Info Sekolah
Senin, 06 Apr 2026
  • Pesantren Terpadu Al-Fattah Kuningan
  • Pesantren Terpadu Al-Fattah Kuningan
12 Maret 2026

Pesan Nabi: Jaga Lima Perkara Sebelum Lima Perkara

Kam, 12 Maret 2026 Dibaca 25x Hikmah

Oleh: H. Roland Gunawan, Lc., Mudir Madrasah Diniyah Lailiyah (MDL) Al-Fattah Kuningan



Islam, dengan prinsip-prinsipnya yang agung dan cita-cita luhurnya, menyeru umat Muslim untuk mengabdikan hidup mereka pada amal saleh, baik dalam masa susah maupun senang, serius maupun bercanda, sehat maupun sakit. Islam mendesak mereka untuk tidak menyia-nyiakan satu momen pun, betapapun lamanya, pada hal-hal yang tidak bermanfaat. 

Dorongan untuk memanfaatkan peluang ditegaskan dalam ayat-ayat al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi Saw.. Di antara hadits-hadits shahih tersebut adalah nasihat Nabi Saw. kepada salah seorang sahabatnya. Diriwayatkan oleh Ibnu Abbas ra., bahwa beliau bersabda:


اغتنم خمسا قبل خمس: شبابك قبل هرمك، وصحتك قبل سقمك، وغناك قبل فقرك، وفراغك قبل شغلك، وحياتك قبل موتك

Jagalah lima perkara sebelum lima perkara lainnya: masa mudamu sebelum masa tuamu, sehatmu sebelum sakitmu, kayamu sebelum miskinmu, luangmu sebelum sibukmu, dan hidupmu sebelum matimu,” [H.R. al-Hakim].


Hadits ini mendorong umat Muslim untuk menghargai waktu dan memanfaatkan hari-hari hidup semaksimal mungkin ketika mampu melakukan amal saleh dengan sebaik-baiknya, berusaha melakukannya dengan sempurna, sebelum masa kuat dan masa muda berlalu, sebelum kelemahan dan kerapuhan datang, sebelum kematian datang tiba-tiba dan mengakhiri amal perbuatan.

Inilah yang diperintahkan Allah Swt. kepada Nabi-Nya yang mulia, ketika Dia berfirman:


وَٱعۡبُدۡ ‌رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأۡتِيَكَ ٱلۡيَقِينُ

Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu kepastian (kematian),” [Q.S. al-Hijr: 99].


“Kepastian” di sini merujuk pada kematian, ketika seseorang menyaksikan nasibnya di dunia ini dan semua pekerjaan serta harapan berakhir. Ibnu Katsir berkata: “Ayat ini menunjukkan bahwa obat untuk kesempitan hati adalah tasbih (pengagungan), taqdis (penyucian), tahmid (pujian), dan al-iktsar min al-shalah (banyak shalat). Ibadah, seperti shalat, wajib bagi seseorang selama pikirannya sehat, ia harus shalat sesuai dengan kondisinya.”

Hadits ini juga menunjukkan beberapa halangan yang merintangi pelaksanaan amal saleh, termasuk: usia tua, penyakit, kemiskinan, waktu luang, dan akhirnya, kematian.


Penjelasan Hadits

Nabi Muhammad Saw. bersabda, “Jagalah lima perkara sebelum lima perkara lainnya“, maksudnya: Lakukanlah lima hal sebelum terjadinya lima hal:

1 – “Masa mudamu sebelum masa tuamu,” artinya, raihlah kesempatan untuk taat kepada Allah selagi kamu mampu, sebelum usia tua menghampirimu dan kamu menyesali apa yang telah kamu abaikan dalam menjalankan kewajibanmu kepada Allah.

2 – “Sehatmu sebelum sakitmu,” artinya, raihlah kesempatan untuk melakukan amal kebaikan selagi kamu sehat, karena halangan seperti penyakit dapat menghalangimu, dan kamu akan sampai di akhirat tanpa bekal.

3 – “Kayamu sebelum miskinmu,” artinya, raihlah kesempatan untuk memberi sedekah dari kelebihan kekayaanmu sebelum musibah menimpamu yang membuatmu miskin, menjadikanmu miskin di dunia dan akhirat.

