Oleh: H. Roland Gunawan, Lc., Direktur Rumah Tafaqquh Al-Fattah Syi’arul Islam (RTF-SI)
Dalam khazanah keilmuan Islam, ilmu hadits menempati martabat yang luhur. Hal ini lantaran seluruh cabang ilmu dalam peradaban Islam bermuara pada wahyu Allah, yaitu al-Qur’an dan Sunnah Rasul-Nya. Segala aspek kehidupan—mulai dari akidah, muamalah, akhlak, hingga pemikiran—berpedoman pada kedua sumber tersebut.
Pasca wafatnya para sahabat dan meluasnya wilayah Islam, periwayatan hadits menuntut kaidah yang sangat ketat. Tujuannya satu: menjaga kesucian ajaran dari pemalsuan dan penyimpangan, agar agama tetap terjaga otentisitasnya sebagaimana yang disampaikan oleh Rasulullah Saw.. Karena tingginya taruhan ini, ilmu hadits hanya dapat ditekuni oleh para ulama dengan kapasitas intelektual dan spiritual yang mumpuni. Mereka rela menempuh perjalanan gurun yang terik melintasi Jazirah Arab, Irak, Syam, Mesir, Persia, hingga Khurasan demi mengumpulkan riwayat dan meneliti para perawinya. Dari rahim perjuangan inilah lahir para imam besar, seperti Imam Malik, Imam Ahmad, Imam al-Bukhari, Imam Muslim, Imam al-Tirmidzi, dan kemudian Imam al-Nasa’i.
Imam al-Nasa’i mendedikasikan 88 tahun usianya semata-mata untuk mengabdi pada sunnah. Ia menjadi salah satu dari enam imam hadits yang paling masyhur, dengan mahakarya yang tak lekang oleh waktu. Siapakah ia? Bagaimana perjalanan panjang sang penjaga sunnah ini?
Titik Awal: Lahir di Pusat Peradaban
Ahmad bin Syu’aib bin Ali, yang kelak dikenal sebagai Imam al-Nasa’i, lahir pada tahun 215 H di Nisa, sebuah kota di wilayah Khurasan (kini terletak di Turkmenistan). Pada masa itu, Khurasan yang membentang dari Iran timur hingga Afghanistan selatan merupakan salah satu episentrum peradaban dan ilmu pengetahuan. Di wilayah inilah tokoh-tokoh besar seperti Imam Muslim, al-Marwazi, dan al-Baihaqi bermukim, dan di wilayah ini pula Imam al-Bukhari menjelajah untuk menuntut ilmu.
Tumbuh di lingkungan yang sarat akan ulama, al-Nasa’i kecil menghafal al-Qur’an di kampung halamannya. Pada usia 15 tahun (230 H), ia berangkat ke Baghlan, dekat Balkh, untuk berguru kepada Qutaibah bin Sa’id al-Balkhi. Qutaibah adalah ulama hadits raksasa yang pernah belajar langsung kepada Imam Malik di Madinah dan Imam al-Laits bin Sa’ad di Mesir.
Selama satu tahun dua bulan, al-Nasa’i mendampingi sang guru. Ia tidak hanya menimba ilmu, tetapi juga menyimak kisah-kisah perjalanan Qutaibah melintasi berbagai negeri dan pertemuannya dengan para ulama besar. Kisah-kisah inilah yang membakar semangat pemuda al-Nasa’i. Ia pun bertekad menyusuri jejak para pendahulunya, merantau melintasi Iran, Irak, Jazirah Arab, dan Syam, sebelum akhirnya menetap di Mesir pada tahun 243 H selama hampir enam dekade.
Matahari Ilmu di Bumi Mesir
Berbekal kedalaman ilmu dari para gurunya—seperti Ishaq bin Rahawaih, Duhaim, Amr bin Ali al-Fallas, dan Abu Kuraib—al-Nasa’i tumbuh menjadi imam yang disegani. Imam al-Dzahabi mendeskripsikannya sebagai “lautan ilmu yang mendalam, dengan pemahaman, penguasaan, kearifan, ketajaman menilai perawi, serta kemampuan menyusun karya yang luar biasa”.
