Oleh: H. Roland Gunawan, Lc., Mudir Madrasah Diniyah Lailiyah (MDL) Al-Fattah Kuningan
Fatima Cates adalah sosok perempuan Inggris yang dengan berani menyatakan syahadat pada akhir tahun 1880-an. Ia tercatat sebagai perempuan pertama yang memeluk Islam di kota Liverpool, sebuah langkah berani yang ia ambil meski harus menembus tembok penolakan keras dari keluarga sendiri, serta hujatan dan pandangan miring dari lingkungan sosialnya yang saat itu sepenuhnya beragama Kristen. Kisah hidupnya bukan sekadar catatan sejarah, melainkan bukti nyata tentang kekuatan iman yang mampu bertahan di tengah badai penentangan.
Perjalanan panjang menuju cahaya Islam bermula saat ia terlibat dalam Gerakan Pengekangan Diri (Temperance Movement), sebuah gerakan sosial yang mengampanyekan pembatasan dan pelarangan konsumsi alkohol. Di sanalah, untuk pertama kalinya, ia mendengarkan pidato Abdullah Henry Quilliam, seorang pendakwah Islam yang berbicara tentang sosok agung Nabi Muhammad Saw.. Dalam pidatonya, Quilliam menggambarkan Nabi Saw. sebagai “seorang tokoh besar dari Arab yang hidupnya suci dan jauh dari segala keburukan, termasuk menjauhi minuman keras”. Kalimat sederhana itu memicu rasa ingin tahu yang mendalam di hati Fatima, dan menjadi benih yang tumbuh menjadi keinginan kuat untuk mengenal Islam lebih jauh.
Saat ia menyampaikan ketertarikannya itu, Quilliam memberikan nasihat yang sangat bijak: “Jangan percaya apa pun yang saya atau orang lain katakan tentang Islam. Temukanlah kebenarannya sendiri. Bacalah al-Qur’an.” Ia pun memberikan salinan terjemahan al-Qur’an kepadanya. Hanya dalam hitungan minggu setelah membaca dan merenungi isinya, Fatima menemukan kebenaran yang ia cari. Ia pun memeluk Islam, lalu bergabung bersama Quilliam dan seorang mualaf bernama Ali Hamilton untuk meletakkan batu pertama pendirian perkumpulan Liverpool Muslim Society pada tahun 1887.
Meski harus berjuang sendirian menentang arus, meski menjadi sasaran kampanye kebencian dan permusuhan yang ditujukan kepada komunitas baru itu, Fatima tidak pernah mundur selangkah. Ia tetap teguh berdiri, menjadi pilar kekuatan dalam dakwah dan penyebaran ajaran damai Islam.
Perkumpulan ini memegang peranan sangat penting dalam memperkenalkan Islam kepada masyarakat Inggris yang saat itu masih asing dengan ajaran ini. Di sinilah Fatima bersinar dengan peran istimewanya: ia menjadi jembatan yang mengajak kaum perempuan untuk mengenal dan memeluk Islam. Berkat ketulusan dan keteguhannya, saudara-saudara perempuannya—Clara dan Annie—ikut masuk Islam, bersama sejumlah perempuan lain yang kelak menjadi tokoh-tokoh Muslim terkemuka di masyarakat Liverpool.
Kelahiran dan Masa Kecil
Nama aslinya adalah Frances Elizabeth Murray, lahir pada 5 Januari 1865 di kota Birkenhead, Inggris, di tengah keluarga Kristen kelas pekerja yang taat beragama. Ayahnya, seorang keturunan Irlandia, bekerja sebagai kuli angkut dengan penghasilan yang pas-pasan.
Meski hidup dalam keterbatasan ekonomi, Frances beruntung bisa mengenyam pendidikan berkat berlakunya Undang-Undang Pendidikan Wajib tahun 1870. Ia termasuk dalam angkatan pertama yang merasakan manfaat dari reformasi pendidikan tersebut, sebuah kesempatan yang ia gunakan sebaik-baiknya.
