Perayaan Maulid Nabi Saw. adalah wujud kecintaan umat Muslim kepada Rasulullah, sekaligus sarana senantiasa mengingat petunjuk dan teladan beliau di setiap waktu dan tempat. Seiring berjalannya waktu, perayaan ini berkembang dari inisiatif perorangan menjadi tradisi yang mempersatukan hati, membangkitkan semangat keimanan, serta memperkokoh ikatan persaudaraan sesama umat Muslim. Ini adalah praktik yang sah dan diterima, yang kemudian tumbuh menjadi berbagai bentuk ekspresi kasih sayang.
Perayaan tersebut terwujud dalam beragam cara yang telah dikenal luas—seperti menghias lingkungan, membacakan sifat-sifat mulia Nabi Saw., serta menyajikan hidangan manis, makanan, dan minuman—yang telah menjadi bagian dari perjalanan panjang sejarah umat Muslim. Perayaan yang tersusun dan teratur ini pertama kali dipelopori oleh Syaikh Umar al-Mulla, kemudian diikuti oleh al-Muzhaffar, Raja Erbil, dan tokoh-tokoh lainnya, dan selanjutnya tradisi ini menyebar dan diamalkan di Mesir serta di wilayah dunia Islam yang lebih luas.
Dasar Keabsahan Merayakan Maulid Nabi
Merayakan Maulid Nabi Saw. adalah perwujudan rasa cinta kepada beliau yang tertanam di dalam hati, dan rasa cinta ini merupakan pilar utama keimanan. Sebagaimana sabda Nabi Saw.: “Tidaklah seorang di antara kalian beriman sepenuhnya hingga aku lebih ia cintai daripada ayahnya, anak-anaknya, dan seluruh manusia,” [H.R. al-Bukhari].
Oleh karena itu, merayakan Maulid Nabi Saw. sejatinya adalah merayakan kedatangan rahmat Allah yang dilimpahkan kepada seluruh alam semesta—yaitu junjungan kita, Nabi Muhammad Saw.. Tentang beliau, Allah berfirman: “Dan Kami tidak mengutus engkau, [wahai Muhammad], melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam,” [Q.S. al-Anbiya’: 107].
Pemimpin Semua Makhluk, Rasulullah Saw., telah memberikan teladan untuk senantiasa bersyukur atas hari kelahirannya yang penuh berkah. Beliau bahkan berpuasa pada hari Senin dan ketika ditanya tentang hal itu, beliau bersabda: “Itu adalah hari kelahiranku,” [H.R. Muslim].
Para ulama dan pendahulu yang saleh pun telah merayakan Maulid Nabi Saw. berlandaskan prinsip-prinsip tersebut, dengan mendatangkan amal ibadah yang selaras dengan kedudukan mulia beliau—seperti berdzikir mengingat Allah, bersedekah, serta membacakan syair-syair pujian dan sanjungan kepada makhluk paling mulia.
Pelopor Perayaan Maulid Nabi Secara Luas
Pada masa Dinasti Fatimiyah, perayaan Maulid Nabi Saw. belum dirayakan secara khusus dan khidmat. Yang tercatat dari masa itu hanyalah pemberian sedekah dan penyajian hidangan manis. Adapun perayaan-perayaan besar yang bersifat keagamaan lebih banyak diselenggarakan pada hari-hari peringatan khusus menurut pandangan keagamaan mereka. Oleh karena itu, perayaan yang besar, teratur, dan rutin sesungguhnya pertama kali digagas dan diselenggarakan secara luas adalah oleh Syaikh Umar al-Mulla (w. 570 H) di Mosul. Ia menyelenggarakan pertemuan tahunan pada hari kelahiran Nabi Saw. yang dihadiri oleh penguasa Mosul, di mana para penyair turut hadir dan membacakan syair-syair pujian kepada Nabi Saw.. Seperti yang dicatat oleh Abu Syamah dalam kitab al-Rawdhatayn, ia adalah orang pertama yang menyelenggarakan perayaan Maulid Nabi Saw. dalam skala besar.
Setelah itu, tradisi ini diteruskan dan dikembangkan oleh Raja al-Muzhaffar (w. 630 H), penguasa Erbil, yang menyelenggarakannya dengan kemegahan luar biasa. Imam Ibnu Katsir menyebutkan dalam kitabnya, al-Bidâyah wa al-Nihâyah: “Raja al-Muzhaffar Abu Sa’id Kukuburi—Muzhaffaruddin—bin Zainuddin Ali bin Buktakin, senantiasa merayakan Maulid Nabi Saw. pada bulan Rabi’ul Awal dengan perayaan yang sangat megah. Ia adalah seorang yang berbudi luhur, pemberani, perkasa, dan bijaksana … ia menghabiskan tiga ratus ribu dinar emas untuk perayaan tersebut setiap tahun, dan seratus ribu dinar lagi untuk penyediaan tempat istirahat dan pelayanan bagi para tamu.”
