Info Sekolah
Selasa, 25 Agu 2026
  • Pesantren Terpadu Al-Fattah Kuningan
  • Pesantren Terpadu Al-Fattah Kuningan
24 Mei 2026

Pendidikan di Era Digital: Generasi Seperti Apa yang Kita Inginkan?

Ming, 24 Mei 2026 Dibaca 40x Edukasi

Oleh: H. Roland Gunawan, Lc., Mudir Madrasah Diniyah Lailiyah (MDL) Al-Fattah Kuningan



Pendidikan memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan suatu bangsa dan negara. Ia menjadi sarana bagi masyarakat untuk melestarikan nilai-nilai luhur, budaya, serta pola pikir yang dianut. Melalui pendidikan, kesadaran bernegara terbentuk, potensi setiap individu tergali, dan kemampuan untuk memanfaatkannya secara optimal pun berkembang.

Saat ini, berbagai persoalan seputar pendidikan dan tantangannya sering menjadi topik perbincangan, bahkan diperdebatkan di berbagai lapisan masyarakat. Beberapa isu utama yang menjadi sorotan antara lain:

  • Perkembangan teknologi dan kesenjangan antar generasi
  • Tantangan masa remaja serta kebutuhan pendidikannya yang khas
  • Pengaruh lingkungan sosial terhadap budaya dan perilaku anak
  • Penggunaan internet serta perubahan tatanan kehidupan keluarga
  • Penyalahgunaan teknologi dan dampak globalisasi bagi anak
  • Pola asuh keluarga dan kesejahteraan psikologis anak
  • Kekerasan serta pengabaian dalam rumah tangga dan dampaknya terhadap prestasi belajar

Masih banyak lagi persoalan mendasar yang berkaitan dengan upaya mendidik dan membina generasi muda. Semua ini menuntut sikap yang sungguh-sungguh dan bertanggung jawab dari kita. Kita perlu merumuskan jawaban dan solusi yang berakar pada nilai-nilai luhur, rasa kebangsaan, serta tanggung jawab moral, kemudian menyusun langkah-langkah nyata untuk menghadapi tantangan pendidikan di lingkungan kita, agar tujuan pendidikan yang seimbang dan bermutu dapat tercapai.

Dalam konteks ini, pelatihan mengenai bimbingan keluarga dan keterampilan hidup menjadi hal yang sangat penting untuk memperkuat fondasi masyarakat, yaitu keluarga. Hal ini perlu didasari oleh prinsip yang tepat, yang menekankan pada keutuhan hubungan keluarga serta kesadaran orang tua bahwa pola asuh yang baik sangat berpengaruh pada kestabilan psikologis anak, sekaligus menjadi solusi atas berbagai masalah sosial dan kesulitan dalam belajar.

Sebagai panduan mulia, kita dapat meneladani ajaran Rasulullah Saw.. Terdapat sebuah kisah di mana seorang sahabat memberikan hadiah kepada salah satu anaknya saja, sementara yang lain tidak mendapatkannya. Istrinya merasa keberatan dan meminta suaminya untuk berkonsultasi kepada Nabi Saw..

Mendengar hal itu, Rasulullah Saw. bertanya: “Apakah engkau memberikan hal yang sama kepada seluruh anakmu?” Ketika sang ayah menjawab tidak, beliau bersabda: “Takutlah kepada Allah dan bersikap adillah kepada anak-anakmu,” [H.R. al-Bukhari dan Muslim].

Meskipun terlihat sederhana, prinsip keadilan ini sangat menentukan keseimbangan emosi dan perkembangan jiwa anak. Membesarkan mereka dengan dasar keadilan, kasih sayang, dan rasa kebersamaan akan membentuk generasi yang siap memikul tanggung jawab di masa depan, serta menjadi anggota masyarakat yang bermanfaat dan produktif. Sebagaimana pepatah mengatakan, apa yang kita tanam hari ini, itulah yang akan kita tuai kelak.

