Info Sekolah
Rabu, 26 Agu 2026
  • Pesantren Terpadu Al-Fattah Kuningan
  • Pesantren Terpadu Al-Fattah Kuningan
11 Juli 2026

K.H. Aik Iksan Anshori Resmi Sandang Gelar Doktor di UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Tegaskan Peran Ulama Pesantren dalam Khazanah Keilmuan Islam

Sab, 11 Juli 2026 Dibaca 57x Berita

BANDUNG – Gedung Anwar Musaddad Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung, Sabtu (11/7/2026), menjadi saksi bisu atas pencapaian akademis seorang ulama pesantren yang memadukan kedalaman tradisi keilmuan Islam dengan intelektualitas akademik modern. K.H. Aik Iksan Anshori, Lc., MA.Hum.—Wakil Pimpinan dan Pengasuh Pondok Pesantren Terpadu Al-Fattah Kuningan sekaligus Direktur Al-Fattah Institute—resmi menyandang gelar Doktor setelah dinyatakan lulus dalam Sidang Senat Terbuka Wisuda Ke-108 yang digelar dengan khidmat.

Wisuda yang mengusung tema “Transformasi Ilmu untuk Umat: Dari Kampus ke Pengabdian Semesta” ini menjadi momentum penting bagi UIN Sunan Gunung Djati Bandung dalam melepas lulusan terbaik dari jenjang sarjana, magister, dan doktor tahun akademik 2025/2026.

Jumlah wisudawan mencapai 1.500 orang yang berasal dari berbagai jenjang dan fakultas, dengan rincian: Fakultas Ushuludin sebanyak 129 orang; Fakultas Tarbiyah dan Keguruan 225 orang; Fakultas Syari’ah dan Hukum 180 orang; Fakultas Dakwah dan Komunikasi 180 orang; Fakultas Adab dan Humaniora 144 orang; Fakultas Psikologi 64 orang; Fakultas Sains dan Teknologi 135 orang; Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik 136 orang; serta Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam 139 orang. Sementara itu, untuk jenjang pascasarjana tercatat 116 lulusan Program Magister dan 52 lulusan Program Doktor.

Sejak pagi hari, Gedung Anwar Musaddad UIN SGD Bandung telah dipenuhi para wisudawan beserta keluarga yang mengenakan pakaian terbaik. Prosesi akademik dibuka dengan iringan mars wisuda yang menggetarkan, disusul pembacaan Surat Keputusan Rektor tentang penetapan kelulusan para wisudawan.

Ketika nama K.H. Aik Iksan Anshori dipanggil sebagai salah satu doktor baru, tepuk tangan meriah memenuhi ruangan. Momen penyematan tanda kelulusan oleh Rektor menjadi puncak emosional yang disambut haru oleh keluarga dan para santri Al-Fattah yang hadir memberikan dukungan.


Perjalanan Akademis yang Konsisten

Gelar doktor yang diraih Kiai Aik—sapaan akrabnya—bukanlah pencapaian yang datang secara tiba-tiba. Sebelumnya, pada 5 Februari 2026, ia telah berhasil mempertahankan disertasinya yang berjudul “Studi Asbabun Nuzul dalam Konteks Dinamika Masyarakat Qur’ani Perspektif Tafsir Nuzuli Muhammad Izzah Darwazah” dalam Sidang Promosi Doktor di Pascasarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

Disertasi yang menggali pendekatan kontekstual dalam memahami konteks turunnya ayat al-Qur’an melalui lensa tafsir Muhammad Izzah Darwazah ini mendapat apresiasi tinggi dari dewan penguji. Ia pun dinyatakan lulus dengan predikat “Sangat Memuaskan”, sebuah pencapaian yang menegaskan kedalaman analisis dan kontribusi keilmuan yang ditawarkan dalam khazanah studi al-Qur’an di Indonesia.


UIN Sunan Gunung Djati: Inkubator Peradaban

Pilihan Kiai Aik untuk menimba ilmu di UIN Sunan Gunung Djati Bandung bukanlah kebetulan. Universitas yang berdiri sejak 1968 ini telah lama dikenal sebagai salah satu institusi pendidikan Islam terkemuka di Tanah Air. Dengan sejarah panjang yang melahirkan generasi-generasi terbaik bangsa—mulai dari ulama, cendekiawan, hingga pemimpin nasional—UIN SGD Bandung konsisten menjadi mercusur integrasi keilmuan Islam dan sains modern.