Sejak kecil, Frances sudah menunjukkan karakter yang teguh dan mandiri. Ia dikenal memiliki pemikiran yang kritis, rasa ingin tahu yang tinggi, serta keberanian luar biasa untuk bertindak sesuai apa yang ia yakini benar—dan ia mempertahankan pendiriannya itu tanpa ragu sedikit pun, meski harus berhadapan dengan orang lain.
Memasuki usia dua puluhan, ia mulai aktif dalam Gerakan Pengekangan Diri, bergerak di garis depan untuk mengkampanyekan hidup sehat dan bebas dari alkohol. Dedikasinya begitu besar hingga ia dipercaya menjabat sebagai sekretaris cabang Liverpool untuk gerakan tersebut.
Momen Menemukan Cahaya Islam
Di tengah kesibukannya dalam gerakan sosial itulah takdir membawanya bertemu dengan Abdullah Henry Quilliam, pendakwah Islam yang mulai dikenal di Inggris. Ia mendengarkan dengan saksama saat Quilliam bercerita tentang sosok “Orang Arab Agung” yang menjauhi segala keburukan, yang tidak lain adalah Nabi Muhammad Saw.. Gambaran tentang sosok pemimpin yang mulia, berkarakter luhur, dan menjadi teladan kebaikan itulah yang menyentuh hati kecilnya.
Rasa ingin tahunya memuncak. Quilliam kemudian memberinya terjemahan al-Qur’an dan berpesan, “Jangan terima apa yang orang katakan, carilah sendiri kebenarannya di dalam kitab ini.”
Frances membaca, merenung, dan membiarkan ayat-ayat suci itu berbicara langsung ke dalam hatinya. Hanya dalam beberapa minggu, pada bulan Juni 1887, ia pun mengucapkan dua kalimat syahadat. Ia melepaskan nama lamanya dan memilih nama “Fatima”, sebagai tanda baru perjalanan hidupnya.
Namun, kebahagiaan itu harus ia bayar mahal. Keluarganya menolak keras keputusannya. Ibunya pernah berusaha merebut al-Qur’an dari tangannya untuk dibakar. Karena menganggapnya sebagai aib dan beban, keluarga bahkan memaksanya untuk segera menikah secara paksa. Penolakan tidak hanya datang dari rumah, tapi juga dari masyarakat. Rumahnya dilempari batu, kaca jendela pecah berkali-kali oleh orang-orang yang benci, dan ia dikucilkan dari pergaulan. Namun, semua celaan dan kekerasan itu justru semakin menguatkan keyakinannya; ia tidak pernah sedikit pun menyesali keputusannya.
Mendirikan Komunitas Islam Liverpool
Hanya sebulan setelah ia masuk Islam, tepatnya bulan Juli 1887, Fatima bersama Quilliam dan Ali Hamilton secara resmi mendirikan Liverpool Muslim Society. Tujuannya mulia: menyebarkan pesan damai Islam dan menjelaskan ajarannya yang murni kepada masyarakat yang masih banyak keliru memahaminya. Setiap hari Jumat, para anggota berkumpul di sebuah gedung sewaan untuk salat, membaca al-Qur’an, dan mendalami agama.
Sejak hari pertama, perjuangan tidak pernah berhenti. Perkumpulan ini menjadi sasaran gangguan terus-menerus. Ada orang-orang yang sengaja datang untuk membuat keributan, memprovokasi, dan melecehkan. Fatima sendiri sering kali menjadi sasaran: pernah beberapa kali wajahnya diolesi kotoran kuda oleh orang-orang yang berniat jahat, berusaha mempermalukannya di depan umum. Namun, di balik segala siksaan batin itu, hasilnya terlihat nyata. Dalam dua tahun pertama saja, komunitas ini berhasil membimbing 11 orang untuk masuk Islam.
Karena tekanan dan semakin bertambahnya jumlah anggota, pada tahun 1889 mereka terpaksa pindah ke lokasi yang lebih luas dan layak di kawasan Brougham Terrace, dan mengubah nama lembaga itu menjadi Institut Islam Liverpool.
