Info Sekolah
Sabtu, 04 Apr 2026
  • Pesantren Terpadu Al-Fattah Kuningan
  • Pesantren Terpadu Al-Fattah Kuningan
31 Maret 2026

Kamu Sakit, Berarti Kamu Hidup

Sel, 31 Maret 2026 Dibaca 11x Kajian

Oleh: H. Roland Gunawan, Lc., Mudir Madrasah Diniyah Lailiyah (MDL) Al-Fattah Kuningan



Sejak zaman kuno, manusia telah mencoba mengekspresikan rasa sakit mereka dengan berbagai cara, melalui berbagai praktik, mungkin yang paling menonjol saat ini adalah tulisan, film, dan lukisan.

Namun, yang membedakan rasa sakit adalah bahwa itu adalah perasaan yang tidak dapat disampaikan kepada orang lain persis seperti apa adanya. Rasa sakit dapat digambarkan, tetapi tidak dapat disampaikan dengan intensitas yang sama kepada orang lain.

Oleh karena itu, mustahil bagi seseorang untuk benar-benar merasakan rasa sakit orang lain, sekeras apa pun ia mencoba, bahkan jika ia mengalami hal yang sama. Rasa sakit dialami secara berbeda oleh setiap individu.


Rasa Sakit Menurut David Le Breton

“Penderitaan di dunia ini lebih nyata daripada kesenangannya,” (Dikutip dari “The Experience of Pain” karya David Le Breton). David Le Breton mencoba pendekatan antropologis terhadap rasa sakit, dimulai dari gagasan bahwa rasa sakit dipenuhi dengan unsur-unsur sosial, budaya, dan relasional, dan bahwa simbol dapat memengaruhi rasa sakit fisik.

Dalam bukunya “The Antropology of Pain” (1995), yang diterbitkan lima belas tahun sebelum “The Experience of Pain“, Le Breton berpendapat bahwa rasa sakit adalah realitas eksistensial, bukan hanya fisiologis. Rasa sakit tidak hanya memengaruhi tubuh tetapi seluruh individu, menyentuh kedalaman keberadaan mereka.

Ia menggambarkan rasa sakit sebagai “kegagalan bahasa”, karena sangat sulit untuk diungkapkan kepada orang lain sebagaimana adanya, yang menyebabkan isolasi mendalam. Rasa sakit menghancurkan kesatuan vital setiap individu dan membuat tubuh mereka terasa asing bagi mereka.

Le Breton menyebut rasa sakit dan penderitaan sebagai penyakit sosial karena rasa sakit itu menyebar melampaui tubuh korban dan memengaruhi orang-orang di sekitarnya, seperti pasangan, teman, atau anak-anak. Tekanan terus-menerus ini dapat melemahkan ikatan emosional dan, dalam beberapa kasus, menyebabkan kesalahpahaman timbal balik, yang berujung pada perpisahan atau perceraian karena orang-orang di sekitar merasa tidak berdaya atau kelelahan dalam memenuhi tuntutan terus-menerus dari orang yang menderita.

Dalam sebuah bagian bukunya, “The Experience of Pain” (2010), Le Breton mengatakan bahwa beberapa penderitaan dan rasa sakit biologis yang dialami seseorang, dalam banyak kasus, dapat merupakan akibat dari pengalaman traumatis masa lalu. Ia menulis:


“Rasa sakit berputar-putar di labirin sejarah hidup seseorang, menggemakan luka masa kanak-kanak atau remaja. Ia membangkitkan rasa lapar akan kehidupan dan berubah menjadi siksaan kronis karena maknanya luput dari kesadaran individu; atau ia menegaskan hal yang tak tertahankan dalam suatu peristiwa tak terduga. Dengan demikian, rasa sakit yang dirasakan terkait erat dengan peristiwa traumatis.

Seorang perempuan berusia empat puluhan menderita sakit punggung parah (lumpalgia). Tes menunjukkan adanya herniasi diskus, tetapi pengobatan tampaknya tidak efektif. Suatu hari, seorang dokter bertanya kepadanya kapan pertama kali ia merasakan sakit itu. Ia menangis dan mengatakan bahwa ia sedang berjalan dengan tenang di sekitar rumah keluarganya ketika ia melihat suaminya bersama perempuan lain,” (hal. 95).


Hidup Adalah Rasa Sakit

Dalam sebuah kuliah tentang sosiologi kejahatan di Fakultas Seni di Rabat pada tahun 2023, Le Breton menyatakan bahwa kejahatan dalam masyarakat berarti masyarakat itu hidup dan aktif, dan bahwa ketiadaan kejahatan, meskipun terdapat kondisi untuk kemunculannya, adalah masalah terbesar.