Rektor UIN Sunan Gunung Djati Bandung, beserta jajaran wakil rektor, para dosen pembimbing, dewan penguji, civitas akademika, serta keluarga besar wisudawan turut hadir dalam prosesi wisuda yang berlangsung khidmat. Kehadiran mereka menjadi simbol dukungan kolektif atas komitmen para lulusan untuk membawa ilmu yang diperoleh kembali ke tengah masyarakat.


Dari Kampus ke Pengabdian Semesta

Tema wisuda tahun ini—“Transformasi Ilmu untuk Umat: Dari Kampus ke Pengabdian Semesta”—tampaknya menemukan representasi yang tepat dalam sosok Kiai Aik. Sebagai pengasuh pesantren terpadu dan direktur lembaga kajian, ia telah lama konsisten menghadirkan model pendidikan Islam yang tidak hanya berorientasi pada penguasaan teks, tetapi juga pada respons terhadap dinamika masyarakat kontemporer.

Disertasi yang ia tulis tentang pendekatan “asbabun nuzul” dalam tafsir Muhammad Izzah Darwazah, misalnya, menunjukkan kepeduliannya terhadap bagaimana al-Qur’an dapat dibaca secara kontekstual tanpa kehilangan kedalaman normatifnya. Ini adalah sumbangsih penting bagi dunia pesantren yang selama ini sering dituduh terjebak dalam pemahaman tekstual.

Pencapaian Kiai Aik Iksan Anshori menjadi bukti nyata bahwa tradisi keilmuan pesantren tidak hanya lestari, tetapi juga terus berkembang dan berdialog dengan dunia akademik modern. Di tengah narasi yang sering mempertentangkan antara “tradisi” dan “modernitas”, sosoknya hadir sebagai jembatan yang menyatukan keduanya.

Wisuda Ke-108 UIN Sunan Gunung Djati Bandung tahun ini pun menjadi pengingat bahwa transformasi ilmu—dari ruang kelas ke pengabdian nyata di tengah umat—adalah esensi sejati dari pendidikan Islam. Dan Kiai Aik, dengan segala capaiannya, adalah salah satu representasi terbaik dari semangat itu.


Doa dan Harapan

Dalam kesempatan ini, K.H. Aik Iksan Anshori menyampaikan rasa syukur yang mendalam atas pencapaian ini. Ia menegaskan bahwa gelar doktor bukanlah tujuan akhir, melainkan amanah baru untuk terus berkontribusi bagi umat dan bangsa. “Gelar ini bukanlah tujuan akhir, melainkan sarana untuk semakin memperdalam pengabdian kepada umat. Semoga ilmu yang saya peroleh dapat bermanfaat, menjawab tantangan zaman, dan membawa kebaikan bagi lingkungan pesantren dan masyarakat luas,” ujarnya.

“Ilmu yang kita peroleh hari ini bukan untuk disimpan di menara gading, melainkan untuk diturunkan ke tengah masyarakat. Dari kampus, kita melangkah ke pengabdian semesta—mengabdi tanpa batas, melayani tanpa pamrih,” lanjutnya.

Ia juga mendoakan agar ilmu yang diperoleh dapat menjadi amal jariyah dan bermanfaat bagi pesantren, lembaga pendidikan, serta masyarakat luas. “Semoga Allah meridhai setiap langkah kita dalam menghidupkan tradisi keilmuan Islam yang rahmatan lil ‘alamin,” tambahnya.

Rektor UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Prof. Dr. H. Rosihon Anwar, M.Ag., turut menyampaikan harapan agar para wisudawan dapat menerapkan semangat transformasi ilmu yang menjadi tema acara. “Semoga gelar yang disandang hari ini diiringi dengan tanggung jawab yang besar. Jadikan ilmu sebagai cahaya yang menuntun, bukan sekadar simbol keilmuan,” pesannya.[RG]

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Tinggalkan Komentar