Info Sekolah
Senin, 24 Agu 2026
  • Pesantren Terpadu Al-Fattah Kuningan
  • Pesantren Terpadu Al-Fattah Kuningan
29 Juli 2026

Hikmah Penciptaan Iblis dan Keberadaan Kejahatan dalam Pandangan Islam

Rab, 29 Juli 2026 Dibaca 20x Hikmah

Oleh: H. Roland Gunawan, Lc., Mudir Madrasah Diniyah Lailiyah (MDL) Al-Fattah Kuningan



Segala ciptaan Allah sarat dengan hikmah, tanda-tanda kebesaran, dan pelajaran mendalam. Dialah Sang Pencipta, Sang Pembentuk, Yang Maha Sempurna, dan Mahakuasa melakukan segala sesuatu. Penciptaan Iblis, serta keberadaan kejahatan dan dosa, pun mengandung hikmah yang luar biasa dan tanda-tanda kebesaran-Nya. Menciptakan hal-hal yang berlawanan—seperti Iblis yang bertolak belakang dengan malaikat, nabi, dan orang-orang saleh—adalah perwujudan kekuasaan Allah sekaligus sarana menguji manusia: apakah ia akan termasuk yang beruntung atau yang merugi. Melalui tulisan ini, kita akan menelusuri hikmah-hikmah tersebut secara rinci:


Pertama: Menyempurnakan Tingkat Pengabdian Hamba

Allah Swt. meninggikan derajat pengabdian para nabi dan orang saleh dengan perjuangan melawan bisikan dan godaan Setan. Dalam upaya menentang serta menolak ajakannya, berlindung kepada Allah dari tipu dayanya, dan memohon perlindungan-Nya, terciptalah manfaat—baik di dunia maupun akhirat—yang tidak mungkin diraih jika Setan tidak pernah diciptakan.


Kedua: Menumbuhkan Rasa Takut yang Hakiki kepada Allah

Melihat nasib Iblis yang diusir dari rahmat-Nya hanya karena satu pelanggaran, menanamkan rasa takut yang mendalam di hati orang-orang beriman yang dekat dengan Allah. Hal ini menyadarkan kita: jika makhluk sehebat Iblis bisa jatuh karena dosa, tidak seorang pun—meski berilmu, beramal, bahkan malaikat sekalipun—boleh merasa aman dari hukuman Allah. Rasa takut ini justru membuat ketaatan mereka semakin tulus dan rendah hati.

Para malaikat yang paling dekat dengan-Nya pun senantiasa memuji-Nya dengan kerendahan hati, sebagaimana difirmankan Allah: “Mereka tidak melanggar perintah Allah dalam hal yang diperintahkan-Nya kepada mereka, tetapi mereka melakukan apa yang diperintahkan kepada mereka,” [Q.S. al-Tahrim: 6). Bahkan langit pun “mengerang” karena setiap sudutnya dipenuhi malaikat yang bersujud penuh hormat, dan Jibril yang agung pun tampak lemah gemetar bagaikan kain lusuh karena rasa takutnya kepada Allah.

Orang beriman sejati pun tidak merasa diri selamat hanya karena pengetahuan atau amal yang mereka miliki. Mereka selalu waspada dan takut, sesuai firman Allah: “Tidak ada yang merasa aman dari rencana Allah kecuali orang-orang yang sesat,” [Q.S. al-A’raf: 99].


Ketiga: Menjadi Pelajaran bagi Manusia dan Jin

Kisah Iblis dan Adam menjadi dua teladan yang sangat berharga. Iblis adalah peringatan nyata bagi siapa saja yang sombong, membangkang, dan terus-menerus berbuat dosa—bahkan jika awalnya ia makhluk yang saleh. Sebaliknya, kesalahan Adam dan keberhasilannya bertaubat menjadi kabar gembira dan teladan bagi mereka yang lalai namun kemudian menyadari kesalahannya, menyesal, dan kembali kepada Allah. Allah menjadikan keduanya sebagai pelajaran: satu contoh bagi yang tetap dalam kesalahan, dan satu lagi bagi yang kembali kepada jalan yang benar.


Keempat: Sarana Menguji dan Menyucikan Derajat

Kehadiran kejahatan dan godaan Setan berfungsi sebagai sarana ujian bagi seluruh makhluk. Allah sesungguhnya sudah mengetahui siapa yang jahat dan siapa yang baik jauh sebelum mereka diciptakan—namun ujian ini bertujuan agar kebenaran tampak nyata di hadapan kita, memisahkan yang benar-benar beriman dari yang hanya berpura-pura, serta menyucikan derajat manusia agar layak menerima pahala sesuai perbuatannya.