Di Mesir, tepatnya di kawasan al-Qandil dekat Masjid Amr bin al-Ash, Fustat, majelis ilmu Imam al-Nasa’i menjadi kiblat dunia Islam. Ribuan pencari ilmu, termasuk para ulama besar seperti Imam al-Thabarani, Imam al-Thahawi, dan Ibnu al-Sunni, berbondong-bondong datang dari ujung timur hingga barat dunia Islam, bahkan dari Afrika Utara dan Andalusia.
Tingginya kedudukannya terlihat dari pengakuan para sejawatnya. Ketika ditanya siapa yang lebih unggul antara dirinya dan Ibnu Khuzaimah, Imam al-Daraquthni tanpa ragu menjawab: “Al-Nasa’i lebih utama. Ia sangat teliti menyandarkan riwayat kepada perawinya (dalam hal sanad), dan tidak ada yang mendahuluinya dalam hal ini.” Tak heran jika salah seorang muridnya mengungkapkan perasaan takjubnya: “Aku merasa cukup dengannya sebagai penengah antara aku dan Allah.”
Ketajaman Kritis dan Mahakarya Abadi
Dalam ilmu jarh wa ta’dîl (kritik dan validasi perawi), al-Nasa’i dikenal sangat ketat dan teliti. Kriteria yang ia gunakan untuk menerima riwayat bahkan dinilai lebih ketat daripada Imam al-Bukhari dan Muslim. Para ulama sepakat bahwa tidak ada yang lebih mendalami seluk-beluk kelemahan perawi dan tata cara hadits pada masanya selainnya.
Ketajaman ini tertuang dalam mahakaryanya, al-Sunan al-Kubrâ, yang kemudian diringkasnya menjadi al-Sunan al-Sughrâ (lebih dikenal sebagai Sunan al-Nasâ`îy). Kitab ini merupakan salah satu dari Kutub al-Sittah (enam kitab induk hadits) dan memuat hadits-hadits shahîh terbanyak setelah al-Shahîhayn (al-Bukhari dan Muslim). Keistimewaan kitab ini terletak pada sistematika bab fikihnya yang rapi, serta ketajamannya dalam menyingkap kelemahan perawi. Selain itu, ia juga mengarang kitab khusus yang membongkar kelemahan para perawi, seperti Kitâb al-Du’afâ` wa al-Matrûkîn.
Kesederhanaan, Keteguhan, dan Ujian Akhir
Di balik kebesaran namanya, al-Nasa’i adalah pribadi yang sangat zuhud. Ia dikenal sebagai hamba yang tekun beribadah, konsisten menunaikan haji, dan aktif dalam perjuangan membela kebenaran. Dengan hartanya sendiri, ia kerap menebus tawanan perang. Ia hidup dalam kesederhanaan, menjauhi kemewahan istana penguasa, dan tetap teguh pada prinsipnya.
Namun, keteguhan prinsipnya inilah yang mengujinya di masa tua. Pada tahun 302 H, di usia 87 tahun, ia meninggalkan Mesir menuju Damaskus, Syam. Di sana, ia menyusun dan mengajarkan kitab tentang keutamaan Ali bin Abi Thalib (Khashâ`ish ‘Alîy). Tindakan ini memicu penolakan keras dari sebagian masyarakat Damaskus yang saat itu memiliki pandangan berbeda.
Sang Imam dipukuli hingga terluka parah. Pukulan fisik di usia senja itu meruntuhkan kesehatannya. Tak lama berselang, pada awal tahun 303 H, Imam al-Nasa’i wafat. (Terdapat perbedaan riwayat mengenai tempat wafat dan dimakamkannya; ada yang menyebut di Damaskus, Ramlah, atau saat dalam perjalanan kembali ke Mesir/Makkah).
Ia menutup mata setelah menempuh perjalanan panjang yang melelahkan, mengorbankan waktu, harta, dan raga demi satu misi suci: menjaga kemurnian sunnah Rasulullah Saw. agar tetap bersinar menerangi umat hingga akhir zaman.[]
Tinggalkan Komentar