Oleh: H. Roland Gunawan, Lc., Mudir Madrasah Diniyah Lailiyah (MDL) Al-Fattah Kuningan
Ada tiga tanda yang, jika berkumpul pada diri seseorang, menandakan ia termasuk tokoh terhebat yang namanya abadi dalam sejarah: kekaguman mendalam dari para pengikutnya; kebencian yang tajam dari para pencelanya; serta aura misteri dan teka-teki yang menyelimuti hidupnya, seolah-olah ia adalah ciptaan yang penuh keajaiban. Para ahli pun sering kali bimbang menilainya—kadang mengaitkan sosoknya dengan karunia ilahi, di waktu lain menganggapnya sebagai hasil sihir atau kebohongan. Inilah gambaran yang paling tepat untuk menggambarkan sosok al-Husain ibn Manshur al-Hallaj al-Farsi (w. 309 H/921 M), tokoh yang hingga kini masih menjadi perdebatan panjang antara mereka yang mengutuknya sebagai ahli bid’ah dan murtad, serta mereka yang mengagungkan dirinya sebagai tokoh mistik besar dan pelopor pemikiran bebas.
Tulisan ini hadir untuk menelusuri kebenaran di balik kontroversi tersebut, menyusuri jejak sejarah, meninjau kembali berbagai pandangan ulama, serta meneliti dimensi politik yang sering kali tersembunyi di balik ajaran dan pernyataan mistisnya. Tujuannya bukan untuk memihak satu pandangan, melainkan membangun pemahaman yang utuh, kritis, dan mendalam mengenai sosok, pemikiran, serta perjalanan hidupnya yang penuh gejolak.
Persepsi Membingungkan: Antara Kutukan dan Pujian
Pandangan mengenai al-Hallaj terbelah sangat tajam. Di satu sisi, para pengkritiknya bersikap ekstrem dalam mengecamnya. Sejumlah ulama sezaman bahkan menyatakan ia kafir, dan meyakini bahwa eksekusinya adalah hukuman yang sah menurut syariat karena ajaran bid’ah yang disebarkannya. Imam al-Dzahabi (w. 748 H/1347 M), misalnya, menulis dengan tegas tentang kesesatan ajarannya, hingga ia mengaku telah mengumpulkan segala hal yang dianggap sebagai kejahatan al-Hallaj dalam dua jilid buku. Sebelumnya, Ibnu al-Jauzi (w. 597 H/1201 M) juga telah menulis karya khusus yang membantah dan menolak segala hal yang dianggap mustahil dan menyimpang dari ajaran Islam yang dianut al-Hallaj.
Namun di sisi lain, pandangan yang sangat berlawanan muncul, terutama dari kalangan pengagum dan peneliti Barat. Orientalis Prancis, Louis Massignon, bahkan menempatkan al-Hallaj setingkat nabi, menganggapnya sebagai Mesias kedua setelah Nabi Isa as.. Dalam catatan sejarah dan biografi, sosoknya digambarkan begitu luar biasa hingga sebagian orang menganggapnya hampir setara dewa. Ucapan dan perbuatannya sering kali penuh teka-teki, maknanya tersembunyi bahkan bagi orang terdekatnya sendiri. Hamad, putranya, pernah berkata: “Ayahku menyeru manusia pada sesuatu yang hakikatnya pun aku tidak mampu memahaminya sepenuhnya.”
Kebingungan ini tergambar sangat jelas dalam catatan al-Dzahabi sendiri. Di dalam biografinya, ia menyajikan tiga kemungkinan sikap yang bisa diambil seseorang terhadap al-Hallaj, sekaligus cenderung menyimpulkan bahwa ia sesat: “Renungkanlah wahai hamba Allah. Jika terbukti ia adalah musuh Islam, pencinta kekuasaan, dan mencari nama dengan cara yang salah, maka tolaklah ajarannya. Namun jika kau yakin ia benar dan mendapat petunjuk, maka ikutilah. Dan jika kau ragu, maka serahkanlah urusannya kepada Allah, karena kau tidak akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang tersembunyi dari pengetahuanmu.”
