Info Sekolah
Sabtu, 04 Apr 2026
  • Pesantren Terpadu Al-Fattah Kuningan
  • Pesantren Terpadu Al-Fattah Kuningan
13 Maret 2026

Ramadhan; Bagaimana Bulan Suci Ini Berubah Selama Beberapa Dekade?

Jum, 13 Maret 2026 Dibaca 15x Kajian

Oleh: H. Roland Gunawan, Lc., Mudir Madrasah Diniyah Lailiyah (MDL) Al-Fattah Kuningan



Dari suara meriam yang dulu menggema di alun-alun kota mengumumkan berbuka puasa hingga peringatan di ponsel pintar yang mengumumkan waktu adzan, Ramadhan telah menempuh perjalanan panjang selama beberapa dekade. Esensi puasa sebagai salah satu rukun Islam tidak berubah, tetapi manifestasi bulan ini di rumah, jalanan, dan media telah berubah karena pergeseran sosial, teknologi, dan politik.


Dari Pengamatan Visual hingga Perhitungan Astronomi

Selama berabad-abad, pengumuman dimulainya Ramadhan hanya bergantung pada pengamatan bulan sabit (ru’yah al-hilal) dengan mata telanjang, berdasarkan hadits Nabi Saw., “Berpuasalah kalian karena melihat hilal (bulan sabit) dan berbukalah (berhari raya) karena melihatnya.”

Dengan perkembangan astronomi, beberapa negara mulai memasukkan perhitungan astronomi bersamaan dengan pengamatan tradisional.

Di negara-negara seperti Indonesia, kalender astronomi resmi yang dikeluarkan oleh Kementerian Agama digunakan, sementara negara-negara lain mengikuti verifikasi visual melalui komite keagamaan. 

Studi yang diterbitkan oleh Darul Ifta’ Mesir mendokumentasikan evolusi metode pengamatan dari observatorium tradisional hingga penggunaan teleskop dan teknologi modern.

Pergeseran ini belum menghilangkan perdebatan tahunan seputar “perbedaan penampakan bulan”, tetapi mencerminkan peralihan masyarakat dari mengandalkan pengalaman individu ke lembaga berbasis ilmiah.


Menuju Budaya Konsumtif

Seperti yang didokumentasikan dalam catatan arsip di Pusat Penelitian dan Studi Kebijakan Arab, buka puasa pada tahun 1950-an dan 60-an terdiri dari sejumlah hidangan terbatas yang disiapkan di rumah, seringkali menggunakan bahan-bahan lokal dan musiman.

Saat ini, Ramadhan di banyak negara telah berubah menjadi musim konsumsi dengan peningkatan signifikan dalam pengeluaran makanan, menurut laporan dari Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa, yang juga menunjukkan peningkatan pemborosan makanan di beberapa negara Islam selama bulan tersebut.

Terlepas dari semangat kebersamaan keluarga, tradisi makanan telah bergeser dari kesederhanaan ke variasi yang “berlebihan”, dan dari masakan rumahan ke pemesanan melalui aplikasi digital.


Dari Pendongeng ke Platform Digital

Sebelum adopsi televisi secara luas, Ramadhan adalah musim pertemuan malam tradisional dan sesi bercerita di kedai-kedai kopi. Dengan diperkenalkannya televisi ke rumah-rumah pada tahun 1960-an, lanskap hiburan Ramadhan mulai berubah.

Televisi hitam-putih di tahun 1980-an menjadi bagian dari kenangan para penonton, karena siaran terbatas pada waktu tertentu, dan keluarga akan berkumpul di sekitar satu layar.

Saat ini, platform digital telah mengubah konsep “malam Ramadhan”, karena program dapat ditonton kapan saja melalui layanan streaming sesuai permintaan. Laporan dari Uni Telekomunikasi Internasional menunjukkan bahwa penyebaran internet berkecepatan tinggi di negara-negara mayoritas Muslim telah membentuk kembali pola konsumsi media, termasuk selama Ramadhan.


Solidaritas Sosial: Konstanta Inti

Sejak awal abad ke-20, Ramadhan telah dikaitkan dengan kegiatan amal dan pemberian sedekah, dan bentuk-bentuk solidaritas telah berkembang dari inisiatif individu menjadi lembaga amal yang terorganisir.

Di beberapa negara di Timur Tengah, misalnya, organisasi amal berperan dalam menyelenggarakan kampanye buka puasa baik di dalam negeri maupun di luar negeri, sementara asosiasi lain di berbagai negara mengandalkan donasi digital dan platform online.

Terlepas dari perubahan metode, konsep “buka puasa” dan “Zakat Fitrah” tetap hadir sebagai salah satu rukun bulan Ramadhan.


Antara Nostalgia dan Realita

Diskusi tentang “Ramadhan masa lalu” seringkali diwarnai nostalgia, karena masa lalu dipandang lebih sederhana dan lebih menghangatkan hati. Namun, para peneliti sosial menunjukkan bahwa setiap generasi membentuk kembali pengalaman mereka sendiri tentang bulan Ramadhan sesuai dengan keadaan ekonomi, teknologi, dan politik mereka.

Ramadhan tidak kehilangan esensi ibadahnya, tetapi telah beradaptasi dengan dunia yang berubah: dari lentera genggam hingga penerangan listrik, dan dari ucapan di atas kertas hingga media digital.

Antara tradisi masa lalu dan notifikasi telepon masa kini, Ramadhan tetap menjadi periode waktu istimewa yang menata ulang prioritas, tidak peduli bagaimana detailnya berubah.[]

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Tinggalkan Komentar