Oleh: H. Roland Gunawan, Lc., Mudir Madrasah Diniyah Lailiyah (MDL) Al-Fattah Kuningan
Seperti biasa, saya mendengarkan bacaan suatu surat al-Qur’an, dan saya menemukan banyak keagungan dan hikmah di dalamnya, seperti surat-surat lainnya. Tetapi ada satu ayat yang menarik perhatian saya,
ولقد آتينا لقمان الحكمة أن اشكر لله ومن يشكر فإنما يشكر لنفسه ومن كفر فإن الله غني حميد
“Dan sungguh, telah Kami berikan hikmah kepada Luqman, yaitu, ‘Bersyukurlah kepada Allah! Dan barang siapa bersyukur [kepada Allah], maka sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barang siapa tidak bersyukur (kufur), maka sesungguhnya Allah Mahakaya, Maha Terpuji,” [Q.S. Luqman: 12].
Yang pertama kali menarik perhatian saya adalah kata “hikmah” (kebijaksanaan), karena ini adalah kualitas yang didambakan oleh semua orang beriman. Dan ini berasal dari kecenderungan saya untuk merenungkan asal-usul segala sesuatu. Saya juga merasa kata “hikmah” sulit dipahami, dan banyak orang merasakan hal yang sama, sampai saya pasrah pada gagasan bahwa saya akan memahaminya setelah mencapai tingkat “kedewasaan” tertentu. Luqman al-Hakim adalah salah satu tokoh yang mempesona saya karena hubungannya dengan hikmah yang disebut di dalam al-Qur’an.
Kembali ke alasan mengapa ayat ini memikat saya, alasan kedua adalah hubungannya dengan rasa syukur. Karena saya tidak berani menafsirkan ayat itu sendiri atau menawarkan penalaran saya sendiri, saya mencari maknanya.
Tafsir kata “hikmah” berasal dari pernyataan Imam Mujahid mengenai ayat, “Dan sungguh, Kami telah memberikan hikmah kepada Luqman.” Ia berkata: [Hikmah] adalah pemahaman yang mendalam, penilaian yang tepat, dan ucapan yang akurat, tetapi tanpa kenabian. Makna “tanpa kenabian” berarti bahwa ia bukanlah seorang nabi yang menerima wahyu, melainkan seorang hamba yang bijaksana dengan pemahaman yang mendalam dan pikiran yang tajam.”
Inilah definisi hikmah di dalam ayat tersebut. Adapun tafsir abstraknya, akar kata (ح ك م) menunjukkan pencegahan, dan disebut hikmah karena mencegah kebodohan dan keburukan moral. Dan di dalam kitab Lisan al-Arab, hikmah didefinisikan sebagai “mengetahui hal-hal terbaik melalui ilmu-ilmu terbaik”.
Ibn Katsir berkata: “Hikmah adalah pemahaman, pengetahuan, dan pengungkapan kebenaran.” Dan mengenai ayat: (Dia (Allah) menganugerahkan hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki. Siapa yang dianugerahi hikmah, sungguh ia telah dianugerahi kebaikan yang banyak), ia berkata, berdasarkan riwayat Ali bin Abi Thalhah dari Ibnu Abbas: “Itu berarti pengetahuan tentang al-Qur’an, nasikh dan mansukh-nya, muhkamah dan mutasyabih-nya, ayat-ayatnya yang terdahulu dan yang kemudian, hal-hal yang dihalalkan dan yang diharamkan, dan perumpamaan-perumpamaannya.”
Mengenai hubungan rinci antara hikmah dan syukur dalam ayat tersebut, hikmah membutuhkan rasa syukur, dan rasa syukur menyempurnakan hikmah. Manfaat rasa syukur kembali kepada orang yang bersyukur, karena Allah tidak bergantung pada ciptaan-Nya, dan rasa syukur tidak menambah kekuasaan-Nya, demikian pula kekufuran (ketidakbersyukuran) tidak mengurangi kekuasaan-Nya. Namun, orang yang bersyukur berhak mendapatkan pahala, dan orang yang tidak bersyukur berhak mendapatkan hukuman. Inilah esensi dari hikmah.
Mengikuti contoh Luqman al-Hakim, rasa syukur kepada Allah adalah jalan menuju hikmah di dunia dan akhirat. Hikmah adalah kekuatan pendorong, dan rasa syukur adalah responsnya. Hikmah adalah akal budi yang memahami nikmat, dan rasa syukur adalah lidah dan anggota tubuh yang mengakuinya. Seseorang tidak bisa menjadi bijak tanpa bersyukur atas nikmat Allah.
Kesimpulannya, hal pertama yang patut kita syukuri kepada Allah adalah Kitab-Nya, yang Dia wahyukan sebagai petunjuk, cahaya, dan peringatan. Kita memohon kepada-Nya cahaya pemahaman dan hikmah.[]
Tinggalkan Komentar