Oleh: H. Roland Gunawan, Lc., Mudir Madrasah Diniyah Lailiyah (MDL) Al-Fattah Kuningan
Bunga sakura bukan sekadar simbol keindahan bagi masyarakat Jepang. Ia merefleksikan pandangan mendalam bangsa ini terhadap eksistensi: pemahaman akan sifat sementara segala sesuatu, keselarasan dengan irama alam yang terus berubah, serta semangat untuk terus bangkit dan berinovasi. Di tengah dinamika sejarah yang penuh gejolak, bangsa Jepang dikenal memiliki daya tangkap yang tinggi terhadap nilai-nilai baru, serta ketekunan dalam menyelami esensi di balik setiap fenomena yang mereka temui.
Dalam konteks ini, pertemuan antara Jepang dan Islam menjadi salah satu babak sejarah yang menarik untuk ditelaah. Bagaimana peradaban yang berkembang jauh di belahan timur benua Asia ini pertama kali mengenal ajaran, budaya, dan peradaban Islam? Benang merah perkenalan ini terjalin erat melalui perjalanan, hubungan perdagangan, serta dinamika politik internasional yang berkembang selama berabad-abad.
Misteri Negeri Thawalisi: Jejak Awal yang Masih Menjadi Perdebatan
Catatan paling awal yang memicu diskusi mengenai kemungkinan hubungan paling awal antara dunia Islam dan Jepang berasal dari perjalanan Ibnu Bathuthah, penjelajah besar asal Maroko yang hidup pada abad ke-14 Masehi. Dalam bukunya, Tuhfatun Nuzzar fi Gharaib al-Amsar wa ‘Aja`ib al-Asfar, ia menyebutkan sebuah negeri bernama Thawalisi atau Tawasi yang terletak di sebelah timur Tiongkok.
Ibnu Bathuthah menceritakan bahwa ia sempat mendarat di salah satu pelabuhan utama negeri tersebut dan bertemu dengan putri penguasa setempat yang fasih berbahasa Turki. Putri itu juga bercerita mengenai konflik berkepanjangan antara Thawalisi dengan Kekaisaran Tiongkok, yang berakhir dengan kemenangan di pihak Thawalisi. Uraian ini memicu perdebatan panjang di kalangan sejarawan: di manakah letak sebenarnya negeri yang dimaksud?
Beberapa ahli berpendapat Thawalisi adalah wilayah Champa (sekarang bagian Vietnam), sementara yang lain mengaitkannya dengan Filipina atau bahkan wilayah di kepulauan Indonesia. Namun, ada pula kelompok peneliti yang mengajukan argumen kuat bahwa negeri itu adalah Jepang. Pendapat ini didasarkan pada fakta sejarah bahwa pada pertengahan abad ke-13 hingga awal abad ke-14, Jepang memang terlibat dalam persaingan militer dan politik yang ketat dengan Dinasti Yuan di Tiongkok, sekitar empat dekade sebelum Ibnu Bathuthah memulai perjalanannya ke Asia.
Salah satu tokoh yang meneliti hal ini secara mendalam adalah penulis dan peneliti Maroko bernama Abdul Hadi Tazi. Dalam kajiannya, ia mengutip sebuah peristiwa bersejarah ketika seorang menteri Maroko melakukan kunjungan resmi ke Jepang. Dalam sambutan selamat datangnya, pejabat tinggi Jepang menyatakan: “Anda adalah orang Maroko kedua yang menginjakkan kaki di tanah kami setelah kunjungan Tuan Ibnu Bathuthah.” Pernyataan ini memperkuat spekulasi bahwa hubungan awal keduanya mungkin telah terjalin jauh lebih awal daripada catatan sejarah konvensional yang umum diketahui. Meskipun kepastian belum tercapai sepenuhnya, kemungkinan ini tetap menjadi bukti betapa luasnya jejak peradaban Islam sejak masa lampau.