Menariknya, di baris yang sama persis, al-Dzahabi juga menuliskan prinsip keadilan yang seharusnya berlaku: “Barang siapa yang dicela oleh satu kelompok, dipuji oleh kelompok lain, dan ada pihak ketiga yang diam dan menahan diri, maka orang itu harus dijauhi penilaian buruknya, urusannya diserahkan kepada Allah, dan kita memohonkan ampun baginya. Sebab kemungkinan besar keislamannya adalah asli, dan kesesatannya hanya dugaan belaka.” Pernyataan ini menunjukkan betapa al-Dzahabi sendiri sebenarnya meragukan kepastian tuduhan yang ditujukan kepada al-Hallaj, meskipun ia tetap enggan memberikan penilaian yang membebaskannya.
Fenomena ini sesuai dengan apa yang disebut oleh penulis besar Abbas al-Aqqad sebagai “tanda keabadian”: tokoh yang namanya abadi adalah mereka yang menimbulkan kekaguman sekaligus kebencian, serta menjadi bahan perdebatan yang tak pernah selesai. Al-Hallaj adalah contoh nyata dari hal tersebut.
Jejak Asal-Usul: Sufi Sunni yang Berpendidikan Murni
Pertanyaan mendasar yang sering muncul adalah: Apakah al-Hallaj benar-benar menyimpang dari ajaran Islam, ataukah ia adalah seorang Muslim yang taat namun disalahpahami? Bukti sejarah menunjukkan dengan sangat jelas bahwa akar keilmuan dan pendidikan al-Hallaj berlandaskan ajaran Islam Sunni yang murni dan sahih. Siapa pun yang mengklaim ia adalah penganut panteisme, filsafat menyimpang, atau pengikut aliran Qarmathiyah, telah mengabaikan fakta sejarah dan menafsirkan ajarannya secara keliru.
Guru-guru utama al-Hallaj adalah tokoh-tokoh besar yang diakui kesalehan dan kewibawaannya oleh seluruh ulama:
Kasus ini membuktikan bahwa tuduhan “bid’ah” sering kali menjadi senjata politik yang mudah digunakan oleh penguasa atau pihak yang berkuasa untuk menekan lawan, tanpa memandang kesalehan atau keilmuan orang yang dituduh.
Selain guru-gurunya, kebenaran ajaran al-Hallaj juga didukung oleh tokoh-tokoh besar yang membelanya, yang kesalehan dan keilmuan mereka tidak pernah diperdebatkan:
Bahkan dari kalangan mazhab Hanbali yang dikenal sangat ketat dalam menjaga kemurnian ajaran, muncul tokoh pembela al-Hallaj, yaitu Abu al-Wafa ibn Aqil. Ia menulis kitab khusus yang memuji, menafsirkan, dan membela pemikiran al-Hallaj. Meskipun di kemudian hari ia menarik kembali pendapatnya di bawah tekanan politik dan ancaman kekuasaan, penarikannya itu hanya menyatakan al-Hallaj “keliru”, bukan kafir atau murtad.
Pernyataan al-Hallaj sendiri juga menegaskan hal ini. Ia pernah berkata: “Siapa pun yang mengira bahwa ketuhanan bercampur dengan kemanusiaan, atau sebaliknya, maka ia telah kafir.” Di hadapan hakim yang akan menghukumnya, ia bersaksi dengan tegas: “Aqidahku adalah Islam, mazhabku adalah Sunnah. Takutlah kalian kepada Allah dalam menumpahkan darahku!”
Imam Ibnu Taimiyyah, meskipun menilai al-Hallaj keliru dalam sebagian ucapannya, juga mengakui keraguan besarnya terhadap keaslian tuduhan-tuduhan ekstrem yang disandarkan kepadanya. Ia menulis: “Banyak hal yang dikaitkan dengan al-Hallaj, baik tulisan maupun ucapan, yang jelas-jelas adalah kebohongan. Dan apa yang benar-benar diriwayatkan darinya sering kali dimaknai berlebihan dan diambil secara harfiah, padahal itu adalah ungkapan dari keadaan rohani yang meluap-luap. Siapa pun yang ingin mengucapkan perkataan yang aneh, selalu saja menyandarkannya kepada al-Hallaj, karena namanya dianggap paling cocok untuk hal-hal semacam itu.”
Dua Misteri Penyebab Kebingungan: Mistik dan Politik
Mengapa sosok al-Hallaj begitu membingungkan dan menimbulkan perdebatan yang tak berkesudahan? Hal ini disebabkan oleh dua lapisan misteri yang menyelimuti hidup dan pemikirannya: “misteri mistik” dan “misteri politik”. Sebagian besar tuduhan yang dilayangkan kepadanya lahir dari kesalahpahaman terhadap kedua hal ini.
