Info Sekolah
Kamis, 16 Apr 2026
  • Pesantren Terpadu Al-Fattah Kuningan
  • Pesantren Terpadu Al-Fattah Kuningan
16 Februari 2026

Pelajaran dari Isra’ dan Mi’raj dalam Perspektif Maqashid

Sen, 16 Februari 2026 Dibaca 43x Kajian

Oleh: Dr. K.H. Aik Iksan Anshori, Lc., M.A.Hum., Dewan Pengasuh Pondok Pesantren Terpadu Al-Fattah Kuningan



Pada malam di mana cahaya Ilahi menerangi kegelapan, Nabi Muhammad Saw. dibawa dalam perjalanan ajaib dari Masjidil Haram di Makkah ke Masjidil Aqsha di Yerusalem, dan kemudian naik ke langit tertinggi, dalam perjalanan rabbani (rihlah rabbaniyyah) yang menggabungkan penghormatan ilahi (al-takrim al-ilahiy) dengan bimbingan kenabian (al-tarbiyah al-nabawiyyah).

Perjalanan ini tidak boleh hanya dilihat melalui lensa sejarah, tetapi juga perlu direnungkan dengan lensa maqashid (tujuan-tujuan universal), yang darinya dapat digali prinsip-prinsip penyucian spiritual (sunan al-tazkiyah), tingkatan-tingkatan pendakian spiritual (maqamat al-‘uruj), dan rahasia-rahasia retorika rabbani (asrar al-balaghah al-rabbaniyyah). Allah Swt. berfirman: 


سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ

Mahasuci [Allah] yang telah memperjalankan hamba-Nya (Nabi Muhammad) pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda [kebesaran] Kami,” [Q.S. al-Isra’: 1].


Penyucian (tanzih) Allah Swt. membuka peristiwa ini, dan pemuliaan (tasyrif) Nabi Saw. adalah tujuannya. Dalam peringatan ini, makna pelatihan spiritual (al-riyadhah al-ruhiyyah) diungkapkan di dalam jiwa, pancaran kebenaran dinyalakan di dalam hati, dan peta petunjuk digambarkan dalam pikiran.


Masjidil Aqsha dan Tujuan Persatuan Peradaban

Masjidil Aqsha bukan sekadar tempat, tetapi simbol persatuan risalah ilahi, pusat bimbingan ilahi, dan kunci untuk memahami sejarah iman. Di bawah kepemimpinan Nabi Muhammad Saw. bersama para nabi di sana, persatuan monoteisme (tauhid) terwujud, kenabian dikukuhkan, dan masa lalu, masa kini, dan masa depan dihubungkan. Allah Swt. berfirman: “Yang telah Kami berkahi sekelilingnya,” [Q.S. al-Isra: 1]. Berkah yang dimaksud di sini meliputi risalah dan menunjukkan kesucian tempat tersebut.

Dalam kesadaran komunitas Muslim, Masjidil Aqsha bukan sekadar penanda sejarah, tetapi sebuah tonggak peradaban dan tujuan ziarah. Oleh karena itu, mendukungnya bukan hanya masalah emosional, tetapi juga kewajiban ilmiah, moral, dan praktis. Allah Swt. berfirman:


وَنَجَّيْنٰهُ وَلُوْطًا اِلَى الْاَرْضِ الَّتِيْ بٰرَكْناَ فِيْهَا لِلْعٰلَمِيْنَ

Kami menyelamatkannya (Ibrahim) dan Luth ke tanah (Syam) yang telah Kami berkahi untuk seluruh alam,” [Q.S. al-Anbiya: 71].


Pembelahan Dada dan Tujuan Penyucian 

Pembelahan dada Nabi Muhammad Saw. dan pembersihan hatinya sebelum Isra’ dan Mi’raj bukan sekadar peristiwa fisik, tetapi simbol yang kuat dan tujuan pendidikan yang mendalam.

Sebagaimana hati dapat dipenuhi dengan iman dan kebijaksanaan, seorang mukmin tidak dapat mencapai tingkatan kesempurnaan kecuali jika ia menyucikan jiwanya. Allah Swt. berfirman: 


قَدْ اَفْلَحَ مَنْ زَكّٰىهَاۖ

Sungguh beruntung orang yang menyucikannya (jiwa itu),” [Q.S. al-Syams: 9].


Penyucian bukanlah kemewahan spiritual, tetapi prasyarat untuk mencapai pendakian spiritual (al-‘uruj al-ruhiy). Ini adalah prinsip mendasar: kebaikan batin adalah syarat untuk menggapai otoritas spiritual, dan kesucian hati adalah gerbang menuju pencerahan spiritual. Dalam skenario ini, edukasi spiritual harus diwujudkan sebelum taklif (pembebanan kewajiban agama) dan persiapan harus dilakukan sebelum tasyrif (pemuliaan); karena pendakian ke langit dimulai dengan penyucian bumi (tazkiyah al-ardh) di dalam hati.


