Oleh: H. Roland Gunawan, Lc., Direktur Rumah Tafaqquh Al-Fattah Syi’arul Islam (RTF-SI)
Di tengah potret pilu yang kian sering menyapa kita dari bumi Palestina—tubuh terbaring tak berdaya, dikelilingi tangan-tangan yang berusaha memberi pertolongan sekaligus mengiringi perpisahan—terangkatlah satu jari telunjuk menuju langit. Bagi mata yang awam, mungkin ini sekadar gerakan refleks. Namun bagi hati seorang mukmin, maknanya begitu purba dan dalam: itu adalah jari tauhid. Sebuah isyarat pengakuan atas iman yang seumur hidup diucapkan dan dihayati. Seolah ketika lidah telah kalah oleh rasa sakit, raga ini bersaksi atas apa yang paling mengakar di dalam sanubari: Lâ ilâha illâllâh, Tiada Tuhan selain Allah.
Setiap kali menyaksikan pemandangan serupa, pandangan kita tak lagi sekadar terpaku pada peristiwa kepergian. Lebih dari itu, kita dihantam oleh satu pertanyaan mendalam: Apa yang telah berakar begitu kuat di dalam hati seseorang, hingga ia tetap hadir dan tegak berdiri ketika seluruh dunia di sekitarnya mulai memudar?
Ketika Raga Menjadi Saksi
Di ambang kepergian itu, banyak hal yang perlahan lenyap. Kekuatan fisik melemah, suara menjadi samar, dan segala urusan duniawi yang dulu memenuhi pikiran, mendadak tak lagi berarti. Yang tersisa hanyalah apa yang telah tertanam kokoh di lubuk hati. Itulah sebabnya, jari yang terangkat itu bukan sekadar tanda. Ia adalah manifestasi dari makna yang telah diulang-ulang oleh lisan dan hati seorang muslim ribuan kali dalam doa dan dzikirnya: bahwa Tuhan itu Esa, bahwa dunia ini fana, dan bahwa muara dari segala perjalanan hanyalah kepada-Nya, Yang Maha Tinggi.
Tiada khutbah yang disusun, tiada kata-kata indah yang dipilih, dan tiada skenario yang diatur sebelumnya. Hanya ada raga yang letih oleh luka, satu jari yang menunjuk ke langit, dan sebuah keheningan yang menyampaikan pesan jauh lebih nyaring daripada seribu kata.
Gambaran ini mungkin terasa semakin menohok bagi kita hari ini. Kita hidup di masa di mana perpisahan terasa begitu kerap, dan mereka yang pergi seolah lebih banyak daripada yang sanggup ditanggung oleh hati. Kita paham betul: seseorang yang tadi pagi masih ada di tengah kita, tiba-tiba kini tinggal sebuah nama, sepotong gambar, selembar kenangan, dan seuntai doa.
Namun, di balik kesedihan yang menyayat, ada sesuatu yang tetap menetap: harapan. Harapan yang bersandar pada rahmat dan kemurahan Allah, serta janji mulia bagi para pejuang-Nya. Harapan ini tidak serta-merta menghapus rasa kehilangan, apalagi membuat perpisahan terasa ringan. Selalu ada ruang di hati yang terasa kosong, betapapun lamanya waktu berlalu. Namun, harapan inilah yang mengangkat pandangan kita melampaui batas dunia. Ia mengokohkan keyakinan bahwa kematian bukanlah sebuah akhir, melainkan gerbang menuju keabadian, di mana apa yang ada di sisi Allah jauh lebih baik dan kekal.
Pesan Bagi Kita yang Masih Diberi Waktu
Maka, jari yang terangkat di ujung napas itu bukanlah sekadar pesan tentang kepergian. Ia adalah teguran lembut bagi kita yang masih diberi kesempatan untuk bernapas. Seumur hidup, kita sering kali sibuk mengumpulkan harta, mengejar kedudukan, memikirkan penghidupan, terjebak dalam perselisihan, dan diliputi kecemasan. Banyak hal yang kita beri perhatian berlebihan, hingga akhirnya datanglah momen kematian yang mengembalikan segala sesuatu pada proporsinya yang sebenarnya.
Di ambang perpisahan, pertanyaannya bukan lagi tentang apa yang telah kita miliki, melainkan apa yang sungguh menguasai hati kita.
Inilah hakikat tauhid. Kalimat “Lâ ilâha illâllâh” bukanlah mantra yang disimpan hanya untuk diucapkan di penghujung usia. Jika ia benar-benar bersemayam di hati, ia akan mengubah segalanya: cara kita takut dan berharap, cara kita memandang dunia, serta bagaimana kita memperlakukan sesama dan diri sendiri. Mengetahui bahwa segala sesuatu adalah milik Allah itu satu hal; namun memegang teguh kepastian itu ketika hidup sedang terasa begitu berat, adalah tingkatan iman yang jauh lebih dalam.
Iman yang Menopang, Bukan Sekadar Diucap
Selalu ada jurang pemisah antara sekadar mengenal iman, dan iman yang sungguh-sungguh menopang. Seseorang mungkin memiliki banyak pengetahuan, hafalan yang kuat, dan lidah yang fasih berbicara. Namun, ujian sejati dari iman baru akan tampak ketika segala sandaran duniawi yang biasa diandalkan mulai runtuh.
Iman yang menopang bukanlah sekadar gagasan yang tersimpan di kepala. Ia adalah kekuatan yang memberi keseimbangan saat segalanya goyah. Ia yang mengembalikan kita kepada Tuhan saat jalan bercabang, membisikkan ketenangan di saat takut bahwa segala urusan berada di tangan-Nya, menghibur di saat kehilangan bahwa perjumpaan sejati belumlah usai, dan mengingatkan di saat kesulitan bahwa dunia ini, seberat apa pun bebannya, bukanlah tempat tinggal yang kekal.
Maka, jari tauhid di ujung perjalanan itu selalu mengajak kita untuk kembali ke titik awal. Jika kita berharap kalimat tauhid itu menyertai kita di saat-saat terakhir, sudah sepantasnya ia hadir pula di hari-hari biasa: dalam setiap pilihan, dalam kesunyian, dalam keraguan dan harapan, serta dalam cara kita menjalani hidup—jauh sebelum kita sibuk memikirkan bagaimana kita akan mati.
Husnul Khatimah Dimulai Hari Ini
Husnul khatimah, atau akhir yang baik, tidak tiba-tiba turun saat nyawa berpisah dari raga. Ia adalah buah dari perjalanan panjang untuk terus kembali kepada Allah. Ia lahir dari doa-doa sunyi yang hanya diketahui oleh-Nya, dari dzikir (mengingat Allah) di saat kita lalai, dari kejujuran di saat berbohong terasa lebih mudah, dan dari hati yang senantiasa berjuang agar dunia tidak pernah menjadi tujuan utama dari segalanya.
Mungkin itulah pesan yang paling membekas dari sebuah jari yang terangkat ke langit, dari sebuah perpisahan yang tak terelakkan. Kini, giliran kita yang masih diberi kesempatan untuk bertanya pada diri sendiri: Apa yang sungguh hidup di dalam hati kita, sehingga ia akan tetap setia menemani, ketika segala hal lain di dunia ini telah tiada?[]
Tinggalkan Komentar