Dari Kebijakan Isolasi hingga Keterbukaan: Pintu Menuju Dunia Luar
Terlepas dari validitas catatan Ibnu Bathuthah, selama berabad-abad berikutnya akses Jepang terhadap dunia luar mengalami pasang surut yang signifikan. Pada masa kekuasaan Keshogunan Tokugawa (1603–1868), Jepang menerapkan kebijakan Sakoku atau penutupan total terhadap dunia luar mulai tahun 1639 Masehi. Kebijakan ini diberlakukan untuk menjaga stabilitas dalam negeri, melindungi sistem sosial feodal, serta mempertahankan dominasi agama tradisional Shinto dan kedudukan istimewa golongan samurai. Semua warga dilarang keluar masuk wilayah, dan hubungan dagang hanya dibatasi secara sangat ketat.
Kondisi ini berubah drastis pada pertengahan abad ke-19. Pada tahun 1853 dan 1854, Komodor Matthew Perry dari Amerika Serikat tiba dengan armada perang untuk memaksa Jepang membuka pelabuhannya demi kepentingan perdagangan. Tekanan ini memuncak ketika Jepang dipaksa menandatangani perjanjian yang dianggap tidak adil dan merugikan kedaulatan negaranya. Kelemahan kekuasaan Keshogunan semakin terlihat seiring menyebarnya kabar mengenai kemunduran Tiongkok akibat intervensi bangsa Eropa.
Krisis ini memicu perubahan besar. Pada tahun 1868, kekuasaan dikembalikan kepada Kaisar Meiji, menandai dimulainya era baru yang dikenal sebagai Restorasi Meiji. Jepang keluar dari keterkungkungan isolasi dan meluncurkan program transformasi besar-besaran: menghapus sistem feodal, merombak struktur pemerintahan, membangun industri modern, serta memodernisasi sistem militer dan pendidikan. Dalam proses ini, Jepang membuka mata dan telinganya terhadap berbagai peradaban di dunia, termasuk peradaban Islam.
Hubungan Diplomatik dengan Turki Ottoman: Jembatan Pertama yang Nyata
Keterbukaan baru ini mendorong Jepang untuk mengirimkan berbagai misi pengamatan ke seluruh penjuru dunia. Di antara banyak negara yang dikunjungi, Kekaisaran Ottoman menjadi perhatian khusus. Sebagai satu-satunya kekuatan besar berbasis Islam yang mampu berdiri sejajar dengan negara-negara Eropa pada masa itu, Turki Ottoman dipandang sebagai model menarik oleh para pemikir dan penguasa Jepang.
Pada tahun 1871, Misi Iwakura yang terdiri dari pejabat tinggi Jepang singgah di Istanbul dalam perjalanan ke Eropa. Laporan yang disusun oleh diplomat Genichiro Fukuchi serta kesan yang dicatat oleh Biksu Mukurai Shimaji mengandung pengamatan rinci mengenai struktur sosial, budaya, dan sistem pemerintahan Ottoman. Beberapa peneliti bahkan menduga bahwa pola reformasi yang dilakukan di Turki Ottoman sedikit banyak memengaruhi cara pandang para pemimpin Meiji dalam merancang kemajuan negaranya.
Hubungan semakin dipererat melalui pertukaran kunjungan resmi. Pada tahun 1880, Pangeran Hibei tiba di Istanbul, disusul oleh Pangeran Komatsu pada tahun 1887 yang membawa tanda kehormatan dari Kaisar Jepang untuk Sultan Abdul Hamid II. Sebagai balasan, Sultan Abdul Hamid II yang juga mendukung gerakan Pan-Islamisme mengirimkan kapal perang Ertugrul untuk memperkuat ikatan persahabatan.