Pertemuan Para Nabi dan Tujuan Kesatuan Risalah

Dalam pertemuan Nabi Muhammad Saw. dengan para nabi di langit, dan salam mereka kepadanya dengan ucapan, “مرحبا بالأخ الصالح” (Selamat datang, saudara yang saleh), tampak persaudaraan kenabian (ukhuwwah al-nubuwwah), kesatuan tujuan (wahdah al-maqshad), dan rantai reformasi/pembaharuan (silsilah al-ishlah) yang berlangsung sepanjang masa. Allah Swt berfirman: 


اِنَّ هٰذِهٖٓ اُمَّتُكُمْ اُمَّةً وَّاحِدَةًۖ

Sesungguhnya ini (agama tauhid) adalah agamamu, agama yang satu,” [Q.S. al-Anbiya: 92].


Para reformis/pembaharu (al-mushlihun) bukanlah individu-individu yang terpisah-pisah, melainkan mata rantai dalam rangkaian tauhid.

Belajar dari para pendahulu adalah prinsip metodologis, dan mengikuti teladan mereka sangat penting dalam membangun proyek reformasi dan pembaharuan; karena wahyu tidak pernah berhenti meskipun zaman berubah, dan tujuannya tetap sama meskipun lingkungan beragam. Allah Swt. berfirman:


وَمَآ اَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَّسُوْلٍ اِلَّا نُوْحِيْٓ اِلَيْهِ

Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum engkau (Nabi Muhammad), melainkan Kami mewahyukan kepadanya,” [Q.S. al-Anbiya’: 25].


Pengurangan Jumlah Shalat dan Tujuan Kemudahan

Meninjau kembali jumlah shalat dari lima puluh menjadi lima dengan pahala lima puluh, fikih kemudahan (fiqh al-taysir) tampak dengan sangat jelas, berdasarkan pemahaman terhadap kemampuan umat Nabi Saw.. Allah Swt. berfirman:


يُرِيْدُ اللّٰهُ بِكُمُ الْيُسْرَ

Allah menghendaki kemudahan bagimu,” [Q.S. al-Baqarah: 185].


Kemudahan (al-taysir) bukanlah konsesi, melainkan rahmat yang dikehendaki dan tujuan hukum yang telah ditetapkan dengan begitu tegas.

Musa as. memberi nasihat, Nabi Saw. menerima nasihat itu, dan Allah Swt. memberi keringanan, sehingga rahmat syariat dapat terwujud dan dapat dibuktikan bahwa kesulitan bukanlah tujuan akhir, tetapi sarana edukasi spiritual (al-tarbiyah al-ruhiyyah). Allah Swt. berfirman:


وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِى الدِّيْنِ مِنْ حَرَجٍۗ

Dia telah memilih kamu dan tidak menjadikan kesulitan untukmu dalam agama,” [Q.S. al-Hajj: 78].


Kewajiban Shalat dan Pendakian Jiwa

Shalat ditetapkan di langit, bukan di bumi, sebagai penghubung surgawi dan pendakian spiritual harian (al-‘uruj al-yawmiy) bagi orang beriman, yang dengan itu ia dapat naik ke maqam dzikir (mengingat Allah). Allah Swt. berfirman:


وَاَقِمِ الصَّلٰوةَ لِذِكْرِيْ

Dan dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku,” [Q.S. Thaha: 14].


Shalat bukan hanya sekadar ibadah; ia adalah tingkatan spiritual, sumber kedamaian batin, dan kenikmatan bagi orang yang ikhlas. Ia adalah pilar agama, dasar dari segala urusan, kunci keselamatan, dan tempat suci pendakian spiritual. Nabi Muhammad Saw. bersabda, “Dasar dari segala urusan adalah Islam, dan pilarnya adalah shalat.” Jadi bagaimana mungkin seseorang yang menginginkan kedekatan dengan Allah mengabaikannya?


Peristiwa Isra’ dan Mi’raj dan Tujuan Pertolongan Setelah Kesulitan

Terjadinya Isra’ dan Mi’raj setelah ‘Am al-Huzn (Tahun Duka Cita), dan sebelum Hijrah, menyoroti pola pertolongan (al-farj) setelah cobaan (al-ibtila’), dan bahwa rahmat ilahi datang pada waktu yang telah ditentukan, bukan menurut keinginan manusiawi seorang hamba. Allah Swt. berfirman:


فَإِنَّ مَعَ ٱلْعُسْرِ يُسْرًا

Sesungguhnya bersama kesulitan akan ada kemudahan,” [Q.S. al-Syarh: 5].


