Oleh: H. Roland Gunawan, Lc., Mudir Madrasah Diniyah Lailiyah (MDL) Al-Fattah Kuningan
Tidak diragukan lagi, investasi terpenting yang dilakukan orangtua adalah pada pendidikan anak-anak mereka, memberi mereka setiap kesempatan untuk berkembang dan tumbuh hingga mencapai potensi penuh mereka dan menunjukkan kemampuan individu mereka.
Banyak orangtua tidak ragu untuk mengeluarkan uang demi memberikan anak-anak mereka kesempatan nyata untuk belajar dan berkembang dengan mendaftarkan mereka di sekolah swasta terkemuka, di antaranya sekolah internasional, dengan tingkat kepercayaan yang tinggi dan reputasi yang sangat baik, berada di garis depan.
Sekolah-sekolah ini sering menjadi pilihan pertama ketika sebuah keluarga mencari sekolah yang sesuai untuk anak-anak mereka. Namun, standar keamanan seringkali terkompromikan karena kepercayaan yang berlebihan yang diberikan kepada sekolah-sekolah ini. Kepercayaan ini terkadang dapat menyebabkan ketidakhadiran orangtua dalam proses pendidikan, menyerahkan peran ini sepenuhnya kepada sekolah. Tetapi apakah sekolah internasional telah berhasil menjadi lingkungan pendidikan yang aman dan penuh perhatian bagi anak-anak?
Pasar yang Berkembang Pesat
Pasar sekolah internasional di Tanah Air sedang berkembang pesat, didorong oleh ekspansi kelas menengah, globalisasi, dan kebutuhan kurikulum berkualitas tinggi seperti International Baccalaureate (IB) atau Cambridge. Dengan lebih dari 140 sekolah yang terdaftar secara resmi, sektor ini menarik investasi, terutama dengan potensi perpindahan ibu kota dan fokus pada keterampilan global, menurut Kompas.id.
Jakarta memimpin dengan 71 sekolah internasional, dan merupakan salah satu pasar terbesar untuk pendidikan internasional di Tanah Air. Jumlah ini akan terus meningkat, tidak hanya di Jakarta, tetapi juga di wilayah-wilayah yang lain, mengikuti tren kebutuhan pendidikan berkualitas global di Indonesia.
Pertumbuhan luar biasa di sektor sekolah internasional ini telah membawa perubahan signifikan dalam lanskap pendidikan di Tanah Air dan menimbulkan banyak pertanyaan tentang faktor-faktor yang mendorong pertumbuhannya yang sebagian besar berbahasa asing ini. Apa alasan di balik hal ini?
Pertumbuhan yang Wajar
Kita dapat mengatakan bahwa akses ke pendidikan yang lebih tinggi dan lebih bergengsi, dengan gaya belajar yang fleksibel, kurikulum yang diakui secara internasional, kesempatan untuk belajar bahasa asing, kesempatan untuk menyelesaikan studi di luar negeri, dan prospek pekerjaan yang sangat baik, memotivasi orang kaya dan bahkan kelas menengah atas untuk mendaftarkan anak-anak mereka di sekolah-sekolah ini.
Jika kita menambahkan bangunan mewah dan fasilitas yang menarik, kita memahami mengapa jenis sekolah ini berkembang di negara kita, dan mengapa pendidikan internasional bukan lagi pilihan marginal.
Namun, pasar sekolah internasional yang berkembang dan meluas ini menimbulkan beberapa pertanyaan penting tentang kesiapan sekolah-sekolah ini untuk menjadi lingkungan yang aman dan mendidik bagi anak-anak, bukan hanya penyedia layanan pendidikan dan akademik berkualitas tinggi.
Kelemahan Serius
Pertumbuhan pesat jumlah sekolah internasional ini telah mengubah sektor pendidikan menjadi pasar kapitalis yang sangat kompetitif di mana keuntungan adalah tujuan utama. Kesenjangan signifikan muncul antara pendidikan dan perkembangan moral, belum lagi melemahnya nilai-nilai religius di lembaga-lembaga pendidikan ini dan penurunan kemampuan berbahasa Indonesia.
Sekolah-sekolah internasional ini telah berupaya mendidik anak-anak bangsa ini dengan cara yang sama seperti anak-anak Inggris atau Amerika, menanamkan budaya yang sama sehingga pada masa remaja dan dewasa muda, mereka sepenuhnya berasimilasi ke dalam globalisasi.
