Info Sekolah
Rabu, 15 Apr 2026
  • Pesantren Terpadu Al-Fattah Kuningan
  • Pesantren Terpadu Al-Fattah Kuningan
9 April 2026

Membangun Jembatan Kebaikan: Pentingnya Sinergi Orangtua dan Sekolah dalam Pendidikan Anak di SDIT

Kam, 9 April 2026 Dibaca 12x Edukasi

Oleh: Ust. Nizar Zulmi Rauf, S.H., Guru Bahasa Arab SDIT Al-Fattah Kuningan



Pendidikan anak bukanlah sebuah proyek estafet sederhana, di mana sekolah menerima “tongkat” dari orangtua di pagi hari, lalu mengembalikannya di sore hari tanpa adanya komunikasi yang berkelanjutan. 

Dalam model pendidikan Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) yang mengusung konsep full day school dan integrasi nilai-nilai keislaman, sinergi antara rumah dan sekolah merupakan fondasi utama yang menentukan keberhasilan pembentukan karakter anak. Tanpa adanya keselarasan visi, anak akan terjebak dalam kebingungan di antara dua standar aturan yang berbeda.

Salah satu tantangan terbesar dalam pendidikan di SDIT adalah menjaga konsistensi nilai dan adab. Ketika sekolah mengajarkan kemandirian dan adab islami yang disiplin, namun di rumah anak menemukan lingkungan yang permisif, maka internalisasi karakter tersebut akan terhambat. 

Sinergi yang kuat memastikan bahwa apa yang ditanamkan guru di kelas diperkuat kembali oleh orangtua di rumah, sehingga nilai-nilai kebaikan tersebut menjadi alami, bukan sekadar hafalan teori untuk kepentingan nilai rapor semata.

Lebih jauh lagi, peran orangtua menjadi sangat krusial dalam mengawal program unggulan seperti tahfizh al-Qur’an dan pembiasaan ibadah harian. Guru di sekolah memiliki keterbatasan waktu untuk memantau kualitas hafalan setiap siswa secara mendalam setiap saat. Di sinilah orangtua berperan sebagai mitra pendamping yang menghidupkan suasana qur’ani di rumah. 

Dukungan orangtua dalam menyimak hafalan atau sekadar memutar murotal sebelum tidur akan meringankan beban psikologis anak, sehingga mereka memandang aktivitas menghafal sebagai kebutuhan batin yang menyenangkan, bukan sekadar tuntutan kurikulum yang memberatkan.

Komunikasi interpersonal yang terbuka juga berfungsi sebagai sistem deteksi dini terhadap berbagai kendala yang mungkin dihadapi anak, baik secara akademis maupun psikologis. 

Seringkali seorang anak menunjukkan perilaku yang berbeda di rumah dan sekolah. Dengan adanya hubungan yang harmonis dan transparan antara wali murid dan wali kelas, setiap perubahan sikap anak dapat segera didiskusikan untuk mencari solusi bersama. 

Hal itu dapat menciptakan rasa aman pada diri anak karena mereka menyadari bahwa lingkungan rumah dan sekolahnya saling mendukung dan memperhatikan tumbuh kembang mereka secara utuh.

Di era digital yang penuh tantangan ini, kesepahaman orang tua dan sekolah dalam pola asuh menjadi benteng pelindung bagi anak. Aturan mengenai penggunaan gawai dan filter informasi akan lebih efektif jika disepakati bersama. 

Paada akhirnya, menyekolahkan anak di SDIT adalah sebuah ikhtiar kolektif untuk mencetak generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kokoh secara spiritual. 

Ketika orangtua dan sekolah berjalan beriringan dengan rasa saling percaya dan diiringi doa yang tulus, maka lelahnya proses belajar akan berbuah menjadi karakter saleh/salehah yang membawa keberkahan bagi masa depan.[]

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Tinggalkan Komentar