Oleh: H. Roland Gunawan, Lc., Mudir Madrasah Diniyah Lailiyah (MDL) Al-Fattah Kuningan
Kesedihan dan rasa kehilangan, kerinduan dan tenggelam dalam masa lalu, banjir kenangan, perasaan yang disertai dengan rasa sesak di dada, mungkin tangisan hebat, atau bahkan air mata yang mengalir tak terkendali! Ini adalah reaksi terhadap pengalaman perpisahan, suatu keadaan yang pernah dialami setiap orang.
Perpisahan adalah kondisi manusia, bagian yang tak terhindarkan dari perjalanan hidup; sebuah jalan yang di awalnya sudah ditandai: “Jalan Wajib”. Jalan ini bervariasi dalam singkat dan panjangnya, dari perpisahan tanpa kemungkinan kembali hingga perpisahan sementara yang kemudian kita bertemu kembali. Perbedaan di antara keduanya adalah perbedaan antara kehilangan dan ketidakhadiran.
Dengan rahmat-Nya, Allah Swt. telah menyediakan latihan-latihan untuk memperkuat jiwa kita dalam menghadapi dampak mendalam dari perpisahan, dimulai dengan tidur, yang dalam agama digambarkan sebagai “saudara kematian”, berlanjut melalui perjalanan singkat, hingga migrasi dan pengasingan, dan akhirnya kematian itu sendiri.
Perpisahan adalah pengalaman menyakitkan yang meninggalkan bekas pada emosi, dampaknya meluas ke memori, dan mengancam sistem perasaan yang dapat mengganggu rasa aman psikologis diri.
Perpisahan mengganggu keadaan stabilitas psikologis yang telah dipupuk, stabilitas yang menjadi dasar mimpi yang senantiasa dipeluk, dan kenangan yang terkadang kita gunakan untuk melarikan diri dari kenyataan yang menanduk.
Detail-detail kecil yang dibagikan dengan orang yang telah tiada menjadi penyelamat dari kenyataan yang menyakitkan, tetapi setelah kehilangan, rangsangan positif yang sama berubah menjadi jarum yang menusuk dan menyiksa emosi, menambah rasa sakitnya.
Perpisahan, kendati didahului oleh tanda-tanda peringatan, tetaplah mengejutkan. Bahkan jika kita tahu sebelumnya bahwa waktu untuk berpisah telah tiba, kejadian itu sendiri tetap mengejutkan. Kita mendapati diri kita bereaksi dengan cara yang tidak kita duga—reaksi yang dipenuhi dengan penyangkalan terhadap kenyataan, diselimuti ketidakpercayaan, dan disertai dengan perasaan hampa, baik fisik maupun emosional.
Dengan demikian, kenyataan berubah menjadi keadaan rasa sakit yang tiba-tiba, perasaan kalah, dan rasa kesepian serta keterasingan, meskipun seluruh dunia ada di sekitar kita. Kita mengembara di dunia kenangan, menolak masa kini. Beberapa orang bahkan jatuh ke dalam keadaan menyalahkan diri sendiri, lalu menggunakan siraman “bagaimana jika” untuk menghibur diri sendiri, seolah-olah penghiburan diri seperti itu dapat mengembalikan orang yang telah meninggalkan mereka.
Perpisahan adalah luka terbuka, yang hanya dapat disembuhkan oleh pengetahuan dan waktu. Ibrahim Naji berkata, “Betapa banyak luka yang diredakan oleh kelembutan dan waktu,” artinya betapa banyak rasa sakit yang terobati dengan kebaikan dan kebijaksanaan, membiarkan waktu untuk menyembuhkan rasa sakit itu. Dan penyembuhan itu dimulai sejak saat pertama perpisahan. Nabi Muhammad Saw. bersabda: “Sesungguhnya kesabaran itu [terletak] pada hentakan pertama musibah.” Dan kesabaran diperoleh melalui pengetahuan (ilmu).
Oleh karena itu, seorang Muslim berada di antara rasa syukur dan kesabaran, yang keduanya telah ditetapkan oleh Allah bagi orang beriman. Jika ia mengetahui bahwa Allah telah menetapkan kebaikan baginya dalam setiap situasi, maka kesabaran dalam kesulitan akan menjadi pendampingnya. Nabi Saw. bersabda: “Tidak ada karunia yang lebih baik dan lebih banyak daripada kesabaran.“
Perpisahan adalah pintu menuju kenangan yang tak pernah tertutup. Dengan perpisahan, seseorang mengingat kembali segala sesuatu yang telah dibagikan dengan orang yang telah tiada: tempat, suara, dan detail-detail kecil. Kenangan tetap hidup meskipun waktu telah berlalu, yang pada gilirannya membuka pintu menuju rasa sakit.
Inilah yang dipahami Sayyidina Umar bin al-Khaththab, dan ia menghadapinya dengan rasa syukur. Ia biasa berkata, “Aku tidak pernah ditimpa musibah tanpa melihat tiga berkah dari Allah di dalamnya. Pertama, Allah memudahkanku, tidak menimpakan sesuatu yang lebih besar, meskipun Dia mampu melakukannya. Kedua, Allah menjadikannya masalah dunia dan bukan masalah agama, meskipun Dia mampu melakukannya. Ketiga, Dia akan memberiku pahala untuk itu pada Hari Kiamat.” Karena perpisahan seringkali merupakan musibah, maka obatnya ada pada kiat yang diberikan Sayyidina Umar ini: rasa syukur.
Namun, perpisahan memiliki manfaat bagi mereka yang merenung. Perpisahan mengubah citra diri seseorang, mendorongnya untuk berhenti sejenak dan menimbang-nimbang tindakannya, memeriksa dan meneliti hubungannya, serta meninjau dan mengatur kebiasaannya.
Perpisahan memaksa kita untuk menghadapi citra stereotip yang telah kita ciptakan tentang diri kita sendiri dan yang kita tampilkan kepada orang lain, citra yang seringkali didasarkan pada hubungan kita dengan orang yang telah tiada. Hal ini memaksa kita untuk berhenti sejenak dan menilai kembali tindakan kita, mendorong kita untuk menyesuaikan hubungan kita berdasar citra diri yang telah kita kembangkan dan kerangka kerja yang telah kita tetapkan untuk interaksi kita dengan orang lain. Hal ini kemudian dapat membawa kita pada perpisahan yang bermanfaat, perpisahan dari diri kita yang lama, yang didorong oleh transformasi mendalam yang berasal dari perpisahan yang awalnya kita anggap negatif.
Perpisahan, meskipun menyakitkan, dapat menjadi awal; kesadaran baru tentang diri, waktu, dan tempat. Ini mungkin merupakan awal dari pribadi yang baru, seseorang yang memahami apa yang tidak disadarinya saat kehilangan itu terjadi, dan yang menemukan dalam dirinya sendiri apa yang tidak pernah dicarinya saat hidup dalam keadaan ketergantungan sebelum perpisahan dan kehilangan itu.
Rasa sakit dapat menjadi sarana penemuan diri; karena perpisahan tidak membunuh perasaan, melainkan memperdalamnya, menjadi katalis untuk refleksi dan kontemplasi.[]
Tinggalkan Komentar