4 – “Waktu luangmu sebelum sibukmu,” artinya, raihlah kesempatan waktu luangmu di dunia ini sebelum kamu disibukkan dengan kengerian Hari Kiamat, yang tahap pertamanya adalah kubur. Raihlah kesempatan selagi kamu bisa, agar kamu terhindar dari siksaan dan penghinaan.

5 – “Hidupmu sebelum matimu,” artinya, raihlah kesempatan untuk memberi manfaat bagi dirimu sendiri setelah kematian, karena ketika seseorang meninggal, amal perbuatannya berhenti, harapannya hilang, penyesalan menghantam, dan kekhawatirannya bertambah. Maka, lakukan perbuatan baik dari dirimu sendiri untuk kebaikanmu sendiri.


Masa tua, sakit, miskin, sibuk, dan mati adalah hambatan-hambatan yang menjadi sebab ketidakmampuan alami untuk melaksanakan ibadah dan amal perbuatan. Jika salah satu dari hambatan tersebut terjadi, seseorang tidak memiliki kekuatan untuk menghilangkannya kecuali dengan kehendak Allah Swt.. Maka dari itu, kita harus mempersiapkan diri untuk keadaan yang tak terhindarkan ini. Jika seseorang lolos dari salah satunya, yang lain pasti akan menimpanya. 

Usia tua dan kematian adalah akhir dari kehidupan seseorang di dunia ini, dan kita tidak dapat mengendalikannya. Oleh karena itu, nasihat ini berfungsi sebagai pengingat untuk selalu waspada.

Di antara faktor-faktor yang mengalihkan perhatian yang disebutkan di atas adalah apa yang diriwayatkan dalam Shahih Muslim, bahwa Rasulullah Saw. bersabda:


بادروا بالأعمال ستا: طلوع الشمس من مغربها، أو الدخان، أو الدجال، أو الدابة، أو خاصة أحدكم، أو أمر العامة 

Segeralah beramal baik sebelum datangnya enam perkara [yaitu] terbitnya matahari dari barat, munculnya asap, dajjal, hewan melata, atau kematian salah seorang dari kalian, atau perkara genting yang meluas di masyarakat.”


Al-Qurthubi berkata dalam kitabnya, Kitab al-Ifham: “Bersegeralah melakukan amal saleh dan raihlah kesempatan untuk melakukannya sebelum salah satu musibah yang disebutkan di atas menghalangimu untuk melakukannya, sehingga amal tersebut hilang karena halangan, atau manfaatnya hilang karena tidak diterima … hambatan-hambatan yang menghalangi seseorang untuk melakukan amal saleh meliputi penyakit, usia tua, kemiskinan yang melemahkan, kekayaan yang berlebihan, keluarga dan anak-anak, kekhawatiran, kesulitan, cobaan, dan kesusahan, di antara hal-hal lain yang menghalangi seseorang untuk melakukan amal saleh atau menghambat amal tersebut diterima. Inilah makna yang beliau uraikan dalam hadits di atas di mana beliau berkata: ‘Jagalah lima perkara sebelum lima perkara lainnya: masa mudamu sebelum masa tuamu, sehatmu sebelum sakitmu, kayamu sebelum miskinmu, luangmu sebelum sibukmu, dan hidupmu sebelum matimu.’”

Ibnu Rajab al-Hanbali berkata: “Makna dari semua hal ini—yaitu, hambatan-hambatan ini—adalah bahwa semua itu dapat menghalangi amal saleh. Sebagian di antaranya bersifat pribadi, seperti kemiskinan, kekayaan, penyakit, usia tua, dan kematian. Sebagian lainnya bersifat umum, seperti hari kiamat dan munculnya dajjal, serta cobaan berat yang disebutkan dalam hadits lain: ‘Bersegeralah mengerjakan amal kebaikan sebelum cobaan datang seperti bercak-bercak malam yang gelap.'”

Sebagian dari hal-hal yang bersifat umum tersebut membuat amal kebaikan menjadi sia-sia, sebagaimana firman Allah Swt.:


يَوْمَ يَأْتِي بَعْضُ آيَاتِ رَبِّكَ لا يَنْفَعُ نَفْساً إِيمَانُهَا لَمْ تَكُنْ آمَنَتْ مِنْ قَبْلُ أَوْ كَسَبَتْ فِي إِيمَانِهَا خَيْراً 

Pada hari datangnya sebagian tanda-tanda Tuhanmu tidak bermanfaat lagi iman seseorang yang belum beriman sebelum itu atau (belum) berusaha berbuat kebajikan dalam masa imannya itu,” [Q.S. al-An’am: 158].


