Info Sekolah
Senin, 24 Agu 2026
  • Pesantren Terpadu Al-Fattah Kuningan
  • Pesantren Terpadu Al-Fattah Kuningan
23 Juli 2026

Sinergi Sunyi: Menumbuhkan Konsistensi Shalat Anak Melalui Sinergi Rumah dan Sekolah

Kam, 23 Juli 2026 Dibaca 23x Edukasi

Oleh: Ust. Nizar Zulmi Rauf, S.Sos., Guru Bahasa Arab dan Tahfizh SDIT Al-Fattah Kuningan



Menanamkan kebiasaan shalat lima waktu pada anak usia sekolah dasar adalah salah satu tantangan terbesar sekaligus tugas paling bermakna dalam pendidikan karakter. Di lingkungan sekolah seperti SDIT, pembiasaan ini terasa lebih terarah karena didukung aturan yang jelas serta pendampingan intensif dari para guru. Namun, ujian konsistensi yang sesungguhnya baru dimulai saat bel pulang berbunyi dan anak-anak kembali ke lingkungan keluarga masing-masing.

Di sinilah letak pentingnya jembatan komunikasi dan kesatuan visi antara apa yang diajarkan guru di sekolah dengan apa yang dicontohkan orangtua di rumah. Pembentukan karakter religius anak tidak akan berhasil jika berjalan timpang atau hanya mengandalkan satu pihak saja. Guru di sekolah berperan sebagai pemandu yang memberikan pemahaman logis dan spiritual tentang esensi salat. Sementara itu, rumah adalah tempat praktik nyata, di mana orangtua memegang peran teladan yang paling utama. Ketika anak melihat kesesuaian antara ketegasan guru di sekolah dengan kedisiplinan orangtua yang langsung menyisihkan gawai saat adzan berkumandang, pesan tentang pentingnya shalat akan tertanam kuat di dalam jiwanya.

Sebagai gambaran nyata, mari kita perhatikan kisah Zaid, siswa kelas tiga SDIT. Di sekolah, ia dikenal sangat bersemangat mengumandangkan azan dan selalu menduduki barisan terdepan saat shalat Zhuhur berjamaah. Namun, laporan dari ibunya melalui pesan singkat menyadarkan sang guru: di rumah, Zaid kerap menunda shalat Maghrib karena terlalu asyik menonton video pendek di ponsel.

Tantangan ini kian terasa nyata bagi Generasi Alpha yang tumbuh di tengah arus deras budaya digital. Kebiasaan menelusuri konten pendek tanpa henti tidak hanya menyita waktu, tetapi juga memicu penurunan kemampuan fokus akibat limpahan rangsangan dopamin instan—sering disebut sebagai fenomena brain rot. Ketika otak anak terbiasa dengan hiburan yang datang seketika, panggilan adzan pun terkadang dianggap sebagai gangguan yang tidak menyenangkan.

Mendapat laporan tersebut, guru kelas Zaid tidak langsung memarahi atau menghukumnya di depan teman-teman. Sebaliknya, keesokan harinya di sela-sela pelajaran, ia menyelipkan kisah sahabat Nabi yang sangat menjaga waktu ibadah, lalu memuji tulus kedisiplinan Zaid selama di sekolah. Di rumah, orangtua Zaid merespons langkah ini dengan membuat kesepakatan baru: menerapkan “Zona Bebas Gawai” 15 menit sebelum waktu salat Magrib tiba. Sang ayah juga rutin mengajak Zaid merapikan sajadah bersama sebagai persiapan ibadah.

Kisah serupa datang dari Aisyah, siswi kelas lima yang sempat kesulitan bangun untuk shalat Shubuh. Setiap kali dibangunkan, ia kerap menangis dan kembali tidur karena kelelahan setelah seharian beraktivitas serta terpapar layar gawai menjelang waktu istirahat. Mengetahui hal ini melalui evaluasi buku penghubung, guru mengajaknya berdiskusi santai dan memberikan tugas kelompok membuat karya seni bertema “Keutamaan Dua Rakaat Fajar“. Di rumah, ibunya menyambut momen ini dengan mengubah cara membangunkan Aisyah: tidak lagi dengan panggilan keras, melainkan dengan usapan lembut, bisikan shalawat, dan segelas air hangat yang sudah disiapkan di samping tempat tidur. Perlahan, rasa berat hati Aisyah untuk bangun pun berkurang.

Pendekatan di rumah kini selaras dengan pola pengasuhan positif yang diterapkan di sekolah—mulai dari penggunaan tabel kemajuan ibadah, pemberian apresiasi yang tulus, hingga diskusi ringan sebelum tidur. Lewat cara-cara yang menyentuh hati ini, shalat tidak lagi dirasakan sebagai beban kewajiban, melainkan kebutuhan spiritual yang menyenangkan untuk dilakukan dengan sukarela.

Kolaborasi yang harmonis antara guru dan orangtua membuktikan bahwa hambatan budaya digital dapat dijembatani jika kedua pihak saling terbuka alih-alih saling melempar tanggung jawab. Penggunaan aplikasi pemantau ibadah yang menarik atau pembuatan jurnal salat sederhana juga bisa menjadi alternatif agar anak semakin bersemangat untuk istiqamah. Ketika guru memahami dinamika ibadah siswa di rumah dan orangtua mengerti metode pendekatan yang diterapkan di sekolah, bimbingan yang diberikan akan sejalan dan tidak membuat anak merasa tertekan.

Pada akhirnya, keberhasilan anak menjaga konsistensi shalat di mana pun mereka berada adalah buah dari sinergi yang tulus dan menyatu. Upaya guru menanamkan nilai di sekolah akan menjadi kokoh jika disambut dengan keteladanan penuh kasih sayang dari orangtua di rumah. Kerja sama yang berkelanjutan antara sekolah dan keluarga inilah kunci utama mencetak generasi muslim yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga teguh dalam iman dan amal saleh.[]

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Tinggalkan Komentar