Sebagaimana cobaan dan kesulitan bertambah basar, demikian pula kemuliaan yang diterima, agar orang beriman mengetahui bahwa keteguhan dan ketabahan dalam menghadapi kesulitan akan memberikan kekuatan dalam menerima berkah dan kemudahan. Cobaan bukanlah akhir, melainkan awal kemenangan dan pendahuluan rahmat.


Sidratul Muntaha dan Tujuan Penghormatan dan Identitas

Kedatangan Nabi Saw. di Sidratul Muntaha, dan di sana beliau mendengar bunyi goresan pena (sima’ sharif al-aqlam), adalah puncak penghormatan (dzarwah al-takrim) kepada beliau, suatu kedudukan yang tidak akan pernah dicapai kecuali oleh manusia yang hatinya bersih, perilakunya jujur, dan telah mencapai puncak akhir kedekatan dengan Allah Swt.. Allah berfirman:


عِنْدَ سِدْرَةِ الْمُنْتَهٰى. عِنْدَهَا جَنَّةُ الْمَأْوٰىۗ

[Yaitu ketika] di Sidratul Muntaha, di dekatnya ada surga tempat tinggal,” [Q.S. al-Najm: 14-15].


Memahami makna ini dapat menanamkan kekuatan (al-‘izzah) di dalam hati, keteguhan (al-tsabat) di dalam jiwa, dan ketulusan (al-shidq) dalam perbuatan. Allah Swt. berfirman:





وَلِلّٰهِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُوْلِهٖ وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ

Padahal kekuatan itu hanyalah milik Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang mukmin,” [Q.S. al-Munafiqun: 8].


Al-‘izzah (kekuatan) bukanlah sekadar slogan, melainkan kedudukan yang diperoleh dengan mengikuti risalah Nabi Saw..


Keyakinan Abu Bakr al-Shiddiq dan Tujuan Ketundukan

Ketika kaum Quraisy mengingkari kisah Isra’ dan Mi’raj Nabi Saw., Abu Bakr ra. percaya tanpa ragu-ragu, sehingga mendapatkan gelar “al-Shiddiq” (Yang percaya). Diberi gelar demikian karena dia tunduk, yakin, dan percaya kepada wahyu, dan tidak pernah membandingkan antara sesuatu yang gaib dengan sesuatu yang dapat dijangkau oleh indera. Allah Swt. berfirman:


الَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِالْغَيْبِ

Orang-orang yang beriman kepada yang gaib,” [Q.S. al-Baqarah: 3].


Kaidah ini mengajarkan kita bahwa makna sejati diberikan kepada sedikit orang yang sungguh-sungguh berusaha untuk mendapatkannya, di saat-saat kritis, bukan di saat-saat mudah.


Pedoman Membaca dan Tujuan Pelestarian Wahyu

Dalam tinjauan maqashid, membaca ayat-ayat wahyu berarti kita harus membedakan antara tafsir realistis-historis dan tafsir simbolis yang menafikan realitas peristiwa yang melatari turunnya ayat-ayat al-Qur’an. Allah Swt. berfirman:


اِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَاِنَّا لَهٗ لَحٰفِظُوْنَ

Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan al-Qur’an dan pasti Kami [pula] yang memeliharanya,” [Q.S. al-Hijr: 9].


Ilmu adalah timbangannya, ketelitian adalah metodologinya, keseimbangan adalah jalan untuk menjaga makna-maknanya. Tujuannya adalah untuk melindungi teks-teks wahyu dari distorsi dan menjaga makna-maknanya dari penyimpangan.


Peningkatan Nilai-nilai dan Tujuan Kesaksian Peradaban

Tujuan kesaksian peradaban mengharuskan seorang mukmin untuk melakukan “pendakian” (peningkatan) di setiap bidang. Pendakian spiritual (al-‘uruj al-ruhiy) di tempat-tempat ibadah harus diimbangi dengan kemajuan ilmiah dan intelektual (al-taqaddum al-ilmiy wa al-ma’rafiy) serta pembangunan bumi (‘imarah al-ardh). Allah Swt. berfirman:


وَكَذٰلِكَ جَعَلْنٰكُمْ اُمَّةً وَّسَطًا لِّتَكُوْنُوْا شُهَدَاۤءَ عَلَى النَّاسِ

Demikian pula Kami telah menjadikan kamu (umat Muslim) umat pertengahan (moderat) agar kamu menjadi saksi atas [perbuatan] manusia,” [Q.S. al-Baqarah: 143].


Isra’ dan Mi’raj dengan demikian menguraikan koordinat kerja peradaban: hubungan dengan Sang Pencipta untuk memperoleh nilai-nilai, dan pengelolaan bumi dengan menjadi khalifah dan saksi bagi seluruh perbuatan umat manusia.

