Eksistensi Program Bilingual yang mengutamakan penguasaan Bahasa Inggris dan Bahasa Arab di Pesantren Terpadu Al‑Fattah Kuningan bukanlah sekadar pelengkap kurikulum, melainkan fondasi utama yang menopang visi besar sekolah serta perwujudan nyata dari komitmen mendasar lembaga ini sebagai institusi pendidikan yang menyandang semboyan “Sekolah Islam, Kurikulum Internasional”.
Hal ini terungkap dalam pertemuan perdana KKG (Kelompok Kerja Guru) Tahun Ajaran 2026-2027, di Ruang Utama Madinah Building Pesantren Terpadu Al-Fattah Kuningan, yang melibatkan seluruh guru dari unit-unit lembaga pendidikan di bawah naungan Al-Fattah: TKIT Ciawigebang, TKIT Bilingual School, SDIT, Islamic Boarding School, dan MDL, Jum’at, 31 Juli 2026.
Dijelaskan bahwa Program Bilingual di Al-Fattah dibangun di atas kolaborasi strategis yang kuat: melalui adopsi Kurikulum Internasional Cambridge yang didukung penuh oleh Mentari Group, khususnya untuk mata pelajaran Bahasa Inggris, Sains, Matematika, dan kelompok ilmu pengetahuan alam.
Di sisi lain, pengajaran Bahasa Arab disusun dan dikembangkan berlandaskan kurikulum yang bersumber dari Al‑Azhar al‑Syarif Mesir serta Haiba Singapura—memadukan standar mutu internasional dengan akar tradisi keilmuan Islam yang kuat.
Sinergi dua kekuatan kurikulum internasional ini menciptakan ekosistem pembelajaran yang unik, di mana santri tidak hanya belajar tentang bahasa, tetapi belajar melalui bahasa untuk menguasai disiplin ilmu yang berbeda.
Penyelenggaraan Program Bilingual ini berdiri di atas tiga pilar tujuan strategis yang menjadi arah kebijakan seluruh penyelenggaraan pendidikan di Al-Fattah:
Pertama: Sebagai Identitas Kelembagaan. Kemampuan bilingual (Inggris dan Arab) yang mumpuni menjadi DNA atau ciri khas lulusan Al-Fattah. Ini adalah diferensiasi nyata yang membedakan alumni Al-Fattah dengan lembaga lain; mereka adalah generasi yang mampu membaca teks-teks turats dengan fasih sekaligus berdiskusi tentang sains modern dalam Bahasa Inggris yang akademis.
Di tengah arus persaingan pendidikan, kemampuan berbahasa Inggris dan Arab menjadi tanda pengenal sekaligus keunggulan tersendiri yang mencerminkan mutu dan karakter pendidikan yang dijalankan.
Kedua: Sebagai Akses Terhadap Ilmu Pengetahuan. Bahasa dipandang bukan sekadar alat berbicara, melainkan kunci emas (master key) untuk memasuki khazanah peradaban dunia. Melalui Bahasa Inggris, santri dibekali kemampuan untuk menggali, memahami, dan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi modern yang berkembang pesat di kancah global.
Sebaliknya, melalui Bahasa Arab, mereka dipersiapkan untuk dapat mendalami, meresapi, dan melestarikan warisan intelektual Islam serta sumber‑sumber pokok ajaran agama yang asli.
Ketiga: Sebagai Media Komunikasi Global. Kemampuan bilingual diharapkan melahirkan santri yang tidak hanya cerdas secara ilmu, tetapi juga luwes, berani, dan efektif dalam berkomunikasi. Bekal ini mempersiapkan mereka untuk mampu berdakwah, menyampaikan gagasan, bekerja sama, dan bersaing secara setara serta bermartabat di hadapan bangsa‑bangsa lain.
Untuk mewujudkan visi tersebut menjadi budaya yang hidup dan terbiasa, Pesantren Terpadu Al‑Fattah Kuningan terus berupaya menumbuhkan lingkungan yang mendukung penggunaan kedua bahasa tersebut melalui berbagai program nyata:
• Pekan Bahasa: Dilaksanakan secara bergilir—dua pekan untuk Bahasa Inggris dan dua pekan untuk Bahasa Arab. Setiap harinya pada hari Selasa, Rabu, dan Kamis, santri menerima materi kosakata baru (vocabularies atau mufradat) yang wajib dicatat, dipelajari, dan dihafalkan, sebagai langkah awal pembiasaan penggunaan bahasa dalam kehidupan sehari‑hari.
• Buku Panduan Kosakata: Penyusunan buku khusus daftar kosakata yang disesuaikan dengan jenjang usia dan kemampuan, mulai dari tingkat TK, SD hingga jenjang Dewasa, sehingga pembelajaran berjalan berjenjang dan terarah.
• Sudut dan Area Bilingual: Penetapan titik‑titik khusus atau lingkungan sekolah yang dijadikan kawasan penggunaan bahasa kedua, guna membiasakan santri melihat, membaca, dan mendengar kedua bahasa tersebut di sekitar mereka.
• Sistem Penilaian Berkelanjutan: Pelaksanaan ujian bilingual yang tidak hanya berupa tes tulis di tengah maupun akhir semester, tetapi juga dilengkapi dengan ujian lisan atau praktik berbicara—menegaskan bahwa kemampuan berbahasa harus didukung oleh kemampuan menggunakannya, bukan sekadar menghafal teorinya.
Program Bilingual di Pesantren Terpadu Al‑Fattah Kuningan menawarkan pendekatan yang seimbang dan berkelanjutan. Ia tidak sekadar mengejar kemampuan berbahasa asing demi gengsi semata, melainkan merancang pendidikan bahasa sebagai sarana memperkuat jati diri, memperluas wawasan ilmu pengetahuan, dan mempersiapkan kesiapan hidup santri di masa depan.
Dengan perpaduan kurikulum mutiara dunia dan standar pengajaran yang terukur, serta dukungan kebiasaan yang dibangun secara bertahap di lingkungan sekolah, Al‑Fattah berupaya mencetak generasi yang mampu memegang teguh nilai‑nilai Islam sekaligus melangkah sejajar dengan dunia luar.[RG]
Tinggalkan Komentar