Misteri Mistik: Bahasa yang Melampaui Logika Biasa
Al-Hallaj adalah seorang sufi yang mengalami puncak pengalaman rohani yang mendalam, yang sering disebut para ahli tasawuf sebagai “al-fanâ` fillâh” (leburnya diri dalam keesaan Tuhan) atau “syuhûd” (penyaksian hakikat). Pengalaman ini bersifat batiniah, berada di luar jangkauan bahasa manusia biasa. Ketika seorang sufi berusaha mengungkapkan apa yang dirasakannya dengan kata-kata, ia sering kali terpaksa menggunakan bahasa kiasan, simbol, atau ungkapan yang tampak aneh dan bertentangan dengan pemahaman lahiriah.
Ibnu Khaldun dalam menjelaskan: “Mengungkapkan keadaan rohani itu sulit, karena tidak ada bahasa yang cukup untuk menjelaskannya.” Demikian pula Ibnu al-Qayyim menjelaskan bahwa dalam tingkatan spiritual tertinggi, persepsi hamba terhadap diri sendiri dan alam semesta lenyap, sehingga yang tersisa hanyalah keberadaan Tuhan semata.
Ungkapan terkenal al-Hallaj, “Akulah Kebenaran” (Anâ al-Haqq), adalah contoh paling jelas dari kesalahpahaman ini. Banyak orang memaknainya secara harfiah seolah-olah ia mengaku Tuhan. Namun, para ahli tasawuf seperti al-Ghazali menjelaskan makna sesungguhnya: “Ketika seorang sufi telah memahami bahwa segala sesuatu hanyalah bayangan dan yang hakiki hanyalah Allah semata, maka ia mengucapkan kalimat itu sebagai bentuk puncak dari ketauhidan, bukan sebagai pengakuan ketuhanan bagi dirinya sendiri.”
Ibnu Taimiyyah juga menegaskan bahwa dalam kondisi ekstasi dan luapan rasa cinta kepada Tuhan, seseorang bisa lupa diri dan mengucapkan kata-kata yang tidak sepenuhnya ia sadari maknanya secara lahiriah. Menghukum ucapan semacam itu tanpa memahami konteks batinnya adalah ketidakadilan intelektual yang besar.
Misteri Politik: Sufisme sebagai Gerakan Perlawanan
Inilah aspek yang paling jarang dibahas namun paling menentukan nasib al-Hallaj: ia adalah tokoh utama dalam apa yang bisa kita sebut sebagai “gerakan Sufisme Politik”.
Pada masa itu, kalangan sufi—yang sebagian besar berasal dari wilayah non-Arab seperti Khurasan—memiliki ikatan sejarah dan pemikiran yang kuat dengan keluarga Nabi (Ahlul Bait). Mereka meyakini bahwa kekhalifahan yang sah haruslah berada di tangan keturunan Ali bin Abi Thalib, dan menganggap pemerintahan Bani Abbasiyah telah menyimpang dari jalur yang benar. Oleh karena itu, tasawuf tidak hanya sekadar jalan mendekatkan diri kepada Tuhan, tetapi juga menjadi wadah gerakan politik rahasia untuk menuntut kembali kekuasaan bagi Ahlul Bait dan melawan ketidakadilan penguasa.
Al-Hallaj adalah bagian inti dari gerakan ini. Ia melakukan perjalanan jauh ke berbagai wilayah: Khurasan, Transoxiana, Bahrain, hingga ke India dan Tiongkok, bukan sekadar untuk berdakwah agama, melainkan untuk mengorganisir kekuatan, merekrut pengikut, dan membangun jaringan perlawanan. Ia mengubah nama samaran, menyesuaikan cara bicara dan pakaian sesuai dengan budaya dan keyakinan penduduk setempat—terkadang tampil sebagai ahli fikih, terkadang sebagai penganut tasawuf, bahkan terkadang menyesuaikan pandangan dengan mazhab atau aliran yang dianut masyarakat setempat—semata-mata demi tujuan strategis gerakan rahasianya.
Bukti sejarah menunjukkan adanya koordinasi erat antara al-Hallaj dengan kelompok-kelompok oposisi lain, seperti kaum Qarmathiyah. Hal ini terlihat dari perjalanannya ke Bahrain—yang saat itu merupakan pusat kekuatan Qarmathiyah—dan pernyataan otoritas saat menangkapnya: “Ini adalah salah satu penyebar ajaran Qarmathiyah, kenalilah dia!”