Perjalanan kenabian ini mengarah pada program praktis yang berorientasi menerjemahkan makna ke dalam kerja. Kerja pertama adalah shalat, baik dalam pengetahuan maupun praktik, karena shalat adalah pendakian harian (al-‘uruj al-yawmiy) seorang mukmin. Selanjutnya adalah penyucian hati (tazkiyah al-qalb), yang merupakan prasyarat untuk pendakian spiritual (al-‘uruj). 

Selain itu ada etika menerima (adab al-talaqqiy) bimbingan dari para nabi dan tokoh-tokoh reformasi terkemuka. Berikutnya ada penerapan fikih kemudahan (fiqh al-taysir) pada realitas dengan kasih sayang dan kesadaran akan tujuan-tujuan universal syariat (maqashid al-syari’ah).

Akhirnya, ada sentralitas kemanusiaan dalam kesadaran keagamaan dan peradaban, dan diperlukan dukungan terhadapnya melalui ilmu pengetahuan, moralitas, dan tindakan praktis. Allah Swt. berfirman:


وَالَّذِيْنَ جَاهَدُوْا فِيْنَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَاۗ وَاِنَّ اللّٰهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِيْنَࣖ

Orang-orang yang berusaha dengan sungguh-sungguh untuk [mencari keridhaan] Kami benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Sesungguhnya Allah benar-benar bersama orang-orang yang berbuat kebaikan,” [Q.S. al-Ankabut: 69].


Nabi Muhammad Saw. adalah tokoh reformasi yang menyadari betul posisinya sebagai rahmat bagi seluruh alam, rahmatan li al-‘alamin. Karenanya, ketika beliau dibawa melalui sebuah perjalanan spiritual ke langit tertinggi dan menginjakkan kakinya di surga, beliau tidak tergiur untuk tetap tinggal nyaman di sana.

Setelah mendapatkan pencerahan spiritual melalui perjumpaannya dengan para nabi sebelumnya, kemudian puncaknya dengan Allah Swt. dan mendapatkan kunci pembuka gerbang pendakian spiritual berupa shalat, beliau kembali ke bumi untuk melaksanakan amanah yang diembannya untuk menyempurnakan akhlak manusia (tatmin makarim akhlaq al-nas) dan memakmurkan bumi (‘imarah al-ardh).


Menuju Peningkatan Peradaban Baru

Dalam Isra’ dan Mi’raj, prinsip-prinsip edukasi (sunan al-tarbiyah), tingkatan-tingkatan penyucian (maqamat al-tazkiyah), dan rahasia-rahasia pemberdayaan (asrar al-tamkin) bertemu. Sebagaimana dinyatakan oleh Imam Ibnu Asyur dalam karyanya, Maqashid al-Syari’ah al-Islamiyyah, bahwa tujuan syariat adalah “untuk menjaga ketertiban umat dan memastikan kesejahteraannya yang berkelanjutan melalui reformasi manusia”.

Kekuatan spiritual (al-‘izzah al-ruhiyyah) adalah hak manusia yang diperoleh melalui iman dan moralitas. Orang beriman yang melakukan pendakian spiritual dengan shalat juga harus melakukan pendakian dengan kesadarannya untuk berada di garis terdepan seluruh umat. Allah Swt. berfirman:


وَلَا تَهِنُوْا وَلَا تَحْزَنُوْا وَاَنْتُمُ الْاَعْلَوْنَ اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَ

Janganlah kamu [merasa] lemah dan jangan [pula] bersedih hati, padahal kamu paling tinggi [derajatnya] jika kamu orang-orang beriman,” [Q.S. Ali Imran: 139].


Kesimpulan

1 – Isra’ dan Mi’raj merupakan simbol dari habl min al-nas (hubungan horizontal) dan habl minallah(hubungan vertikal) dan merupakan inti risalah global melintasi sekat budaya dan suku.

2 – Mi’raj menjadi penanda bahwa Nabi Muhammad Saw. adalah meta human/Insan Kamil yang diberi kemampuan melintasi dimensi Alam Mulk fisik menuju Alam Malakut ruh, Alam jabarut akal hingga Sidratul Muntaha.

3 – Yang menjadikan beliau istimewa adalah keteguhan dan tanggungjawabnya memegang amanah kemanusiaan sebagai khalifah untuk memakmurkan bumi. Meski sudah mencapai surga, beliau tidak tergiur untuk menetap di sana. Beliau tetap kembali ke bumi untuk menyelesaikan misi kenabian dan kerasulannya.[]



*) Disampaikan dalam acara KPI Goes to Sambang Pesantren “Mengukir Kebaikan, Menggapai Keberkahan”, di Pondok Pesantren Miftahul Falah, Ciloa, Kramatmulya, Kuningan, Jum’at, 30 Januari 2026

Artikel Lainnya

Oleh : Roland Gunawan

Surah Yasin

Oleh : Roland Gunawan

Pesantren dan Santri

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Tinggalkan Komentar