Oleh: Dr. K.H. Aik Iksan Anshori, Lc., M.A.Hum., Dewan Pengasuh Pondok Pesantren Terpadu Al-Fattah Kuningan
Bulan Ramadhan dikenang oleh umat Muslim sebagai bulan ibadah, penyucian spiritual, dan kembali dengan tulus kepada Allah Swt.. Bulan ini melambangkan kembalinya umat Muslim kepada iman mereka, melakukan ibadah dan pengabdian, serta membaca dan merenungkan Kitab Allah, al-Qur’an.
Namun, merenungkan sejarah Ramadhan, yang penuh dengan kemenangan, upaya yang berdedikasi, dan kerja keras tanpa lelah dalam berbagai hal yang menjadi perhatian umat Muslim—agama, politik, ekonomi, dan bahkan penaklukan—dapat melampaui makna ibadah individu untuk mencakup cakupan yang lebih luas tentang tindakan, perjuangan, dan perkembangan peradaban.
Sepanjang sejarah, bulan yang diberkahi ini telah mewujudkan bagi umat Muslim makna kesabaran dan keteguhan, dan telah menunjukkan tekad dan iman yang telah membawa transformasi besar dalam perjalanan bangsa Islam.
Ramadhan tidak pernah menjadi bulan kemalasan, tidur, atau kepasifan (ketidakaktifan). Sebaliknya, pada banyak titik dalam sejarah, bulan ini telah menjadi bulan tindakan yang menentukan, kemenangan, dan pembentukan kembali lanskap politik, militer, dan peradaban umat Muslim.
Dalam tinjauan singkat ini, kita meninjau halaman-halaman gemilang ini bukan hanya untuk mendorong kebangkitan masa lalu kita yang gemilang, tetapi juga untuk meneliti prinsip-prinsip kemenangan, menghubungkan ibadah lisan dengan tindakan, dan iman yang tulus dengan perbuatan, dengan mengingat momen-momen penting dalam sejarah umat Muslim.
Dengan dimulainya puasa sebagai kewajiban, Ramadhan pertama yang diwajibkan bagi umat Muslim menyaksikan perang pertama dan paling signifikan dalam sejarah Islam: Perang Badar.
Meskipun terdapat perbedaan besar dalam jumlah, perlengkapan, dan sumber daya antara umat Muslim dan kaum musyrik, umat Muslim berpegang teguh pada “tali” Allah dalam doa setelah mengerahkan segala upaya dan melakukan berbagai langkah yang diperlukan, dan Allah menganugerahkan mereka dukungan dan kemenangan. Kemenangan ini mengungkapkan kekuatan sejati umat Muslim pada tahap awal pendirian negara mereka, negara Islam.
Salah satu hasil terpenting dari perang Badar adalah bahwa umat Muslim memperluas wilayah kekuasaan mereka secara geografis dan menguasai sebagian besar wilayah antara Makkah dan Madinah, yang merupakan daerah persinggahan bagi kafilah Quraisy, sehingga menyulitkan kaum Quraisy untuk menggerakkan kafilah mereka dengan aman dan nyaman.
Ekspansi ini membawa keuntungan bagi dakwah Islam yang baru lahir dan negara Islam yang mulai terbentuk dan didirikan di Madinah. Lebih jauh lagi, reputasi Quraisy sebagai suku yang kuat dan titik acuan bagi suku-suku Arab sudah sangat rusak, dan orang-orang Arab mulai menyadari bahwa kekuatan lain sedang muncul—kekuatan umat Muslim, yang telah diusir oleh kaum Quraisy ke Yatsrib (Madinah).
Pada bulan Ramadhan tahun kedelapan Hijriyah, Nabi Muhammad Saw. menaklukkan Makkah (Fathu Makkah) setelah kaum Quraisy melanggar Perjanjian Hudaibiyah. Sepuluh ribu pasukan Muslim meninggalkan Madinah menuju Makkah, yang langsung dipimpin oleh Nabi Muhammad Saw..
Ketika penduduk Makkah menyadari bahwa mereka tidak mampu menghadapi Nabi Muhammad Saw. dan pasukannya, mereka menyatakan penyerahan diri kepada perlindungan beliau.
Nabi Saw. memasuki Makkah dengan penuh kerendahan hati, janggutnya hampir menyentuh punggung tunggangannya. Kemudian beliau memasuki Masjidil Haram bersama para sahabatnya, mendekati Hajar Aswad dan menciumnya.
Pada saat itu, terdapat 360 berhala di sekitar Ka’bah. Beliau mulai menusuk berhala-berhala itu dengan busur di tangannya, menghancurkannya sambil melafalkan firman Allah Swt.: “Katakanlah, “Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap.” Sesungguhnya yang batil itu pasti lenyap,’” [Q.S. al-Isra: 81] dan firman-Nya: “Katakanlah, ‘Kebenaran telah datang dan yang batil itu tidak akan memulai dan tidak [pula] akan mengulangi,’” [Q.S. Saba: 49].