Dalam kitab Shahih al-Bukhari dan Muslim, diriwayatkan dari Abu Hurairah ra., bahwa Nabi Saw. bersabda:


لا تقومُ السَّاعةُ حتّى تطلع الشمسُ من مغربها، فإذا طلعت ورآها الناس، آمنوا أجمعون، فذلك حينَ لا ينفع نفساً إيمانُها لم تكن آمنت من قبل أو كسبت في إيمانها خيراً

Tidak akan terjadi Kiamat sampailah terbitnya matahari dari arah barat. Maka jika telah terbit demikian dan disaksikan oleh manusia, maka berimanlah mereka. Itulah ketika ‘tidak bermanfaat lagi iman seseorang yang belum beriman sebelum itu atau [belum] berusaha berbuat kebajikan dalam masa imannya itu.'”


Dalam Shahih Muslim, diriwayatkan bahwa Nabi Saw. bersabda: 


ثلاثٌ إذا خرجنَ، لم ينفع نفساً إيمانُها لم تَكُن آمنت من قبل، أو كسبت في إيمانها خيراً: طلوعُ الشمس من مغربها، والدجالُ، ودابةُ الأرض

Tiga hal, ketika muncul, tidak bermanfaat lagi iman seseorang yang belum beriman sebelum itu atau [belum] berusaha berbuat kebajikan dalam masa imannya itu: terbitnya matahari dari barat, dajjal, dan binatang melata.”


Juga dalam Shahih Muslim, diriwayatkan bahwa Nabi Saw. bersabda:


مَنْ تابَ قبل أنْ تَطلُعَ الشمسُ من مغربها تابَ الله عليه

Barangsiapa bertaubat sebelum matahari terbit dari barat, niscaya Allah menerima taubatnya.”


Oleh karena itu, wajib bagi orang beriman untuk segera melakukan amal saleh sebelum ia tidak mampu melakukannya dan terhalang untuk melakukannya, baik karena sakit atau mati, atau karena terjadinya tanda-tanda tersebut yang setelahnya tidak ada amal yang akan diterima. Abu Hazim berkata: “Barang dagangan akhirat sangat langka dan akan segera habis, sehingga tidak ada yang dapat memperolehnya, tidak sedikit dan tidak banyak.”

Dan ketika seseorang terhalang untuk bekerja, yang tersisa baginya hanyalah penyesalan dan kesedihan. Ia ingin kembali ke keadaan di mana ia dapat bekerja, tetapi keinginannya tidak ada gunanya.


Pendapat Para Ulama

Para ulama memberikan pendapat dan komentar mengenai hadits ini, di antaranya sebagai berikut:


Ghanim ibn Qays berkata: “Pada masa awal Islam, kami saling menasihati: ‘Wahai anak Adam, bekerjalah di waktu luangmu sebelum sibukmu, di masa mudamu untuk masa tuamu, di masa sehatmu untuk masa sakitmu, di duniamu untuk akhiratmu, dan di kehidupanmu untuk kematianmu.’”

Al-Ghazali berkata: “Dunia ini adalah salah satu pemberhentian di antara banyak pemberhentian orang-orang yang melakukan perjalanan menuju Allah Swt., dan tubuh adalah kendaraannya. Siapa pun yang mengabaikan pengelolaan pemberhentian dan kendaraannya tidak akan menyelesaikan perjalanannya. Kecuali urusan penghidupan di dunia ini diatur dengan baik, jalan pengabdian dan penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah, yang merupakan perjalanan spiritual, tidak akan sempurna.”

Bakr al-Muzanni berkata: “Tidak ada hari yang Allah ciptakan di dunia ini kecuali hari itu berkata: ‘Wahai anak Adam, raihlah aku! Karena mungkin tidak akan ada lagi hari bagimu setelahku,’ dan tidak ada malam kecuali ia berseru: ‘Wahai anak Adam, raihlah aku! Karena mungkin tidak akan ada lagi malam bagimu setelahku.”[]

Artikel Lainnya

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Tinggalkan Komentar