Ia menyebut bunuh diri dan perceraian sebagai contoh lebih lanjut, mengingat peningkatan kedua fenomena ini di masyarakat. Kemudian ia menjelaskan, melalui grafik dengan dua garis, satu horizontal dan satu vertikal, bahwa fenomena tersebut seharusnya tetap pada tingkat normal dan rata-ratanya, dan bahwa setiap peningkatan atau penurunan menunjukkan adanya kekurangan dalam keseluruhan sistem.

Maka benar jika ada yang mengatakan, “Hidup adalah adalah rasa sakit, dan betapa besar masalahnya jika kamu tidak merasakan sakit.”

Kita mungkin pernah mendengar orang-orang berbicara tentang rasa sakit, dan tentang film yang mempromosikan, dan terus mempromosikan, karakter pahlawan yang terlepas secara emosional, sosok yang tidak lagi tergerak atau tersentuh oleh apa pun, orang yang hampir mati yang tidak bereaksi terhadap kehilangan dan kekalahan sebagaimana adanya. Dalam banyak film, karakter ini dipromosikan sebagai sosok pahlawan.


Bagaimana Film Menggambarkan Rasa Sakit?

Kita menemukan hal ini dalam cara karakter bereaksi terhadap peristiwa di banyak film terkenal, seperti “Joker“. Joker adalah karakter yang menderita gangguan yang berkembang sejak masa kanak-kanak, menyebabkannya tertawa dalam situasi yang menyakitkan dan keras.

Kita juga melihat ini pada karakter Raymond Reddington dalam serial “The Blacklist“, yang tidak menunjukkan emosi yang jelas terhadap peristiwa yang menyakitkan, dan bahkan ketika ia bereaksi, reaksinya sangat minim.

Kondisi ini juga ditemukan pada protagonis film Martin Scorsese, “Taxi Driver“. Protagonisnya adalah seorang veteran Perang Vietnam yang kembali ke New York untuk bekerja sebagai sopir taksi. Ia tampak muak dengan kehidupannya dan telah kehilangan keinginan untuk berinteraksi dengan hal-hal di sekitarnya. Bahkan ketika ia ingin kembali ke kehidupan dan ingin bersama seorang perempuan, ia tampak tanpa gairah, mengharapkan yang terburuk dan bereaksi terhadapnya dengan ketidakpedulian yang dingin.

Hal ini juga terjadi dalam film “Manchester by the Sea“, di mana sang protagonis terpaksa menjadi wali dari keponakannya yang telah meninggal. Hal ini memaksanya untuk kembali ke kampung halamannya dan menghadapi masa lalu tragis yang dialaminya di sana. Karakternya menunjukkan rasa sakit, awalnya menekan dan bereaksi dengan dingin, hanya untuk kemudian mengungkapkannya secara intens. Sikap dingin ini telah diubah menjadi tindakan heroik dalam banyak film lain.

Ada juga film-film yang membahas rasa sakit bukan sebagai alat plot, tetapi lebih bertujuan untuk membenamkan penonton dalam pengalaman tersebut. Mungkin film yang paling signifikan dalam beberapa tahun terakhir adalah “The Banshees of Inisherin” (2022), yang, dengan kesederhanaannya, berhasil menempatkan kita dalam jenis rasa sakit yang unik. Film Irlandia ini berlatar di sebuah pulau kecil di Irlandia.

Film ini menceritakan kisah seorang pria yang menderita kehilangan karena ditinggalkan secara tiba-tiba oleh temannya setelah persahabatan yang panjang selama beberapa dekade. Ia tanpa henti mengejarnya, menuntut untuk mengetahui mengapa ia ditinggalkan, tetapi alasan yang diberikan tidak meyakinkan. Ia mencoba menerima kenyataan ini dan berteman dengan seekor keledai kecil.

Dengan demikian, pertempuran simbolis terjadi antara keduanya, yang meningkat menjadi konflik fisik di mana masing-masing saling menyakiti, baik dengan melukai atau merusak benda-benda yang memiliki nilai penting bagi mereka.

Tetapi mungkinkah kita benar-benar tidak merasakan sakit? Kepahlawanan macam apa yang ada dalam “tidak merasakan sakit”, dalam “tidak bereaksi terhadap setiap emosi dengan tepat”: tawa, air mata, ketakutan, kebahagiaan, kesedihan, dan sebagainya? Di sini, kita tahu bahwa film memainkan peran yang berbeda dari media lain, peran negatif dalam memengaruhi persepsi diri orang-orang, yang pada gilirannya memengaruhi perilaku mereka di dunia nyata.

Ketertarikan individu-individu modern pada tokoh-tokoh film dan penerimaan mereka terhadap tokoh-tokoh tersebut, membuat mereka mencoba meniru mereka dalam kehidupan nyata. Hal ini mengakibatkan penekanan terhadap reaksi nyata dan digantikan oleh reaksi palsu yang tidak berasal dari pengalaman hidup nyata.[]

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Tinggalkan Komentar