Oleh: H. Roland Gunawan, Lc., Direktur Rumah Tafaqquh Al-Fattah Syi’arul Islam (RTF-SI)
Al-Qur’an memang hanya menyebut segelintir nama hewan dan burung. Salah satu yang paling masyhur adalah burung Hudhud milik Nabi Sulaiman, sebagaimana diabadikan dalam kisah Surah al-Naml.
Gagasan tulisan ini bermula dari sebuah klaim yang cukup mengejutkan: bahwa “Hudhud” milik Nabi Sulaiman sejatinya bukanlah seekor burung, melainkan nama seorang pengikut setianya. Terpancing oleh pernyataan tersebut, saya pun terdorong untuk menelusuri lebih jauh kisah sang Hudhud beserta berbagai legenda yang melingkupinya.
Burung Hudhud memang dikenal sebagai spesies yang luar biasa dan unik. Pesonanya tak hanya memikat mata yang memandang, tetapi juga menggugah rasa ingin tahu untuk menelusuri berbagai mitos yang berkembang. Lantas, apa saja legenda paling menonjol seputar sang Hudhud dalam kisah Nabi Sulaiman?
Menariknya, meskipun al-Qur’an tidak secara eksplisit mendefinisikan Hudhud sebagai seekor burung, konteks ayatnya sangat kuat mengisyaratkan keterkaitannya dengan dunia unggas. Allah Swt. berfirman: “Dan dia memeriksa burung-burung, lalu berkata, ‘Mengapa aku tidak melihat Hudhud? Apakah ia termasuk yang tidak hadir?” [Q.S. al-Naml: 20].
Mungkinkah Hudhud sejatinya adalah seorang jin atau prajurit manusia yang menyamar? Sebagai analogi, Iblis sejatinya bukan dari golongan malaikat, namun al-Qur’an pernah mengkategorikannya bersama mereka karena ia hidup dan beribadah di tengah-tengah mereka sebelum peristiwa sujud kepada Adam.
Berpijak dari logika serupa, sebagian cendekiawan berpendapat bahwa Hudhud adalah sosok jin—makhluk yang mampu berubah wujud—yang ditugaskan sebagai mata-mata (intelijen). Dalam kacamata ini, laporan yang ia bawa tentang praktik peribadatan di Kerajaan Saba tak lebih dari hasil sebuah misi pengintaian.
Pendukung teori ini merujuk pada komposisi pasukan Nabi Sulaiman yang terdiri dari jin, manusia, dan burung (Q.S. al-Naml: 17). Karena jin memiliki kemampuan alami untuk menjelma, bukan tidak mungkin ia tampil dalam rupa seekor burung. Namun, apakah asumsi ini cukup kuat sebagai bukti? Di sisi lain, sejumlah literatur tafsir menyoroti kemampuan biologis burung Hudhud yang unik: kepiawaiannya mendeteksi sumber air tanah.
Layaknya seorang ahli hidrologi yang mampu menemukan mata air di tengah gurun tandus, kemampuan ini menjadikan posisi burung Hudhud sangat krusial di mata Nabi Sulaiman. Kebutuhan akan keahlian khusus inilah yang diduga menjadi alasan mengapa Nabi Sulaiman as. begitu cermat mencari dan menagih kehadirannya.
Terdapat pula pendapat lain yang berargumen bahwa Hudhud adalah sosok mukmin bertauhid. Argumen ini didasarkan pada dialognya yang mencerminkan kedalaman teologis dan kepekaan spiritual. Tutur katanya seolah merepresentasikan seorang cendekiawan agama yang berilmu luas dan penuh hikmah, alih-alih sekadar seekor hewan biasa.
Lebih jauh lagi, terdapat riwayat yang menyebut bahwa Hudhud adalah “raja” dari segala burung, sebuah klaim yang konon didasarkan pada jambul atau “mahkota” di kepalanya. Namun, menurut hemat saya, klaim ini tidak memiliki landasan yang kuat. Narasi tersebut tampaknya lebih banyak menyerap tradisi Isrâ`ilîyyât—kisah-kisah yang bersumber dari luar tradisi Islam—yang membutuhkan verifikasi lebih lanjut, terlebih jika dikaitkan dengan anggapan bahwa jambulnya melambangkan “mahkota emas” penanda status kerajaan.
Dari sini, muncul sebuah pertanyaan kritis: Mengapa Nabi Sulaiman as. menetapkan ancaman hukuman yang begitu berat atas ketidakhadiran sang Hudhud? Ia berkata: “Pasti akan kuhukum ia dengan hukuman yang berat atau kusembelih ia, kecuali jika ia datang kepadaku dengan alasan yang jelas,” [Q.S. al-Naml: 21]. Sebagian pihak berspekulasi bahwa Nabi Sulaiman mencurigai Hudhud telah melanggar sumpah kesetiaan dan berkhianat dengan membocorkan rahasia kepada raja-raja lain. Kendati al-Qur’an tidak merinci alasan pastinya secara eksplisit, wajar bila ancaman seberat itu dijatuhkan, mengingat tingginya tingkat kepercayaan dan urgensi misi yang diembannya.
Terbersit pula pertanyaan lain: Mengapa Nabi Sulaiman begitu bersikeras menagih kehadiran Hudhud, padahal ia memiliki pasukan jin yang jauh lebih kuat? Sebagian mufasir menjelaskan bahwa kaum jin umumnya ditugaskan untuk pekerjaan fisik yang berat, seperti konstruksi bangunan atau menyelam ke kedalaman laut. Adapun tugas pengumpulan informasi (intelijen) dan diplomasi menuntut kelincahan, ketepatan, dan kecepatan—kualitas-kualitas yang secara alamiah sangat selaras dengan karakteristik burung Hudhud. Itulah mengapa, pada akhirnya, sosok Hudhud lah yang dipercaya oleh Nabi Sulaiman untuk menjalankan misi diplomatik yang bersejarah: menyampaikan surat kepada Ratu Bilqis di Kerajaan Saba.[]
Tinggalkan Komentar