Pengejaran keuntungan oleh sejumlah sekolah telah menyebabkan mereka memotong biaya operasional tersembunyi, seperti mempekerjakan karyawan lokal dengan upah rendah dan rekruitmen tenaga-tenaga ekspatriat dengan gaji tinggi setelah interview yang terkadang “ngasal” tanpa pemeriksaan latar belakang menyeluruh atau penilaian psikologis dan emosional.
Pemotongan biaya ini mengakibatkan tidak adanya kamera pengawas di area-area tertentu di sekolah. Hasilnya adalah serangkaian insiden pelecehan mengerikan terhadap anak-anak didik, sebuah skandal yang bertahun-tahun lalu pernah mengguncang sebuah sekolah internasional terkenal di Jakarta.
Kelalaian Berat
Jika kita harus mengakui bahwa sekolah internasional di negara kita umumnya adalah proyek investasi yang berorientasi pada keuntungan, bukan lembaga pendidikan sejati yang mengintegrasikan pendidikan dan pengembangan karakter, serta budaya asing dan lokal, maka setidaknya, anak yang terdaftar di sekolah-sekolah mahal dan mewah ini berhak merasa aman di dalam tembok-temboknya. Ini adalah tanggungjawab utama sekolah.
Bagi sebagian sekolah, melakukan pemotongan pengeluaran, mengurangi pengawasan, dan mengurangi jumlah pengawas, psikolog, dan pekerja sosial yang berkualitas demi memaksimalkan keuntungan adalah kejahatan sejati yang melampaui kelalaian berat.
Lebih dari itu, mencoba menyangkal kelalaian dan pelanggaran ini, bahkan sampai menyembunyikan bukti, menekan investigasi internal, dan membiarkan oknum-oknum yang dituduh melakukan kelalaian dan pelanggaran untuk terus bekerja, semua itu untuk melindungi reputasi lembaga dan dengan demikian menghindari penurunan pendapatan, adalah kejahatan yang lebih besar lagi.
Pengabaian pengawasan negara terhadap sekolah-sekolah ini, ketergantungannya pada pemantauan yang dangkal, dan kegagalannya untuk melakukan intervensi secara efektif hingga insiden terjadi, telah berkontribusi pada berlanjutnya kelalaian ini tanpa rasa takut akan pengawasan atau pertanggungjawaban.
Ketidakhadiran orangtua dalam pengelolaan sekolah dan kurangnya perhatian mereka terhadap masalah dan keluhan yang mereka sampaikan kepada pihak sekolah—baik yang berkaitan dengan etika atau nilai-nilai, staf, atau sistem administrasi—telah memperburuk masalah dan membuatnya lebih kompleks.
Solusi praktis
Pengawasan pemerintah terhadap sekolah-sekolah internasional, aktivasi mekanisme pemantauan, dan sanksi hukum yang lebih ketat untuk kelalaian dan pelanggaran, merupakan garis pertahanan pertama untuk hak-hak anak.
Pada saat yang sama, kita tidak boleh mengabaikan peran rumah, yang harus menjadi lingkungan yang aman di mana anak-anak belajar untuk berbicara tentang apa yang menyakiti atau mengganggu mereka tanpa rasa takut.
Anak-anak harus dapat berbagi bahkan detail terkecil dan menemukan seseorang untuk mendengarkan. Yang terpenting, kita harus mendengarkan apa yang tidak terucapkan. Setiap ketakutan, hilangnya minat, atau perubahan perilaku harus diselidiki.
Keluarga yang membiayai sekolah internasional berhak menerima kompensasi atas apa yang telah mereka bayarkan; oleh karena itu, perlu untuk bersikap positif terhadap sekolah dan tidak bersikap lunak jika ada kecurigaan terhadap pelanggaran, pengawasan yang lemah, atau keberadaan pekerja yang tidak memenuhi standar, dan perlu untuk menuntut agar mereka menjalani tes dan tindakan psikologis oleh spesialis sebelum dipekerjakan, dan harus ada saluran komunikasi antara mereka dan otoritas pemerintah yang berwenang untuk menyampaikan keluhan jika pihak sekolah mengabaikannya.[]
Tinggalkan Komentar