Kapal ini berlayar pada tahun 1889 dan tiba di pelabuhan Yokohama pada Juni 1890 setelah perjalanan panjang selama 11 bulan. Selama tiga bulan berikutnya, awak kapal disambut dengan keramahan yang luar biasa. Namun, perjalanan pulang berubah menjadi tragedi. Pada tanggal 18 September 1890, kapal ini terjebak badai topan dahsyat dan karam di lepas pantai Wakayama. Sebanyak 581 pelaut gugur, sementara hanya 69 orang yang selamat berkat bantuan penduduk setempat.
Peristiwa ini justru menjadi titik balik yang mempererat hubungan emosional dan pengetahuan. Pemerintah Jepang mengirimkan kapal perangnya sendiri untuk mengantar korban yang selamat kembali ke Turki. Dalam rombongan tersebut turut serta sekelompok peneliti dan cendekiawan Jepang yang ditugaskan untuk mempelajari lebih dalam mengenai sistem sosial, agama, dan pendidikan di dunia Islam.
Dari peristiwa ini pula lahir nama Noda Shotaro, orang Jepang pertama yang tercatat secara resmi memeluk Islam. Ia terlibat dalam upaya menolong para korban selamat, kemudian tinggal dan bekerja di Istanbul selama dua tahun sebelum kembali ke tanah airnya.
Ekspansi Politik dan Kehadiran Tokoh Utama: Mengenal Islam Secara Langsung
Memasuki awal abad ke-20, dinamika politik di Asia semakin mempercepat proses pengenalan Jepang terhadap Islam. Setelah memenangkan perang melawan Tiongkok (1894–1895) dan Rusia (1904–1905), Jepang memperluas wilayah pengaruhnya dan mulai berinteraksi secara langsung dengan komunitas Muslim yang tersebar di Asia Timur, Asia Tengah, dan Asia Tenggara. Kesadaran tumbuh bahwa memahami ajaran dan budaya Islam menjadi kebutuhan strategis, baik untuk kepentingan diplomasi maupun pemahaman mendalam terhadap wilayah-wilayah yang menjadi sasaran kebijakan luar negerinya.
Momen penting terjadi pada tahun 1903 dengan kedatangan Syaikh Abdul Rasyid Ibrahim, seorang ulama dan pemuka masyarakat Muslim asal etnis Tatar dari wilayah Rusia. Ia adalah tokoh yang memiliki wawasan luas dan telah berkelana ke berbagai pusat keilmuan Islam. Syaikh Ibrahim melihat potensi besar pada Jepang sebagai kekuatan baru di Asia, dan ia berusaha membangun persepsi yang benar mengenai Islam di kalangan elit dan masyarakat Jepang.
Kedatangannya membuka jalan bagi sejumlah warga Jepang untuk memeluk Islam, antara lain Takeoshi Ohara yang mengambil nama Abu Bakr, dan Matsuo Yamaoka yang dikenal dengan nama Umar Yamaoka dan menjadi orang Jepang pertama yang diketahui melaksanakan ibadah haji ke Makkah. Pada tahun 1920-an, gelombang imigran Muslim Tatar yang melarikan diri dari gejolak politik di Rusia menetap di Jepang, mendirikan komunitas tetap, dan membangun tempat ibadah serta lembaga pendidikan.
Salah satu tokoh paling menonjol yang lahir dari proses ini adalah Ama Ibi Tanaka, yang setelah masuk Islam bernama Nur Muhammad. Sebagai pemikir, penyair, dan mantan politikus, ia memandang Islam bukan hanya sebagai sistem kepercayaan, tetapi juga sebagai kerangka nilai yang dapat menyatu dengan kearifan lokal. Ia bahkan mengekspresikan pengalaman spiritualnya melalui karya sastra yang mendalam, yang mencerminkan penghayatan pribadi terhadap ajaran yang baru ia temukan.
