Oleh: H. Roland Gunawan, Lc., Direktur Rumah Tafaqquh Al-Fattah Syi’arul Islam (RTF-SI)
Seringkali, pertanyaan “Mengapa Tuhan menciptakan kita?” diajukan bukan sekadar untuk mencari tahu maksud Allah atas umat manusia—karena jawaban teologisnya telah gamblang di dalam al-Qur’an: “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku,” [Q.S. al-Dzariyat: 56].
Sebaliknya, pertanyaan ini biasanya lahir dari dahaga untuk memahami rahasia di balik kehendak penciptaan itu sendiri. Mengapa ada sesuatu (manusia dan alam semesta) alih-alih tidak ada sama sekali?
Di sini ingin ditegaskan sejak awal: Ini adalah pertanyaan yang tidak memiliki jawaban final di level nalar kita. Ya, kita tidak mengetahui jawaban atas pertanyaan ini, dan mungkin kita tidak akan pernah mengetahuinya bahkan setelah kematian. Ada dua alasan mendasar: pertama, kita tidak memiliki “alat” intelektual maupun spiritual yang memadai untuk menjangkau jawaban tersebut; kedua, kita sebenarnya tidak membutuhkan jawaban itu untuk menjalani kehidupan yang bermakna dan memuaskan di dunia ini.
Namun, dalam tulisan ini, akan ditawarkan sebuah pendekatan sistematis untuk merespons pertanyaan ini melalui tiga premis penting. Siapa pun yang Allah bimbing untuk merenungkan ketiga pengantar ini, akan dituntun—dengan izin-Nya—menuju ketenangan hati dan jawaban yang membebaskan.
Premis Pertama: Menyadari Hakikat Perhambaan (Ubudiyah)
Saat mengajukan pertanyaan ini, seseorang seringkali lupa pada satu realitas mendasar: Allah adalah Sang Pencipta. Dia, Yang Maha Tinggi, “menciptakan apa yang Dia kehendaki” dan “Pelaku terhadap apa yang Dia rencanakan”. Betapapun tingginya intelektualitas seseorang, ia tetaplah seorang hamba, bukan tuhan, dan bukan pula pengendali alam semesta.
Ketika seorang Muslim menyadari bahwa hubungannya dengan Allah adalah hubungan ubudiyah (perhambaan)—yang merangkum cinta, takut, harap, ketundukan, dan pertobatan—ia akan memahami bahwa menuntut jawaban atas “rahasia penciptaan” sesungguhnya adalah bentuk pengaburan terhadap statusnya sebagai hamba.
Al-Qur’an mengisahkan tentang manusia yang mendewakan egonya sendiri, yang jiwanya terselimuti kesombongan hingga mencoba lari dari realitas perhambaan. Fir’aun adalah contoh tertingginya ketika berkata, “Akulah tuhanmu yang paling tinggi.” Sayangnya, benih “pendewaan diri” ini masih lazim terjadi di zaman kita, meski dalam bentuk yang lebih halus.
Contohnya, ada yang dengan serius bertanya, “Mengapa Allah Yang Mahakuasa tidak memberi saya pilihan antara diciptakan atau tidak diciptakan?”
Pertanyaan ini adalah pelanggaran terhadap logika perhambaan. Tindakan dan pilihan Tuhan tidak bergantung pada persetujuan ciptaan-Nya; jika demikian, Dia tidak lagi layak menyandang sifat Ketuhanan. Lagipula, orang yang mengajukan pertanyaan ini belum ada sebelum diciptakan. Ia tidak memiliki kehendak bebas sebelum keberadaannya diwujudkan.
Layaknya sebuah benda yang bertanya kepada pembuatnya, “Mengapa engkau tidak memberiku pilihan untuk ada atau tiada?” Ini adalah sebuah absurditas. Bagaimana mungkin Tuhan, Pencipta segala sesuatu dari ketiadaan, harus mempertanggungjawabkan kehendak-Nya kepada materi yang bahkan belum ada?
Terkait janji Allah dalam Q.S. al-A’raf: 172 tentang mîtsâq (persaksian ruh: “Bukankah Aku Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Benar, kami bersaksi”), ini tidak boleh dipahami sebagai sebuah “kontrak” yang menawarkan pilihan. Ini adalah “pengakuan fitrah”. Layaknya seorang guru yang menunjuk papan tulis dan bertanya, “Apakah kalian melihat tulisan ini?”—bukan untuk memberi pilihan menyangkal, melainkan untuk menetapkan kebenaran agar tak ada yang bisa berdalih di kemudian hari. Allah telah menanamkan fitrah pengenalan akan-Nya dalam diri kita. Jika fitrah ini dibiarkan murni melampaui hawa nafsu, ia pasti akan mengakui bahwa hanya Allah yang layak disembah.
Titik awalnya adalah kesadaran: kita adalah hamba. Kesadaran inilah yang akan membebaskan kita dari obsesi menuntut alasan di balik takdir penciptaan.
Premis Kedua: Logika Praktis dalam Keimanan
Islam memiliki kerangka berpikirnya sendiri, yang diuraikan dengan indah dalam al-Qur’an dan Sunnah. Sangat penting bagi kita untuk membaca Kitabullah tidak hanya secara dangkal, tetapi dengan menyelami samudra makna di balik ayat-ayat-Nya.