Tokoh-tokoh sezaman seperti Ibrahim ibn Syaiban dan penulis al-Fihrist, Ibnu al-Nadim, dengan tegas menyatakan bahwa al-Hallaj adalah pemimpin gerakan revolusioner yang berniat menggulingkan kekhalifahan Abbasiyah. Ibnu al-Nadim menulis: “Al-Hallaj mengajarkan ajaran Syiah kepada para penguasa, dan ajaran sufi kepada rakyat jelata. Ia pandai menyesuaikan bahasa, berani menentang sultan, dan berusaha keras menjatuhkan pemerintahan.”
Bahkan hubungan al-Hallaj dengan gurunya sendiri, al-Junaid al-Baghdadi, yang awalnya sangat akrab kemudian berubah menjadi permusuhan, berakar dari perbedaan strategi politik. Al-Junaid adalah pemimpin gerakan yang lebih berhati-hati, mengutamakan kerahasiaan dan kehati-hatian. Sebaliknya, al-Hallaj lebih berapi-api, radikal, dan cenderung bertindak terbuka. Ketika pengaruh al-Hallaj melampaui gurunya dan ia mulai memiliki kekuatan sendiri, al-Junaid memutuskan hubungan dan mulai mencela ajarannya—bukan karena perbedaan agama, melainkan karena persaingan kekuasaan dan strategi gerakan.
Bahasa Sandi: Kunci Membongkar Kebingungan
Banyak dari tulisan dan surat-menyurat al-Hallaj yang dianggap sesat atau penuh ajaran aneh sebenarnya adalah “bahasa sandi” atau kode organisasi yang hanya dimengerti oleh para anggotanya. Karena bergerak secara rahasia dan terus diawasi pemerintah, mereka menggunakan istilah-istilah agama untuk menyampaikan pesan politik.
Misalnya, kata-kata seperti “Tuhan”, “Kebenaran”, atau “Wahyu” sering kali digunakan untuk merujuk pada pemimpin gerakan, tujuan organisasi, atau perintah yang harus dilaksanakan. Demikian pula ungkapan-ungkapan tentang persatuan dan penyatuan, yang ditafsirkan orang sebagai ajaran panteisme, sebenarnya adalah istilah internal untuk persatuan anggota gerakan atau kesetiaan kepada pemimpin.
Hal ini terbukti dari dokumen yang ditemukan di rumah al-Hallaj setelah ia ditangkap, yang berisi simbol-simbol dan tulisan tersandi. Al-Hakim Abu Ali al-Tanukhi mencatat: “Surat-suratnya berisi petunjuk kepada para pengikutnya di berbagai daerah, mengatur langkah mereka, dan menyapa setiap kelompok sesuai dengan tingkat pemahaman mereka. Ada pesan yang ditulis dengan kode khusus, yang hanya bisa dibaca oleh pengirim dan penerimanya.”
Contoh nyata adalah surat yang ditulisnya dengan kalimat: “Dari Yang Maha Pengasih, Yang Maha Penyayang kepada si Fulan.” Ketika dituduh mengaku sebagai Tuhan, al-Hallaj menjelaskan bahwa itu hanyalah cara berbahasa dalam pemahaman mereka, yang merujuk pada peran dan wewenang, bukan pada ketuhanan.
Kesalahpahaman terbesar terjadi karena pihak berwenang dan para ulama yang memeriksanya membaca tulisan-tulisan ini secara harfiah sebagai doktrin agama, padahal itu adalah panduan taktis dan pesan organisasi politik.
Al-Hallaj sendiri sadar betul akan risiko kesalahpahaman ini. Ia pernah berpesan kepada muridnya: “Ambillah perkataanku yang bisa kamu pahami dengan ilmu, dan apa yang bertentangan dengan pemahamanmu, jangan kau pegang, agar kamu tidak tersesat.”
Akhir Perjalanan: Hukuman Politik, Bukan Agama
Kematian al-Hallaj pada tahun 309 H/921 M sering kali digambarkan sebagai hukuman karena ajaran sesat dan kekafiran. Namun, jika diteliti secara mendalam, eksekusi tersebut adalah keputusan politik murni, bukan putusan hukum agama yang objektif.
Pada masa itu, Kekhalifahan Abbasiyah sedang mengalami krisis besar. Pemberontakan meletus di mana-mana, gerakan Fatimiyah berkembang pesat di Barat, dan kaum Qarmathiyah menguasai wilayah timur Arab. Di tengah gejolak ini, al-Hallaj muncul sebagai tokoh yang sangat berpengaruh, memiliki jaringan luas hingga masuk ke dalam istana khalifah sendiri, dan berani secara terbuka mengkritik kebijakan pemerintah.