Di tempat baru ini, nama Fatima semakin bersinar. Ia menjadi wajah paling menonjol dan wakil dari lembaga itu, dikenal tidak hanya di Inggris, tetapi juga hingga ke luar negeri—termasuk ke India yang saat itu masih di bawah kekuasaan Inggris. Tulisan-tulisannya, baik berupa puisi maupun karangan prosa yang indah dan penuh hikmah, dimuat dalam majalah Allahabad Review, menjadikan suaranya terdengar hingga ke benua lain.
Pernikahan dan Tahun-tahun Terakhir Perjuangan
Fatima kemudian menikah dengan Hubert Henry Cates, dan dengan kesabaran serta keteladanan, ia berhasil membimbing suaminya itu masuk Islam. Berkat ketekunannya pula, semakin banyak perempuan yang masuk Islam, di antaranya saudara-saudaranya sendiri, Clara dan Annie, serta tokoh-tokoh wanita lain seperti Alice “Amina” Bowman, Hannah “Fatima” Robinson, Leah “Zuleikha” Banks, dan Amy “Amina” Mukache.
Namun, di balik kesuksesan dakwahnya, rumah tangganya justru menjadi medan ujian terberat. Meskipun suaminya sudah menyatakan syahadat, pernikahan itu tidak membawa kedamaian. Alih-alih menjadi pelindung, sang suami justru menjadi sumber penderitaan baru. Fatima mengalami kekerasan fisik dan batin yang parah, bahkan nyawanya sempat diancam hingga ada upaya pembunuhan terhadap dirinya sendiri.
Pada Desember 1891, ia memberanikan diri mengajukan gugatan cerai. Namun, hukum Inggris saat itu (berdasarkan undang-undang tahun 1857) sangat tidak berpihak pada perempuan dan mempersulit hak untuk berpisah. Ia hanya berhasil mendapatkan keputusan pemisahan tempat tinggal selama satu tahun, namun secara nyata hubungan suami istri mereka sudah berakhir. Mereka hidup terpisah hingga suaminya meninggal dunia pada tahun 1895.
Di tengah kepedihan itu, Fatima mulai mengurangi aktivitasnya di lembaga untuk menenangkan diri. Ia sering bepergian ke luar Liverpool, bahkan sempat menempuh perjalanan jauh ke negeri-negeri di Timur, serta menghabiskan waktu di Inggris selatan menekuni hobinya: memotret keindahan alam dan lanskap, sebuah cara baginya untuk menenangkan hati yang terluka.
Akhir Perjalanan dan Warisan Abadi
Tahun 1900 menjadi tahun terakhir perjalanan hidup yang penuh perjuangan itu. Fatima terserang penyakit flu yang parah, yang kemudian berkembang menjadi radang paru-paru dan merenggut nyawanya. Ia meninggal dunia dalam keadaan beriman, dan dimakamkan dengan tata cara Islam di Pemakaman Anfield, Liverpool.
Selama bertahun-tahun, makamnya terbengkalai, tak terawat, seolah sejarah telah melupakannya. Namun, takdir Allah indah pada waktunya. Seorang Muslim bernama Hamid Mahmood berhasil menemukan kembali makam tua itu, dan bersama seorang perempuan Muslim Liverpool bernama Amira Scarsbrick yang mengumpulkan dana, makam Fatima direnovasi dan dibangun kembali dengan indah pada tanggal 4 November 2022, agar namanya dan perjuangannya tidak hilang ditelan waktu.
Di atas batu nisannya yang terbuat dari marmer, terukir bait puisi yang pernah ditulis oleh Fatima Cates sendiri, menjadi pesan terakhir dan warisan batinnya bagi kita semua: “Marilah kita selalu memperhatikan peringatan yang telah diberikan Allah, agar kita dapat berjalan dengan aman di jalan menuju Surga.”
Tinggalkan Komentar