Perhatikan firman Allah dalam Q.S. al-Anbiya: 23: “Dia tidak dapat ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya, tetapi merekalah yang dapat ditanya tentang apa yang telah mereka perbuat.”
Ayat ini adalah metodologi berpikir yang agung. Prinsip rasional bagi seorang manusia adalah fokus menjawab pertanyaan-pertanyaan yang memengaruhi perjalanan hidupnya. Oleh karena itu, ia harus segera menjawab empat pertanyaan eksistensial fitrah:
Ketika seseorang mengabaikan empat pertanyaan praktis ini dan justru sibuk mengurusi “rahasia batin Tuhan” yang tidak diwahyukan, ia telah menyimpang dari logika intelektual yang sehat dan menzalimi dirinya sendiri.
Al-Qur’an mengajarkan pendekatan yang realistis: Sebagai makhluk yang lemah, kamu tidak dituntut untuk menginterogasi Sang Pencipta tentang alasan penciptaan-Nya. Kamu akan dimintai pertanggungjawaban atas perbuatanmu, bukan atas rahasia-Nya. Fokuslah pada apa yang telah diwahyukan: bahwa kamu diciptakan untuk menyembah-Nya dan memakmurkan bumi.
Al-Qur’an bahkan mengajarkan kita batasan etika dalam bertanya melalui lisan Nabi Isa as.: “Engkau mengetahui apa yang ada dalam diriku, dan aku tidak mengetahui apa yang ada dalam diri-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui yang gaib,” [Q.S. al-Ma’idah: 116].
Kita tidak mengetahui apa pun tentang Allah kecuali apa yang Dia wahyukan. Karena Dia tidak mengungkapkan alasan tersembunyi di balik penciptaan (selain yang telah dinyatakan seperti untuk beribadah, dan sebagai ujian), maka mustahil kita bisa mengetahui apa yang memang tidak Dia kehendaki untuk kita ketahui.
Premis Ketiga: Batasan Akal dan Luasnya Kasih Sayang Tuhan
Akal budi manusia, pada hakikatnya, hanya dapat beroperasi dalam kerangka waktu dan ruang. Dengan data temporal dan spasial yang terbatas ini, kita tidak akan pernah bisa menjangkau hakikat Sang Pencipta yang Maha Melampaui waktu dan ruang. Pikiran kita—yang merupakan produk dari materi alam semesta ini—tidak akan pernah mampu melampaui batas materi itu sendiri.
Kita masih ingat masa-masa remaja, ketika kita disibukkan oleh pertanyaan-pertanyaan eksistensial yang besar: Apa itu Tuhan? Apakah ada sesuatu sebelum Dia? Apa yang ada sebelum dunia? Pertanyaan-pertanyaan ini selalu membawa kita pada jalan buntu, terutama ketika kita mencoba membayangkan konsep “ketiadaan” (nothingness)—sebuah keadaan di mana tidak ada apa-apa sama sekali. Kita tidak mampu membayangkannya, apalagi memahaminya.
Ketika dewasa, kita menyadari alasannya: otak yang berpikir ini adalah bagian dari alam semesta. Bagaimana mungkin sebuah bagian mampu memahami keseluruhan, apalagi memahami Sang Pencipta yang berada di luar batas ruang dan waktu?
Terkadang kita lupa bahwa kita adalah manusia, terbuat dari tanah liat, yang ketidaktahuannya jauh lebih luas daripada pengetahuannya. Para ilmuwan besar pun mengakui betapa luasnya misteri alam semesta yang belum terpecahkan. Apalagi jika pertanyaan yang diajukan adalah pertanyaan yang memang tidak dirancang untuk bisa dijawab oleh akal manusia? Ketidakmampuan ini seharusnya justru membawa kita pada rasa rendah hati, mengingatkan kita bahwa kita adalah hamba yang fakir, bukan tuhan yang mandiri.
Namun, di balik batas nalar kita, ada satu kebenaran yang jauh lebih terang: Kasih Sayang Allah.
Kita tahu dari Kitab-Nya bahwa kedudukan kita di sisi-Nya sangat mulia. Dia tidak menciptakan kita untuk menyiksa atau mempersulit. Allah Yang Maha Pengasih telah memuliakan kita di dunia dengan akal dan hati, dan menjanjikan kemuliaan yang abadi di akhirat. Dia berfirman bahwa Dia mencintai kita, dan jika kita mendekati-Nya sejengkal, Dia akan mendekati kita sedepa.
Membaca al-Qur’an dan Sunnah meyakinkan kita bahwa satu-satunya maksud Allah menciptakan kita adalah untuk memuliakan kita. Membandingkan antara “ketiadaan” dan “keberadaan” menunjukkan bahwa keberadaan kita adalah sebuah anugerah kasih sayang, bukan sebuah hukuman. Oleh karena itu, mari kita tepis segala pikiran negatif yang mencoba mempertanyakan makna penciptaan. Pikiran pesimistis seperti itu biasanya hanya lahir di saat-saat kita sedang rapuh, lelah, atau putus asa. Itu adalah pandangan yang picik, yang hanya terjebak pada momen penderitaan sesaat, dan gagal melihat kemudahan yang dijanjikan setelah kesulitan, serta gagal melihat kehidupan yang kekal dan bahagia setelah dunia yang fana ini.[]
Tinggalkan Komentar