Info Sekolah
Kamis, 27 Agu 2026
  • Pesantren Terpadu Al-Fattah Kuningan
  • Pesantren Terpadu Al-Fattah Kuningan
27 Agustus 2026

Kisah Barirah dan Mughits

Kam, 27 Agustus 2026 Dibaca 3x Hikmah

Oleh: H. Roland Gunawan, Lc., Direktur Rumah Tafaqquh Al-Fattah Syi’arul Islam (RTF-SI)



Allah menciptakan cinta dan menetapkan ukuran serta batas-batasnya. Apabila ukuran itu terganggu, cinta pun meleset dari hakikat sejatinya. Allah menentukan tingkatan-tingkatannya agar kita dapat mengenal dan meraihnya; menyelimutinya dengan jubah kebenaran untuk menghiasi hati hamba-hamba-Nya yang tulus; serta merinci batas-batas yang tidak boleh dilampaui, sebagaimana firman-Nya: “Inilah batas-batas yang ditetapkan Allah, maka janganlah kamu melanggarnya,” [Q.S. al-Baqarah: 229]. Sebagaimana Dia menciptakan segala sesuatu dengan ukuran yang telah ditetapkan, demikian pula Dia menurunkan ukuran cinta dari langit sesuai kehendak-Nya: “Dan Dia menciptakan segala sesuatu, lalu menetapkan ukuran-ukurannya dengan tepat,” [Q.S. al-Furqan: 2].

Cinta adalah perasaan yang halus dan memikat, meresap ke dalam relung jiwa tanpa diundang. Hati pun bergerak mengikuti ukuran itu, karena Allah, Zat Yang Maha Mengetahui, telah menakar setiap dorongan dan hasrat. Dia menganugerahkan rahmat-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki, dan menetapkan segala urusan—baik keinginan maupun tujuan—dengan ketetapan-Nya. Itulah takdir yang telah ditentukan, dan “Allah senantiasa mengawasi segala sesuatu,” [Q.S. al-Ahzab: 52].

Di tengah perasaan luhur yang merupakan ciptaan Tuhan yang paling murni dan abadi ini, Islam menyajikan sebuah kisah yang menyentuh hati, yaitu kisah Barirah, seorang budak perempuan yang menjadi teladan kebebasan, hak menentukan pilihan, dan kemuliaan nilai kemanusiaan. Dalam setiap peristiwanya, kisah ini memancarkan keagungan dan kelapangan dada ajaran Islam. Barirah mendambakan kebebasan agar dapat memiliki diri sendiri, menentukan jalan hidupnya secara mandiri, dan tidak lagi terbelenggu oleh kehendak orang lain.

Keinginan itu pun terwujud: ia menebus dirinya dengan pembayaran cicilan yang terjangkau setiap tahun hingga akhirnya ia merdeka. Namun ketika kembali mengatur hidupnya, ia menyadari bahwa dirinya terikat pernikahan dengan Mughits, seorang budak. Islam pun memberinya hak penuh untuk memilih: mempertahankan ikatan perkawinan tersebut, atau melepaskannya demi kehendak hatinya sendiri. Barirah memilih untuk berpisah, karena hatinya tidak menyimpan rasa cinta maupun kasih sayang sedikit pun kepada Mughits. Di sinilah kita memahami bahwa cinta adalah hak dan kerelaan hati—tidak dapat dipaksakan.

Ibnu Abbas ra. meriwayatkan: “Suami Barirah adalah seorang budak bernama Mughits. Seakan-akan aku melihatnya terus berjalan mengikuti Barirah dari belakang, menangis dengan sedihnya hingga air mata membasahi janggutnya!” Rasulullah Saw. bersabda kepada pamandanya, Abbas: “Wahai Abbas, tidakkah engkau heran akan besarnya cinta Mughits kepada Barirah, dan besarnya kebencian Barirah kepada Mughits?” Kemudian beliau bersabda kepada Barirah: “Sekiranya engkau mau kembali kepadanya.” Barirah bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah engkau memerintahkanku demikian?” Beliau menjawab: “Aku hanya memohonkan kebaikan bagimu.” Barirah berkata: “Aku tidak memerlukannya.”

Mughits pun berjalan di belakang perempuan yang dicintainya itu—yang kini telah menjadi orang asing baginya—dengan kesedihan yang mendalam, air mata terus mengalir tanpa peduli pandangan siapa pun. Kesedihannya begitu besar hingga air matanya seakan mengalir bagaikan sungai membasahi wajahnya. Pemandangan yang mengharukan itu menyentuh hati Rasulullah Saw., sehingga beliau bersabda: “Tidakkah kalian heran akan cinta Mughits kepada Barirah, dan kebencian Barirah kepadanya?” Islam tidak mencela kesetiaan dan kesungguhan perasaan Mughits, selama ia tidak menyakiti atau menindas. Sebaliknya, Nabi Saw. berusaha memohonkan kelembutan hati Barirah, berharap belas kasih akan tumbuh kembali.