Hal ini sejalan dengan banyak firman-Nya:


Allah tidak akan membiarkan orang-orang beriman dalam keadaan seperti kalian sekarang, hingga Dia membedakan orang-orang jahat dari orang-orang yang saleh,” [Q.S. Ali Imran: 179].


Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan begitu saja karena mereka berkata, ‘Kami beriman,’ dan tidak akan diuji?” [Q.S. al-Ankabut: 2].


Kelima: Menunjukkan Kesempurnaan Kekuasaan Allah

Penciptaan hal-hal yang berlawanan—seperti terang dan gelap, surga dan neraka, baik dan jahat—menunjukkan betapa luasnya kekuasaan Allah. Melalui perbandingan, kita dapat mengenali sifat sesuatu: kita tahu nilai kebaikan karena ada keburukan, tahu nikmat kesehatan karena ada sakit, dan tahu betapa berharganya kekayaan karena pernah merasakan kemiskinan.

Demikian pula Allah menciptakan makhluk dengan berbagai cara penciptaan: Jibril, Mikail, Israfil, para malaikat, hingga Iblis—dan manusia yang diciptakan tanpa ayah (Adam), tanpa ibu (Hawa), tanpa ayah dan ibu (Isa as.), maupun dengan keduanya—semuanya membuktikan bahwa Allah berkuasa menciptakan apa saja sesuai kehendak-Nya.


Keenam: Menumbuhkan Rasa Syukur yang Lebih Dalam

Ujian dan perjuangan melawan kejahatan menjadikan rasa syukur hamba-Nya jauh lebih utuh dan mendalam. Sebagai contoh, rasa syukur Adam as. setelah kembali kepada Allah melalui taubatnya memiliki kedalaman yang berbeda dibandingkan saat ia masih hidup tenang di surga sebelum jatuh ke dalam kesalahan. Segala sesuatu yang diciptakan Allah—meskipun terlihat buruk atau menimbulkan kesulitan—sesungguhnya mengandung keadilan dan hikmah yang agung.


Ketujuh: Mencapai Puncak Pengabdian Melalui Perjuangan

Nilai-nilai mulia seperti kasih sayang kepada Allah, ketulusan bertaubat, berserah diri, kesabaran, dan kerelaan adalah buah dari pengabdian yang paling dicintai-Nya—dan hal ini baru bisa tercapai apabila ada perjuangan melawan hawa nafsu dan kejahatan. Tanpa adanya musuh dan godaan, kita tidak akan mampu mencapai tingkat pengabdian yang tinggi dengan melawan keinginan diri sendiri dan pengaruh buruk dari luar.


Kedelapan: Mencerminkan Sifat Allah Yang Maha Bijaksana

Salah satu nama Allah adalah Al-Hakim, Yang Maha Bijaksana. Kebijaksanaan-Nya menuntut agar segala sesuatu diletakkan pada tempatnya yang paling tepat—menciptakan yang berlawanan dengan sifat dan peran yang berbeda, sehingga tercipta tatanan alam semesta yang sempurna dan seimbang.


Kesembilan: Pujian yang Menyeluruh dan Sempurna

Allah layak dipuji atas segala sifat-Nya: bukan hanya karena Dia Pengasih dan Pemberi rahmat, tetapi juga karena Dia Yang Menegakkan keadilan, Yang Menghukum, dan Yang Memegang kendali atas segala sesuatu. Keberadaan kejahatan yang Dia izinkan terjadi dan kemudian dibalas dengan keadilan-Nya melengkapi kesempurnaan pujian yang layak disampaikan kepada-Nya.

Perlu disadari bahwa semua hikmah yang disebutkan di atas hanyalah setetes air dibandingkan samudera luasnya kebijaksanaan Allah. Akal manusia sangat terbatas untuk menjangkau segala rahasia penciptaan-Nya. Cukuplah bagi kita untuk mengetahui bahwa Allah Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana, bahwa segala sesuatu yang terjadi ada dalam pengaturan-Nya yang sempurna, dan sebagian besar maksud-Nya mungkin hanya Dia yang mengetahuinya sepenuhnya.[]

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Tinggalkan Komentar