Perkembangan Keilmuan dan Studi Islam di Jepang
Antara tahun 1930 hingga 1945, minat terhadap kajian Islam berkembang pesat didorong oleh kebutuhan akademis dan kepentingan politik. Berbagai lembaga penelitian didirikan, seperti Pusat Penelitian Kebudayaan Islam pada tahun 1932, yang kemudian melahirkan beberapa organisasi serupa. Lebih dari 16.000 karya tulis dan makalah penelitian dipublikasikan selama periode ini, mencakup sejarah, hukum, filsafat, dan kondisi sosial dunia Islam.
Puncak perkembangan intelektual ini ditandai dengan munculnya Profesor Toshihiko Izutsu, yang dianggap sebagai pakar studi Islam paling berpengaruh dari Jepang. Ia dididik langsung oleh Syaikh Abdul Rasyid Ibrahim dan Musa Jarullah Begiev. Melalui karya-karya monumentalnya, serta kajian mendalam mengenai filsafat dan tasawuf, Izutsu berhasil menjembatani pemikiran Timur dan Barat. Pandangannya yang mendalam dan objektif bahkan dihormati serta dikutip luas oleh para sarjana di negara-negara Muslim hingga saat ini.
Selain itu, terjemahan al-Qur’an ke dalam bahasa Jepang juga mulai dilakukan secara bertahap, dimulai oleh Kenichi Sakamoto, kemudian dilanjutkan oleh Goro Takashi dan para peneliti lainnya, meskipun pada tahap awal masih menggunakan sumber terjemahan dari bahasa Eropa.
Pasca Perang Dunia II: Pendalaman dan Pemahaman yang Lebih Mendasar
Setelah Perang Dunia II berakhir dan Jepang memasuki fase pembangunan kembali, pendekatan terhadap Islam mengalami pergeseran. Jika sebelumnya didorong oleh kepentingan politik dan militer, maka pada paruh kedua abad ke-20, kajian Islam lebih berfokus pada aspek akademis, budaya, dan hubungan antarperadaban.
Banyak universitas besar di Jepang membuka pusat studi Timur Tengah dan Dunia Islam. Para peneliti seperti Nobuaki Notohara mulai melakukan perjalanan langsung ke negara-negara Arab dan kawasan Muslim lainnya untuk mengamati kehidupan, lingkungan, serta akar budayanya secara langsung. Kajian mereka tidak lagi sekadar membaca buku, tetapi melibatkan interaksi nyata, menghasilkan pandangan yang lebih kaya dan kontekstual.
Dalam pandangan para peneliti ini, pertemuan antara budaya Jepang yang terbiasa dengan iklim empat musim dan keindahan alam yang berubah-ubah, dengan budaya Islam yang tumbuh dan berkembang di lingkungan gurun yang keras namun penuh ketahanan, justru melahirkan kesamaan pandangan mendasar: penghormatan terhadap ketetapan alam, pencarian makna hakiki, serta ketekunan dalam menghadapi tantangan hidup.
Penutup
Sejak spekulasi mengenai jejak Ibnu Bathuthah hingga kehadiran komunitas Muslim yang mapan serta lahirnya para pakar kajian Islam, perjalanan “Jepang menemukan Islam” adalah proses yang panjang, dinamis, dan penuh makna. Ini bukan sekadar cerita tentang penyebaran agama, melainkan sebuah kisah pertemuan dua peradaban yang sama-sama memiliki kekayaan nilai dan pemikiran.
Bunga sakura yang melambangkan perubahan dan keindahan sementara, serta pohon-pohon yang tumbuh kuat di tengah gurun yang melambangkan keteguhan dan ketahanan, akhirnya bertemu dalam satu pemahaman: bahwa di balik segala perbedaan bentuk dan rupa, terdapat pencarian bersama akan kebenaran, keadilan, dan makna sejati dari kehidupan. Perjalanan ini masih terus berlanjut, melahirkan dialog yang semakin terbuka dan saling memperkaya hingga masa kini.[]
Tinggalkan Komentar