Oleh: Ust. Masyhudi, S.Pd., Kepala SDIT Al-Fattah Kuningan
Guru hari ini bukan hanya mengajar, tetapi juga harus sabar menghadapi tingkah laku murid dan sikap orangtua yang tak selalu menerima.
Ketika guru menyampaikan kekurangan anak, seringkali yang datang adalah penolakan. Bahkan, ada orang tua yang belum mampu menerima informasi yang disampaikan, seakan nasihat adalah bentuk kesalahan, bukan kepedulian.
Padahal nasihat itu lahir dari keikhlasan, bukan untuk menyalahkan, tetapi untuk memperbaiki.
اِعْلَمْ أَنَّ مَنْ نَصَحَكَ فَقَدْ أَحَبَّكَ
“Ketahuilah, yang menasihatimu adalah yang mencintaimu.”
Di zaman ini, jika kita ingin menjadi orang yang mulia, maka kita harus siap menjawab dan menghadapi setiap tantangan. Karena bisa jadi, di saat itulah Allah sedang mengangkat derajat kita sebagai seorang guru.
Bukan hanya menghadapi santri dengan berbagai karakter, tetapi juga menenangkan keluhan para wali santri yang datang dengan beragam sikap dan perasaan.
Saat ada orangtua yang kurang bisa menerima, maka di situlah kesabaran dan kebijaksanaan guru diuji—bukan untuk membalas, tetapi untuk tetap menenangkan dan meluruskan dengan cara yang baik.
Namun jika kebenaran belum diterima, jangan lemah, jangan mundur.
لَا تَسْتَوْحِشُوا طَرِيقَ الْحَقِّ لِقِلَّةِ أَهْلِهِ
“Jangan merasa sepi di jalan kebenaran.”
Dan yakinlah, dengan kesabaran dan ketenangan, segala persoalan akan menemukan jalan penyelesaiannya.
Karena sejatinya, mendidik bukan tentang diterima atau tidak, tetapi tentang menunaikan amanah.
Tetaplah kuat, wahai guru…
Sabar dalam mendidik, ikhlas dalam menasihati.
Karena bisa jadi, yang hari ini ditolak, esok menjadi penyesalan yang mereka ingat.[]
Tinggalkan Komentar