Kedudukan Raja al-Muzhaffar dalam hal mengagungkan kelahiran Nabi Saw. tercatat sangat tinggi. Ia juga adalah saudara ipar dari pahlawan besar Islam, Shalahuddin al-Ayyubi. Ketika Shalahuddin berkuasa di Mesir, ia terus melestarikan tradisi perayaan Maulid Nabi Saw.—bahkan memperluas kegembiraan dan kemegahannya serta mengalokasikan dana yang besar untuknya—sekaligus menghentikan segenap perayaan-perayaan khas yang bersifat Syiah dari masa Fatimiyah. Dengan demikian, perayaan Maulid Nabi Saw. di Mesir senantiasa berjalan sejak masa Fatimiyah, kemudian berkembang dan semakin diperindah pada masa pemerintahan Shalahuddin al-Ayyubi. Dan tidak hanya di Mesir, perayaan yang penuh keberkahan ini pun menyebar dan diamalkan di Mosul, Erbil, serta berbagai negeri lainnya.
Perayaan Maulid Nabi di Mesir
Dalam karyanya yang berjudul Târîkh al-Ihtifâl bi al-Mawlid al-Nabawîy al-Syarîf, al-Sandubi menyajikan uraian yang jelas dan ringkas. Dari buku tersebut, terdapat bagian yang paling bermanfaat dan informatif, dengan penyampaian yang disesuaikan agar tetap segar dan relevan bagi masa kini.
Sejak masa pemerintahan Sultan Shalahuddin yang beraliran Sunni, perayaan-perayaan khas masa pemerintahan Syiah dihapuskan. Sebagai gantinya, perhatian dan dukungan besar justru diberikan kepada peringatan Maulid Nabi Saw.—yang sebelumnya belum banyak mendapat perhatian. Tradisi ini kemudian dilanjutkan oleh para penguasa Mesir berikutnya, yang masing-masing menyempurnakannya dengan corak dan keistimewaannya sendiri.
Salah satunya adalah Sultan Mamluk yang agung, al-Zhahir Barquq (w. 785 H). Diriwayatkan bahwa pada bulan Rabi’ul Awal tahun 785 H/1383 M), ia mencurahkan perhatiannya untuk kembali menghidupkan dan memuliakan peringatan Maulid Nabi Saw.. Dengan tekad yang kuat agar perayaan tersebut terlaksana dengan sebaik-baiknya, ia memerintahkan pembuatan hiasan dan dekorasi yang indah serta pelaksanaan upacara-upacara yang penuh keindahan seni. Segala sesuatunya disusun dan diatur dengan sangat menawan, agar seluruh rakyat dapat merasakan kebahagiaan dan kegembiraan yang mendalam.
Demikian pula halnya dengan Sultan al-Asyraf. Ia membangun paviliun yang paling megah dan indah untuk perayaan tersebut. Bahkan, ia secara khusus membangun sebuah paviliun agung yang didedikasikan untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad Saw.. Didorong oleh rasa cinta dan pengabdian yang mendalam kepada Rasulullah Saw., ia mempercayakan pembangunannya kepada para pengrajin terbaik dan paling terampil di Mesir. Hasil karya mereka ternyata melampaui segala harapan. Dengan segenap keahlian dan seni yang mereka miliki, mereka mewujudkan bangunan yang penuh kehalusan, keanggunan, dan kesempurnaan—sebuah mahakarya yang menjadi kebanggaan seni Mesir, yang tiada tandingannya di seluruh dunia pada masa itu.
Menjelang masa pemerintahan Raja Farouk I, tradisi ini terus berjalan dengan penuh kemuliaan. Dikatakan bahwa sepanjang masa kekuasaan Raja Farouk I, ia meneruskan kebiasaan luhur yang telah ditetapkan oleh ayahnya, Raja Fuad I—yaitu senantiasa memberikan perhatian yang sangat besar terhadap peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw., serta menyelenggarakannya dengan kemegahan dan keindahan yang tiada bandingnya. Di dalamnya terpancar keinginan luhur dan semangat yang tinggi dari Raja Farouk untuk memuliakan perayaan Maulid Nabi Saw., yang tampak begitu mempesona dalam suasana kemegahan, keindahan, sukacita, dan keagungan.
Selama berlangsungnya perayaan tersebut, para menteri negara, Syaikh al-Azhar, para ulama, wakil menteri, kepala dinas dan lembaga, serta tokoh-tokoh bangsa, semua berbondong-bondong hadir dan berkeinginan untuk mengunjungi tenda agung yang didirikan khusus untuk memperingati Maulid Nabi Saw..