Salah satu hal penting yang harus dipahami orang tua di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan informasi adalah bahwa setiap generasi memiliki keunikan tersendiri. Tidaklah bijak jika kita menerapkan cara mendidik yang sama persis seperti yang berlaku pada masa lalu.

Memahami tantangan zaman serta menguasai keterampilan membimbing anak secara kekinian akan mencegah terjadinya kesenjangan antar generasi. Jika dibiarkan, kesenjangan ini dapat mengancam keharmonisan masyarakat, melemahkan jati diri bangsa, serta menjauhkan generasi muda dari akar budaya dan nilai-nilai leluhurnya.

Berbagai risiko juga mengintai, seperti kejahatan dunia maya, akses ke konten yang tidak pantas, kecanduan permainan daring yang berbahaya, serta pengaruh informasi yang merusak akhlak. Tidak sedikit anak yang menghabiskan waktunya hanya untuk hal-hal yang kurang bermanfaat di media sosial.

Di sinilah kita memahami makna pesan bijak dari Khalifah Ali bin Abi Thalib ra.: “Janganlah kalian mendidik anak-anakmu dengan cara seperti cara orang tua mendidik kalian, karena mereka hidup di zaman yang berbeda dengan zaman kalian.” Hal ini bukan berarti meninggalkan nilai-nilai luhur warisan nenek moyang, melainkan menyelaraskan cara mendidik dengan perkembangan zaman tanpa menyimpang dari ajaran agama dan kodrat manusia.

Pendekatan pendampingan menjadi salah satu kunci utama dalam mendidik anak di era sekarang. Melalui sikap mendengarkan, berkomunikasi secara terbuka, dan membahas berbagai fenomena kehidupan secara bijaksana, orang tua dapat membimbing anak dengan lembut tanpa memaksakan kehendak atau melarang secara sembarangan.

Di tengah keterbukaan informasi, mustahil rasanya mengawasi setiap gerak-gerik anak secara terus-menerus, baik di sekolah, di lingkungan pergaulan, maupun saat menggunakan gawai dan internet. Oleh karena itu, pendekatan yang paling tepat adalah membimbing dengan dasar kasih sayang, kepercayaan, serta memberikan teladan yang baik. Perhatian orang tua tidak cukup hanya pada kebutuhan materi, tetapi harus meliputi pembinaan akhlak, pola pikir, dan pengetahuan.

Tantangan terbesar bagi orang tua saat ini adalah melahirkan generasi yang saleh, mencintai tanah air, memegang teguh nilai agama, serta berbakti kepada orang tua. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah Saw.: “Apabila seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga hal: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak yang saleh yang senantiasa mendoakannya,” [H.R. Muslim].

Dengan cara inilah kita akan membentuk generasi pemimpin masa depan—generasi yang andal, berwawasan luas, cerdas membedakan mana yang baik dan buruk, serta siap melanjutkan perjuangan membangun bangsa dan peradaban.

Generasi yang kelak memegang amanah warisan leluhur, menjaga nilai-nilai perjuangan, dan terus berkarya di bidang ilmu pengetahuan serta kemajuan. Generasi yang sadar akan tantangan yang dihadapi bangsanya, tidak mudah terprovokasi, dan memiliki kepedulian yang tinggi terhadap sesama. Generasi yang mampu memberikan manfaat nyata, meninggalkan jejak kebaikan yang dikenang, serta meraih derajat mulia di sisi Allah Swt..

Sebagaimana ungkapan penyair kenamaan Ahmad Syauqi: “Ajarkanlah ilmu dan kebaikan sebisa mungkin, karena bisa jadi dari sanalah lahir generasi yang membawa perubahan besar.” Semoga Allah Swt. senantiasa membimbing kita menuju jalan yang terbaik bagi kemajuan bangsa, serta menjaga anak-anak dan generasi muda dari segala hal yang dapat merusak masa depan mereka.[]

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Tinggalkan Komentar