Wazir saat itu, Hamid ibn al-Abbas, melihat al-Hallaj sebagai ancaman terbesar bagi kestabilan negara. Ia mengerahkan segala cara untuk menyingkirkannya. Surat-surat al-Hallaj disita, diambil bagian-bagian yang paling ambigu, lalu ditafsirkan secara ekstrem untuk mencari alasan penghukuman.
Titik balik terjadi ketika dikutip pendapat al-Hallaj mengenai pengganti ibadah haji bagi yang tidak mampu. Hakim yang memeriksa sengaja menganggap pendapat itu bohong dan tidak bersumber dari kitab manapun, padahal pendapat serupa pernah dikemukakan ulama terdahulu. Hal ini dijadikan alasan resmi untuk menjatuhkan hukuman mati, meskipun hakim sendiri sebenarnya ragu dan tidak menemukan dasar syariat yang kuat.
Ketika khalifah ragu-ragu mengesahkan hukuman, wazir mengirim pesan mendesak: “Jika ia tidak dihukum mati sekarang, rakyat akan terpesona olehnya, dan ia akan menjadi pemimpin pemberontak yang berbahaya.” Alasan keamanan negara inilah yang menjadi penentu akhir hidupnya.
Cara eksekusinya pun bukan cara biasa, melainkan cara yang digunakan untuk pemberontak dan penjahat negara: dicambuk seribu kali, dipotong anggota tubuhnya, dipenggal, dibakar, dan abunya dibuang ke sungai. Tujuannya jelas: untuk menanamkan rasa takut dan mematikan pengaruhnya selamanya.
Namun, justru dengan kematiannya, al-Hallaj mencapai kemenangan terbesarnya. Ia menjadi simbol perlawanan, tokoh mistik yang syahid karena kebenaran, dan sosok yang namanya tidak pernah hilang dari sejarah Islam. Di saat mati, ia terus mengulang: “Ahad … Ahad …”—menegaskan kembali ketauhidannya di tengah penderitaan, sekaligus menegaskan kesatuan cita-cita yang diperjuangkannya.
Sebenarnya, Siapakah Al-Hallaj?
Jadi, siapakah al-Hallaj sebenarnya? Apakah ia ahli bid’ah yang murtad atau pelopor sufisme politik? Jawabannya terletak pada pemahaman yang utuh. Ia bukanlah orang yang sesat, kafir, atau murtad, sebagaimana dituduhkan musuh-musuhnya. Ia tumbuh dalam lingkungan pendidikan Islam yang murni, memiliki guru-guru besar, dan meyakini syariat Islam dengan teguh. Namun, ia juga bukan sekadar sufi pasif yang hanya sibuk dengan ibadah pribadi. Ia adalah seorang pemikir, pemimpin gerakan, dan aktivis politik yang cerdas, berani, dan berambisi mengubah tatanan kekuasaan yang dianggapnya tidak adil.
Kontroversi yang melingkupinya lahir dari dua hal: kesulitan menerjemahkan pengalaman rohani tertinggi ke dalam bahasa manusia, serta kesengajaan pihak penguasa dan lawan politik untuk menafsirkan aktivitas organisasinya sebagai ajaran agama yang menyimpang.
Al-Hallaj adalah bukti nyata bahwa tasawuf dalam sejarah Islam tidak selalu lepas dari politik. Ia adalah pelopor yang menyatukan ketinggian spiritual dengan keberanian berjuang menegakkan keadilan. Ia dibunuh bukan karena ucapannya tentang Tuhan, melainkan karena ancaman yang ditimbulkannya terhadap kekuasaan duniawi.
Seperti yang ditulisnya sendiri dalam puisi terakhirnya: “Aku mencari ketenangan di setiap negeri, namun tak kutemukan tempat istirahat. Aku mengikuti ambisiku, dan ambisi itulah yang memperbudakku; seandainya aku cukup, pastilah aku bebas.” Al-Hallaj mungkin gagal dalam ambisi politiknya, namun ia berhasil menorehkan namanya abadi dalam sejarah—sebagai teka-teki yang menantang akal, sebagai mistikus yang memikat hati, dan sebagai pejuang yang berani membayar harga tertinggi atas keyakinannya.[]
Tinggalkan Komentar