Perayaan yang indah ini pun tidak hanya terbatas pada upacara-upacara resmi di lingkungan istana dan pemerintahan. Di setiap rumah tangga pun terselenggara perayaan yang penuh sukacita. Di seluruh penjuru Mesir, masa ini menjadi musim yang penuh dengan hidangan manis dan makanan-makanan lezat. Penduduk kota Iskandariyah dikenal luas dengan kebiasaan membagikan minuman manis dan irisan pisang kepada sesama. Sementara itu, masyarakat di daerah pedesaan merayakannya dengan menyiapkan berbagai hidangan istimewa—sebuah tradisi yang hingga kini tetap dijaga dan dikenal sebagai “Musim Maulid”.
Perayaan Maulid Nabi Saw. di Seluruh Dunia
Perlu diketahui bahwa Mesir bukanlah satu-satunya negeri yang memuliakan perayaan ini. Sebagian besar negeri-negeri Muslim di seantero dunia—mulai dari Makkah dan Madinah, hingga Tunisia, Maroko, dan negeri-negeri lainnya—bahkan tak sedikit pula negeri yang penduduknya mayoritas bukan Muslim, ikut memperingati hari yang penuh berkah ini.
Umat Muslim di seluruh penjuru dunia merayakan Maulid Nabi Saw., hal ini pun telah dikenal sejak masa lampau, bahkan di tanah Makkah dan Madinah. Imam Ibnu al-Jauziyah (w. 597 H) menulis dalam kitabnya, Bayân al-Mawlid al-Syarîf: “Penduduk Dua Tanah Suci—Makkah dan Madinah—serta Mesir, Yaman, Syam, dan seluruh penjuru negeri Arab, dari timur hingga ke barat, senantiasa merayakan Maulid Nabi Saw. dan bersukacita atas datangnya bulan Rabi’ul Awal. Mereka pun berlomba-lomba mendengarkan dan menyampaikan kisah kelahiran beliau, dengan harapan dapat meraih pahala yang besar serta kebahagiaan yang sejati.”
Demikian pula ungkapan Imam Abu al-Abbas al-Azfi (w. 633 H): “Maulid Nabi Saw. dirayakan sebagai hari raya besar di Makkah, dan Ka’ah dibuka lebar-lebar untuk menerima para pengunjung yang datang berziarah dan beribadah.”
Sementara itu, Imam Syamsuddin al-Sakhawi (w. 902 H) menyampaikan: “Adapun penduduk Makkah—negeri yang menjadi sumber kebaikan dan keberkahan—mereka berduyun-duyun menuju tempat yang diyakini sebagai lokasi kelahiran beliau, di kawasan yang dikenal sebagai Suqul Lail (Pasar Malam), dengan penuh harap agar doa dan cita-cita mereka terpenuhi. Kegembiraan mereka tampak begitu besar, bahkan tak kalah dibandingkan hari raya Idul Fitri. Hampir tak ada seorang pun, baik orang saleh maupun biasa, kaya maupun miskin, yang tidak hadir—terlebih lagi para pembesar dan keturunan Rasulullah Saw.. Kepada para tamu dan penduduk yang hadir pun disuguhkan hidangan serta manisan yang paling lezat dan terbaik.”
Hingga masa kini, di berbagai negeri Islam, para pemimpin dan rakyatnya pun saling bersukacita dan menyampaikan kegembiraan atas kelahiran Nabi Saw.. Bahkan di negeri-negeri yang mayoritas penduduknya non-Muslim, komunitas Muslim di sana pun turut merayakannya dengan penuh semangat. Kita dapat menyaksikan hal tersebut di India, Inggris, serta berbagai negeri lainnya, termasuk Chechnya dan daerah-daerah sekitarnya—semuanya bersatu dalam menyambut kelahiran Nabi Muhammad Saw..
Penutup
Sebagai kesimpulan, peringatan Maulid Nabi Saw. adalah wujud nyata dari rasa cinta dan kasih kepada beliau, yang mana merupakan salah satu rukun dasar dalam keimanan seorang Muslim. Perayaan ini juga merupakan upaya untuk meneladani sifat-sifat dan sunnah beliau, sekaligus ungkapan rasa syukur yang mendalam atas lahirnya beliau pembawa cahaya petunjuk. Secara terorganisir, perayaan Maulid Nabi Saw. mulai tersebar luas sejak abad ke-6 Hijriah. Awalnya digagas dan dipelopori oleh para ulama dan tokoh umat, seperti Syaikh Umar al-Mulla di Mosul dan Raja al-Muzhaffar di Erbil. Kemudian tradisi luhur ini menyebar ke seluruh penjuru dunia Islam—tak terkecuali Mesir, yang pada masa Kesultanan Mamluk sangat memuliakan dan mengukuhkan perayaan ini. Dari sana, perayaan ini terus menyebar hingga ke Makkah, Madinah, India, Chechnya, dan berbagai negeri lainnya di seluruh dunia. Hal ini membuktikan betapa tingginya kasih sayang dan persatuan hati seluruh umat Muslim, yang senantiasa bersukacita atas kelahiran Nabi teladan, Muhammad Saw..[]

Tinggalkan Komentar