Info Sekolah
Sabtu, 04 Apr 2026
  • Pesantren Terpadu Al-Fattah Kuningan
  • Pesantren Terpadu Al-Fattah Kuningan
25 Maret 2026

Halal Bihalal Pondok Pesantren Terpadu Al-Fattah Kuningan, Pengasuh: Guru Al-Fattah Harus Menjadi Duta Perdamaian

Rab, 25 Maret 2026 Dibaca 34x Berita

KUNINGAN – Suasana kebersamaan, kekeluargaan, dan keakraban terasa amat kental dalam kegiatan silaturrahim yang dikemas dengan tradisi “Halal Bihalal” di Pondok Pesantren Terpadu Al-Fattah Kuningan, Rabu (25/3/2026).

Acara ini dihadiri oleh Dewan Pengasuh, Dr. K.H. Aang Asy’ari, Lc., M.S.I., Pimpinan dan Pengasuh Pesantren Terpadu Al-Fattah Kuningan, Dr. K.H. Aik Iksan Anshori, Lc., M.A.Hum., Direktur Al-Fattah Institute, dan Kiai Moh. Hidayat, Lc., S.Th.I., Pimpinan Majelis Dzikir dan Pikir Al-Fattah, bersama seluruh dewan guru Pesantren Terpadu Al-Fattah; Daycare, TKIT, TKIT Bilingual School, SDIT, dan MDL.

Kegiatan yang digelar dalam momentum Hari Raya Idul Fitri ini bertujuan memperkuat tali silaturahmi serta mempererat persaudaraan di antara seluruh komponen pesantren. Tradisi “Halal Bihalal” sendiri menjadi simbol kearifan lokal Nusantara yang mencerminkan nilai kekeluargaan dan kebersamaan dalam suasana penuh kehangatan lebaran.

Dalam sambutannya, Kiai Aang Asy’ari menyampaikan sebuah hadits yang merangkum visi dan misi para guru Pesantren Terpadu Al-Fattah Kuningan dalam berkiprah di pesantren dan masyarakat luas.

“Ada sebuah hadits yang berbunyi, ‘Afsyus salam, wa shilul arham, wa shallu bil layli wan nasu niyam. Pertama, afsyus salam, sebarkan perdamaian. Para guru Al-Fattah, sebagai muslim, punya kewajiban menyebarkan perdamaian, menjadi duta perdamaian dan juru damai di mana pun berada. Menjadi duta perdamaian di pesantren berarti bekerja dengan baik dan ikhlas, menciptakan suasana nyaman dan kondusif dalam kegiatan belajar-mengajar, sehingga membuat para santri betah belajar dan nyaman hidup di pesantren, bahkan bisa semakin menarik minat orang-orang untuk menyekolahkan putra-putrinya di Al-Fattah. Tahun ini 300, tahun depan mungkin bisa 400 atau bahkan 500-an santri,” tutur Kiai Aang.

Kedua, lanjutnya, wa shilul arham, jalin dan perkuat tali silaturrahim. Artinya, memandang seluruh insan di pesantren sebagai keluarga, saudara, dan orang terdekat. Dengan demikian, semua orang bisa saling menjaga, menghormati, dan menghargai satu sama lain. Dalam konteks masyarakat, itu bisa diartikan menjalin relasi dan membangun jaringan. Semakin baik dan kuat jaringan, semakian mudah menjalankan peran dan berkontribusi positif di masyarakat.

“Terakhir, wa shallu bil layli wan nasu niyam, shalat di malam hari saat orang-orang sedang tidur. Maksudnya, setelah beraktivitas, setelah berusaha dan bekerja keras, membangun hablum minan nas (hubungan horizontal dengan sesama manusia), maka itu harus diperkuat dengan membangun hablun minallah (hubungan vertikal dengan Allah) sebagai sandaran, supaya apapun yang kita lakukan diiringi dengan berkah, rahmat, dan ridha-Nya,” lanjutnya.

Dalam kesempatan yang sama, Kiai Aik Iksan Anshori memberikan motivasi mengenai arti penting peran guru dalam kemajuan bangsa dan negara.

“Jepang bisa menjadi inspirasi bagaimana guru benar-benar dihargai dan dilibatkan dalam membangun dan membangkitkan negara dari keterpurukan. Pada tanggal 6 dan 9 Agustus 1945, Amerika Serikat menghancurkan dua kota utama Jepang, yaitu Hiroshima dan Nagasaki, dengan bom atom selama Perang Dunia II. Serangan udara ini menewaskan antara 150.000 hingga 246.000 orang, sebagian besar merupakan warga sipil,” paparnya.

Menurut Kiai Aik, banyak yang memprediksi bahwa Jepang akan hancur total selama 50 sampai 70 tahun akibat serangan bom itu. Namun saat itu, Kaisar Jepang, Hirohito, tidak bertanya berapa banyak tentara yang tersisa, melainkan berapa banyak guru yang masih hidup. Ia sadar betul bahwa membangun kembali bangsa harus dimulai dari pendidikan. Dan guru adalah aktor utama dalam hal ini.

“Sekitar 45.000 guru yang tersisa menjadi pilar utama untuk mendidik generasi baru dan mengejar ketertinggalan dari dunia Barat. Hebatnya, dengan peran dan kontribusi para guru ini, kurang dari 20-30 tahun Jepang mampu bangkit dan menjadi kekuatan ekonomi global hingga saat ini,” terang Kiai Aik.

Dalam rangkaian acara tersebut, Kiai Moh. Hidayat diminta untuk memimpin doa demi kelancaran seluruh program pendidikan pesantren. Doa yang dipanjatkan diharapkan membawa keberkahan serta mempererat hubungan sosial dan spiritual seluruh insan dan entitas pesantren.

Melalui kegiatan ini, segenap komponen pesantren menunjukkan komitmennya dalam menjaga tradisi sekaligus memperkuat nilai-nilai keagamaan dan persaudaraan dalam berkiprah di masyarakat dengan membawa nama baik pesantren.[RG]

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Tinggalkan Komentar