Kisah ini menjadi penghibur bagi hati-hati yang sedang berduka. Berbahagialah orang yang mengambil pelajaran dari pengalaman orang lain. Pertemuan mereka adalah takdir, cinta yang tumbuh di hati Mughits adalah takdir, ikatan perkawinan mereka adalah takdir, ujian yang mereka hadapi adalah takdir, dan perpisahan mereka pun adalah takdir. Perpisahan itu menjadikan Mughits seorang yang rendah hati dalam kesabarannya, hatinya terbakar rindu namun tetap teguh memelihara kesabaran. Di momen-momen seperti inilah kesabaran teruji, iman dipelihara, dan keteguhan hati dijaga—sebagaimana digambarkan dalam firman Allah mengenai hati ibu Nabi Musa yang tabah dan penuh keyakinan: “Dan hati ibu Musa menjadi kosong [dari segala sesuatu yang lain]. Ia hendak mengungkapkan [identitasnya] seandainya Kami tidak menguatkan hatinya sehingga ia termasuk di antara orang-orang yang beriman.”

Islam menyajikan kisah ini sebagai bukti bahwa Islam tidak menentang cinta, dan tidak pula melarangnya secara mutlak. Sebaliknya, Islam menyucikan, menghormati, dan bahkan memuliakan cinta yang tumbuh di atas kebenaran dan ketulusan, sesuai dengan batas-batas yang diridhai Allah. Namun sayangnya, banyak di antara umat yang melupakan hakikat ini, sehingga pemahaman yang keliru pun tumbuh dan berkembang. Padahal, al-Qur’an dan kisah-kisah yang disampaikan memuat beragam bentuk cinta—beserta hikmah dan peringatannya: kapan cinta membawa kemuliaan dan berkah, serta kapan pula ia menjadi ujian dan cobaan. Di antaranya adalah kisah cinta istri Al-Aziz kepada Nabi Yusuf, serta cinta Nabi Ibrahim kepada keluarga dan putra-putranya.

Ibnu Hazm menuliskan dalam bukunya, Thawq al-Hamâmah: “Cinta—Allah senantiasa meninggikan kedudukannya—bermula bagaikan canda dan berakhir sungguh-sungguh. Hakikatnya terlalu halus untuk diungkapkan dengan kata-kata, dan hanya dapat dipahami melalui pengalaman. Agama tidak mengutuk cinta, dan syariat tidak melarangnya; karena hati sepenuhnya berada di tangan Allah Swt.”

Namun sayangnya, ketika cinta hadir di tengah-tengah masyarakat, banyak yang membiarkannya meluap-luap tanpa kendali. Ketika perasaan itu tumbuh, seseorang sering kali membiarkan dirinya hanyut, berlebih-lebihan dalam perasaan, harapan, tuntutan, dan keinginan. Ia membebani diri melebihi kemampuan, bahkan melanggar batas dalam perkataan maupun perbuatan.

Demikianlah hakikat cinta: ia membawa sukacita sekaligus cobaan. Ia bagaikan api yang menyala lembut di dalam jiwa pada malam hari, namun dapat membakar dan menyakiti di siang hari apabila tidak dijaga. Semakin lemah iman dan akal seseorang, semakin berat pula ujian yang dirasakan; sebaliknya, semakin kuat keduanya, semakin ringan dan lembut pula perasaannya terjaga.

Oleh karena itu, siapa pun yang hatinya sedang terguncang oleh gelombang perasaan hendaknya segera kembali kepada Allah, memohon kesembuhan melalui rahmat-Nya, dan tidak menyepelekan obat penenang yang turun dari langit. Mereka yang memanfaatkan waktu sebelum fajar menyingsing, dan bersujud memohon pertolongan-Nya, hanya akan terobati oleh air mata yang tumpah di hadapan-Nya.

Sesungguhnya cinta pun memiliki ukuran dan keseimbangannya—tidak berlebihan dan tidak pula kurang. Ia adalah rezeki yang diberikan Allah kepada hamba-hamba-Nya, yang memiliki aturan dan syaratnya sendiri. Sebagian rezeki itu diterima melalui ikhtiar dan usaha, dan sebagian lagi merupakan pemberian murni dari rahmat-Nya tanpa campur tangan manusia. Yang terpenting, sebagaimana rezeki yang lain, cinta yang diberkahi adalah yang halal, baik, dan diridhai Allah. Allah-lah Yang Maha Memberi, yang menahan dan melimpahkan sesuai kehendak-Nya dengan ukuran yang paling tepat.[]

Artikel Lainnya

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Tinggalkan Komentar