Penaklukan ini merupakan puncak dari kesabaran bertahun-tahun yang dialami para sahabat Nabi Saw., yang telah diusir dari rumah mereka, harta benda mereka dirampas, dan rumah serta tanah mereka disita. Penaklukan ini juga merupakan penerapan praktis dari penaklukan rahmat dan kebangkitan jiwa ketika Nabi Muhammad Saw. bersabda kepada mereka: “Pergilah, karena kalian bebas.”
Penaklukan ini juga menandai transisi Islam dan dakwahnya dari fase defensif ke fase pembangunan negara, melalui pendekatan kenabian yang luar biasa yang dimulai oleh Nabi Saw., dengan memenangkan hati sebelum menaklukkan kota-kota, benteng-benteng, dan kubu-kubu kuat.
Pada bulan Ramadhan tahun 92 Hijriyah, pasukan Muslim di bawah komando Thariq bin Ziyad menaklukkan Andalusia. Perang yang menentukan dimulai pada tanggal 28 Ramadhan, dan umat Muslim bertempur sengit selama enam hari.
Meskipun jumlah mereka sedikit dan sumber daya mereka terbatas, Allah menganugerahkan kemenangan kepada mereka. Ini menandai awal era Islam di Andalusia, yang menyaksikan salah satu peradaban Islam terbesar, atau bahkan peradaban mana pun, dalam sejarah. Pemerintahan Islam di Andalusia berlangsung selama kurang lebih delapan abad.
Pada bulan Ramadhan tahun 658 H, Perang Ain Jalut dimulai antara pasukan Muslim yang dipimpin oleh Qutuz dan pasukan Mongol. Pertempuran dimulai dengan keunggulan yang diraih oleh pasukan Mongol, tetapi keunggulan ini dengan cepat berubah menjadi kekalahan setelah pasukan Muslim, yang dipimpin oleh komandan Qutuz, bertahan dengan gigih. Pasukan Mongol goyah, moral mereka runtuh, dan mereka melarikan diri setelah melihat komandan mereka terbunuh. Pasukan Mongol menderita kekalahan telak.
Pertempuran ini merupakan salah satu pertempuran paling penting dan menentukan dalam sejarah Islam, karena merupakan pertempuran pertama di mana bangsa Mongol mengalami kekalahan telak yang menghentikan ekspansi dan kesombongan mereka, serta menyelamatkan wilayah Muslim yang tersisa di Syam dan Asia Barat dari invasi Mongol. Pertempuran ini menandai awal penyatuan dunia Islam di bawah panji negara Mamluk, dan berlanjut dengan cara ini selama lebih dari 270 tahun.
Pada tanggal 10 Ramadhan tahun 1393 Hijriyah, pasukan Mesir berhasil menyeberangi Terusan Suez, yang dianggap sebagai penghalang air paling tangguh di dunia, dan menembus tanggul tanah terbesar yang dikenal sebagai Garis Bar Lev, sebuah gunung pasir dan tanah yang membentang sekitar 160 kilometer.
Dengan demikian, Mesir mampu merebut kembali Terusan Suez, dan kemenangan ini dianggap sebagai salah satu kemenangan terbesar bagi bangsa Arab dan Muslim di zaman modern melawan Israel, sebuah kemenangan yang membawa penghiburan bagi hati orang-orang beriman.
Hal ini tidak akan mungkin terjadi tanpa keyakinan orang-orang beriman bahwa Ramadhan adalah bulan untuk beraksi, berjuang, dan berkorban, sebuah prinsip yang telah mereka jalani sejak zaman Nabi Saw., yang menghabiskan sebagian besar waktunya di masjid, melayani kebutuhan orang-orang, menjawab pertanyaan mereka, dan menengahi perselisihan antara pihak-pihak yang berselisih.
Siapa pun yang merenungkan kemenangan-kemenangan yang diraih selama Ramadhan akan menyadari sebuah kebenaran penting: kekuatan umat Muslim tidak pernah bergantung pada jumlah atau peralatan, melainkan pada ketulusan iman, persatuan, persiapan yang matang, keteguhan dalam menghadapi kesulitan, dan pengabdian kepada Allah, baik sebelum maupun sesudah Ramadhan.
Ramadhan menyediakan lingkungan spiritual yang menciptakan manusia yang mampu mengubah tantangan menjadi peluang dan kekalahan yang diantisipasi menjadi kemenangan menentukan dan gemilang.
Mengambil inspirasi dari pelajaran-pelajaran ini hari ini seharusnya menjadi sumber cahaya, bimbingan, dan wawasan bagi generasi Muslim kontemporer, memungkinkan mereka untuk membangun kembali kesadaran mereka dan memahami besarnya tanggungjawab mereka terhadap bangsa dan tanah air mereka.
Bulan yang diberkahi ini seharusnya menjadi sumber iman, pembaharuan, dan tekad yang diperbarui, mendorong mereka untuk meneladani para pendahulu yang saleh m, menerapkan teladan mulia mereka dan cara hidup Ramadhan pada kehidupan kita sendiri. Semoga Ramadhan kembali ke kejayaannya sebagai bulan ibadah, kemenangan, dan perubahan transformatif bagi umat Muslim.[]
Tinggalkan Komentar