitation“, yang berbasis di Boston, AS, merilis laporan yang menguraikan 10 dampak negatif perangkat pintar terhadap perkembangan keterampilan dan perilaku anak. Dampak-dampak tersebut meliputi:
1. Usia Anak
American Academy of Pediatrics tidak menganjurkan penggunaan perangkat pintar—kecuali obrolan video—untuk anak di bawah usia 24 bulan. Untuk anak yang lebih besar, disarankan untuk menonton program edukasi selama satu jam setiap hari, dalam waktu singkat, dengan syarat kontennya berkualitas tinggi. Anak-anak berusia antara 2 dan 5 tahun disarankan untuk menghindari penggunaan perangkat pintar saja.
2. Masalah Tidur
Sebuah studi terbaru menunjukkan bahwa konten digital pada perangkat pintar dapat menstimulasi psikologis anak-anak, membuat mereka lebih waspada. Cahaya yang dipancarkan dari perangkat ini dapat mengganggu ritme sirkadian tubuh. Oleh karena itu, anak-anak di bawah usia dua tahun sebaiknya menghindari penggunaan perangkat pintar. Pastikan semua perangkat elektronik dijauhkan dari kamar tidur anak agar tidurnya lebih nyenyak, sehingga anak-anak menjadi lebih bahagia dan sehat.
3. Aspek Sosial
Paparan dini yang berkepanjangan terhadap perangkat pintar berpotensi menyebabkan gangguan komunikasi sosial pada anak. Mengingat iklim sosial saat ini, keluarga yang sibuk, dan kurangnya dukungan keluarga, orangtua semakin bergantung pada layar dan perangkat seluler, yang dapat menghambat perkembangan otak sebelum usia dua tahun dan melemahkan keterampilan sosial anak.
4. Olahraga
Anak-anak yang tidak menggunakan perangkat pintar cenderung lebih banyak bergerak dan berolahraga.
5. Nutrisi
Dapatkan notifikasi dan informasi terbaru instan berdasarkan minat. Jadilah orang yang pertama tahu tentang berita penting.
Anak-anak yang tidak terbiasa dengan ponsel pintar seringkali memiliki kebiasaan makan yang lebih baik yang berkontribusi pada pertumbuhan yang sehat.
6. Rasa Ingin Tahu
Studi menunjukkan bahwa setelah hanya satu jam menonton televisi, anak-anak menunjukkan rasa ingin tahu yang lebih rendah, kesulitan mengendalikan diri, dan kurangnya stabilitas emosi. Hal ini dapat menyebabkan peningkatan risiko kecemasan dan depresi.
7. Kekerasan
Penelitian menunjukkan bahwa menonton konten kekerasan dapat meningkatkan kemungkinan anak berperilaku agresif, terutama jika terdapat faktor risiko lain, seperti tumbuh besar di rumah yang sering terjadi kekerasan. Paparan konten kekerasan juga dapat menyebabkan desensitisasi dan mati rasa emosional.
8. Keluarga
Akses terbatas ke perangkat pintar memberi anak lebih banyak waktu untuk bermain kreatif bersama anggota keluarga.
9. Membaca dan Memahami
Penelitian menunjukkan bahwa anak-anak lebih memahami dan mendapatkan manfaat dari cerita yang mereka baca daripada dari cerita yang mereka tonton dalam format video.
10. Bermain
Video game tidak dapat menggantikan permainan (bermain bersama keluarga atau teman) dan perannya dalam perkembangan mental dan sosial anak.[RG]
Sumber: aljazeeramubasher.net
Tinggalkan Komentar